"Oh, iya pak... saya akan temui!"
saya menjawab, dan pergi ke ruang Kepala Sekolah untuk menemui wartawan
tersebut.
"Tapi tolong jangan di ruangan saya pak, karena saya tidak ingin
terlibat!" Kata bos Saya lagi. (Kok, bos saya kayaknya lebih
takut dibanding sama setan ya?)
-. Jam 09.25 saya menemui wartawan
amplop tersebut di ruang Kepala Sekolah, saya menyapa dan mengajak bersalaman.
Ia membalas dengan dingin dan menjawab ketus. Saya ajak dia ke ruang
penyuluhan dan konseling. Saya persilahkan beliau untuk duduk dan memohon
maaf karena situasinya tidak nyaman. Kursinya dan mejanya sudah tua,
.berdebu lagi, maklum sekolah kampung.
-. Jam 09.26, kami duduk dan saya
mendahului pembicaraan dengan menanyakan ID wartawan tsb. Ia dengan
pongah memberikan kartu identitasnya, Ia juga tidak keberatan untuk
dicatat identitasnya. Lalu terjadilah dialog sebagai berikut, setelah
wartawan itu menghidupkan recorder yang dibawanya. Tanpa meminta ijin
kepada saya, padahal kalau tidak salah etikanya harus minta ijin dulu
ya? Lucunya dengan full action seolah wartawan profesional, recorder
itu terus diacung-acungkan ke mulut saya.
Saya :"Oh, Pak X (dalam
percakapan itu saya sebut namanya) itu dari media D, Jakarta ya?
Wah saya juga tahu Pak S (padahal saya tahu itu dari kartu identitas
dia), Jhoni Tg...
Bapak X (menukas setegah membentak) : "Lha iya lah, semua
orang di media di Jakarta itu tahu dan mengenal saya..."
(Saya berkerut dan bingung sebab sepengetahuan saya Jhoni Tg itu
fotografer harian Kompas Jakarta)
Saya :"Jhoni itu di Kompas
...." (maksud saya mau meluruskan!)
Bapak X (memotong) : "Ah, bagi saya. Mau Kompas, Pikiran
Rakyat atau apa pun sama saja"
Saya :"Ada kepentingan Bapak
menemui saya?"
Bapak X :"Saya ingin mengklarifikasi...." (padahal kata
ini kan harusnya subjek pelaku yang berhak untuk menyatakan, mungkin
dia maksud : Saya ingin meminta klarifikasi!)
Saya :"Sebentar Pak, apa itu 'mengklarifikasi?" (karena
dalam pikiran saya tidak ada yang harus diklarifikasi dalam artikel
saya)
Bapak X :"Meminta penjelasan atas tulisan Anda, di SKU BR. Karena
dari informasi dari teman-teman saya, bahwa tulisan Anda itu tidak pernah
dikonfirmasikan pada para wartawannya ..."
Saya :"Sebentar Pak ....bisa disebutkan siapa-siapa wartawan surat
kabar tersebut?"
Bapak X :"Ya banyak...!"
Saya :"Diantaranya ....?
Ia menyebut sejumlah nama-nama wartawan
lokal, anggota kelompoknya, dan saya mencatat nama-nama yang disebutkan
tadi.
Bapak X :"Saya ingin mengkonfirmasi tentang tulisan Anda...?"
Saya :"Sebentar saya mau tanya
dulu, kode etik yang mana yang menjadikan Anda merasa berhak untuk mengkonfirmasi
artikel?"
Bapak X :"Ah, itu tidak perlu. Itu hak saya sebagai wartawan. Kode
etik, itu bukan masalah Anda!"
Saya tertawa geli, karena merasa
lucu....dengan kalimat-kalimat dan intonasinya. Kocak, tapi ingin kelihatan
serius. Diserem-seremin malah jadi kaya melawak.
Bapak X :"Nah, kan seharusnya Redaksi itu melakukan cross check
dulu dengan Anda atau dengan wartawannya!"
Saya :"Lho, Sebentar-sebentar,
Pak.... sepengetahuan saya di dalam suatu media itu ada Dewan Redaksi
dan Editornya. Mereka berhak untuk menilai, mengedit sebuah tulisan
yang masuk. Layak muat atau tidak. Penulis tidak perlu diberikan konfirmasi,
dan tidak bisa melakukan protes terhadap penyuntingan tersebut. Dimuat
atau tidaknya sepenuhnya hak Redaksi"
Bapak X, balik bertanya? : "Tapi
Anda mengaku bahwa itu tulisan Anda?" Dia berkata demikian sambil
menyorongkan recorder ke mulut saya, kalau saya tidak kontrol pasti
tertelan tuh rekordernya yang udah dekil. Dapet nemu kali ya...
Saya :"Coba Pak, alat itu diletakan
saja di meja....!" Kata saya memberi saran, karena saya merasa
kagok, terganggu. Lagi pula wawancara dua mata saja sampai kaya kelihatan
sibuk banget nyorong-nyorongin recorder. Seperti wartawan beneran rebutan
mulut pejabat atau artis yang diwawancarai.
Bapak X :"Ah, tidak bisa, wartawan
itu memang begini. Dihadapan pejabat atau anggota dewan memang harus
begini!" Ia berkata, sambil terus mendekatkan recorder itu ke depan
mulut saya.
Bapak X :"Begini saja, apakah Anda mengaku bahwa tulisan itu Tulisan
Anda?"
Saya :"Ya!"
Ia mengangguk puas, dan penuh kemenangan.
