edisi 63
kamis 18 september 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Hari keberangkatan Yury adalah sumuk. Taufan semacam yang mengamuk dua hari sebelumnya, sedang menjadi-jadi. Di lingkungan stasiun yang dikotori kulit biji-biji bunga matahari, semua pondok lempung dan gangsa kelihatan pucat dan kecut di bawah ancaman senyap dari langit hitam.

Rumput di padang luas depan stasiun yang terbentang di kanan kirinya, telah terinjak-injak dan hilang lenyap oleh khalayak tak terbilang yang menanti kereta api berminggu-minggu.

Kaum lelaki tua dengan jas abu-abu dari wol yang kasar berjalan-jalan dari kelompok ke kelompok, mencari kabar atau desas-desus. Anak-anak berumur empat belas tahun diam-diam berbaring bertelekan siku, sedang memusing-musingkan ranting-ranting yang terkupas, seolah menjaga sekawanan domba; sedangkan adik-adik mereka yang kecil berkeliaran di bawah kaki orang dengan kemeja yag berkibaran serta pantat merah jingga. Para ibu duduk di tanah, menjulurkan kaki lurus ke depan, menyamankan pemandangan; pada dada mereka bayi-bayi diselubungi jaket sawo matang yang biasa dipakai petani hingga tak tentu bentuknya.

"Semua berpencaran macam domba saja, ketika tempo hari ada tembakan," kata kepala stasiun secara tak mengenakkan kepada Yury, waktu mereka jalan, berbelok-belok antara deretan-deretan tubuh yang berbaring di depan gerbang dan di lantai stasiun. Dalam sekejap mata semua meninggalkan padang rumput. Tanah nampak lagi, tanah yang berbulan-bulan tak kami lihat, karena merka bercokol terus, kami sudah lupa bagaimana tanah itu rupanya. Disinilah ia menggeletak. Lucu. Dalam perang saya lihat beberapa hal yang tak sedap, orang mengira saya sudah biasa pada apa saja. Namun saya meeasa kasihan. Sebab semuanya tak bermakna. Apa kesalahannya terhadap mereka? Tapi ya, mereka bukan lagi manusia. Mereka bilang, ia anak mas. Sekarang mari ke kanan, ke kantor saja. Tak ada harapan di kereta api ini. Saya kuatir tuan akan terhimpit mati Saya tempatkan tuand dalam kereta api setempat. Sedang disiapkan sekarang. Tapi jangan sebut-sebut itu, sebelum kita mulai mermpesilahkan mereka; kereta akan pecah belah sebelum selesai diatur. Tuan pindah di Sukhinichi nanti malam."
***

tulisan edisi 63

esei Wartawan Malaikat Pelacur
A. Hermawan

sajak Prasasti Kelahiran
T.S. Pinang

sajak Duesseldorf
Lily Nababan

ceritanet
©listonpsiregar2000