novel
Dokter
Zhivago
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan,
Maret 1960.
Waktu kereta api yang
disembunyikan tadi masuk mundur dari belakang gudang-gudang, seluruh
khalayak tercurah ke sepur-sepur. Orang yang terguling-guling dari tanggul
macam gundu, naik gerayangan ke atas rel, sikut menyikut, meloncat ke
tangga dan bufer atau memanjat jendela dan terus ke atap. Kereta api
penuh seketika, selagi masih berjalan dan ketika berhenti di peron ia
tak hanya sesak terjejal, tapi penumpangnya, dari puncak sampai dasarnya.
Ajaiblah bahwa Yury berhasil naik ke kopling dan dari situ dengan lebih
tak dapat diperhitungkan lagi masuk ke gang.
Di situ ia duduk di
bagasinya sepanjang jalan ke Sukhinichi. Mendung telah berpencar-pencar,
padang di bakar matahri, dari ujung ke ujung penuh gema kerik jangkrik
yang menenggelamkan debak debuk roda-roda.
Para penumpang yang
berdiri dekat jendela menutupi matahari terhadap yang lain-lain. Bayangan
mereka panjang lagi berganda, menggoresi lantai, tempat-tempat duduk
serta sekat-sekat. Terdesak ke luar kompartemen oleh orang banyak, mereka
melompat dari jendela di dinding lainnnya, lantas lari dan melompat-lompat
di tanggul seberang, bersama bayangan kereta api yang bergerak.
Di sekitar Yury orang
berteriak, menderumkan nyanyian, maki-maki dan berjudi. Tiap kali kereta-api
berhenti, kegaduhan di dalam ditambah dengan keributan orang banyak
di luar yang menyerbu. Keriuhan tambah hebat macam taufan di laut dan
seperti di laut pula, diikuti oleh kesunyian yant tiba-tiba. Dalam kesepian
yang tak dapat dijelaskan ini terdengar langkah orang bergegas di peron,
kasak-kusuk dan kecaman di luar gerbong barang, suara orang berpamit
dari jauh serta kotek ayam dan kerisik pihon yang tenang di taman stasiun.
Lalu, bagaikan pesan
yang disampaikan di tengah jalan atau seperti salam dari Melyuzeyevo
yang seolah dialamatkan secara pribadi kepada Yury, masuklah arus bau
wangi yang dikenalnya. Datangnya dari salah satu segi jendela, lebih
tinggi dari ketinggian taman atau bunga di padang serta diam-diam mengatasi
hal-hal lainnya. Yury terhalang dari jendela oleh orang banyak hingga
tak dapat dilihatnya pohon-pohon, tapi dibayangkannya pepohonan yang
tumbuh sangat dekat, memayungi atap kereta dengan dahan-dahan yang tenang,
dirimbuni daun berdebu, hingga pekat bagai malam, ditaburi susunan bunga
lilin kecil berkedip-kedip.
Dimana-mana sepanjang
jalan ada hiruk pikuk dan dimana-mana pohon linden berkuntum.
Baunya seolah-olah
dimana-mana sekaligus serta mengejra para penumpanda dalam perjalana
ke Utara, terbang baga i kabara angin di sekitar tiap sepur canbang,.
gardu dan tempat pemberhentian, pun menunggu mereka waktu tiba ke tujuan
mereka dengan kepastian yang tak terelakkan.
***