edisi 60
kamis 24 juli 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Malam berikutnya ia ketemu Lara. Dijumpainya dia dalam kamar persediaan; setumpuk pakaian, baru keluar dari mesin penulas terletak di depannya; ia sedang menyeterika.

Kamar persediaan adalah salah satu kamar belakang paling atas yang membuka pemandangan ke taman. Di situ disediakan samowar, makanan dipersiapkan dan piring-piring dionggokkan dalam lift yang dilayani orang untuk dikirim ke tukang cuci. Di situ pula daftar barang pecah belah, piring dan gelas disimpan dan dicocokkan dan disitu orang datang di waktu senggang serta bertemu menurut janji. Dalam kamar itu bau intim lindeng seperti dalam taman tua, bercampur dengan bau pahit ranting-ranting pohon karwai; ditambahkan kesitu asap arang dari dua buah seterika yang bergilir-gilir dipakai Lara dan berganti-ganti ditaruhya dalam pipa saluran asap, agar tetap panas.

"Mengapa semalam tak mengetuk pintu? Saya dengar dari mademoiselle. Tapi sebetulnya baik begitu. Aku tak dapat memasukkan kau, aku tidur hampir seketika. Nah apa kabar? Hati-hati, jangan sampai pakaianmu kena arang.

"Rupa-rupanya kau jadi tukang binatu untuk seluruh rumah sakit?"

"Bukan, ini kebanyakan pakaianku sendiri. Kau lihat? Kau selalu menggangguku dengan mengatakan aku terlengket di Melyuzeyevo. Nah, kali ini aku betul-betul akan angkat kaki. Aku sudah cuci-cuci, kemas-kemas. Bila selesai, aku pergi. Aku akan di Ural, kau di Moskow. Suatu hari bertanyalah orang padamu; "Barangkali kau kenal kota kecil bernama Melyuzeyevo?" --"Tak ingat benar"-- "Dan siapa Antipva?" --Tak pernah dengar tentang dia."

"Barangkali begitu. Kau senang dalam perjalanan tadi? Bagaimana rasanya di desa?"

"Itu cerita panjang, Wah cepat benar seterika ini jadi dingin. Tolong ambilkan lainnya, mau? Di sana, tengok dalam pipa. Dan boleh kuminta mengembalikan ini? Terima kasih. Desa-desa itu berlainan, tergantung dari penduduknya. Ada yang orang-orangnya rajin, kerja keras, jadi baiklah keadaannya. Adayang kukira semua laki-lakinya mabuk, maka desa begitu tandus dan mengerikan."

"Mana bisa! tak ada alasan untuk mabuk. Banyak yang tak kau pahami! Soalnya tak ada orang di sana, semua lelaki masuk tentara. Bagaimana dewan-dewan baru yang revolusiner itu?"

"Kau salah terka tentang hal mabuk itu, tapi kelak sajalah kita berdebat tentang itu.Dewan-dewan? Banyak kesulitan mengenai dewan-dewan ini, perintah-perintahnya tak dapat dilaksanakan, tak ada yang diajak kerja. Yang diperhatikan kaum tani sekarang hanyalah masalah tanah. Aku mampir di Razdolnoye. Dusun indah! Coba lihat di sana. Dusun itu dibakar habis, pohon-pohon yang menghasilkan buah jadi hangus, sebagian fasadenya rusak oleh asap. Zabushino tak kulihat, aku tak sampai ke sana. Tapi menurut semua orang si bisu tuli itu memang ada. Mereka jelaskan bagaimana rupanya, katanya ia muda dan terpelajar."


tulisan edisi 60

puisi Lagu Nostalgia
T.S. Pinang

cerpenTea and Her
Farah Rachmat

cerpen Polisi dan Sopir
Dodi Mawardi

cerpen Collect Call to God
Aulia Andri


ceritanet

©listonpsiregar2000

 

"Semalam di Platz, Ustinya membelanya."

