edisi 61
jumat 22 agustus 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

 

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

 

sajak Stasiun Cikini
Qizink La Aziva

hari ini
stasiun cikini
kita kembali bertanya tentang sebuah kota tak berpeta

kereta telah melaju
lagu anak anak, suara sitar, instrumen tutup botol, dibawa angin entah

kemana
dan matahari terkapar menahan dahaga
lapar

di ujung langit, burung gagak memainkan paruhnya yang runcing
mencoba memangsa seekor cacing

di pinggir kali, ikanikan mengantuk
mengutuk cuaca hitam

tapi duka itu
masih coba kita maknai dengan airmata
dengan cinta dengan katakata

dari stasiun cikini
kita berjalan
menyusuri semua kemungkinan
menemukan kota.
Jakarta, 9 Maret 2003

seorang bocah berwajah resah
meraup darah membuncah
dari tubuh ayah
pada subuh yang indah

kenapa mesti ada tentara
kenapa mesti ada senjata
kenapa mesti ada perang
di tanah kami yang gersang

lihatlah, di langit sana
lima puluh bintang mengangkang
memuntahkan bolabola api
ke tengah negeri kami

seorang bocah di tanah bashrah
memunguti percikpercik darah
dan telinganya mungkin kelak akan terbiasa
mendengar peluru beradu
Anyer, 20 Maret 2003

Nanyian Laut

cha, malam ini
bintang menyepi

pada kertas sajak
hanya ada ombak
dibawa angin deru

"bawa aku"
gemuruh dadamu menghantam karang

cha, burung-burung telah mengepak sayap
masih adakah harap
bagi laut senyap
Anyer, 230103


tulisan edisi 61

komentar Mencari Ujung Irak
Liston Siregar

sajak Purnama
Ayik Sadat

cerpen Kabut
Musim Dingin

Kuncup Melati

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


ceritanet

©listonpsiregar2000