sajak
Duesseldorf
Lily
Nababan
panas mentari
angin kencang menerpa wajah..
menggigilkan tubuh-tubuh bermantel dimana-mana,
juga disini,
di
pinggir sungai Rhein.......
berbilang tahun kuberkhayal
adakah Rhein memang besar bagai lautan?
adakah ia selebar musi
atau mahakam?
di tepinya,
di bawah pohon maple berdaun hijau
sayup kudengar dentang lonceng lambertus
basilica
samar teriak riang membahana
di sirkus pier,
musik
mengalun merdu dari cafe di samping museum schiffart
berbaur
denting gelas-gelas bir alt dan cangkir kopi
tawa
gembira sepasang kekasih yang mengayuh sepeda..
gelaknya
tercecer di sepanjang promenade
samar kutatap jembatan oberkasseler dan theodor-heuss menjulang
mengapit tepian altstadt dan niederkassel
u-bahn nomor 74 dan 75 melintasinya
setiap sepuluh menit
mengantarkan duesseldorfer
ke seberang sungai
hingga
ke neuss atau lorick
dan
kembali...
disini kusaksikan,
sungai bagai pusat kegembiraan,
tidak hanya bisa dilayari kapal-kapal
wisata duesseldorf-cologne,
atau ponton-ponton
batu bara, minyak, peti kemas...
di seberangnya berjajar bangunan tua sisa-sisa masa
lalu,
bergeming menghadap riuh rendah
di depannya...
disini, kaki menjejak namun benak
bagai melayang jatuh
karena dingin merasuk dalam...
sebentar lagi, duesseldorf..
aku harus kembali ke kamar yang tua, sepi dan
dingin..
selamat sore, kota nan ramah..
***
2 mei 2003
tepi s. Rhein, duesseldorf
16.40