edisi 61
jumat 22 agustus 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

 

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

cerpen Kabut Musim Dingin
Kuncup Melati

Berlin, 2000
Entah naluri apa yang membuatku menggerakkan lengan-lenganku hingga begitu saja melingkari leher pemuda itu. Sekejap terasa tubuhnya menegang. Otakku bagai tertutup kabut, mataku terpejam saat aku merengkuh lehernya dan menaruh wajahku di sebelah kepalanya. "I will miss you," bisikku di telinganya.

Walau pikiranku terasa buntu, aku masih bisa merasakan tubuhnya yang hangat dan bidang dadanya yang menggetarkan rasa, mulai rileks. Tak lama lengan-lengannya malah balas merangkul pinggangku.

Hmmm. aku mendesah nikmat. Aku cinta padamu, aku cinta padamu. Aku menjerit dalam hati. Tak berani mengeluarkannya sedikitpun. Tak terasa air mataku menetes. Mungkin ia merasakan basah di kemejanya, karena ia melonggarkan pelukannya dan aku hanya menunduk di hadapan tatapannya.

Tanpa berkata apa-apa kami duduk berdampingan di atas tempat tidurnya. Aku segera merangkulkan lengan di pinggangnya dari samping dan menaruh kepala di sedikit bidang dada dan bahunya. Hm, wangi parfumnya sangat menyenangkan. Aku mencium bahunya yang terbungkus kemeja. Ia bergeming, hanya balas merangkul pinggangku dengan satu tangannya. Tak berkata apa-apa.

Jakarta, 2002
Kini ia berdiri di hadapanku. Dua tahun berlalu. Tetap berdada tegap, tampan, matanya tajam dan dingin. Ada sedikit pijar hangat, tapi aku tak yakin apakah itu untukku. Aku hanya menatap tak acuh. Keadaan sudah jauh berbeda. Aku bukan lagi perempuan yang mengecup bibir bawahnya tanpa ada balasan dan meneleponnya untuk mengatakan "aku cinta padamu tapi tak berharap apapun"

Suamiku sudah lari entah kemana, mungkin kecewa tak juga memiliki keturunan dariku dan memutuskan kembali ke pacar lamanya. Dunia sudah cukup kejam padaku, jadi aku tak peduli lagi akan sikap dinginnya yang tak berubah.

"Kini kamu tampak sematang usiamu," katanya. Mataku melotot. Ia tersenyum. Hangat.

"Tak cocok lagi berjalan dengan orang semuda kamu," balasku sengit. Matanya berkilat. Ia memang paling tak suka disinggung soal umurnya yang tujuh tahun lebih muda dariku.

Rasanya aku tak peduli lagi mau dia marah atau menjauh sekarang ini. Aku tahu mataku menyorot bandel. Ia semakin mendekat. Aku bergeming, berdiri santai dengan tangan bersidekap di dada. Pandanganku terhadap laki-laki sudah sedemikian buruk sehingga aku tak merasa perlu menghargai dia sedikitpun.

"Hati-hati, imej kamu akan anjlok kalau ketahuan berdekatan dengan janda!" kataku dengan nada sedikit kejam. Matanya tetap tak berubah. Dingin dan tajam. Namun bibir tipisnya tidak lagi melengkung sinis, melainkan samar membentuk senyum kecil.

"Aku ingat kata-kata terakhirmu di telepon," ujarnya sambil mencoba meraih tanganku. Aku bergerak menjauh. Mendadak tubuhku gemetar.

"Aku tak ingat," tukasku dengan nada turun naik. Entah kenapa seluruh tubuhku terasa panas dingin. Ah, cinta lama tanda ketaksetiaanku. Kepergian suamiku mungkin suatu karma.

"Kita minum sebentar?" ia bertanya dengan kepala agak membungkuk menatap mataku. Aku merasa jengah. Tidak ada lagi pertemuan, tekadku.

"Maaf, aku banyak urusan! Bye!" Aku melangkah cepat-cepat meninggalkan pria itu. Pria yang kucinta dengan setengah hati, dahulu, karena status pernikahanku. Mengapa ia bisa muncul lagi? Pada saat seperti ini pula! Saat kepedihanku sudah tinggal kerak, melapisi permukaan hati dan membekukan jiwa. Mudah-mudahan ia sudah menikah dengan gadis yang ia idamkan, doaku dalam hati. Biarkanlah cinta itu hanya kenangan.

Bonn, 2003
Hm, beginilah kalau bangun kesiangan di hari minggu. SBahn arah Bonn Bad- Godesberg jarang lewat. Aku mendumel sambil berdiri di halte SBahn Chlodwig Platz di Cologne. Hari ini aku ingin pergi ke Bonn, sesuai janjiku pada teman yang mengundangku untuk mengikuti sebuah seminar di kota itu selama tiga hari.

