sajak
Stasiun
Cikini
Qizink
La Aziva
hari ini
stasiun cikini
kita kembali bertanya tentang sebuah kota tak berpeta
kereta telah melaju
lagu anak anak, suara sitar, instrumen tutup botol, dibawa angin entah
kemana
dan matahari terkapar menahan dahaga
lapar
di ujung langit, burung gagak memainkan
paruhnya yang runcing
mencoba memangsa seekor cacing
di pinggir kali, ikanikan mengantuk
mengutuk cuaca hitam
tapi duka itu
masih coba kita maknai dengan airmata
dengan cinta dengan katakata
dari stasiun cikini
kita berjalan
menyusuri semua kemungkinan
menemukan kota.
Jakarta, 9 Maret 2003
seorang bocah berwajah
resah
meraup darah membuncah
dari tubuh ayah
pada subuh yang indah
kenapa mesti ada
tentara
kenapa mesti ada senjata
kenapa mesti ada perang
di tanah kami yang gersang
lihatlah, di langit
sana
lima puluh bintang mengangkang
memuntahkan bolabola api
ke tengah negeri kami
seorang bocah di
tanah bashrah
memunguti percikpercik darah
dan telinganya mungkin kelak akan terbiasa
mendengar peluru beradu
Anyer, 20 Maret 2003
Nanyian
Laut
cha, malam ini
bintang menyepi
pada kertas sajak
hanya ada ombak
dibawa angin deru
"bawa aku"
gemuruh dadamu menghantam karang
cha, burung-burung
telah mengepak sayap
masih adakah harap
bagi laut senyap
Anyer, 230103