edisi 61
jumat 22 agustus 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

 

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

 

komentar Mencari Ujung Irak
Liston Siregar

Yang masih kurang dari Irak paska perang, sepertinya, tinggal apakah George Bush dan Tony Blair akan jatuh akibat keputusan menyerang Irak. Dan itu tidak akan terjadi secara dramatis, walau pemerintahan Blair sedang menghadapi penyelidikan sehubungan dengan kematian ilmuwan Dr. David Kelly --yang dianggap membocorkan kopongnya alasan perang Irak.

Selebihnya sudah ada semua. Mayat-mayat penduduk sipil Irak, dua putra Saddam Hussein, tentara Amerika, tentara Inggris, petugas Palang Merah, wartawan, maupun staff PBB. Lantas ada debat politik di seluruh dunia, yang sekarang sudah berkurang karena orang-orang makin terbiasa dan bosan.

Kredibilitas Bush dan Blair bagaimanapun tercoreng selama senjata pemusnah massal tidak ditemukan. Dan juga dana yang mengucur terus; satu bulan operasi di Irak memakan dana sekitar US$ 5 milyar dan diperkirakan sedikitnya perlu waktu tiga sampai lima tahun. Secara akal sehat, ini kekeliruan besar.

Tapi perang Irak adalah soal politik, bukan akal sehat, bukan soal moral dan jelas bukan politik bermoral. Kalaupun seandainya Bush atau Blair jatuh, penyebabnya adalah lemahnya mesin kampanye pemilihan umum mereka. Kalau mereka menang, itu juga bukan karena Amerika dan Inggris berhasil menduduki Irak dan menggulingkan Saddam Hussein. Itu tergantung bagaimana kampanye mereka memolesnya

Cuma tetap saja ada sisi kenyataannya, yang sejauh ini mengkuatirkan.

Di latar belakang, sejak tanggal 1 Mei 2003, ketika Presiden Bush menyatakan perang utama di Irak, sudah 55 tentara Amerika mati akibat serangan bunuh diri. Ditail-ditail tambahan tak usah ditarik terlalu jauh, cukup dari pekan lalu; dari ledakan bom di Kedutaan Besar Yordania di Baghdad, Kamis 14 Agustus 2003.

Hari Minggunya saluran air bersih utama ke ibukota Baghdad, dan --yang lebih simbolis lagi-- saluran minyak untuk ekspor ke Turki disabotase. Sabotase ini tergolong komplit, karena selain menghalangi niat Amerika untuk meraih pemasukan lewat minyak guna meringankan beban dana operasi di Irak, sekaligus menganggu upaya rekonstruksi layanan umum di Irak.

Puncaknya, untuk pekan ini, ledakan bom di Gedung PBB yang menewaskan 18 orang dan Komisaris Hak Asasi Manusia PBB, Sergio de Mello, yang tadinya hanya akan bertugas di Baghdad selama empat bulan. Banyak orang Irak yang bisa membedakan membedakan PBB dengan Amerika dan Inggris. PBB untuk membantu kehidupan mereka.

Dan pelaku serangan bom bunuh diri ke Gedung PBB itu jelas bukan orang bodoh yang tidak tahu perbedaan tersebut. Tapi memang pesannya adalah siapapun di Irak tidak akan pernah aman di bawah kawalan pasukan Amerika.

Dan skenario apapun yang dipakai untuk mereka-reka pelakunya, konsekuensinya amat buruk.

Yang paling kurang buruk adalah pelakunya para pendukung setia Saddam Hussein. Amerika yakin Saddam Hussein akan tertangkap, hidup atau mati dan semangat memang meningkat ketika dua putranya mati ditembak. Lantas sepupu merangkap mantan tangan kanan Saddam Hussein, Chemical Ali --yang dulu sempat dinyatakan tewas di Basra-- berhasil ditangkap. Sebelumnya Taha Yassin Ramadan, Wakil Presiden Irak yang tertangkap.

Jadi tak lama lagi Saddam Hussein --mudah-mudahan-- akan bisa ditemukan, dan itu berarti berakhirlah serangan-serangan yang mengganggu tugas mulia rekonstruksi Amerika dan PBB. Kesalahan besar bisa diperbaiki, dan semua kembali ke urusan masing-masing.

Tapi seandainya pelakunya adalah kelompok Al-Qaeda, keadaan akan lebih buruk. Sejak 11 September, perang internasional melawan terorisme bisa dibilang berhasil karena banyak tokoh-tokoh Islam radikal yang berhasil ditangkapi, termasuk Hambali yang disebut-sebut 'Osama bin Laden Asia.'

Tapi juga bisa dibilang tidak berhasil. Sejak 11 September sejumlah pemboman berbau Al Qaeda saling bersusul-susulan. Ada ledakan bom Bali, di Hotel Marriot Jakarta, di pentas musik rock di Moskow, di kawasan wisata Casablanca di Maroko, maupun di Riyadh. Teroris tersebar dimana-mana dan upaya melumpuhkan serangan-serangan mematikan dari Islam Radikal masih amat jauh.

Hampir sama buruknya jika serangan-serangan di Irak dilakukan oleh kelompok pemberontak Sunni. Bagaimana rumitnya Amerika dalam meringkus semua Islam Sunni di Irak dan, walau banyak pengamat yang mengatakan pengalaman buruk Vietnam tidak akan terulang, krisis Irak akan terseret selama bertahun-tahun. Perang gerilya adalah terowongan tanpa ujung.

Dan bagaimana jika ternyata serangan-serangan Amerika dilakukan oleh koalisi kekuatan para pendukung Saddam Hussein, kelompok Al-Qaeda, dan para pemberontak Sunni?

Sampai saat ini amat sulit menduga-duga ujung krisis Irak. Blair dan Bush akan jalan terus, dengan bayaran apapun. Teroris --dari kelompok manapun-- tak akan pernah menerima kekalahan dari Bush dan Blair.

Jadi dimana ujungnya?

Ini soal politik. Di Amerika Serikat, para bakal calon presiden dari Partai Demokrat untuk pemilihan 2004 sudah mengangkat isu anti perang. Di Inggris, beberapa anggota Partai Buruh --yang sudah hampir pasti menang lagi dalam pemilihan umum 2005-- secara terang-terangan menyatakan anti perang Irak dan beberapa bahkan meminta Blair mundur.

Kalaulah Bush dan Blair terpilih kembali, maka sepertinya kekerasan lawan kekerasan akan melekat terusdi dunia ini. Hanya pemimpin baru saja yang bersedia memulai dari titik nol, dan menata kembali dunia dengan keyakinan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan apapun.

Coba bayangkan ada apa di benak Al Gore, dan para staffnya, sekarang ini. Awal tahun 2000, Gore akhirnya mau menerima kemenangan tipis Bush, yang masih dipertanyakan. Seandainya Gore ngotot dan ternyata dia yang menang, mungkin dunia yang sekarang ini akan berbeda --dengan asumsi Demokrat tetap berisi Demokrat, bukan seperti Partai Buruh Inggris yang isinya kanan.

Tapi soal Gore itu soal pangkal, sedang masalah sekarang adalah soal ujung. Dimanakah ujung perang Irak?
***

tulisan edisi 61

sajak Purnama
Ayik Sadat

cerpen Kabut
Musim Dingin

Kuncup Melati

sajak Stasiun Cikini
Qizink La Aziva

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


ceritanet

©listonpsiregar2000