edisi 65
rabu 15 oktober 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

cerpen Secangkir Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok Srengenge

(Seseorang yang dekat denganmu akan mati minggu ini).
Kutinggalkan perempuan gypsi itu ketika hendak menyodorkan tumpukan kartu tarot kedua kepadaku. Kutinggalkan Jembatan Karlomost tua beserta patung-patung yang menjulang agung di kanan-kirinya, menghindari bujukan para penjaja lukisan cat air dan foto-foto gedung kusam, menyusuri tanggul yang tertutup bongkah-bongkah batu mengkilat lantaran tak putus-putus digesut tapak sepatu para pejalan, memandangi permukaan Sungai Vltava yang memantulkan langit hingga tampak laksana palung tanpa dasar yang berkabut dengan gegumpal mega sebagai tebing-tebingnya. Hanya sesekali, secara selintasan, kuperhatikan orang-orang yang berlalu lalang sambil merapatkan jaket atau penutup kepala lantaran angin yang kadang berkesiur kencang menaburkan tepung es, seakan hendak mengingatkan bahwa sebentar lagi malam akan menetes. Aku lupa melihat termometer ketika meninggalkan kamar hotelku, entah minus berapa suhu udara senja itu. Asap berkepulan dari setiap dengus napas.

"Good evening, my brother," seseorang menyapaku dengan aksen seperti mebel kayu belum diamplas, "Saya mencium bau tembakau yang tidak biasa. Boleh saya mencicipnya?"

Bukan sekali ini aku mengalami peristiwa serupa. Aku menikmati kretek itu di udara terbuka lantaran tak bisa melakukannya di dalam gedung, di kafe, bahkan kamar hotel yang kusewa.

"Silakan," kataku sambil menyodorkan sebatang rokok yang telah kusembulkan dari bungkusnya. "Pelan-pelan menghisapnya, rokok ini agak keras."
"That's nice, saya pernah mencobanya. Oya, apakah kau dari Bali?"
"Indonesia."
"Aa, In-do... Indosiasia. Kamrad Soekarno. I see. Pasti dekat Bali, ya? Kawan yang memberiku rokok di Amsterdam dulu berasal dari Bali. Rokoknya sama dengan ini."

Amsterdam. Anganku melayang ke suatu senja yang basah, di restoran Italia yang menghadap sebuah taman kota, di mana sekelimun merpati berebut remah roti, seusai menikmati seporsi tagliatelle al tartufo dan segelas Lacrima Christi (vino rosso)-ah, bagaimana mesti kuceritakan kepadamu kelezatan pasta panjang dicampur jamur yang hanya tumbuh dalam tanah dan anggur merah paling mashyur dari Italia Selatan yang dibaptis sebagai air mata Kristus itu? Ehm, barangkali seperti lidah kekasih yang disusupkan ke dalam kuluman, mungkin lebih, lebih dari itu-dan sisa paduan aneka rasa laksana lelehan madu-asam-garam yang berkelenyit lembut di dinding-dinding mulut, seperti gigitan semut, membujukku menyulut sebatang rokok yang kemudian kusedot sepenuh perasaan, kuhayati aroma tembakau campur cengkih yang khas, juga rambatan hangat asap di lurung hidung dan rongga kerongkongan, seakan sedang kunikmati bagian terkecil dari tanah kelahiran yang menyertai keterkucilanku di negeri kincir angin itu. Tanpa kusadari seorang gadis pencatat menu telah berdiri semu membungkuk di sampingku. Ia biarkan separuh susunya nyembul dari lindungan blouse kain satin, seolah abai pada hawa dingin. Sembari menawarkan mata kelincinya kepadaku, setengah mencegah setengah merayu, "Sorry, Sweety, kau tak boleh menghisap kretek di sini. Tapi, jika kau mau, kita bisa lakukan bersama di apartemenku."

tulisan edisi 65

laporan Percakapan Dengan Seorang Wartawan (amplop)
Deny Suwarja

sajak Ini Bukan Puisi
Qizink La Aziva

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000


Sejam kemudian aku pun melayang di sebuah ruangan lantai kedua gedung tua merah bata. Segumpal sofa menghadap televisi yang menyuguhkan soft erotica, sebotol Jameson dari Irlandia, dan sepasang gelas piala di antaranya. "Aku membayangkan Roma," katanya pelan dengan suara sopran. Aku terkenang Yogya. Entah mengapa. Setelah reguk demi reguk whisky, hisapan rokok kretek berselingan dengan mariyuana dalam lintingan-lintingan runcing dan panjang, aku merasa sebagai seekor burung yang terbang dari seberang lautan, dan di belukar keterasingan kukerkau sumber kicau, suara purba tepi danau, di sebuah distrik kuno yang dihuni para tamu yang datang dari masa lampau, tempat awal rasa perih yang menjalar ke seluruh tarikh. Kurasakan sayap-sayapku menebah-nebah tanpa arah. Cahaya hanya remang, menjalar dari lelehan lilin dalam ceruk gelas bergambar buah apel dalam pagutan ular. Pandangku membentur dinding kusam. Gambar-gambar orang lama, tas kulit tua, celengan terakota. Ada juga sapuan Gauguin, seperti angin, merah dan kuning mostar saling pagut, kelam dan lembayung. Mungkin gairah yang gemetar lantaran kabut dan malam gunung. Gadisku menyingkap selimut, menawarkan debar jantung.

Peri jangkung rambut jagung, memuntir kran pipa gas, lantas pemantik api membias, lidah-lidah cahaya biru dari tungku menjilam-jilam bayangan buncit susu. Ada yang meredam desah, ada yang diam-diam menelan ludah. Dan seketika anganku mengembara ke suatu pagi yang lapar, kepak camar di sela gerimis, tepian telaga. Setangkup roti tawar, seputing kismis, lumeran mentega. Tapi juga kudengar, samar, di bulevar, musim bertiup dan ranting terakhir daun linden lindap, tepat ketika syaraf-syaraf gadisku bergetar di antara gerak gugup dan suara gagap. Seketika kami seakan menjelma sepasang petani tua yang gemetar menyaksikan sayap-sayap angin menggelepar ditikam taring-taring gandum, ekornya tersangkut di batang-batang lanjar penopang anggur menjalar, dan rintihnya menyebabkan biri-biri termangu di bawah taburan serbuk salju. Kami sedang menandur mawar kenangan yang kubayangkan batangnya menjulang setinggi khayalan, yang oyot-oyotnya menghunjam sedalam dendam, yang geliut dahan-dahannya segalau gelinjang, yang desau daun-daunnya segarang erang. Kami sadar, barangkali tak sadar, ada yang mengendap-endap di belukar nalar, menghunus alpaka, menghembus alpa. Sebab, setelah keluh dan lenguh dan peluh pelahan padam, semesta ruang dibekap senyap. Namun, nun di sebuah taman, Venus dan pinus mendesah, sebab basah, diguyuri hujan Januari.
***

bersambung
"Maaf, my brother, kembalilah ke bumi," kata lelaki itu sambil menggoyang-goyang rokoknya di depan mataku. Lalu ia sodorkan tangan kanan sebagai isyarat perkenalan, "Saya Vladimir. Vladimir Barakovsky."