Masinis melihatnya dari kabinnya dan mengangguk kepadanya secara bersahabat.
"Kutu busuk," pikir Kolya
dengan bencinya. Ia menjulurkan lidahnya dan mengacungkan tinju. Masinis
itu tak hanya mengerti, tapi dengan mengangkat bahu serta mengangguk
ke arah kereta api, ia bahkan berhasil menyatakan : "Apa harus
kubuat?" Aku ingin tahu apa yang kau bikin, kalau di tempatku.
Dialah yang kuasa," Kau tetap bajingan tengik," jawab Kolya
dengan isyarat.
Kuda kuda yang dikeluarkan dari
gerbong-gerbong, melawan dan bertahan. Kaki mereka mengentak dititian
kayu dan mendengung di peron batu. Sambil melonjak-lonjak mereka digiring
melewati beberapa sepur.
Pada ujung rel ada dua deretan kereta
kayu rongsokan. Catnya sudah terbasuh bersih oleh hujan, ulat dan hawa
lembab melapukkan dari dalam, hingga kereta-kereta ini sekarang kembali
ke asalnya, sekeluarga dengan kayu di hutan yang tumbuhnya mulai tepat
di belakang alat-alat pengangkutan, dengan lumutnya dan pohon-pohonnya
serta awan-gemawan yang menjulang di atasnya.
Di luar setasiun, Kosak-Kosak itu
meloncat ke pelana dan lari kencang ke perkemahan desertir di tempat
terbuka dalam hutan.
Kaum pemberontak itu segera terkepung.Ssungguhpun
ada bedil di pondok-pondok, namun mereka terkejut melihat para penunggang
kuda itu yang seperti biasanya nampak lebih mengesankan di antara pohon-pohon
dari pada di padang terbuka. Tentara Kosak menghunus pedang.
Gintz berjalan masuk lingkaran,
melompat ke tumpukan kayu di tengah-tengah, lantas menegur orang-orang
di sekelilingnya.
Ia bicara tentang kewajiban prajurit,
tentang arti tanah-air dan tentang banyak lagi hal yang luhur-luhur.
Tapi gagasan ini tak mendapat simpati dari para pendengarnya, sebab
terlalu luas. Mereka telah terlalu banyak menyaksikan peperangan, hingga
letih dan menjadi kasar. Semua itu sudah mereka dengar sebelumnya dan
propaganda yang mengelus-elusi itu, berbulan-bulan lamanya, dari Kiri
maupun Kanan, membikin mereka sinis. Kecuali itu mereka rakyat sederhana
yang tak suka pada nama asing Gintz serta logat baltiknya.
Gintz merasa bahwa pidatonya terlampau
panjang dan iapun terganggu oleh diri sendiri, namun ia menganggap perlu
mengulangi ucapannya agar dimengerti dengan jelas oleh orang-orang ini
yang selayaknya berterima kasih, tapi wajah mereka menunjukkan tak lain
selain kejemuan, ketidakacuhan dan permusuhan. Lambat laun habislah
kesabarannya, maka diputuskannya bicara terus terang dan mengeluarkan
ancaman-ancaman yang sampai sekarang ditahan-tahannya. Dengan tiada
menghiraukan gerutu yang meningkat-ningkat, ia peringatkan kaum pemberontak
itu bahwa telah dibentuk mahkamah-mahkamah perang revolusioner, lalu
diserukannya supaya mereka menyerahkan senjata dan para pemimpin mereka;
kalau tidak, akan dihukum mati. Jika menolak, ujarnya, terbuktilah mereka
penghianat keji, sampah berkepala udang yang tak tahu politik. Orang-orang
itu sudah tak biasa mendengar gertakan demikian
Beratus-ratus suara mulai bergemuruh.
Ada yang berendah-hati dan hampir tak menaruh denda: "Baik, baik.
Berhentilah, cukup". Tapi ada pula yang karena bencinya hampir-hampir
berteriak dan mereka ini dapat sokongan. Terdengar seruan-seruan histeris:
"Dengar ini melebih-lebihkan soalnya, kawan-kawan! Tak ubahnya
dengan dulu! Tipu-muslihat kaum pegawai ini belum habis-habis, Jadi
kita penghianat he? Dan kamu sendiri apa, yang mulia? -Bakal apa kita
repotkan dia? Rupa-rupanya ia orang Jerman, infiltrator, coba lihat!
- Tunjukkan kertas-kertasmu, hai ningrat. -Dan kamu melongo saja?"
Berpalinglah mereka pada Kosak-Kosak: " Kamu datang untuk memulihkan
ketertiban, silakan, belenggulah kami, habisi kami".
Tapi para Kosak itu tambah tak suka
pada pidato Gintz. "Baginya kami semua babi", gerutu mereka.
