Di Jakartaboleh jadi juga
di kota-kota di negeri kamimereka yang mengaku sebagai wartawan
bukanlah hal aneh. Mereka tersebar di mana-mana, dari mulai gedung instansi
pemerintah, gedung parlemen, hingga hotel-hotel atau di mana ada acara
apa saja berlangsung. Apalagi di jaman orang bebas terbitkan media massa
apa saja seperti sekarang, siapa saja bisa mengaku sebagai wartawan.
Belum lagi, banyaknya media berita internet, para pemalsu itu dengan
gampang mengaku sebagai wartawan 'dot com.'
Seperti lazimnya wartawan beneran,
mereka juga tergabung dalam organisasi-organisasi (atau gerombolan).
Modusnya jelas: mencari uang dengan mengatasnamakan wartawan. Para 'wartawan'wartawan
yang mengaku bersih, biasanya memanggil gerombolan mereka sebagai wartawan
bodrek. (Mungkin , ini mungkin lho, istilah itu muncul dari iklan obat
sakit kepala Bodrex awal 70-an. Saat itu digambarkan pil-pil Bodrex
berbaris bergerombol ke sana-kemari, membasmi sakit kepala, flu dan
pilek).
Cerita model beginitentang
wartawan boongan itu-- memang bukan cerita baru. Dengan berpenampilan
seperti wartawan, menenteng kamera, rompi dengan tulisan 'PERS' besar
di punggung, mereka tampil percaya diri. Pernah, suatu saat bahkan,
usai wawancara seorang direktur perusahaan yang baru saja mengumumkan
perusahannya go public dimintai uang. Saat sumber itu mengaku tidak
memiliki dana cash, mereka dengan tenang menggiring orang itu ke sebuah
anjungan tunai mandiri (ATM) untuk menguras isinya.
Pernah juga seorang sumberseingat
saya-- ini terjadi di kawasan Gedung DPR malah seorang pejabat sampai
terobek-rombek dompetnya. Gara-garanya, dia membagi kartu namanya ke
sejumlah wartawan. Eh, melihat hal itu puluhan 'wartawan'lainnya segera
mengerubuti orang itu, dan menarik dompet dan segala isinya! Bukan hanya
kartu nama. Pejabat itu hanya tersenyum pahit.
Pernah juga terjadi, sejumlah anggota
DPR didatangi sejumlah 'wartawan' yang membawa semacam list sumbangan
duka cita karena, katanya, ada seorang wartawan meninggal. Sejumlah
anggota DPR pun memberikan sejumlah dana, hingga ratusan ribu rupiahmaklum,
anggota Dewankepada mereka. Belakangan diketahui, orang yang disebutkan
meninggal itu ternyata masih sehat wal afiat alias masih hidup. Para
peminta sumbangan itu memang hanya penipu-penipu tengik yang mengaku
wartawan
Mereka memang hebat untuk bidangnya.
Mereka bahkan bisa tahu acara apa saja yang terselenggara di hotel atau
gedung mana pun. Apalagi, jika penyelenggara acara tersebut sebuah perusahaan
atau lembaga tertentu yang tajir.
Itu baru cerita di Jakarta. Pernah
suatu saat, adik sayaseorang guru di sebuah kota kecil selatan
Bandung menelepon. Dia menceritakan, bagaimana saat pendaftaran
murid baru banyak 'wartawan' berdatangan ke sekolahnya. Mereka meminta
wawancara kepala sekolah karena menemukan penyimpangan dalam proses
penerimaan mahasiswa baru. Eh, belakangan pulangnya mereka minta
ongkos, cerita adik saya di ujung telepon. Pak Kepsek enggak
punya uang, katanya. Terus? Akhirnya kami patungan, dan
mereka kami bagi masing-masing Rp Rp 5.000 (!) untuk ongkos ojek,
katanya.
Rp 5.000 ! Harga semangkuk bakso.