"Pada saat aku pulang banyak lagi yang tak beres datang dari Randolnoye. Sekali kuminta, dua puluh kali pula kuminta supaya mereka biarkan saja itu. Kitapun sudah kenyang dengan kesulitan. Dan pagi ini datang jurukunci kantor mayor kota, membawa surat --mereka minta servis teh dari perak dan gelas kristal, itu soal hidup atau mati, hanya untuk satu malam; mereka akan mengirimnya kembali. Separuhnya tak bakal kita lihat lagi. Katanya saja dipinjam --aku kenal pinjaman macam apa itu. Mereka mau pesta untuk menghormati tamu atau apa."

"Bisa kuterka siapa itu. Komisaris baru sudah tiba, ia diangkat untuk sektor kita di medan perang. Orang mau menghajar kaum desertir, mengepung dan melucuti mereka. Komisaris kita masih bayi. Rakyat kita ingin memanggil tentara Kosak, tapi dia bilang jangan, ia akan mengaduk perasaan mereka. Dia bilang rakyat seperti kanak-kanak. Galiullin mencoba mendebatnya. Katanya; 'Rimba jangan diutik-utik. Serahkan pada kita membereskannya.' Tapi orang macam itu tak bisa diapa-apakan, kalau ia sudah punya kemauan, Kuingin kau mendengarkan aku. Berhentilah sebenar menyeterika. Segera kita akan kewalahan, kita tak berkuasa mencegahnya. Sebaiknya kau berangkat, sebelum terjadi apa-apa."

"Tak bakal ada apa-apa, kau melebih-lebihkan saja. Dan apapun yang terjadi aku akan berangkat juga. Tapi aku tak bisa pergi begitu saja. Harus kuadakan timbang terima yang seksama dan inventaris mesti cocok. Jangan-jangan orang sangka aku curi apa-apa lalu lari, Dan pada siapa kutimbang-terimakan? Itulah soalnya. Tak dapat kusebut apa yang kualami dengan inventaris jahanam ini, sedangkan penghargaan yang kuterima hanyalah tuduhan bahwa aku berbuat curang! Kudaftarkan barang-barang Zhabrinskaya atas nama rumah sakit, sebab itulah maksud perintah mereka. Lalu dikatakan aku curang dan menyimpan barang-barang itu untuk pemiliknya. Mual!"

"Jangan kau repotkan lagi soal pot dan selimut. Persetan dengan itu. Masak kita ribut-ribut tentang itu saja di waktu begini. O, kuingin ketemu kau kemarin. Kemana aku dalam keadaan baik, serasa dapat kuterangkan tiap hal di langit dan di bumi, dapat kujawab tiap masalah. Benar, tak main-main, aku gatal-gatal untuk mengeluarkan itu dari dadaku. Kuingin cerita padamu tenang istriku, anakku, dan diriku sendiri... Wah mengapa laki-laki dewasa tidak boleh bicara dengan wanita dewasa, tanpa dicurigai punya alasan yanglebih lanjut! Persetan segala alasan --lanjut atau tidak. Seterikalah terus, tak usah kau perhatikan aku, aku akan terus bicara. Aku berniat bicara lama-lama."

"Coba pikir apa yang terjadi sekarang! Dan kau dan aku hidup di jaman kini! Kau sadar bahwa yang sedang berlaku ini luar biasa? Hanya satu kali terjadi dalam jaman abadi. Coba seantero Rusia sudah roboh atapnya, dan kau dan aku dan siapa saja ada di langit terbuka! Dan tak ada yang memat-matai kita. Kita bebas, bebas tak hanya dalam kata-kata, kebebasan betul-betul, tiba dari langit, kebebasan yang tak terduga. Kebebasan karena kebetulan saja, karena salah paham."

"Dan tiap orang jadi besar, terkejut oleh kebesarannya sendiri. Kau lihat. Orang-orang seolah-olah teperanjat oleh dirinya sendiri, oleh keagungannya yang tiba-tiba nampak."

"Teruslah menyeterika. Tak usah omong. Kau tak jemu, coba ganti seterikamu."

"Semalam kulihat rapat di pelataran. Pemandangan di situ mengherankan. Ibu Pertiwi Rusia sedang bergerak, tak bisa berhenti, ia gelisah dan tak dapat mengaso, ia bicara dan tak sanggup berhenti. Dan bukan hanya manusia yang buka mulut. Bintang dan pohon bertemu dan berbincang, bunga berfilsafat pada malam hari, rumah-rumah batu berapat. Seperti dari Evangeli saja, bukan? Seperti dari jaman para nabi. Seperti dalam Santa Paulus, ingat? Kau akan bicara dengan lidah dan nubuat. Berdoalah untuk kesanggupan saling mengerti."

