Namaku masih Ibnu, dipanggil orang
dengan Benu!. Tahun 80-an, aku tinggalkan sekolah. Padahal, kata orang,
sekolahku adalah bagian dari penjara suci di negeri ini. Tapi aneh,
tempat-tempat yang selama ini kuanggap suci, sakral, atau orang-orang
yang kuangap tak pantas melakukan tindakan kekerasan dan keji, justeru
telah mengguruiku menjadi manusia amoral.
Bagaimana tidak? sejak sekolah,
guruku sudah mengajari aku dengan kekerasan. Memukul, menjemur, menendang,
bahkan salah seorang teman ada yang tangannya disundut rokok, hanya
gara-gara lupa mengerjakan Pe-er.
"Puih! Sekolah
macam apa itu!" aku mengumpat.
Makanya, sejak ia keluar sekolah,
temanku itu, sampai sekarang, menjadi manusia pendendam, suka melakukan
kekerasan terhadap teman sendiri. Kalau ini yang terus terjadi, berarti,
sekolah hanya akan menciptakan manusia yang siap akan menjajah manusia
lain. Ini tidak boleh terjadi. Kita harus merdeka dari penindasan siapapun.
Guru, pejabat atau presiden sekalipun tidak boleh dan tidak berhak menjajah
siapapun. Kalau semut saja bisa menggigit, kenapa aku harus diam?
Masih tahun 80-an. Aku keluar dari
asrama, yang dianggap orang-orang sebagai penjara suci itu.
Bukan lantaran aku tidak lagi butuh
Tuhan, atau karena aku berniat untuk memprotes kebijakan Tuhan, tetapi
justeru karena para guru di sekolahku telah keluar dari aturan Tuhan.
Tahun kedua, menjelang aku keluar,
di sekolahku sudah dibangun ratusan kamar VIP. Kamar ini diperuntukkan
bagi anak-anak orang kaya, yang sudah tentu hidup serba enak dan tidak
siap hidup susah di asrama. Belum lagi satu tahun berjalan, di sekolahku
sudah terjadi kelompok-kelompok, antara kaya dan miskin. Antara penghuni
kamar VIP dan penghuni kamar kelas gembel sepertiku. Bahkan, di dalam
kelas-pun, murid-murid menjadi terbelah-belah. Barisan penghuni kamar
VIP berbanjar dengan VIP. Sebaliknya penghuni kelas gembel berbanjar
dengan kelas gembel. Padahal Tuhan tak membeda-bedakan antara satu sama
lain.
"Oi, kalian tak perlu berpisah-pisah
seperti itu. Disini kita sama, dia makan nasi, kita makan nasi, tidak
ada yang berbeda," teriakku suatu kalis aat istirahat siang, tanpa
berniat sama sekali untuk menidentifikasi diri sebagai Tuhan.
Tapi, aku hanya sendiri. Hanya beberapa
kawan saja yang kut mendukung aksi protes, untuk segera menutup kamar
VIP. Bahkan sikap bersama, dari Wali murid kelas gembel yang menolak
kamar VIP, tak juga merubah sistem di sekolahku. Kesenjangan antara
kelas VIP dan kelas gembel terus terjadi.
Sentimen psiklogis dan juga jurang
materi tak bisa dihindarkan, bahkan makin menular kemana-mana. Muncullah
di sekolahku dua buah kantin. Kantin VIP dan kantin sederhana. Ternyata
sekolahku makin detik makin parah. Dan pagi usai shalat subuh, aku kabari
Ibu bahwa aku tidak lagi sekolah.
"Bu, aku ingin
sekolah di dalam WC."
"Ah, macam-macam saja kamu, Nak! Kenapa mesti di WC, sekolah lain
kan banyak?"
"Iya, Bu. Sekolah lain mungkin tak jauh berbeda. Ada kesenjangan.
Ada perkelahian. Ada suap menyuap untuk menambah nilai, atau masih saja
ada penjajahan manusia atas manusia. Tanpa ada buku, guru mengancam
tidak meluluskan ujian. Dan di sekolah, guru bukan manusia yang disegani
lagi, tetapi menjadi monster yang menakutkan, seperti boneka jaelangkung."
"Lantas apa yang akan kau peroleh, jika sekolah di dalam WC?".
"Di WC, aku temukan persamaan hak antara si gembel dengan pejabat,
Bu. Tak akan ada yang berak mengeluarkan emas atau perak, tapi tai,
t-a-i. Ya semua, bukan kelas gembel atau pejabat, semua t-a-i."
"Terus, selain itu, di
dalam WC, tidak akan lagi kutemukan kesejangan miskin atau kaya, sejak
kelas pinggiran sampai kelas presiden, tak ada yang berak sambil berdiri,
semua jongkok atau duduk."
Ibu sesaat tersenyum. "Ada-ada
saja kau ini, Nak."
"Kenapa Ibu
mesti tersenyum, ini kenyataan lho, Bu.".
"Iya, Ibu tahu, tapi kok kedengaranya lucu."
"Memang Bu, ini lucu bagi siapa saja yang tidak pernah berpikir
filosofi di dalam WC."
Ibu makin tertawa; "WC kok dibuat Filosofi."
