Andai kata tak ada mobil-mobil itu,
satu batupun takkan tinggal enak di Melyuzeyevo. Kebetulan lewat satu
regu berlapis baja, yang lantas mempertahankan kota dan mengalahkan
orang-orang jahat itu.
Taufan sedang reda. Guruh tak begitu
memandang lagi, kurang jelas dan lebih menjauh. Hujan sekali-sekali
berhenti dan air masih kedengaran berkeresak pelan-pelan dari daun-daun
dan turun ke selokan-selokan. Kilat tak berbunyi mengkilap-kilap dalam
kamar mademoisellee dan berlangsung sejurus seakan mencari sesuatu.
Sekonyong-konyong ketuk di pintu
depan yang telah lama berhenti, mulai lagi. Ada orang yang perlu segera
ditolong dan mengetuk berulang-ulang dengan putus asa. Angin timbul
pula dan hujan turun.
"Tunggu!!" teriak mademoiselle
kepada entah siapa; bunyi suaranya sendiri menakutkannya. Tiba-tiba
ia menduga siapa itu. Ia duduk, menyodok kaki dalam sandal, menjungkupkan
gaun pada bahunya, lantas bergegas memanggil Zhivago; turun bersama
dia akan mengurangi takutnya. Tapi diapun sudah mendengar ketukan tadi
dan sedang turun dengan lilin menyala, Pikiran yang sama mendatangi
mereka berdua.
"Zhivago, Zhivago, ada ketukan
di pintu depan, aku takut turun sendiri," serunya dalam Bahasa
Perancis disusul dengan Bahasa Rusia: "Kau lihat nanti, itu Lara
atau Letnan Galiul."
Dibangunkan oleh ketakutan, Yurypun
yakin bahwa itu seorang yang dikenalnya, mungkin Galilulin yang larinya
terhalang dan balik untuk mencari perlindungan, ataupun jururawat Antipova
yang tak dapat meneruskan perjalanannya dengan akibat bahwa ia pulang
kepadanya.
Di portik, Yuri memberikan lilinnya
kepada mademoiselle, menarik pasak-pasak dan memutar kunci. Tiupan angin
mendorong pintu hingga terbuka, memadamkan api dan menghujani mereka
dengan tetes-tetes dingin.
"Siapa? Siapa? Ada orang di
situ?" Mademoiselle dan dokter itu bergiliran berseru ke hawa gelap,
tapi tak ada jawaban. Tiba-tiba ketukan mulai ditempat lain di pintu
belakang? Mereka berpikir kini, mungkin di jendela Perancis di taman.
"Rupa-rupanya angin,"
kata dokter, "tapi supaya kita tahu, tengoklah di belakang. Aku
tinggal di sini, barangkali sungguh ada yang datang."
Mademoiselle lenyap dalam rumah,
sedangkan dokter keluar dan berdiri berteduh di portik. Matanya menjadi
biasa dengan hawa gelap, maka dapat ditangkapnya tanda-tanda pertama
terbitanya fajar.
Di atas kota, mendung berlari kegila-gilaan
seperti dikejar sangat rendah sampai ke mumut-mumutnya hampir menyentuh
puncak pohon-pohon yang melentik ke arah yang sama, hingga nampak bagai
sapu yang menyapu langit. Hujan melecut dinding kayu rumah, merobahnya
dari abu-abu menjadi hitam.
Mademoiselle kembali. "Bagaimana?"
tanya Yury.
"Kau benar. Tak ada orang."
Ia telah keliling di seluruh rumah, sebatang dahan yang memukul-mukul
jencela kamar persediaan telah memecahkan sekeping genting; di lantai
ada bencah-bencah besar, yang ada pula dalam bekas kamar Lara, di situ
ada laut, betul-beul laut, ya samudra. Dan di sebelah sini tengok, ada
magun dipukul yang tutupnya patah, kau lihat? Hanya itulah."
Mereka omong-omong sebentar , lalu
balik ke kamar masing-masing, kecewa bahwa semua keributan itu tak ada
gunanya,
Tadinya mereka yakin bahwa sesudah
pintu terbuka, Lara akan masuk, kedinginan benar dan kuyup sampai kulit
dan mereka akan bertanya selusin pertanyaan selama ia menanggalkan topi
dan mantel; dia akan pergi untuk ganti pakaian, lalu turun untuk berdiang
di depan tungku dapur yang masih hangat sejak kemari malan, mengisahkan
pengalamannya, sambil menyingkap rambutnya ke belakang dan ketawa.
Mereka yakin betul tentang itu,
hingga ketika mereka meguncni pintu keyakinan itu seolah berbekas di
lebuh, di balik pojok, seperti gandaan lembab dari wantia ini ataupun
gambarannya yang terus mengusik mereka.
***bersambung