edisi 64
selasa 30 september 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

laporan Percakapan Dengan Seorang Wartawan (amplop)
Deny Suwarja

Seminggu setelah tulisan saya yang sarat kritik terhadap para wartawan bodreks dimuat dalam sebuah media, banyak juga yang seperti kebakaran janggut. Pihak-pihak yang merasa terkait dalam tulisan tersebut menyatakan penolakan, lengkap dengan teror melalui telepon. Bahkan ada yang merasa amat terusik sampai menemui saya untuk mengkonfirmasi tulisan tersebut. Beberapa kali dia datang ke sekolah tempat saya mengajar dan menekan kepada kepala sekolah untuk menjatuhkan sanksi kepada saya.

Saya tidak menyangka kalau efek tulisan tersebut begitu menghebohkan, padahal sungguh niat saya didasari keinginan baik. Bagaimana menjadi insan pers yang baik, dan bukan menjadi 'insane press;' wartawan yang tidak punya harga diri, yang tidak punya rasa malu.

Ada pihak-pihak yang merasa tersentil, dan itu sepenuhnya tergantung dari interpretasi masing-masing. Saya membuat ulasan pengantar pada tulisan tersebut sebagai kiasan, jadi tidak mengarah pada satu badan atau organisasi tertentu. Namun mungkin saking kesalnya, dan naifnya ada juga pihak yang meminta klarifikasi atas artikel tersebut, yang secara tidak langsung justru membuktikan dia masuk dalam kategori yang saya kritik.

Diantaranya adalah salah seorang wartawan dari salah satu media di Jakarta, entah tabloid, entah majalah. Tidak perlu pula saya sebutkan namanya; bagaimanapun kasihan juga dia yang cari makan walau dengan cara salah. Tapi inilah ceritanya.

-. Jam 09.23, ketika saya sedang berdiskusi dengan keempat teman sesama guru tentang kandungan makanan yang sehat, saya melihat wajah wartawan di pintu ruang guru. Ia celingukan kayak kunyuk ke dalam ruang guru, dan keluar lagi. Kayaknya dia ngecek ada apa enggak ya guru yang nyindir wartawan bodreks itu.

-. Jam 09.24 saya dipanggil Kepala Sekolah, dan dibawa ke ruang Tata Usaha. Di dalam ruang TU, Kepala Sekolah mengatakan; "Ada wartawan yang ingin bertemu dan mengklarifikasi (harusnya meminta klarifikasi, pak!) tulisan Bapak. Tapi, dia ingin bertemu empat mata dengan Bapak".

tulisan edisi 64

esei Wartawan dan PR di Indonesia
Ayu Hermawan

cerpen Bu, Ijinkan Aku Sekolah di Dalam WC
Imron Supriyadi

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

"Oh, iya pak... saya akan temui!" saya menjawab, dan pergi ke ruang Kepala Sekolah untuk menemui wartawan tersebut.
"Tapi tolong jangan di ruangan saya pak, karena saya tidak ingin terlibat!" Kata bos Saya lagi. (Kok, bos saya kayaknya lebih takut dibanding sama setan ya?)

-. Jam 09.25 saya menemui wartawan amplop tersebut di ruang Kepala Sekolah, saya menyapa dan mengajak bersalaman. Ia membalas dengan dingin dan menjawab ketus. Saya ajak dia ke ruang penyuluhan dan konseling. Saya persilahkan beliau untuk duduk dan memohon maaf karena situasinya tidak nyaman. Kursinya dan mejanya sudah tua, .berdebu lagi, maklum sekolah kampung.

-. Jam 09.26, kami duduk dan saya mendahului pembicaraan dengan menanyakan ID wartawan tsb. Ia dengan pongah memberikan kartu identitasnya, Ia juga tidak keberatan untuk dicatat identitasnya. Lalu terjadilah dialog sebagai berikut, setelah wartawan itu menghidupkan recorder yang dibawanya. Tanpa meminta ijin kepada saya, padahal kalau tidak salah etikanya harus minta ijin dulu ya? Lucunya dengan full action seolah wartawan profesional, recorder itu terus diacung-acungkan ke mulut saya.

