edisi 63
kamis 18 september 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

sajak Prasasti Kelahiran
T.S. Pinang

mungkin aku terlahir dengan sebongkah batu dalam dada agar rindu selalu terpelihara, pada terik kemarau dan geredap hujan pada atap, lalu keduanya melahirkan butir-butir pasir yang hanyut dalam aliran sungai tanpa muara, sementara kerikilnya menciptakan riam di setiap simpang aortaku

mungkin aku adalah anak kandung gunung karena dari rahimnya batu-batu bertapa dan kemudian terlahir dengan letupan penuh semangat, lengking tangisan paling kuat. mungkin aku adalah anak kandung langit karena di sana juga terkubur batu-batu sebanyak butir pasir dalam sulur-sulur darahku

maka sungai pun terasa sangat akrab, tak henti menyetubuhi batu dalam dadaku, seperti kisah incest Sangkuriang dan perempuan Sumbi. dan di pucuk-pucuk gunung bersemayam para lelaki menarikan ritual lingga atas nganga yoni di celah pusar bumi

sementara aku masih didera pertanyaan purba tentang ayah-ibu dan hikayat kelahiranku

lalu malam pun menjelma, menjadi kekasih setia karena siang dan matahari adalah dendam, sedangkan bulan dan gerhana malam adalah kenangan atas masa depan. semacam déjà vu, kukumpulkan serpih-serpih ingatan pada bau setiap kelopak rambutmu dan warna kerakap yang gigih mengikis batu dalam dadaku

dan butir-butir pasir masih tetap menjalari setiap buluh dalam diriku, denyarnya seperti riak gelombang lautan yang menghanyutkan, lalu menghempaskan tubuhku pada bibir pesisir:

mungkin aku adalah pokok pandan
atau sebongkah karang tua

tiba-tiba kulihat pasir di mana-mana
dan sebongkah batu masih di sana, dalam dada
adakah di situ kau baca
terpahat sebuah nama?
2003

tulisan edisi 63

esei Wartawan Malaikat Pelacur
A. Hermawan

sajak Duesseldorf
Lily Nababan

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

 


Belajar Melukis

mungkin di sinilah asal mula kata-kata
mata air ini, rahim air mata: nutfah kata yang pertama
darinya meleleh air ketubannya menjelma sungai menghanyutkan kitab-kitab suci di setiap anak airnya, sedangkan bayi yang terlahir itu kelak berkalung ribuan nama yang ditulis dengan huruf besar dan lagu-lagu puja

ribuan hikayat ribuan tahun menguap
menggumpal lalu rintik, menderas dalam hujan menyiram humus menyuburkan sawah-sawah dalam hati para petani yang tiada henti mencari bayi: dalam diri

imajinasi menyeruak berupa bulir-bulir padi, harumnya melahirkan dewa-dewi, malaikat, dan piring sesaji. lalu matahari datang dengan seperangkat bunyi-bunyi dan sepotong foto bergambar fajar pagi. maka siang dan malam tak lagi seputih-hitam lukisan di dinding kuil-kuil para padri

kini, saat kata-kata begitu berwarna-warni
mengapa tak kita rayakan pelangi?
2003