edisi 62
senin 8 september 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

 

                    sajak Berkatalah Tjoet Nyak Dien
             Selma W. Hayati

Berkatalah Tjoet Nyak Dien
   Mestilah kita berteriak
  Ketika bendera tak lagi berkibar
           Layu…tertunduk, ragu

                 Bulan sabit enggan muncul
Digantikan kilatan desing peluru
     Yang angkuh berbicara, menutup lubang jiwa

Kemana langkah hendak dituju?
Ketika hijau daun, birunya laut
           Digantikan merah darah,
Kemana harapan hendak ditanam?
Ketika pekik ayam jago
      Digantikan oleh pekik kesakitan
                      Perempuan malang korban perkosaan

    Kabut cerobong asap minyak
        Menghitamkan bendera dan bulan sabitku
   Dimana tawa riang si buyung,
  Dimana gelegar semangat perempuanku,
      Dimana anak-anak angkatan mudaku,
  Dimana keadilan,
            Ketika tebasan senjata membabat habis pasukanku?
  Dimana keadilan,
   Ketika bom tanpa mata menghujam habis rumah papanku?
Dimana? Ke mana mereka semua?

                         Kapan kutersenyum,
           Mendengarkan obrolan kopi pagi hari,
    Wajah-wajah damai Acehku…
Lunglai kuberkata:''teruskan langkah, kibarkan bendera sepenuhnya!''
                                                                     ***

London 120503


tulisan edisi 62

sajak Verde dan Ngatimo
Elisabeth Bebeth Sulistio

 cerpen Raden Adigung Adiguna dan Kemerdekaan
Dodi Mawardi

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


ceritanet

©listonpsiregar2000