Seminar akan dimulai hari Senin, tapi ada acara yang menurutnya pasti menarik bagiku. Akibat terlalu semangat dugem semalam dengan Risa, teman seapartemen, aku terlambat bangun. Khawatir temanku di Bonn bakal menunggu terlalu lama, aku menghubungi telepon genggamnya.

"Christ, aku bakal telat sampe Bonn. Aku tak usah ke hotelmu ya?"

"OK, kita ketemu di bis depan hotel peserta atau kalau sampai kamu masih tidak sempat, ketemu di dermaga kapal pesiar saja. Ada tur di sungai Rhein," sahut Christ dari seberang telepon. Tak lama terlihat SBahn yang kutunggu sudah datang.

Kereta begitu lengang siang itu. Di setiap stasiun yang disinggahi jumlah penumpang yang turun lebih banyak daripada yang naik. Buatku ini menyenangkan, jadi bisa bebas melamun di tempat favoritku, sebelah jendela, agak berselonjor tanpa perlu tiba-tiba harus menarik kaki karena ada penumpang mau duduk di hadapanku.

Bonn. Entah pikiran darimana mendadak saja aku teringat pemuda itu. Ia pernah bercerita kalau ia lahir dan besar di Bonn. Sudah bertahun-tahun ia tidak pulang dan sangat rindu kota itu. Ah, apa urusanku? Aneh, kini dia ratusan ribu mil jauhnya dari sini, tapi tetap saja bayangannya sering melintas di benakku.

Terus terang, rasanya ini bukan ide bagus buatku. Pergi ke Jerman dan bayangannya malah makin melekat. Kemanapun aku pergi. Aku mencoba tidur sejenak. Namun yang melintas malah percakapanku dengannya tentang Bonn, tiga tahun lalu. Bonn yang kecil namun hijau, kota mahasiswa, punya banyak taman, banyak kastil dan bangunan tua di pinggir sungai Rhein yang juga melintasinya, kota yang sering disiram hujan, dan lain-lain.

Dan, hujan pula yang menyambutku setiba di stasiun Bonn. Aku hanya berdiri lesu menatap titik-titiknya dari balik pintu kaca stasiun kereta api yang tua dan antik. Tiba-tiba saja aku enggan mengikuti saran Christ. Seperti biasa selama hari-hariku yang penuh perjalanan di Jerman, aku segera mencari locker untuk menaruh koper kecilku.

Dua euro untuk 24 jam. Lalu membeli tages ticket yaitu tiket untuk satu hari dengan alat transportasi apapun (UBahn, SBahn, trem, bis) ke arah manapun di satu kota. Hanya sekian menit waktu kubutuhkan untuk mengamati peta jalur kereta bawah tanah (UBahn) dan trem, aku segera bisa memutuskan arahku. Ke pinggir sungai Rhein.

Dua puluh menit kemudian aku sudah berjalan di pinggir sungai Rhein, menyusuri tepiannya yang sedikit berkabut. Tak peduli rinai hujan menyiram perlahan. Sebuah jalanan untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda dibangun sepanjang pinggir sungai Rhein.

Setiap beberapa meter tersedia bangku untuk duduk-duduk. Pohon-pohon peneduh bertebaran dimana-mana. Aku teringat boulevard semacam ini di Duesseldorf, tempat aku sering menghabiskan senja dengan menatap matahari terbenam sambil duduk dengan kaki berjuntai di tembok boulevard, menghabiskan sebungkus besar potato chips. Disini temboknya tidak tinggi sehingga keakraban antara sungai dan manusia terasa alami.

Entah mengapa aku kesini, desah hatiku. Apa karena aku ingat cerita dia, semasa kecil selalu datang kesini untuk melihat pertunjukkan kembang api di seberang sungai. "Indah sekali, malam gelap dengan cahaya kembang api. Aku selalu ingat kenangan itu," katanya suatu saat dua ribu tahun yang lalu.

Ada apa lagi dengan diriku?Apakah karena mendadak aku merasa sendiri, lelah karena berbagai tugas dan perjalanan lalu sesaat ingin menjadi puitis?