"Dia anggap dirinya sendiri paling berkuasa". Seorang demi
seorang menyarungkan pedangnya; satu persatu turun dari kuda. Sesudah
kebanyakan mereka meninggalkan pelana, dalam bondongan tak teratur bergeraklah
mereka ke tengah tempat terbuka, bercampur dan bersahabatan dengan orang-orang
dari resimen ke 212.
"Kamu harus enyah", tutur
perwira Kosak dengan khawatirnya pada Gintz. "Cepat pergilah, jangan
sampai kelihatan. Mobilmu ada di silangan jalan kereta-api, akan kami
kirim untuk menjemput kamu. Lekas.
Gintz pergi, tapi ia merasa tak
patut mengendap-endap, maka terang-terangan ia menuju ke setasiun. Ia
bukan main rusuhnya, namun ketinggian hatinya memaksanya berjalan dengan
tenang, tanpa terburu-buru.
Ia dekat setasiun. Di tepi hutan
yang kelihatan dari sepur-sepur, ia pertama kali melihat keliling. Prajurit-prajurt
pakai bedil telah mengikutinya. " Mereka mau apa?" pikirnya.
Dia cepatkan langkahnya.
Begitu pula yang memburunya. Jarak
antar mereka tak berobah. Ia melihat dua deretan kereta rongsokan, ia
melangkah sampai ke belakangnya dan lari. Kereta-api, yang tadinya membawa
tentara Kosak itu, telah dilangsir, hingga sepur-sepur bersih. Ia melintas
disitu dan meloncat ke peron yang tinggi. Saat itu juga para prajurit
lari-lari dari belakang kereta-kereta rusak.
Kolya dan kepala setasiun berseru
dan melambai padanya supaya masuk ke gedung setasiun, dimana ia akan
aman.
Tapi sekali lagi rasa hormat-diri
yang dididikkan padanya sejak beberapa generasi, rasa hormat orang kota
yang memaksanya berkorban diri, namun tragis karena tak sesuai dengan
keadaan, menghalangi jalannya ke keamanan. Dengan hari berdebar liar,
dicobanya dengan luar-biasa untuk mengekang ketakutannya. Ia berkata
dalam hati : " Harus kuserukan: " Jangan kelewat buru-buru,
kamu tahu saya bukan mata-mata". Rasa kemanusiaan akan menenangka,
menghentikan mereka".
Bulan-bulan terakhir ini rasa bakti
dan kepahlawanannya dengan tak sadar telah bertalian dengan penyusunan
panggung dan mimbar, dengan kursi-kursi di atasnya untuk diloncati guna
melontarkan seruan untuk berbuat, tantangan terhadap barisan pendengar
yang berjejalan. Ia memerlukan mimbar.
Dekat pintu-pintu setasiun, di bawah
genta setasiun ada sebuah ember yang dipergunakan bila ada kebakaran.
Diatasnya ada tutupnya. Gintz melompat kesitu, lalu bicara sekedar kepada
orang-orang yang mendekat itu dengan cara mengharukan yang tak pada
tempatnya. Keberanian gila dalam sikapnya ini, dua langkah dari pintu,
dimana ia mudah dapat berlindung, membuat mereka keheran-heranan hingga
berhenti mengejar. Dan turunlah bedil mereka.
Tapi Gintz melangkah ke depan ke
tepi tutup ember, yang menjadi terbalik, maka jatuhlah ia dengan sebelah
kaki dalam air, sebelahnya lagi keluar dari ember.
Melihat dia duduk berjangkang di
atas ember dengan canggungnya, orang-orang itupun ketawa gelak-gelak
dan seorang yang di depan menembak Gintz dalam duduknya. Ia sudah mati,
ketika yang lain-lainnya baru-baru datang serta menusukkan sangkur dalam
tubuhnya.
Mademoiselle menilpun Kolya supaya
Dr. Chivago dicarikan tempat duduk yang baik dalam kereta api ke Moskow
; kalau tidak ia mengancam hendak membuka rahasianya.
Seperti biasa, Kolya lagi lagi mengadakan
pemibcaraan lain dan menilik potongan-potongan kecil yang menghiasi
penuturannya, ia sedang mengirim kabar dengan kode melalui alat ketiga.
"Pskov, Pskov, kaudengar? -
Pemberontak yang mana? Bantuan apa? Kamu bilang apa, Mademoiselle? Berhentilah
bicara. - Pskov, Pskov, tiga puluh enam titik nol satu lima. - Persetan,
panggilanku dipotong. - Halo, halo, tidak dengar. - Kamu lagi, Mademoiselle?
Saya sudah bilang tidak bisa, tanya kepala setasiun. Seruannya bohong,
dongeng belaka. - Tiga puluh enam...Persetan...Berhentilah Mademoiselle".
Dan berkatalah Mademoiselle:
"Jangan kelabui mataka, Pskov,
Pskov, ah, bohong. Kutahu muslihatmu; besok kamu sediakan tempat dikereta-api
untuk dokter dan aku tak mau dengar dari kau tentang pembunuhan Judas-Judas
kecil lagi".
***bersambung