edisi 64
selasa 30 september 20030

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

esei Wartawan dan PR di Indonesia
Ayu Hermawan

Dering hand phone saya berteriak nyaring menjelang tengah malam. Dalam perjalanan pulang seusai seharian mengurus event public expose klien saya, dering hand phone itu bukanlah hiburan yang diharapkan. Pasti ada yang urgent, demikian saya membatin.

Benar saja. Di ujung telepon, Marsela, seorang staf corsec (corporate secretary) perusahaan klien saya berbicara keras, nyaris berteriak, dengan nada panik. "Bisa dimuat nggak sih, mbak, di halaman pertama. Kalau tidak, Pak Sunarto bisa marah besar!" katanya.

Aduh…. Apalagi ini. "Pak Sunarto sudah minta tolong Bono, wartawan Bisnis Indonesia yang sudah sering bekerja untuk Pak Sunarto. Kata Bono akan dia bantu. Pak Sunarto minta saya transfer ke Bono malam ini. Rp 10 juta cukup nggak, mbak?' ujar Marsela beruntun.

Dalam kondisi menyetir, dan lelah pula, terpaksalah saya mencari tempat aman untuk berhenti sejenak. Saya mesti mengulang kembali penjelasan kepada Marsela, bahwa uang bukanlah segalanya. Ini ilmu dasar yang sudah saya sampaikan sejak pertama kali saya menjadi konsultan media relations perusahaan pengeboran minyak nasional itu.

Tapi Marsela tetap panik. Panik sepanik-paniknya. Ia mestilah membayangkan kemana mukanya akan diletakkan bila besok pagi berita mengenai public expose perusahaannya tak muncul di harian yang dimaksud. Padahal, Pak Sunarto itu adalah perwakilan komisaris dari induk perusahaan.
***

Marsela tidak sendirian. Begitu banyak orang di begitu banyak perusahaan yang memandang hubungan dengan media massa adalah hubungan khusus yang bisa dibangun dengan dasar uang. Semakin banyak uang dikeluarkan, semakin bagus berita ditulis. Jumlah uang menentukan pula besar kecilnya berita. Bahkan, menentukan pula letak berita. Ibarat memasang iklan. Semakin strategis letak halaman, semakin besar ukuran iklan, maka semakin mahal pula harganya. Begitu pula berita yang ditulis wartawan.

tulisan edisi 64

laporan Percakapan Dengan Seorang Wartawan (amplop)
Deny Suwarja

cerpen Bu, Ijinkan Aku Sekolah di Dalam WC
Imron Supriyadi

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


ceritanet
©listonpsiregar2000

Karena itu, tidak heran bila begitu banyak praktisi public relations (PR) yang menghalalkan hubungan 'peruangan' ini. Bagi PR internal, mereka akan membuat program kerja yang penuh 'nilai' rupiah. Mulai dari yang berbentuk jalan-jalan --dengan alasan press visit yang kadang-kadang konyol dan tidak beralasan-- pemberian suvenir, ucapan terima kasih, hingga pemberian amplop atau transfer ke rekening si wartawan.

Bagi PR eksternal atau outsourcing, pola yang dilakukan praktis sama. Bedanya, mereka tidak membuat program untuk jangka panjang bagi satu klien saja, melainkan bagi beberapa klien. Bedanya lagi, PR outsourcing umumnya harus menjalin relasi dengan berbagai jenis wartawan sesuai bidang usaha kliennya. Sementara PR internal cukup menjalin hubungan secara intensif dengan wartawan pada satu bidang saja sesuai dengan lingkup dan jenis usahanya.
***

Bagaimanapun, praktiknya secara umum, mayoritas praktisi PR melakukan hal yang sama. Money politics, kira-kira demikian gambarannya. Mereka yang tidak bermain di area bersih ini sudah diberi stempel tersendiri. 'Tidak bagus media relations-nya,' begitu istilahnya. Dan, para wartawan yang berhasil dibina oleh sejumlah PR money politics, biasanya tidak akan segan menjatuhkan PR lain yang non-money politics. Bahkan di depan klien si PR sekali pun. Bicara soal etika? Uh, omong kosong. Entah di mana si etika ini bersembunyi.