Hujan sudah berhenti. Kabut masih melayang di atas sungai. Aku duduk dan mulai membuka agendaku. Ada halaman khusus untuk puisi-puisi disana. Sejak pertemuan dengannya, puisiku melulu mengenai kerinduan dan impian. Semuanya kutulis ketika aku berada di luar negeri.

kabut melayang melintasi Rhein,
kapal-kapal melaju bagai kendara di ruang mimpi.
mimpi yang membawaku kepada kenangan sorot matamu.
aku kini di kotamu,
cantik, mungil, kelabu dan misterius..
aku jatuh cinta segera pada pesonanya,
pada rumah-rumah indah sepanjang sungai,
pada wangi pinus,
pada bukit-bukit hijau yang mengitarinya bagai ingin memeluk selalu.
cinta yang platonis.
seperti padamu.

Sebutir air mata tak terasa menetes ke atas kertas. Aku segera menutup agenda. Mengangkat mataku, dan tersentak. Dia! Berdiri tepat di hadapanku. Bagai mimpi. Begitu terkejutnya aku hingga tersedak. Sambil terbatuk-batuk aku mencari tisu di ransel kecilku. Namun tangannya terulur memberikan saputangan.

Bagai dalam mimpi aku menerima saputangannya sambil menatap matanya, wajahnya dan sosoknya. Ada sorot kekhawatiran di matanya. Tubuhnya terbalut jaket tebal dan ia memakai topi. Sejak kapan ia berdiri disitu, pikirku resah. Oh, mimpi. ia kah?

"Hallo?" sapanya pelahan, suaranya lembut. Itulah sapaan kami satu sama lain melalui telepon, email ataupun sms.
"Kalau kau memang nyata, mengapa aku tak tahu kehadiranmu?" tanyaku sedikit konyol. Ia tersenyum.
"Karena kau begitu asyik dengan tulisanmu," sahutnya pelahan. Matanya masih tetap menatapku.

Disini? Di Bonn? Sejauh ini ia tetap nyata? Aku menggelengkan kepalaku. Mataku bertanya-tanya. Namun seluruh tubuhku sudah terasa ingin berlari ke dekapannya. Lengan-lenganku sudah tak sabar ingin merangkul lehernya. Aku menggigil tak sadar merasakan sensasi kehadirannya.

"Aku sedang berjalan-jalan dan tiba-tiba melihatmu disini," katanya menjelaskan. Mengapa ia tampak kuat dan tak bergeming berdiri seperti itu? Kedua tangannya ia benamkan dalam saku celananya. Apakah kalau ia bergerak maka itu berarti pergi selamanya? Aku mendadak merasa ketakutan. Jangan lagi, jangan lagi menjauh. Tapi sebagian hatiku menolak, karena aku tahu perasaannya tidaklah sama. Aku berusaha mengeraskan hati.

"Aku menunggu Christ, ia mengajakku ikut tur dan seminar disini," kataku. Ia tahu Christ, kami pernah pergi bersama. Lalu kami terdiam, saling memandang. Padahal aku ingin menanyakan banyak hal; tampaknya ia juga. Tak lama ia bergerak sedikit.

"Maaf aku mengganggu keasyikanmu, mungkin sebentar lagi Christ akan datang," katanya perlahan. Hatiku menjerit, melarang ia pergi. Sejauh ini bertemu lalu berpisah? Namun mulutku seperti terkunci. Matanya masih memandangku, kini agak lunak. Entah bagaimana sorot mataku, namun aku berusaha menahan gejolak hatiku.

"Mungkin, karena aku harus mencari tempat kapalnya," ujarku sambil mengemasi barang-barangku. Aku berdiri dan mulai membuka jaket karena hujan sudah berhenti; selain itu mendadak aku merasa kepanasan. Ia masih berdiri memandangku.

Tiba-tiba sorot matanya tampak terkejut. Aku menatap heran, menatap bajuku, siapa tahu ada kancing terbuka. Tapi tak mungkin, karena aku hanya memakai celana jeans dan kaos pendek. Aku kembali memandangnya heran sementara hatiku menggelepar melihat tatapannya. Pergilah engkau, dan biarkanlah aku mengikutimu dari belakang hingga ujung dunia sekalipun, jerit hatiku.

"Kirry." suaranya berat namun pelahan menyebut namaku.

Aku terpaku menatapnya. Entah berapa lama kami berdiri berhadapan sambil bertatapan. Aku bahkan sudah tak bisa menganalisa apa yang aku tatap. Wajahnyakah, matanyakah atau hanya kabut dan awan putih?

Ketika tersadar aku sudah berada dalam dekapan hangatnya. Siapa yang lebih dahulu memeluk? Aku tak peduli, kubenamkan wajahku dalam-dalam di bidang dadanya. Pipiku hangat mendengarkan debaran jantungnya, menghirup aroma tubuh dan parfumnya dan merasakan belaian tangannya di punggungku. Aku menyebut namanya berulang-ulang tanpa bersuara.

