cerpen
Secangkir
Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok
Srengenge
(Seseorang yang
dekat denganmu akan mati minggu ini).
Kutinggalkan perempuan gypsi
itu ketika hendak menyodorkan tumpukan kartu tarot kedua kepadaku. Kutinggalkan
Jembatan Karlomost tua beserta patung-patung yang menjulang agung di
kanan-kirinya, menghindari bujukan para penjaja lukisan cat air dan
foto-foto gedung kusam, menyusuri tanggul yang tertutup bongkah-bongkah
batu mengkilat lantaran tak putus-putus digesut tapak sepatu para pejalan,
memandangi permukaan Sungai Vltava yang memantulkan langit hingga tampak
laksana palung tanpa dasar yang berkabut dengan gegumpal mega sebagai
tebing-tebingnya. Hanya sesekali, secara selintasan, kuperhatikan orang-orang
yang berlalu lalang sambil merapatkan jaket atau penutup kepala lantaran
angin yang kadang berkesiur kencang menaburkan tepung es, seakan hendak
mengingatkan bahwa sebentar lagi malam akan menetes. Aku lupa melihat
termometer ketika meninggalkan kamar hotelku, entah minus berapa suhu
udara senja itu. Asap berkepulan dari setiap dengus napas.
"Good evening,
my brother," seseorang menyapaku dengan aksen seperti mebel kayu
belum diamplas, "Saya mencium bau tembakau yang tidak biasa. Boleh
saya mencicipnya?"
Bukan sekali ini
aku mengalami peristiwa serupa. Aku menikmati kretek itu di udara terbuka
lantaran tak bisa melakukannya di dalam gedung, di kafe, bahkan kamar
hotel yang kusewa.
"Silakan,"
kataku sambil menyodorkan sebatang rokok yang telah kusembulkan dari
bungkusnya. "Pelan-pelan menghisapnya, rokok ini agak keras."
"That's nice, saya pernah mencobanya. Oya, apakah kau dari Bali?"
"Indonesia."
"Aa, In-do... Indosiasia. Kamrad Soekarno. I see. Pasti dekat Bali,
ya? Kawan yang memberiku rokok di Amsterdam dulu berasal dari Bali.
Rokoknya sama dengan ini."
Amsterdam. Anganku
melayang ke suatu senja yang basah, di restoran Italia yang menghadap
sebuah taman kota, di mana sekelimun merpati berebut remah roti, seusai
menikmati seporsi tagliatelle al tartufo dan segelas Lacrima Christi
(vino rosso)-ah, bagaimana mesti kuceritakan kepadamu kelezatan pasta
panjang dicampur jamur yang hanya tumbuh dalam tanah dan anggur merah
paling mashyur dari Italia Selatan yang dibaptis sebagai air mata Kristus
itu? Ehm, barangkali seperti lidah kekasih yang disusupkan ke dalam
kuluman, mungkin lebih, lebih dari itu-dan sisa paduan aneka rasa laksana
lelehan madu-asam-garam yang berkelenyit lembut di dinding-dinding mulut,
seperti gigitan semut, membujukku menyulut sebatang rokok yang kemudian
kusedot sepenuh perasaan, kuhayati aroma tembakau campur cengkih yang
khas, juga rambatan hangat asap di lurung hidung dan rongga kerongkongan,
seakan sedang kunikmati bagian terkecil dari tanah kelahiran yang menyertai
keterkucilanku di negeri kincir angin itu. Tanpa kusadari seorang gadis
pencatat menu telah berdiri semu membungkuk di sampingku. Ia biarkan
separuh susunya nyembul dari lindungan blouse kain satin, seolah abai
pada hawa dingin. Sembari menawarkan mata kelincinya kepadaku, setengah
mencegah setengah merayu, "Sorry, Sweety, kau tak boleh menghisap
kretek di sini. Tapi, jika kau mau, kita bisa lakukan bersama di apartemenku."