edisi 63
kamis 18 september 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

sajak Duesseldorf
Lily Nababan

panas mentari…
   angin kencang menerpa wajah..
     menggigilkan tubuh-tubuh bermantel dimana-mana,
         juga disini,
              di pinggir sungai Rhein.......

berbilang tahun kuberkhayal
    adakah Rhein memang besar bagai lautan?
        adakah ia selebar musi atau mahakam?

di tepinya,
   di bawah pohon maple berdaun hijau
      sayup kudengar dentang lonceng lambertus basilica
        samar teriak riang membahana di sirkus pier,
           musik mengalun merdu dari cafe di samping museum schiffart
              berbaur denting gelas-gelas bir alt dan cangkir kopi
                 tawa gembira sepasang kekasih yang mengayuh sepeda..
                    gelaknya tercecer di sepanjang promenade
samar kutatap jembatan oberkasseler dan theodor-heuss menjulang
   mengapit tepian altstadt dan niederkassel
      u-bahn nomor 74 dan 75 melintasinya setiap sepuluh menit
        mengantarkan duesseldorfer ke seberang sungai
            hingga ke neuss atau lorick
              dan kembali...

disini kusaksikan,
   sungai bagai pusat kegembiraan,
      tidak hanya bisa dilayari kapal-kapal wisata duesseldorf-cologne,
         atau ponton-ponton batu bara, minyak, peti kemas...
   di seberangnya berjajar bangunan tua sisa-sisa masa lalu,
      bergeming menghadap riuh rendah di depannya...

disini, kaki menjejak namun benak bagai melayang jatuh
    karena dingin merasuk dalam...

sebentar lagi, duesseldorf..
    aku harus kembali ke kamar yang tua, sepi dan dingin..
selamat sore, kota nan ramah..
***

2 mei 2003
tepi s. Rhein, duesseldorf
16.40

tulisan edisi 63

esei Wartawan Malaikat Pelacur
A. Hermawan

sajak Prasasti Kelahiran
T.S. Pinang

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000