Tiba-tiba terasa daguku terangkat oleh jemarinya. Matanya tepat di atas mataku. Bibir tipisnya pelahan mendekati bibirku. Aku seperti tak percaya. Dulu, aku yang ngotot ingin menciumnya dan ia tak membalas ciuman itu. Belum pernah, katanya waktu itu.

Kini bibir dambaanku melekat erat menciumi seluruh permukaan bibirku, terasa lembut dan manis. Bibirnya malah makin nakal menciumi bibir bawah lalu bibir atasku. Hm, dia sudah ahli sekarang. Dari tak bereaksi karena terkejut, aku menjadi agresif membalas ciuman dan kecupannya sementara kedua lenganku melingkari lehernya. Sebelah tangannya memeluk punggungku dan lengan lainnya membelai kudukku. Hm, betapa nikmat bisa memeluknya erat.

Entah berapa lama kami berciuman hangat. Kaki-kakiku terasa sangat lemas sehingga tubuhku setengah bergantung padanya. Dan dunia serasa ada dan tiada. Terpaan angin pun tak terasa lagi. Ketika ia menjauhkan wajahnya, aku melihat matanya yang tak lagi bersinar dingin.

Kami duduk bersisian di bangku tadi, saling memeluk.Terdiam memandang sungai Rhein yang kini sedikit terang karena matahari sore.

"Kamu kurus sekali," tiba-tiba ia bersuara.

Aku menoleh menatapnya. Ia masih memandang ke depan. Aku mencium pipinya mesra. Ia menoleh dan mencium pipiku. Ah, mengapa ia dulu begitu dingin dan kaku? Atau jangan-jangan sejak aku menciuminya ia menjadi berpengalaman? Siapa saja wanitanya selama kami tak berkomunikasi, pikirku tiba-tiba cemburu.

"Kamu pasti jalan terus kemana-mana seperti dulu, hanya makan apel dan yoghurt supaya hemat, dan membawa day pack yang berat sekali," ujarnya sambil menatapku mesra. Aku tersenyum. Ternyata ia masih ingat kebiasaan-kebiasaan yang aku ceritakan kalau sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Berhemat biaya makan demi membayar ongkos kereta api kemana-mana. Terdorong rasa gembira aku mengecup bibir bawahnya sesaat. Ketika ia akan membalas kecupanku, aku segera menyusupkan wajahku ke bahunya.

"Kita memang cocok sejak dulu, tapi mengapa begitu sulit menyatu?" bisiknya di telingaku. Aku menggeleng.
"Kalau kita cocok, aku tentu belum menikah dan jadi begini ketika bertemu denganmu," sahutku. Telunjuknya menempel di mulutku. Kepalanya menggeleng.
"Siapa pacarmu?" tanyaku tak peduli. Ia menatap dengan geli.
"Banyak," jawabnya, "Tapi tak ada yang seperti kamu, membuatku selalu penasaran dan terkejut dengan tingkah dan idemu." Ia mengeratkan pelukannya.
"Tentu saja, aku kan jauh lebih tua darimu," kataku terus memancing reaksinya. Matanya bersinar tajam.
"Aku akan berusia 50 tahun ketika engkau masih puber kedua," kataku dengan nada merajuk. Ia tertawa ngakak.
"Itupun kalau aku masih hidup," tambahku berlebihan. Tiba-tiba tawanya berhenti. Sinar matanya meredup.
"Kalau kau mati, semenit kemudian aku juga mati," katanya dengan nada serius. Ganti aku yang tertawa ngakak. Betapa gombalnya pemuda ini! Tapi dia masih menatap serius. Tak ada tawa.


Sekilas kulihat matanya agak melunak, garis wajahnya kembali normal. Aku mengusap pipinya lembut. Ia menempelkan hidungnya yang tinggi ke pipiku. Hangat.