Para guru memilih memberi uang itu karena malas berurusan dengan para
'wartawan' yang kata adik saya, sangar-sangar dan pertanyaannya galak-galak....
***
Ah, sepertinya halaman
ini terlalu sempit untuk membahas persoalan para bandit yang mengaku-ngaku
wartawan itu.Menulis ringan semacam ini saja, bisa berbuku-buku kita
susun dengan isi melulu wartawan bodrek, wartawan amplop. Mungkin saatnya,
para wartawan beneran pun saatnya merenung diri. Mengapa mereka bisa
muncul, merajalela dengan leluasa?
Tengok diri kita, teman-teman
wartawan sekitar kita, apa memang isinya wartawan malaikat semua. Wartawan
yang anti-amplop (dan isinya) tentu? Saya sendiri menjadikan semua itu
sebagai bahan tertawaan yang pahit. Saya mungkin jujur(Gila, saya
pernah janjian dengan seorang teman kalau salah seorang dari kami menerima
amplop, seorang lainnya berhak membunuhnya!). Tetapi betapa menyedihkannya
teman-teman di sekitar, yang dengan enteng bisa menerima barang haram
itu.
Banyak di antara wartawan
beneran, jujur saja, menerima apa yang juga diterima wartawan bodrek
itu. Bahkan, ada kelompok-kelompok wartawan, organisasi, club, atau
apalah namanya yang bisa mengatur sebuah berita bisa turun di berbagai
media. Sumber-sumber berita, orang-orang public relation, setahu saya
juga 'memegang' wartawan-wartawan tertentu di berbagai media. Mungkin
saja, sekarang hampir semua media mengumumkan, 'wartawannya dilarang
menerima apapun dari sumbernya.'
Tetapi berapa banyak
media atau bahkan organiasi kewartawanan, yang mempunyai semacam Dewan
Kehormatan Wartawan. Atau mungkin sebuah lembaga etik, yang bertugas
menelusuri, membuktikan dan memecat mereka yang terbukti menerima amplop?
Bahkan, ada pula organisasi wartawan yang secara terbuka membolehkan
wartawan menerima amplop atau imbalan. Sepanjang dia tidak meminta,
kata pimpinan organisasi pers itu. Juga tidak mempengaruhi isi
beritanya, lanjutnya. Hah! Bualan macam apa itu?
Memang ada media yang
konsisten memecat wartawan yang menerima amplop, apalagi meminta imbalan,
atau apa saja dari medianya. Tetapi sejauh mana konsistensinya menelusuri
setiap laporan yang masuk mengenai 'kelakuan' wartawannya itu.
Bagi banyak wartawan
penerima amplop alasan gaji yang minim selalu menjadi alasan. Kita
enggak boleh menerima amplop. Harus idealis. Tetapi kalau media kita
juga dijalankan dengan orientasi bisnis, apa idealisme masih menjadi
bendera perusahaan kita. Bisnis adalah mencari untung sebanyak mungkin,
dan mencari untung sebanyak mungkin itu bukan idealisme..., kata
seorang wartawan beneran beralasan.
Tetapi kita juga tahu,
banyak dari wartawan yang menghalalkan amplop, imbalan atau sejenisnya
hidup dengan gelimang kaya. Bahkan, bukan rahasia lagi, jika ada media
yang memang menawarkan halamannya kepada siapa saja dengan imbalan tertentu.
Jika begitu, apa bedanya mereka dengan pelacur. Pelacur. Semua tahu
diharamkan, tetapi selalu saja dicari karena diperlukan.
Sudah ah, jadi ngelantur.
Akhirnya, kira-kira , selama wartawan beneran juga menerima amplop,
fasilitas, atau imbalan apa saja jangan harap mereka yang mengaku wartawan,
wartawan bodrek, WTS atau apa saja bisa lenyap. Lha, kalau di lapangan,
saat mereka berbaur dengan wartawan beneran pun enggak ada bedanya.
Sudah membedakannya,
mana malaikat mana pelacur...
***
Pamulang, 11 September
2003