komentar
Mencari
Ujung Irak
Liston
Siregar
Yang
masih kurang dari Irak paska perang, sepertinya, tinggal apakah George
Bush dan Tony Blair akan jatuh akibat keputusan menyerang Irak. Dan
itu tidak akan terjadi secara dramatis, walau pemerintahan Blair sedang
menghadapi penyelidikan sehubungan dengan kematian ilmuwan Dr. David
Kelly --yang dianggap membocorkan kopongnya alasan perang Irak.
Selebihnya
sudah ada semua. Mayat-mayat penduduk sipil Irak, dua putra Saddam Hussein,
tentara Amerika, tentara Inggris, petugas Palang Merah, wartawan, maupun
staff PBB. Lantas ada debat politik di seluruh dunia, yang sekarang
sudah berkurang karena orang-orang makin terbiasa dan bosan.
Kredibilitas
Bush dan Blair bagaimanapun tercoreng selama senjata pemusnah massal
tidak ditemukan. Dan juga dana yang mengucur terus; satu bulan operasi
di Irak memakan dana sekitar US$ 5 milyar dan diperkirakan sedikitnya
perlu waktu tiga sampai lima tahun. Secara akal sehat, ini kekeliruan
besar.
Tapi
perang Irak adalah soal politik, bukan akal sehat, bukan soal moral
dan jelas bukan politik bermoral. Kalaupun seandainya Bush atau Blair
jatuh, penyebabnya adalah lemahnya mesin kampanye pemilihan umum mereka.
Kalau mereka menang, itu juga bukan karena Amerika dan Inggris berhasil
menduduki Irak dan menggulingkan Saddam Hussein. Itu tergantung bagaimana
kampanye mereka memolesnya
Cuma
tetap saja ada sisi kenyataannya, yang sejauh ini mengkuatirkan.
Di
latar belakang, sejak tanggal 1 Mei 2003, ketika Presiden Bush menyatakan
perang utama di Irak, sudah 55 tentara Amerika mati akibat serangan
bunuh diri. Ditail-ditail tambahan tak usah ditarik terlalu jauh, cukup
dari pekan lalu; dari ledakan bom di Kedutaan Besar Yordania di Baghdad,
Kamis 14 Agustus 2003.
Hari
Minggunya saluran air bersih utama ke ibukota Baghdad, dan --yang lebih
simbolis lagi-- saluran minyak untuk ekspor ke Turki disabotase. Sabotase
ini tergolong komplit, karena selain menghalangi niat Amerika untuk
meraih pemasukan lewat minyak guna meringankan beban dana operasi di
Irak, sekaligus menganggu upaya rekonstruksi layanan umum di Irak.
Puncaknya,
untuk pekan ini, ledakan bom di Gedung PBB yang menewaskan 18 orang
dan Komisaris Hak Asasi Manusia PBB, Sergio de Mello, yang tadinya hanya
akan bertugas di Baghdad selama empat bulan. Banyak orang Irak yang
bisa membedakan membedakan PBB dengan Amerika dan Inggris. PBB untuk
membantu kehidupan mereka.
Dan
pelaku serangan bom bunuh diri ke Gedung PBB itu jelas bukan orang bodoh
yang tidak tahu perbedaan tersebut. Tapi memang pesannya adalah siapapun
di Irak tidak akan pernah aman di bawah kawalan pasukan Amerika.
Dan
skenario apapun yang dipakai untuk mereka-reka pelakunya, konsekuensinya
amat buruk.
Yang
paling kurang buruk adalah pelakunya para pendukung setia Saddam Hussein.
Amerika yakin Saddam Hussein akan tertangkap, hidup atau mati dan semangat
memang meningkat ketika dua putranya mati ditembak. Lantas sepupu merangkap
mantan tangan kanan Saddam Hussein, Chemical Ali --yang dulu sempat
dinyatakan tewas di Basra-- berhasil ditangkap. Sebelumnya Taha Yassin
Ramadan, Wakil Presiden Irak yang tertangkap.
Jadi
tak lama lagi Saddam Hussein --mudah-mudahan-- akan bisa ditemukan,
dan itu berarti berakhirlah serangan-serangan yang mengganggu tugas
mulia rekonstruksi Amerika dan PBB. Kesalahan besar bisa diperbaiki,
dan semua kembali ke urusan masing-masing.
Tapi
seandainya pelakunya adalah kelompok Al-Qaeda, keadaan akan lebih buruk.
Sejak 11 September, perang internasional melawan terorisme bisa dibilang
berhasil karena banyak tokoh-tokoh Islam radikal yang berhasil ditangkapi,
termasuk Hambali yang disebut-sebut 'Osama bin Laden Asia.'
Tapi
juga bisa dibilang tidak berhasil. Sejak 11 September sejumlah pemboman
berbau Al Qaeda saling bersusul-susulan. Ada ledakan bom Bali, di Hotel
Marriot Jakarta, di pentas musik rock di Moskow, di kawasan wisata Casablanca
di Maroko, maupun di Riyadh. Teroris tersebar dimana-mana dan upaya
melumpuhkan serangan-serangan mematikan dari Islam Radikal masih amat
jauh.
Hampir
sama buruknya jika serangan-serangan di Irak dilakukan oleh kelompok
pemberontak Sunni. Bagaimana rumitnya Amerika dalam meringkus semua
Islam Sunni di Irak dan, walau banyak pengamat yang mengatakan pengalaman
buruk Vietnam tidak akan terulang, krisis Irak akan terseret selama
bertahun-tahun. Perang gerilya adalah terowongan tanpa ujung.
Dan
bagaimana jika ternyata serangan-serangan Amerika dilakukan oleh koalisi
kekuatan para pendukung Saddam Hussein, kelompok Al-Qaeda, dan para
pemberontak Sunni?
Sampai
saat ini amat sulit menduga-duga ujung krisis Irak. Blair dan Bush akan
jalan terus, dengan bayaran apapun. Teroris --dari kelompok manapun--
tak akan pernah menerima kekalahan dari Bush dan Blair.
Jadi
dimana ujungnya?
Ini
soal politik. Di Amerika Serikat, para bakal calon presiden dari Partai
Demokrat untuk pemilihan 2004 sudah mengangkat isu anti perang. Di Inggris,
beberapa anggota Partai Buruh --yang sudah hampir pasti menang lagi
dalam pemilihan umum 2005-- secara terang-terangan menyatakan anti perang
Irak dan beberapa bahkan meminta Blair mundur.
Kalaulah
Bush dan Blair terpilih kembali, maka sepertinya kekerasan lawan kekerasan
akan melekat terusdi dunia ini. Hanya pemimpin baru saja yang bersedia
memulai dari titik nol, dan menata kembali dunia dengan keyakinan bahwa
kekerasan tidak akan menyelesaikan apapun.
Coba
bayangkan ada apa di benak Al Gore, dan para staffnya, sekarang ini.
Awal tahun 2000, Gore akhirnya mau menerima kemenangan tipis Bush, yang
masih dipertanyakan. Seandainya Gore ngotot dan ternyata dia yang menang,
mungkin dunia yang sekarang ini akan berbeda --dengan asumsi Demokrat
tetap berisi Demokrat, bukan seperti Partai Buruh Inggris yang isinya
kanan.
Tapi
soal Gore itu soal pangkal, sedang masalah sekarang adalah soal ujung.
Dimanakah ujung perang Irak?
***