"Terus, mengapa bisa disini?" akhirnya pertanyaan pentingku keluar.
"Entahlah, seperti ada yang meyakiniku kalau kau akan pergi ke tempat ini," jawabnya. Jadi bukan berjalan-jalan dan tiba-tiba saja melihatku disini. Ajaib bukan? Apa benar kalau pasangan yang sudah jodoh nuraninya sering nyambung?
"Kau kan suka alam? Dan pasti sudah banyak temanmu yang bilang bahwa Rhein paling bagus dilihat dari Bonn," ia terus berbicara.
"Aku ingat kau yang pernah bilang," desahku. Matanya bersinar kaget.
"Apa saja yang kau ingat selain itu?" ia bertanya perlahan.
"Semuanya, seperti jam hingga ke detik-detiknya," jawabku lembut. Kami bertatapan. Aku membuka mulut hendak bertanya lagi, tapi ia menutup bibirku dengan ciuman hangat. Sesaat.
"Itulah jawabanku," katanya usai ciuman singkat tadi. Mataku bertanya. Ia tersenyum lembut. Jemarinya membelai pipiku.
"Tapi aku tak seideal impianmu," bisikku dengan nada menyesal.
"Tahukah kau seperti apa impianku?" tanyanya dengan senyum.
"Gadis cantik dan pintar dengan usia lebih muda darimu, kamu kan pernah bilang," jawabku sekenanya.
"Ya, sebelum aku kehilangan kamu," katanya pelahan.
"Aku memberi kau kesempatan untuk bertemu gadis impianmu."
"Aku bertemu dengan gadis lebih muda usia atau malah seusia denganku, beberapa kali. Aku pikir aku jatuh cinta, tapi semuanya semu. Aku hanya membohongi diriku."

"Aku bukan tipe perempuan rumahan, aku tak berniat menikah lagi!" kataku begitu saja. Wajahnya tampak terkejut. Aku mengangkat bahu.

"Maaf kalau terlalu cepat, padahal kau tidak melamarku," sambungku cepat-cepat. "Tapi sudah cukup sekali aku merasakannya dan aku tahu itu bukan lingkungan yang cocok untukku. Mungkin aku hanya menyenangkan saat masa perburuan saja. Begitu sudah di tangan aku tak akan membuatmu penasaran dan terkejut lagi. Kau akan kecewa seperti yang pertama, lalu meninggalkanku dan mungkin saat itu aku sudah mati."

Ia menatapku tajam. Aku memandang alisnya yang tebal sambil berkhayal hari-hari indah bersamanya tanpa harus menikah atau kawin. Apa bisa? Kami terdiam lama. Pandangannya semakin lembut.

"Bagaimana kalau kita begini saja? Berteman tapi boleh pelukan dan ciuman sering-sering?" tanyaku dengan nada polos. Dia tertawa.
"Aku ingin memilikimu," hanya itu jawabannya. Aku terpaku. Panik mendengar nada seriusnya. Menolak berarti tidak bisa lagi menikmati pelukannya, mengiyakan berarti terjerat kembali pada rutinitas kehidupan yang menjemukan.
"Mengapa? Tidak bisakah memiliki sebagai teman?"

Ia masih menatapku. Bibirnya bergetar. Matanya berkabut. Aku kembali terpaku. Ia tampak seperti anak laki-laki yang takut kehilangan sepeda kesayangannya. Aku malah menggenggam tangannya erat-erat karena khawatir melihat keadaannya. Sejenak ia seperti berusaha menguatkan diri.

"Aku mencintaimu. Sangat," demikian katanya dengan nada mantap.

Mulutku ternganga. Lama aku terlongong memandangnya. Tak tahu mau bicara apa. Pikiranku kacau balau. Mengapa aku kaget, bukankah ini yang kuinginkan selama ini? Impianku? Apa benar ini impianku? Aku yang mencintainya, dan mengimpikannya. Tak pernah aku berharap dia mencintaiku.

Aku pernah mengatakan padanya, bahkan pada saat ia ingin menjauh karena khawatir dengan perasaanku. Waktu itu aku bersikukuh dengan mengatakan "Aku tak berharap jauh padamu, dan janganlah kau menjauhiku".

Aku mencintainya tapi tak pernah berharap akan hidup bersamanya atau menjadikan hubungan ini lebih serius karena aku sudah menikah. Aku berharap ini adalah cinta sesaat di tengah pernikahanku. Dan aku bersyukur dia tak mencintaiku karena kalau perasaanku berbalas aku tak kan sanggup memikul penyesalan akan menodai pernikahanku dengan hubungan gelap. Aku sudah senang kalau ia mau berteman denganku.

Tapi semua berubah. Suamiku cemburu padanya walaupun aku sudah berkata ia hanya sahabat. Lalu ia mulai menjalin hubungan dengan pacar lamanya. Ketika aku bereaksi, dengan dalih aku tak bisa memberi keturunan ia malah meninggalkanku.

Lengkaplah kesalahanku. Pernah selingkuh, mandul pula! Sejak itu aku tak pernah mau menghubungi pemuda ini, tak ingin bertemu siapapun yang pernah mengenalku. Aku masih beruntung karena sebuah yayasan di Jerman memintaku menjadi penulis dan peneliti selama dua tahun. Aku tak pernah mengira ia akan terus mencariku.

"Aku memang pernah merasa takut terhadap perasaan ini, dan berusaha "berpacaran" seperti yang kau sarankan sejak dulu. Tapi aku tak punya hati," suaranya terdengar lagi. Aku menggelengkan kepala berkali-kali. Rasanya kepalaku berat dan pening. Lengannya segera memelukku erat-erat. Hangat.