Saya :"Oh, Pak X (dalam percakapan itu saya sebut namanya) itu dari media D, Jakarta ya? Wah saya juga tahu Pak S (padahal saya tahu itu dari kartu identitas dia), Jhoni Tg...
Bapak X (menukas setegah membentak) : "Lha iya lah, semua orang di media di Jakarta itu tahu dan mengenal saya..."
(Saya berkerut dan bingung sebab sepengetahuan saya Jhoni Tg itu fotografer harian Kompas Jakarta)

Saya :"Jhoni itu di Kompas ...." (maksud saya mau meluruskan!)
Bapak X (memotong) : "Ah, bagi saya. Mau Kompas, Pikiran Rakyat atau apa pun sama saja"

Saya :"Ada kepentingan Bapak menemui saya?"
Bapak X :"Saya ingin mengklarifikasi...." (padahal kata ini kan harusnya subjek pelaku yang berhak untuk menyatakan, mungkin dia maksud : Saya ingin meminta klarifikasi!)
Saya :"Sebentar Pak, apa itu 'mengklarifikasi?" (karena dalam pikiran saya tidak ada yang harus diklarifikasi dalam artikel saya)
Bapak X :"Meminta penjelasan atas tulisan Anda, di SKU BR. Karena dari informasi dari teman-teman saya, bahwa tulisan Anda itu tidak pernah dikonfirmasikan pada para wartawannya ..."
Saya :"Sebentar Pak ....bisa disebutkan siapa-siapa wartawan surat kabar tersebut?"
Bapak X :"Ya banyak...!"
Saya :"Diantaranya ....?

Ia menyebut sejumlah nama-nama wartawan lokal, anggota kelompoknya, dan saya mencatat nama-nama yang disebutkan tadi.
Bapak X :"Saya ingin mengkonfirmasi tentang tulisan Anda...?"

Saya :"Sebentar saya mau tanya dulu, kode etik yang mana yang menjadikan Anda merasa berhak untuk mengkonfirmasi artikel?"
Bapak X :"Ah, itu tidak perlu. Itu hak saya sebagai wartawan. Kode etik, itu bukan masalah Anda!"

Saya tertawa geli, karena merasa lucu....dengan kalimat-kalimat dan intonasinya. Kocak, tapi ingin kelihatan serius. Diserem-seremin malah jadi kaya melawak.
Bapak X :"Nah, kan seharusnya Redaksi itu melakukan cross check dulu dengan Anda atau dengan wartawannya!"

Saya :"Lho, Sebentar-sebentar, Pak.... sepengetahuan saya di dalam suatu media itu ada Dewan Redaksi dan Editornya. Mereka berhak untuk menilai, mengedit sebuah tulisan yang masuk. Layak muat atau tidak. Penulis tidak perlu diberikan konfirmasi, dan tidak bisa melakukan protes terhadap penyuntingan tersebut. Dimuat atau tidaknya sepenuhnya hak Redaksi"

Bapak X, balik bertanya? : "Tapi Anda mengaku bahwa itu tulisan Anda?" Dia berkata demikian sambil menyorongkan recorder ke mulut saya, kalau saya tidak kontrol pasti tertelan tuh rekordernya yang udah dekil. Dapet nemu kali ya...

Saya :"Coba Pak, alat itu diletakan saja di meja....!" Kata saya memberi saran, karena saya merasa kagok, terganggu. Lagi pula wawancara dua mata saja sampai kaya kelihatan sibuk banget nyorong-nyorongin recorder. Seperti wartawan beneran rebutan mulut pejabat atau artis yang diwawancarai.

Bapak X :"Ah, tidak bisa, wartawan itu memang begini. Dihadapan pejabat atau anggota dewan memang harus begini!" Ia berkata, sambil terus mendekatkan recorder itu ke depan mulut saya.
Bapak X :"Begini saja, apakah Anda mengaku bahwa tulisan itu Tulisan Anda?"
Saya :"Ya!"
Ia mengangguk puas, dan penuh kemenangan.

-. Jam 09.30 ke dalam ruangan masuklah seorang pembina Pramuka untuk menyimpan tas serta jaket. Sejenak percakapan terhenti, pembina pramuka keluar lagi memaklumi kami sedang berdiskusi. "Pak, masih lama ya?" Ia bertanya pada saya. Saya mengangguk dan menjawab :"Ya". Kemudian pembina pramuka itu keluar dan menutup pintu.

Bapak X berkata lagi : "Apakah Anda tahu bahwa tulisan Anda itu telah membawa imeg...(maksudnya image kali)"
Saya : "Apa itu imeg...?"

Bapak X (terlihat sejenak terhenyak...diam) : "Ya, jadi tulisan itu telah menimbulkan problim..." (maksudnya problem)
Saya :"Maaf, problem... bukan problim!"