"Lho, kenapa tidak, Bu. Aku masih ingat Bu, apa yang Ibu katakan,
Nak jadikan setiap mahluk itu guru, dan setiap tempat itu sekolah. Makanya,
di dalam WC-pun aku akan sekolah."
Ibuku makin penasaran, kenapa aku
memilih sekolah di dalam WC. Dan saat itu, aku belum tahu benar, apakah
Ibu mengizinkanku atau tidak.
"Supaya Ibu
tahu, kenapa aku meminta izin sekolah di dalam WC, karena di dalam WC
aku merasa terdidik untuk disiplin. Sebab aku tidak akan berlama-lama
melamun di dalam WC, kalau mamang aku selesai membuang tai. Sebab, Ibu
pernah bilang, Nak, hidup ini tidak akan selesai dengan lamunan. Oleh
sebab itu, Bu, aku juga tidak mau berlama-lama di dalam WC. Itu namanya
disiplin Bu"
"Karena alasan itu, lalu kau ingin sekolah di dalam WC?"
"Ada lagi, Bu! Di dalam
WC, aku dididik untuk tidak menciptakan fitnah. Sebab, setiap aku selesai
berak, aku kan harus membersihkan kotoran. Ini artinya sama seperti
yang pernah Ibu katakan padaku, Nak jangan sebarkan kotoran dan fitnah
dimanapun kamu bermukim.".
"Dan terakhir, Bu. Ini yang mungkin tidak pernah dirasakan banyak
orang."
"Apa itu?"
"Di dalam WC, aku menemukan kebesaran Tuhan.".
"Hei, kenapa Tuhan kau bawa-bawa dalam WC!" Ibuku agak tersinggung.
"Jangan marah dulu, Bu.
Ibu kan pernah bilang, Tuhan menebar pelajaran dimana-mana. Dan menurutku,
di dalam WC pun, Tuhan sedang memberi simbol kebesaran-Nya."
Sesaat, Ibu menghentikan merajut kain. Keningnya mengerut. Pertanda
Ibu masih penuh tanda tanya. Aku menggeser lalu lebih mendekat dari
posisi Ibu.
"Begini, Bu,
aku tidak bisa membayangkan, berapa besar biaya untuk berobat bagi orang
yang dalam tiga hari tidak bisa berak. Akan berapa juta rupiah harus
dikeluarkan, jika aku ini tidak bisa mengeluarkan tai dari dalam perut!
Makanya, setelah selesai berak, aku ingat kata-kata ibu, Nak sering-sering
bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Dan buatku, satu
hari bisa berak satu kali saja adalah bagian kebesaran Tuhan yang patut
kunikmati dan kusyukuri. Itulah, Bu, kenapa aku saat ini memilih untuk
sekolah di dalam WC. Di WC kutemukan kedamaian, tidak ada protes, tidak
ada suap menyuap, tidak ada pertengkaran, yang ada hanya kerelaan untuk
duduk sesaat, membuang kotoran, demi kesehatan tubuh kita."
"Ibu tidak setuju!"
Aku terperanjat.
"Kenapa, Bu,
Kenapa?!"
"Jangan kau sekolah di dalam WC, tapi masuklah ke dalam Kakus."
Aku masih binggung
"Apa bedanya
WC dengan kakus Bu."
"WC ada di setiap tempat termasuk di hotel-hotel dan rumah-rumah
mewah, sementara kakus hanya ada di dusun dan pinggir sungai.".
"Maksud, Ibu?"
"Nak, di dalam WC itu ada tisu, ada mesin pengering tangan, ada
sabun, ada sikat dan peralatan moderen, yang banyak diproduksi oleh
para pemilik modal.".
"Lalu?"
"Jangan kita tergantung pada para pemilik modal itu hanya gara-gara
soal asesoris WC. Makanya, kalau kamu sekolah di dalam WC nanti akan
lupa dengan kedamaian dan kebebasan kakus yang keluar dari ketergantungan.
Modalnya hanya penutup kain dan jongkok, lain tidak."
"Supaya tidak tergantung dengan peralatan WC, aku harus bagaimana,
Bu?"
"Ya, rebut pabriknya dan kuasai!"
"Lalu?!"
"Lalu bangun dan tebar
kakus di setiap tempat, dan ajari mereka bagaimana membuat alat pembersih
kakus. Kalau itu sudah kau rebut, nak, tak akan ada lagi penjajahan
manusia atas manusia, tak ada lagi ketergantungan kita pada pemilik
modal, kita akan mendiri, dan tiadk akan ada lagi kesenjangan. Yang
ada hanya kedamaian, sama seperti kedamaian kita di dalam kakus."
Aku kaget mendengar ajaran Revolusi
WC dari Ibkuu. Aku baru sebatas menyerap Filosofi WC tapi Ibuku sudah
sampai pada Revolusi WC.
Tiba-tiba perutku
mual."Aduh Bu, perutku, perutku."
"Kenapa perutmu, Nak?"
"Aku...aku kebelet Bu. Aku mau ke WC, eh... ke kakus Bu."
***
Dari dalam WC. Pukul : 03. 59 WIB-Palembang, 4 Mei
2003