Kalau aku boleh memilih, aku ingin lebih tua dua tahun saja dari dia, jangan tujuh tahun, Tuhan! doaku dalam hati. Apa kata dunia? Janda cerai usianya lebih tua 7 tahun, berpacaran dan menikah dengan pemuda perjaka (aku yakin dia masih perjaka) bermasa depan cerah! Mungkin kami harus tinggal di Alaska biar tidak jadi bahan empuk gosip tetangga.

"Apa yang kau inginkan dalam hidup?" bisiknya tiba-tiba di telingaku. Aku terhenyak. Berpikir keras. Ingin? Jalan-jalan dan menulis, tentunya. Bertemu banyak teman baru. Dan.
"Kamu," jawabku setelah tersadar kelanjutan anganku.
"Aku juga," suaranya begitu dalam dan berat. Penuh perasaan. Tak pernah aku mengira ia begini. Ia adalah orang yang kaku, dingin, sopan dan kadang egois. Sikap ini kurasa makin meleleh setelah aku sering meneleponnya dan bercerita apa saja sampai ia yang selalu menjaga emosi berlebihan bisa ikut tertawa-tawa.

Dari negara manapun aku berada aku berusaha menjaga komunikasi dengannya. Ketika bertemu langsung aku berusaha menjaga sikapku, sama sekali tak menyentuhnya karena aku sudah berjanji (aku takut ia lari ketakutan kalau kucium pipinya), dan kadang-kadang sok tua (biasanya ini tidak berhasil) supaya tidak kelihatan terlalu jauh perbedaan usia dan tingkah laku. Dan kini ia mengaku menginginkan aku dalam hidupnya? Aku mencoba tenang.

"Dengar, hanya pacaran yang menyenangkan. Pernikahan sudah seperti rutinitas. Tidak ada lagi hal mesra, kalau adapun seperti dipaksakan. Apalagi kalau tidak punya anak, walaupun kita sudah berusaha karena kita saling cinta, tetap saja pernikahan terasa hambar. Sebenarnya, tidak ada gunanya menikah. Aku lebih setuju hidup bersama saja seperti kebanyakan orang-orang Jerman ini! Kita bisa berhubungan seks kapan saja tanpa ada ikatan dan keharusan punya keturunan. Kalau sudah punya anak, baru pilih mau menikah atau terus begitu."

Sejenak ia terpana. Matanya memandang takjub padaku. Aku juga heran pada mulutku yang lancang ini. Darimana ide ini? Aku kan paling tidak suka living together, tapi koq tiba-tiba semua ide-ide bebasku bisa berlompatan keluar?

"Heran ya, aku bisa bebas berbicara denganmu? Aku suka berbicara denganmu," kataku tiba-tiba. Ia terbahak.
"Apa kau sudah tertular kultur disini atau hanya karena merasa pahit?" tanyanya. Aku terdiam. Ya, aku pahit dengan kenyataan kehidupan pernikahanku. Aku merasa gagal dan merasa akulah penyebabnya.
"Dengar sayang, aku tak pernah memaksamu menikah denganku, aku bahkan belum sempat melamarmu walaupun ingin," ujarnya sambil merangkum pipiku dalam genggaman tangannya, "Tapi kita bisa membina hubungan hingga kau yakin akan keseriusanku kalau memang kau tak percaya padaku."
"Aku tahan koq, walaupun aku juga masih terheran-heran bagaimana bisa hidup dengan bayanganmu melintas dimana-mana," kataku perlahan sambil membayangkan rindu dendam itu, "Kalau aku mendengar suatu lagu, aku ingat kamu. Kalau aku melintasi kembali jalanan di Berlin dan mengunjungi tempat-tempat favorit kita, aku ingat kamu. Aku bahkan pernah melihat kamu berdiri membaca buku di Schmitt und Hahn, toko buku dekat hotel kita dulu. Kupikir saat itu aku mabuk karena habis minum berliner wasser dua gelas dengan temanku di Oranienburgstrasse."

Ia tertawa pelan. Jemarinya membelai lembut pipiku.

"Aku juga dengar dari temanku kalau kamu dan Risa paling doyan minum Bacardi orange campur multivitamin sampai teler sebelum tidur. Tapi minum wine atau bir ramai-ramai di café dengan teman sekantor kamu malah tidak pernah mabuk," katanya dengan mata menyelidik. Aku ternganga. Siapa sih temannya itu?

