edisi 66
rabu 5 november2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


laporan Novel Tanpa Huruf R; Potret Masyarakat Yang Sakit
Harry Mulyawan

Aria Kusumadewa is back. Setelah beberapa waktu lalu Aria muncul dengan Beth, sempat nongol sebagai bintang iklan maka Aria kali ini kembali hadir dengan dengan Novel tanpa Huruf R.

Film ini bercerita tentang karakter bernama Drum yang lekat dengan berbagai peristiwa kekerasan semenjak kecil. Ayah, ibunya, kekasih hingga anjingnya pun mati karena kekerasan. Hingga pada sebuah kesempatan ia bertemu dengan karakter lain bernama Air Sunyi, yang memiliki nama yang sama dengan nama ibunya, yang memberinya sebuah kesadaran baru.

Eksistensi Manusia
Kekerasan. Itu yang terlihat sepanjang film ini. Novel tanpa Huruf R sendiri merupakan sebuah gambaran masyarakat Indonesia yang absurd, vulgar, brutal, penuh hiruk pikuk. Potret masyarakat yang sakit terekam dalam tiap scene.

Mencermati lebih dalam film Novel tanpa Huruf R ini, Aria lebih dari sekedar menampilkan tema kekerasan yang menjadi tema sentral dalam kehidupan sehari-hari, menu kita bangun tidur saat menikmati kopi pagi dari berita-berita di koran hingga malam hari saat kita beristirahat menonton teve.

Eksistensi manusia sebagai makhluk Tuhan, sebagai makhluk dengan akal pikiran yang menjadikan manusia sebagai makhluk mulia. Manusia sebagai subyek, manusia sebagai obyek dari manusia lain merupakan tema utama dalam film Novel tanpa Huruf R ini.

Adegan film ini dibuka saat Drum dan Ayahnya tergeletak di atas pasir pantai. Berlanjut pada perkembangan kehidupan Drum baik secara fisik maupun kejiwaannya. Sejak kecil Drum terbiasa melihat darah dan kematian. Ayahnya yang bekerja sebagai jagal kerbau, lingkungan kerja turut membentuk karakter dan realitas di dalam dan sekitar diri Drum.

Kekerasan sebagai realitas terkonstruksi
Kekerasan yang terekam erat dalam benak Drum, kekerasan yang dipraktekkan di dalam masyarakat oleh unsur-unsur mayarakat itu sendiri, ibunya yang hilang dan mati saat mereka dikejar-kejar hingga ke pantai oleh penduduk setempat karena suatu hal yang tidak terlalu dijelaskan dalam film ini.

Kekerasan yang dipraktekkan oleh aparat hingga lingkungan kerja sebagai wartawan kriminal yang sarat dengan peristiwa kekerasan: pembunuhan, pembantaian. Kekerasan menjadi sebuah konsumsi yang disukai masyarakat. Semakin vulgar berita kekerasan semakin disukai publik. Media sebagai sebuah penyampai berita juga disindir tajam dalam film ini sebagai sebuah pewarta nilai-nalai dengan moral pasar, moral kekerasan itu sendiri.

Semuanya menjadi berbagai kepingan yang membentuk sebuah realitas dalam diri Drum: kekerasan, realitas itu diyakini drum sebagai sebuah kenyataan hidup yang dijalaninya. Hingga suatu saat, konstruksi realitas yang terbangun dalam diri drum mendapat tentangan saat dirinya bertemu dengan Air sunyi, seorang tokoh antesis bagi realitas dalam diri Drum.

Interaksinya dengan Air sunyi yang dibangun melalui hubungan yang tidak 'normal' dimana Air sunyi disekap dan diikat oleh Drum, membuka kesadaran akan sebuah nausêe (meminjam istilah Sartre) atau kemuakkan akan realitas yang hidup dalam dirinya.

Pada saat itu Drum membuang segala hal yang berkaitan dengan hal yang mengkonstruksi realitas kekerasan dalam dirinya, membakar semua potongan berita-berita kekerasan, novel Kejet-kejet-nya, literatur dan teve yang membawa semua pesan kekerasan.

Sejak awal sepertinya film ini telah dipersiapkan sebagai sebuah tragisme bagi tokoh Drum, kehilangan ayah tercinta, kekasih, hingga Adik yang dipenjara karena membunuh. Hal ini menjadi begitu terasa pada scene akhir film ini sebagai klimaks dari kisah tragis ini, dimana Drum mempertanyakan eksistensi dirinya, Tuhan, dengan sebuah pertanyaan bernada gugatan kepada sang Khalik.

Potret masyarakat sakit
Berbagai perilaku menyimpang, vulgar dan absurd terekam jelas dalam tiap scene dalam film ini, semua yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak oleh tiap-tiap indivudu dalam masyarakat. Tiap individu yang bingung, yang mencari caranya masing-masing untuk melampiaskan semua hasrat yang terpampat.

Hubungan antar manusia dalam film ini juga digambarkan sebagai sebuah konflik yang terus menerus terjadi dan mereka ciptakan sendiri. Kekerasan diniscaya sebagai sebuah bentuk penyelesaian setiap konflik yang terjadi. Manusia menjadi obyek bagi lainnya, manusia merupakan kesialan bagi pihak lain. Pada saat itu manusia tak lebih sebagai sebuah binatang berakal, yang menyatakan dirinya melalui kekerasan.

Film sebagai bahasa simbol dan pesan
Dalam film ini Aria banyak menggunakan bahasa simbol untuk menyatakan maksudnya. Selain itu Aria secara halus melalui tokoh Drum, mengajak kita untuk meneropong jauh ke kebelakang atas semua peristiwa kekerasan yang terjadi dalam masyarakat untuk mencari jawaban serta mengetahui secara jelas apa yang terjadi.

Sebagai sebuah film, Novel tanpa Huruf R sarat dengan berbagai pesan moral dari sang sutradara itu sendiri sebagai kreator. Film sendiri sebagai sebuah karya memiliki unsur-unsur dasar yang membentuknya menjadi sebuah kesatuan yang utuh.

Unsur-unsur dasar dalam film Novel tanpa Huruf R cukup terjaga, gerak kamera yang efektif terasa bisa menyampaikan pesan yang dimaksud dalam tiap adegan. Tata suara yang juga berhasil membangun dramatisasi, tapi seperti yang dikatakan saudara Anton sebelumnya, para pemain dalam film ini kurang berhasil untuk untuk memunculkan ekspresi emosi dari tokohnya. Musik yang menjadi latar belakang film ini juga terasa kurang maksimal. Akan tetapi sebagai sebuah karya seni, film Novel tanpa huruf R ini merupakan sebuah karya yang utuh dan otentik. Viva film Indonesia!
***

ceritanet
©listonpsiregar2000

tulisan edisi 66

cerpen Menunggu HP Berderit
Sandi Firly

cerpen Secangkir Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok Srengenge

laporan Mengapa Karen Armstrong Meninggalkan Biara
Nigar Pandrianto

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak