edisi 62
kamis 3 september 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

sajak Verde dan Ngatimo
Elisabeth Bebeth Sulistio

Namaku Verde,
dari bumi Loro Sae,
bagian Indonesia yang minta merdeka

Namaku Ngatimo,
penjual es podeng pinggir Kampus Atmajaya,
bagian hidup Indonesia yang minta damai

Namaku Verde,
kukenal yang lalu lalang,
CNRT, Aitarak, Falintil, Besi Merah Putih, juga Frater
bedil, parang dan mesiu laku sejak berpuluh purnama lalu
penawar takut, penawar damai

Namaku Ngatimo,
kukenal yang lalu lalang,
mahasiswa, pelajar, pekerja, sampai PHH
es podeng laku dalam terik siang yang lalu
penawar dahaga, penawar gelisah

Namaku Verde,
ketika 30 Agustus beranjak
aku masih di Dili
menjadi saksi sejarah bumiku, Loro Sae
yang beranjak dari temaram menuju terang

namaku Ngatimo,
ketika es podeng habis
aku masih duduk disitu
menjadi saksi tayangan berwarna
yang beranjak dari terang ke temaram

Namaku Verde,
Orang-orang itu hitung suara kami,
(akhirnya) kami medeka!
Tapi, bedil, parang dan mesiu kembali berdansa
dalam irama staccato
mungkin seharusnya kupanggul senjata
untuk meredam jiwa gelisah,
biar ada yang tahu aku pilih merdeka

Namaku Ngatimo,
es podeng sudah lama habis
ganti bunyi peluru berdansa
mungkin seharusnya kubuat es podeng lagi
biar ada penawar dahaga, penawar gelisah
supaya peluru berhenti berdansa

Namaku Verde,
remaja bumi Loro Sae, Putra Altar
banyak teriak dan caci maki kudengar
banyak lenguhan panjang dan kesakitan
berlari aku ke bukit, membawa ibu dan bapak
orang sedarah yang masih ada
'tuk redam takut dan gelisah...

Namaku Ngatimo,
pedagang es podeng,
banyak teriak dan caci maki kudengar
banyak lenguhan panjang dan kesakitan
tapi aku terpaku disana
bagai terbius tayangan seru

Namaku Verde,
dari bukit kuturun ke Dili
untuk sambut orang putih dari Australi
dalam hati ada harap
mungkin akhirnya ada kedamaian
bahwa merah bukan darah

Namaku Ngatimo,
Nyaris pulang untuk buat es podeng lagi
sebagai tanda sukacita
atas "kebaikan" Bapak Jenderal dan Bapak Presiden
ha, ha, ha...
akhirnya ada yang punya hati!

Namaku Verde,
kugenggam tangan ibu,
wajahku lega, susupkan harap dalam hati mereka
tiba-tiba kepala berdentam
mataku terpaut pada matanya yang sayu,
sebelum jatuh menghantuk tanah,
Atas nama Bapa, Putera dan Roh Kudus,
aku berkubang dalam darahku
bukan dalam warna merah yang kuinginkan
hitam pekat terhisap dalam rangkulan Loro Sae

Namaku Ngatimo,
Kuangkat tangki es ini,
wajahku lega ketika kulihat wajah mereka
tiba-tiba kudengar lagi peluru berdansa...
mataku terpaut pada sepasang mata muda
bertanya, terkejut, takut, dan haru
lalu terkapar...
darah mengalir dari tubuhnya,
warnanya hitam kental dalam kerlipan malam,
terhisap dalam rangkulan aspal jalanan yang mulai dingin

Namaku Verde,
(aku pilih merdeka,
dan alasanku sederhana,
kuingin damai...
kuingin tahu arti merah yang baru,
bukan sekedar ceceran darah yang mengalir
dari kepala atau dada manusia)

Namaku Ngatimo,
Pada pagi yang hening
darahnya tetap hitam pada aspal jalanan
bagai lukisan perasaan yang bertahan,
terpahat entah sejak kapan...

Namaku Verde,

Namaku Ngatimo,

Kami minta damai dan hidup layak sebagai manusia bermartabat...
***
September 1999


tulisan edisi 62

sajak Berkatalah Tjoet Nyak Dien
Selma W. Hayati

 cerpen Raden Adigung Adiguna dan Kemerdekaan
Dodi Mawardi

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


ceritanet

©listonpsiregar2000