"Aku rasa temanmu itu cewek ya? Begitu rinci keterangannya seolah ia ingin membuat hatimu sangat senang. Biasanya kan begitu cewek-cewek ke kamu?" tanyaku.

Pipinya memerah seketika membuatku makin tertawa puas. Heran, aku tak pernah kapok menggodanya. Dan ia begitu manusiawi ketika membalas godaanku, tidak seperti tampilannya sehari-hari sebelumnya. Aku ingat pernah melihat tubuhnya langsung menegang ketika teman lama kami mencium pipinya setelah sekian lama tidak bertemu. Ia langsung menjauh dari cewek itu dan tidak mau mengajaknya pergi makan padahal sebelumnya kami berniat makan bersama-sama.

"Jadi ke tempat kapal pesiar?" tiba-tiba terdengar tanyanya.
"Malas ah. nanti saja sama kamu," jawabku. Ia tertawa.
"Seminar?" tanyanya lagi.
"Kalau ngga ingat tugasku, aku lebih suka duduk berpelukan disini dari pagi sampai malam," kataku lagi. "Kapan kamu ke Swiss?" aku balik bertanya.
"Sebenarnya aku bisa tidak ikut ya." giliran dia yang mulai ragu. Aku tertawa.
"Bagaimana bisa pisah kalau begini caranya?" kataku lagi. Dia memandangku tajam. Aku terhenyak.
"Begini saja, kita seminar masing-masing. Setelah selesai, kita menikah di catatan sipil Cologne, bagaimana?"

Aku terpana. Menatap bego. Ia membalas tatapanku dengan mata penuh sukacita dan semangat. Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali.

"Siapa tahu kalau kau pulang kau bertemu orang lain dan jatuh cinta betul-betul. Aku tak ingin menghalangimu," jawabku masih keras kepala. Sinar matanya kecewa.
"Apa aku harus membuatmu hamil dulu baru kau mau menikahiku?" tanyanya ketus. Aku terbelalak.
"Aku yakin aku bisa membuatmu hamil, karena aku tak akan membiarkanmu seharipun tak kusentuh!" lanjutnya lebih keras. Aku mulai melihat ke kiri dan ke kanan. Tapi percuma, tak ada orang yang merasa terganggu karena mana mengerti bahasa Indonesia? Aku mulai merasa geli.
"Aku ingin selalu bersamamu, dan ini bukan hanya soal fisik tapi juga jiwa, tidakkah kau mengerti?" tanyanya dengan nada lembut.

Untuk berapa lama? Jeritku dalam hati. Tapi aku hanya memandangnya mesra. Sejak dulu aku tak pernah mampu menyakiti hatinya, membuatnya kecewa atau membuat bibirnya mengatup erat. Aku mencium bibirnya lembut, ia membalas tak kalah lembut.

"Kita jalani saja dulu ya? Aku harus meyakinkan diriku," kataku akhirnya.

Ia memandang lama ke dalam mataku. "Tenang saja, aku tak akan membuatmu hamil seperti cewek-cewekmu dulu," godaku.

"Aku yang akan menjagamu agar tidak ada lagi orang yang bahkan berani melirikmu," katanya penuh percaya diri. Wah, cemburuan sekali. Bagaimana kalau dia lihat kelakuan Mathias atau Dov yang setengah mati naksir aku? Apa akan terjadi pertumpahan darah, pikirku iseng.
"Aku tahu kedua laki-laki itu," katanya tiba-tiba seolah bisa membaca pikiranku. Hah? Ia tersenyum penuh kemenangan. Aku mengernyitkan kening.
"Dan aku siap menghadapinya langsung, memperingati mereka agar tidak menggoda tunanganku lagi!"

Tunangan? Tuan detektif satu ini memang ngawur dan cemburuan! Aku menjawil hidungnya yang bagus seraya bertanya, "Apa lagi yang kau tahu?"

"Mathias mengirimimu bunga setiap minggu dan Dov tak putus asa mengajakmu dinner setiap weekend. Mereka gagal ya?" katanya sambil menelengkan kepalanya yang bagus ke arahku.
"Berapa lama kau memata-mataiku?" tanyaku takjub.
"Sudah kubilang aku punya teman di kantormu. Mereka juga mengeluhkan sikap dinginmu. Kau hanya bersikap ramah kalau berbicara soal perjalanan, dan akan seperti kabut musim dingin ketika mulai menyinggung soal pacar dan keluarga."

Aku terdiam. Kabut musim dingin kata mereka? Betapa dinginnya itu kurasa ketika pertama kali kualami di Jerman. Spring saja aku sudah menggigil, apalagi winter, berkabut pula.