Tak heran bila PR non-money politics-isme --kita sebut saja demikian-- banyak yang kemudian sering kehilangan klien. Kaburnya klien ini biasanya akan disertai dengan ucapan basa-basi yang menohok; 'Perusahaan Anda tidak bisa menjamin kami muncul di koran.' Astaga… Seakan wartawan dan redaktur itu menyisir berita berdasarkan uang, bukan berdasarkan news valuenya!
***

Mencari siapa yang salah memang tidak mudah. Hubungan antara PR dengan wartawan di Indonesia memang sudah bergeser dari pengertian hubungan profesional pada umumnya. Sebuah koran nasional yang terkenal kencang menggaungkan anti amplop pun bukannya tidak mungkin kesusupan wartawan amplop.

Dalam sebuah kunjungan ke Bandung, seorang wartawan senior, dari harian yang kencang anti amplop itu, bahkan pernah melontarkan protes. "Kalau jalan dengan perusahaan PR Anda, kita garing, ya…." Maksudnya? Jelas, karena tidak ada uang lain yang diberikan si perusahaan PR selain uang saku resmi yang menghendaki wartawan penerimanya menandatangani berlembar-lembar bukti serah terima.

Jadi, memang sulit mencari biang salahnya. Jadi pula, bisa dipahami mengapa Marsela panik berat.

Solusinya? Mengingat tidaklah mudah berjalan di atas rel yang digariskan, maka kadang-kadang kreativitas harus dibangun. Untuk media yang memang benar-benar miskin, apa boleh buat, kadang-kadang memang para PR profesional mesti turun grade.

Menghadiahkan mereka sesuatu kadang-kadang memang harus dilakukan. Hanya saja, jangan diberikan ketika suatu event sedang berlangsung. Tunggulah beberapa hari. Kemudian teleponlah si wartawan, setelah ia memuat beritanya. Katakan bahwa ada tanda terima kasih yang ingin disampaikan klien. Atau, pada tahap awal, kirimkan saja kue yang lezat yang besar kemungkinan akan dinikmati ramai-ramai sekantor. Lain kali, tanyakan, apakah ia membutuhkan alat perekam atau buku tertentu yang dapat menunjang kerjanya. Uang? Kalau bisa, jangan. Paling tidak jangan dari kita.
***

Kembali ke kasus Marsela di atas. Apakah ia jadi mengirim uang ke Bono si wartawan Bisnis Indonesia di malam buta itu? Untungnya tidak. Karena setelah dicari tahu lebih jauh lagi, Bono ini ternyata tak terdaftar namanya sebagai wartawan Bisnis Indonesia. Bahkan Joni, rekan baik saya di media itu menjamin seratus persen bahwa Bono adalah fiktif belaka.

Usut punya usut, Bono ini adalah sejenis broker wartawan. Ia memang wartawan, tetapi dari media lain yang kecil saja. Ia mengandalkan kedekatannya dengan wartawan Bisnis Indonesia untuk mempengaruhi turunnya suatu berita secara spekulatif. Jadi, kalau berita dimuat, ia akan mengklaim narasumber -termasuk Pak Sunarto tadi - sebagai hasil usahanya. Dan, Pak Sunarto akan segera mentransfer bayaran atas jerih payah Bono ini. Kalau tidak dimuat, Bono akan mencari alasan lain.

Hanya saja, untuk koran bisnis seperti Bisnis Indonesia, sudah pasti berita bisnis akan menarik dan mendapat tempat untuk dimuat. Artinya? Ya sudah cukup lama Bono menikmati untung dari 'keluguan' kalau tidak mau menyebut 'kebodohan' si narasumber. Bayangkan pula betapa seringnya Bono panen, bila ia punya banyak narasumber untuk dibodohi.

Celakanya, hingga saat ini masih banyak saja narasumber yang bersedia dibodohi. Cilakanya lagi, hingga saat ini pula --dan entah sampai kapan-- masih banyak saja wartawan amplop.
***