Karena itu, tidak
heran bila begitu banyak praktisi public relations (PR) yang menghalalkan
hubungan 'peruangan' ini. Bagi PR internal, mereka akan membuat program
kerja yang penuh 'nilai' rupiah. Mulai dari yang berbentuk jalan-jalan
--dengan alasan press visit yang kadang-kadang konyol dan tidak beralasan--
pemberian suvenir, ucapan terima kasih, hingga pemberian amplop atau
transfer ke rekening si wartawan.
Bagi PR eksternal
atau outsourcing, pola yang dilakukan praktis sama. Bedanya, mereka
tidak membuat program untuk jangka panjang bagi satu klien saja, melainkan
bagi beberapa klien. Bedanya lagi, PR outsourcing umumnya harus menjalin
relasi dengan berbagai jenis wartawan sesuai bidang usaha kliennya.
Sementara PR internal cukup menjalin hubungan secara intensif dengan
wartawan pada satu bidang saja sesuai dengan lingkup dan jenis usahanya.
***
Bagaimanapun, praktiknya secara
umum, mayoritas praktisi PR melakukan hal yang sama. Money politics,
kira-kira demikian gambarannya. Mereka yang tidak bermain di area bersih
ini sudah diberi stempel tersendiri. 'Tidak bagus media relations-nya,'
begitu istilahnya. Dan, para wartawan yang berhasil dibina oleh sejumlah
PR money politics, biasanya tidak akan segan menjatuhkan PR lain yang
non-money politics. Bahkan di depan klien si PR sekali pun. Bicara soal
etika? Uh, omong kosong. Entah di mana si etika ini bersembunyi.
Tak heran bila PR non-money politics-isme
--kita sebut saja demikian-- banyak yang kemudian sering kehilangan
klien. Kaburnya klien ini biasanya akan disertai dengan ucapan basa-basi
yang menohok; 'Perusahaan Anda tidak bisa menjamin kami muncul di koran.'
Astaga
Seakan wartawan dan redaktur itu menyisir berita berdasarkan
uang, bukan berdasarkan news valuenya!
***
Mencari siapa yang
salah memang tidak mudah. Hubungan antara PR dengan wartawan di Indonesia
memang sudah bergeser dari pengertian hubungan profesional pada umumnya.
Sebuah koran nasional yang terkenal kencang menggaungkan anti amplop
pun bukannya tidak mungkin kesusupan wartawan amplop.
Dalam sebuah kunjungan
ke Bandung, seorang wartawan senior, dari harian yang kencang anti amplop
itu, bahkan pernah melontarkan protes. "Kalau jalan dengan perusahaan
PR Anda, kita garing, ya
." Maksudnya? Jelas, karena tidak
ada uang lain yang diberikan si perusahaan PR selain uang saku resmi
yang menghendaki wartawan penerimanya menandatangani berlembar-lembar
bukti serah terima.
Jadi, memang sulit
mencari biang salahnya. Jadi pula, bisa dipahami mengapa Marsela panik
berat.
Solusinya? Mengingat
tidaklah mudah berjalan di atas rel yang digariskan, maka kadang-kadang
kreativitas harus dibangun. Untuk media yang memang benar-benar miskin,
apa boleh buat, kadang-kadang memang para PR profesional mesti turun
grade.
Menghadiahkan mereka
sesuatu kadang-kadang memang harus dilakukan. Hanya saja, jangan diberikan
ketika suatu event sedang berlangsung. Tunggulah beberapa hari. Kemudian
teleponlah si wartawan, setelah ia memuat beritanya. Katakan bahwa ada
tanda terima kasih yang ingin disampaikan klien. Atau, pada tahap awal,
kirimkan saja kue yang lezat yang besar kemungkinan akan dinikmati ramai-ramai
sekantor. Lain kali, tanyakan, apakah ia membutuhkan alat perekam atau
buku tertentu yang dapat menunjang kerjanya. Uang? Kalau bisa, jangan.
Paling tidak jangan dari kita.
***
Kembali ke kasus
Marsela di atas. Apakah ia jadi mengirim uang ke Bono si wartawan Bisnis
Indonesia di malam buta itu? Untungnya tidak. Karena setelah dicari
tahu lebih jauh lagi, Bono ini ternyata tak terdaftar namanya sebagai
wartawan Bisnis Indonesia. Bahkan Joni, rekan baik saya di media itu
menjamin seratus persen bahwa Bono adalah fiktif belaka.
Usut punya usut,
Bono ini adalah sejenis broker wartawan. Ia memang wartawan, tetapi
dari media lain yang kecil saja. Ia mengandalkan kedekatannya dengan
wartawan Bisnis Indonesia untuk mempengaruhi turunnya suatu berita secara
spekulatif. Jadi, kalau berita dimuat, ia akan mengklaim narasumber
-termasuk Pak Sunarto tadi - sebagai hasil usahanya. Dan, Pak Sunarto
akan segera mentransfer bayaran atas jerih payah Bono ini. Kalau tidak
dimuat, Bono akan mencari alasan lain.
Hanya saja, untuk
koran bisnis seperti Bisnis Indonesia, sudah pasti berita bisnis akan
menarik dan mendapat tempat untuk dimuat. Artinya? Ya sudah cukup lama
Bono menikmati untung dari 'keluguan' kalau tidak mau menyebut 'kebodohan'
si narasumber. Bayangkan pula betapa seringnya Bono panen, bila ia punya
banyak narasumber untuk dibodohi.
Celakanya, hingga
saat ini masih banyak saja narasumber yang bersedia dibodohi. Cilakanya
lagi, hingga saat ini pula --dan entah sampai kapan-- masih banyak saja
wartawan amplop.
***