"Aku tahu yang kau maksudkan tentang bintang dan pohon yang berapat. Aku paham. Pernah kualami juga."

"Sebagian disebabkan oleh perang, revolusi menyebabkan yang selebihnya. Perang menggubah retak bikinan dalam hidup --seolah hidup dapat ditunda sementara. Omong kosong! Revolusi pecah mau tak mau, semalam nafas yang terlalu lama ditahan-tahan, Tiap orang hidup kembali; lahir kembali, berobah lahir batin. Boleh dikatakan tiap orang mengalami dua revolusi --revolusi pribadinya sendiri maupun revolusi umum. Bagiku sosialisme merupakan hati, sedangkan arus-arus tersendiri yang prive, yang pribadi itu mengalir ke dalamnya --laut hidup, hidup yang berhak tesendiri. Kukatakan hidup, tapi yang kumaksud adalah hidup yang terlihat dalam karya seni, diobah oleh jeni, diperkaya oleh daya cipra. Bbaru sekaranglah orang memutuskan hendak mengalaminya, bukan dalam buku serta gambar melainkandalam diri mereka sendiri, bukan dalam teori, melainkan dalam praktek."

Suaranya yang sekonyong-konyong bergeletar itu menunjukkan gairahnya yang meningkat, Lara berhenti menyeterika serta menatapnya dengan sungguh-sungguh dan serba heran. Ini membuatnya bingung, dan ia lupa apa yang hendak diucapkannya. Setelah sesaat berdiam diri dengan malu-malu, ia pun dengan lancar meluncurkan lagi apa saja yang melintas dalam kepala.

"Sekarang kuhasratkan sekali penghiupdan yang jujur lagi produktif. Ingin sekali mengambil bagian dalam pemesatan ini., Tapi di tengah kegembiraan umum yang terbit kembali ini kujumpai ungkapan matamu yangnanar, sedih, penuh teka-teki, mengembara entah dalam kerajaan mujizat yang mana. Aku mau korbankan apa saja, asal itu tak terjadi, asal kulihat pada wajahmu bahwa kau tak kurang satupun, bahwa kau segan hidup, tak butuh apa-apa dari siapapun juga. Asal ada seseorang yang dekat padamu, kawan atau suami (sebaiknya seorang prajurit) yang datang menggandeng tangan kau dan dengan ramahnya menuturkan agar aku tak usah rusuh hati tentang nasibmu dan pergi saja meninggalkanmu. Tapi kalau begitu akan kupukul dia... Maaf, bukan begitu maksudku."

Suaranya mengkhianatinya lagi. Ia geleng kepala dan dengan malu yang tak tertahan iapun bangkit dan pergi ke jendela. Besandar ke daun jendela, ia memandang ke luar dengan mata linglung, gelisah dan buta ke arah taman yang dicadari kegelapan; ia mencoba menenangkan dirinya.

Lara berjalan mengitari papan seterikanya (yang dijejalkan antara tepi meja dan daun jendela lainnya), berhenti dia tiga langkah di belakangnya ditengah kamar. "Itulah yang sudah kukuatirkan," ujarnya lembut, seolah bicara pada diri sendiri. "Seharusnya aku.... Jangan Yuri Andreyevich, jangan begitu. O coba lihat apa yang kau buat!" Ia lari kembali ke papan seterika, dimana sepotong blus yang hangus mengeluarkan asap tajam berkepul kecil dari bawah seterika.

"Yury Andreyevich," sambungnya sambil menghentakkan dengan marahnya alat itu ke atas landasannya, " pakailah otak sehat, pergi sebentar ke mademoiselle, minum seteguk air dan baiklah, sayang, dan bertindaklah seperti biasa, begitulah yang kuinginkan. Kau dengar, Yuru Andreyevich? Kutahu kau sanggup dan kumintak au berbuat begitu."

Mereka tak ada lagi keterangan semacam itu dan semnggu kemudian berangkatlah Lara.
***
bersambung