Sejenak ia terhenyak lagi dan diam, dan matanya melotot mengancam!
Bapak X :"Iyalah...nah dalam tulisan Anda itu menyebutkan AJI, PWI, SWII, dan lain-lain itu, adalah wadah bukan wartawan yang tidak mentolerir budaya amplop " (Mungkin dia ingin mengungkapkan bahwa wartawan seperti dia dan kelompoknya bukan dari organisasi kewartawanan yang disebut!)
Saya :"Tapi di dalam wadah itu ada...?

Bapak X :"Ada, ada apanya.... saya menjadi tidak mengerti maksud Anda!" (Kelihatan raut mukanya mengeras, dan tertekan, terdesak!)
Saya :"Iya, maksud saya suatu wadah yang berisi orang-orang yang bekerja sebagai...?"
Bapak X :"Wartawan..." (ia melengkapi kalimat saya setengah berbisik)
Saya :"Iya, anggotanya adalah wartawan..."
Bapak X :"Tapi mengapa dalam tulisan tersebut Anda mengatakan seolah AJI, PWI dan lain-lainnya itu menerima budaya amplop..."

Posisi duduk saya maju ke depan, dan menyela dengan suara tegas dan keras.
Saya :"Sebentar, sebentar...di dalam tulisan itu saya tidak pernah (kata ini saya tekan) menyatakan, bahwa AJI, PWI, SWII dan lain-lainnya itu menerima budaya amplop. Justeru, organisasi tersebut tidak (kata ini saya tekan lagi) mentolerir dan menolak budaya amplop. Kalau tidak percaya. Ini saya mempunyai salinan kode etik jurnalistik organsisasi kewartawanan yang disebut, dan kiat dari AJI serta Dewan Pers untuk menolak budaya amplop yang dilakukan oleh para wartawan bodreks. Sekarang saya tanya, dari mana Bapak X, mendapat informasi bahwa dari tulisan saya berisi kalimat bahwa AJI, PWI, SWII dan lain-lainnya itu menerima budaya amplop?" (Nada saya berkata dengan cepat, dan keras...dengan nada tinggi!, dan menurut saya itu wajar dalam suatu perdebatan atau diskusi!)

Bapak X, terlihat mati kutu, marah, dan dari sorot matanya saya tahu dia terdesak diam seribu bahasa. Dan akirnya ia mengelak dan ngeles.
Bapak X :"Ah, susah berbicara dengan orang emosional seperti Anda. Tidak akan nyambung...!"

Ia mendekatkan recorder ke mulutnya (kaya reporter TV yang mengakhiri berita), dan berkata "Di sini wartawan X dari harian BR (Lho, kok? Katanya dia dari Media D di Jakarta. Kok, menutup kata-katanya di recorder sebagai wartawan BR).

Karena pembicaraan belum tuntas, saya mendesaknya untuk meneruskan pembicaraan itu.
Saya :"Sebentar ini belum tuntas..!"

Namun wartawan amplop tersebut keluar, tanpa pamit. Saya kejar sampai ke ruang OSIS dan berkata :"Sebentar pak, tolong jelaskan darimana Bapak berpendapat bahwa dalam tulisan saya ada kata-kata 'AJI, PWI, SWII itu menerima budaya amplop?"

Wartawan amplop itu terus berjalan, ngeloyor pergi, dengan bersungut-sungut, Nggerundel. Saya mengikutinya dari belakang mengajak bersalaman! Tapi dia tidak mempedulikan, sepertinya dia marah.

Saya bingung, saking bingungnya saya lalu tertawa, geli karena merasa lucu dengan kenaifan dan sifat kekanak-kanakan wartawan tersebut.

Dia terus saya ikuti dari belakang punggungnya sampai ke ruang guru, dan mengajak bersalaman. Ia tidak mau menyambut ajakan jabatan tangan saya, mulutnya terus bersungut-sungut. Sambil berjalan cepat, dia terus nggerundel!

K.O. dah tuh wartawan bodreks, baru diajak debat sedikit keras aja udah keteter. Makanya kalau jadi wartawan jangan asal nyari amplop, cuap-cuap terus tekan sana-sini. Padahal sumber daya manusianya terlalu rendah. Bayangkan wartawan bodreks di daerah itu ada yang kemarin masih menjadi calo omprengan atau tukang bensin. Kelas 2 SMP pun tidak lulus, ngakunya sih Sarjana Hukum.

Hari ini, sudah berubah wujud seperti berubahnya Son Go Ku di kartun anak-anak menjadi manusia Seiya Super. Bisa terbang dan menguasai ilmu kanuragan dalam jurnalistik. Semudah itukah?
***