"Kalau ada yang memergoki kita berdua sore ini, mungkin mereka mengira kita hanya mirip karena di hadapan mereka kita lain sekali kan? Bukan lagi cowok kaku seperti katamu dan kabut musim dingin seperti kata mereka."
"Ya, lebih mirip tante dan ponakan," kataku ketus. Ia terbahak.
"Kalau kau rajin berenang dan jalan seperti ini, aku rasa aku yang duluan tua nanti," katanya sambil mencium pipiku.
"Kau memang harus rajin berolahraga, kalau tidak entah keponakan siapa lagi yang mengejar-ngejarku," kataku penuh percaya diri. Ia terbahak-bahak.
"Aku ingat ciumanmu, yang pertama kali bagiku," katanya setelah kami terdiam. Alisku terangkat. Aku pikir dia sudah lupa peristiwa itu.
"Ketika aku hampir membalas ciumanmu di bibir bawahku, kau malah melepaskannya dan kembali memelukku," sambungnya.
"Jadi kau mau membalasnya?"
"Tentu saja! Ciumanmu memabukkan, mengulum-ngulum bibirku. Rasanya tak akan kulupakan," jawabnya dengan mata mengawang.

Aku tersipu, ingat kelakuanku waktu itu. Entah karena desakan perasaan sayang sekaligus sedih karena akan berpisah, aku nekat memeluk dan menciumnya waktu itu. Sama sekali tak terpikirkan kalau dia belum pernah melakukan hal seperti itu dengan wanita lain, atau dia bakal menolak tubuhku, marah, lalu memutuskan pertemanan. Atau saat itu sebenarnya dia juga sudah jatuh cinta padaku?

Ia memelukku lagi. Lama kami berdiam diri sambil berpelukan, memandang kabut di atas sungai Rhein yang perlahan melayang jauh. Langit senja di akhir musim semi berwarna sedikit oranye dan biru tua.

Bukit-bukit hijau di seberang sungai dengan bangunan kastil-kastil tuanya yang kecoklatan terlihat samar-samar. Kapal-kapal pengangkut batu bara, minyak, kapal-kapal pesiar dengan suara bandnya yang terdengar hingga tepian lalu lalang di sepanjang sungai namun seperti tak mengganggu keheningan senja.

Setelah dua musim lagi, aku akan mengalami musim dingin yang menggigil seperti tahun lalu. Mungkin lengkap dengan kabutnya juga. Tapi semoga tidak lagi sedingin dulu, seperti juga aku, karena kehadirannya.

Kutatap wajah di sebelahku, yang masih memandang ke arah sungai, penuh rasa sayang. Seperti mimpi merasakan kehangatan pelukannya, dan aku masih tak percaya. Aku tak henti merasa ajaib dengan kehidupanku.

Aku merasa telah selingkuh dan menerima hukuman setimpal dengan perceraian, tapi mengapa bisa sebahagia ini sekarang? Mengapa aku harus bertemu dengannya, jatuh cinta dan memelihara persahabatan tanpa maksud untuk menjadikannya pasangan? Mengapa ia bersikeras mencariku bukan mencari pasangan lain yang sesuai?

Ia menoleh ke arahku. Tersenyum. Aku balas tersenyum. Kata orang, sepasang kekasih biasanya memang lebih sering tersenyum, entah kalau sendiri ataupun sedang berduaan. Moga-moga aku tidak disangka orang gila besok di kantor.

"Jadi?" suaranya bertanya. Aku memandangnya. "Kita jalani sampai kau yakin, atau sampai hari sabtu ini saja? Minggu kita menikah di Cologne, ok?"

Aku tertawa dan menyusupkan wajah di dadanya. Kita jalani saja, bisikku dalam hati. Kita jalani hingga aku yakin kalau pernikahan memang awal dari kebahagiaan, dan bukan akhir dari masa indah berpacaran. Kita jalani sampai aku tahu bahwa memang ada cinta kedua yang lebih indah dari cinta sebelumnya.

Sayup-sayup, entah darimana asalnya, kudengar suara Xavier Naidoo mengalunkan lagu kesayanganku, lagu yang menemani hari-hari sepiku di Berlin, Munich, Duesseldorf, Cologne...

there is more to love than this
love is more than just a kiss
we will take you to next step
we will do more than just can met..
and will you bring the thunder in my life
and the fire in my eyes
ich kenne nichts, ich kenne nichts
das so schon ist wie du
.

***
Bonn, Juli 2003
"for the damn cold nights in germany"

 


tulisan edisi 61

komentar Mencari Ujung Irak
Liston Siregar

sajak Purnama
Ayik Sadat

sajak Stasiun Cikini
Qizink La Aziva

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


ceritanet

©listonpsiregar2000