-. Jam 09.30 ke dalam ruangan masuklah
seorang pembina Pramuka untuk menyimpan tas serta jaket. Sejenak percakapan
terhenti, pembina pramuka keluar lagi memaklumi kami sedang berdiskusi.
"Pak, masih lama ya?" Ia bertanya pada saya. Saya mengangguk
dan menjawab :"Ya". Kemudian pembina pramuka itu keluar dan
menutup pintu.
Bapak X berkata lagi : "Apakah
Anda tahu bahwa tulisan Anda itu telah membawa imeg...(maksudnya
image kali)"
Saya : "Apa itu imeg...?"
Bapak X (terlihat sejenak terhenyak...diam)
: "Ya, jadi tulisan itu telah menimbulkan problim..." (maksudnya
problem)
Saya :"Maaf, problem... bukan problim!"
Sejenak ia terhenyak lagi dan diam,
dan matanya melotot mengancam!
Bapak X :"Iyalah...nah dalam tulisan Anda itu menyebutkan AJI,
PWI, SWII, dan lain-lain itu, adalah wadah bukan wartawan yang tidak
mentolerir budaya amplop " (Mungkin dia ingin mengungkapkan
bahwa wartawan seperti dia dan kelompoknya bukan dari organisasi kewartawanan
yang disebut!)
Saya :"Tapi di dalam wadah itu ada...?
Bapak X :"Ada, ada apanya....
saya menjadi tidak mengerti maksud Anda!" (Kelihatan raut mukanya
mengeras, dan tertekan, terdesak!)
Saya :"Iya, maksud saya suatu wadah yang berisi orang-orang yang
bekerja sebagai...?"
Bapak X :"Wartawan..." (ia melengkapi kalimat saya setengah
berbisik)
Saya :"Iya, anggotanya adalah wartawan..."
Bapak X :"Tapi mengapa dalam tulisan tersebut Anda mengatakan seolah
AJI, PWI dan lain-lainnya itu menerima budaya amplop..."
Posisi duduk saya maju ke depan,
dan menyela dengan suara tegas dan keras.
Saya :"Sebentar, sebentar...di dalam tulisan itu saya tidak pernah
(kata ini saya tekan) menyatakan, bahwa AJI, PWI, SWII dan lain-lainnya
itu menerima budaya amplop. Justeru, organisasi tersebut tidak (kata
ini saya tekan lagi) mentolerir dan menolak budaya amplop. Kalau
tidak percaya. Ini saya mempunyai salinan kode etik jurnalistik organsisasi
kewartawanan yang disebut, dan kiat dari AJI serta Dewan Pers untuk
menolak budaya amplop yang dilakukan oleh para wartawan bodreks. Sekarang
saya tanya, dari mana Bapak X, mendapat informasi bahwa dari tulisan
saya berisi kalimat bahwa AJI, PWI, SWII dan lain-lainnya itu menerima
budaya amplop?" (Nada saya berkata dengan cepat, dan keras...dengan
nada tinggi!, dan menurut saya itu wajar dalam suatu perdebatan atau
diskusi!)
Bapak X, terlihat mati kutu, marah,
dan dari sorot matanya saya tahu dia terdesak diam seribu bahasa. Dan
akirnya ia mengelak dan ngeles.
Bapak X :"Ah, susah berbicara dengan orang emosional seperti Anda.
Tidak akan nyambung...!"
Ia mendekatkan recorder ke mulutnya
(kaya reporter TV yang mengakhiri berita), dan berkata "Di
sini wartawan X dari harian BR (Lho, kok? Katanya dia dari Media
D di Jakarta. Kok, menutup kata-katanya di recorder sebagai wartawan
BR).
Karena pembicaraan belum tuntas,
saya mendesaknya untuk meneruskan pembicaraan itu.
Saya :"Sebentar ini belum tuntas..!"
Namun wartawan amplop tersebut keluar,
tanpa pamit. Saya kejar sampai ke ruang OSIS dan berkata :"Sebentar
pak, tolong jelaskan darimana Bapak berpendapat bahwa dalam tulisan
saya ada kata-kata 'AJI, PWI, SWII itu menerima budaya amplop?"
Wartawan amplop itu terus berjalan,
ngeloyor pergi, dengan bersungut-sungut, Nggerundel. Saya mengikutinya
dari belakang mengajak bersalaman! Tapi dia tidak mempedulikan, sepertinya
dia marah.
Saya bingung, saking bingungnya
saya lalu tertawa, geli karena merasa lucu dengan kenaifan dan sifat
kekanak-kanakan wartawan tersebut.
Dia terus saya ikuti dari belakang punggungnya sampai ke ruang guru,
dan mengajak bersalaman. Ia tidak mau menyambut ajakan jabatan tangan
saya, mulutnya terus bersungut-sungut. Sambil berjalan cepat, dia terus
nggerundel!
K.O. dah tuh wartawan bodreks, baru
diajak debat sedikit keras aja udah keteter. Makanya kalau jadi wartawan
jangan asal nyari amplop, cuap-cuap terus tekan sana-sini. Padahal sumber
daya manusianya terlalu rendah. Bayangkan wartawan bodreks di daerah
itu ada yang kemarin masih menjadi calo omprengan atau tukang bensin.
Kelas 2 SMP pun tidak lulus, ngakunya sih Sarjana Hukum.
Hari ini, sudah berubah wujud seperti
berubahnya Son Go Ku di kartun anak-anak menjadi manusia Seiya Super.
Bisa terbang dan menguasai ilmu kanuragan dalam jurnalistik. Semudah
itukah?
***