edisi 64
selasa 30 september 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Waktu kereta api yang disembunyikan tadi masuk mundur dari belakang gudang-gudang, seluruh khalayak tercurah ke sepur-sepur. Orang yang terguling-guling dari tanggul macam gundu, naik gerayangan ke atas rel, sikut menyikut, meloncat ke tangga dan bufer atau memanjat jendela dan terus ke atap. Kereta api penuh seketika, selagi masih berjalan dan ketika berhenti di peron ia tak hanya sesak terjejal, tapi penumpangnya, dari puncak sampai dasarnya. Ajaiblah bahwa Yury berhasil naik ke kopling dan dari situ dengan lebih tak dapat diperhitungkan lagi masuk ke gang.

Di situ ia duduk di bagasinya sepanjang jalan ke Sukhinichi. Mendung telah berpencar-pencar, padang di bakar matahri, dari ujung ke ujung penuh gema kerik jangkrik yang menenggelamkan debak debuk roda-roda.

Para penumpang yang berdiri dekat jendela menutupi matahari terhadap yang lain-lain. Bayangan mereka panjang lagi berganda, menggoresi lantai, tempat-tempat duduk serta sekat-sekat. Terdesak ke luar kompartemen oleh orang banyak, mereka melompat dari jendela di dinding lainnnya, lantas lari dan melompat-lompat di tanggul seberang, bersama bayangan kereta api yang bergerak.

Di sekitar Yury orang berteriak, menderumkan nyanyian, maki-maki dan berjudi. Tiap kali kereta-api berhenti, kegaduhan di dalam ditambah dengan keributan orang banyak di luar yang menyerbu. Keriuhan tambah hebat macam taufan di laut dan seperti di laut pula, diikuti oleh kesunyian yant tiba-tiba. Dalam kesepian yang tak dapat dijelaskan ini terdengar langkah orang bergegas di peron, kasak-kusuk dan kecaman di luar gerbong barang, suara orang berpamit dari jauh serta kotek ayam dan kerisik pihon yang tenang di taman stasiun.

Lalu, bagaikan pesan yang disampaikan di tengah jalan atau seperti salam dari Melyuzeyevo yang seolah dialamatkan secara pribadi kepada Yury, masuklah arus bau wangi yang dikenalnya. Datangnya dari salah satu segi jendela, lebih tinggi dari ketinggian taman atau bunga di padang serta diam-diam mengatasi hal-hal lainnya. Yury terhalang dari jendela oleh orang banyak hingga tak dapat dilihatnya pohon-pohon, tapi dibayangkannya pepohonan yang tumbuh sangat dekat, memayungi atap kereta dengan dahan-dahan yang tenang, dirimbuni daun berdebu, hingga pekat bagai malam, ditaburi susunan bunga lilin kecil berkedip-kedip.

Dimana-mana sepanjang jalan ada hiruk pikuk dan dimana-mana pohon linden berkuntum.

Baunya seolah-olah dimana-mana sekaligus serta mengejra para penumpanda dalam perjalana ke Utara, terbang baga i kabara angin di sekitar tiap sepur canbang,. gardu dan tempat pemberhentian, pun menunggu mereka waktu tiba ke tujuan mereka dengan kepastian yang tak terelakkan.
***

tulisan edisi 64

laporan Percakapan Dengan Seorang Wartawan (amplop)
Deny Suwarja

esei Wartawan dan PR di Indonesia
Ayu Hermawan

cerpen Bu, Ijinkan Aku Sekolah di Dalam WC
Imron Supriyadi

 

ceritanet
©listonpsiregar2000