"Semalam di Platz, Ustinya
membelanya."
"Pada saat aku pulang banyak
lagi yang tak beres datang dari Randolnoye. Sekali kuminta, dua puluh
kali pula kuminta supaya mereka biarkan saja itu. Kitapun sudah kenyang
dengan kesulitan. Dan pagi ini datang jurukunci kantor mayor kota, membawa
surat --mereka minta servis teh dari perak dan gelas kristal, itu soal
hidup atau mati, hanya untuk satu malam; mereka akan mengirimnya kembali.
Separuhnya tak bakal kita lihat lagi. Katanya saja dipinjam --aku kenal
pinjaman macam apa itu. Mereka mau pesta untuk menghormati tamu atau
apa."
"Bisa kuterka siapa itu. Komisaris
baru sudah tiba, ia diangkat untuk sektor kita di medan perang. Orang
mau menghajar kaum desertir, mengepung dan melucuti mereka. Komisaris
kita masih bayi. Rakyat kita ingin memanggil tentara Kosak, tapi dia
bilang jangan, ia akan mengaduk perasaan mereka. Dia bilang rakyat seperti
kanak-kanak. Galiullin mencoba mendebatnya. Katanya; 'Rimba jangan diutik-utik.
Serahkan pada kita membereskannya.' Tapi orang macam itu tak bisa diapa-apakan,
kalau ia sudah punya kemauan, Kuingin kau mendengarkan aku. Berhentilah
sebenar menyeterika. Segera kita akan kewalahan, kita tak berkuasa mencegahnya.
Sebaiknya kau berangkat, sebelum terjadi apa-apa."
"Tak bakal ada apa-apa, kau
melebih-lebihkan saja. Dan apapun yang terjadi aku akan berangkat juga.
Tapi aku tak bisa pergi begitu saja. Harus kuadakan timbang terima yang
seksama dan inventaris mesti cocok. Jangan-jangan orang sangka aku curi
apa-apa lalu lari, Dan pada siapa kutimbang-terimakan? Itulah soalnya.
Tak dapat kusebut apa yang kualami dengan inventaris jahanam ini, sedangkan
penghargaan yang kuterima hanyalah tuduhan bahwa aku berbuat curang!
Kudaftarkan barang-barang Zhabrinskaya atas nama rumah sakit, sebab
itulah maksud perintah mereka. Lalu dikatakan aku curang dan menyimpan
barang-barang itu untuk pemiliknya. Mual!"
"Jangan kau repotkan lagi soal
pot dan selimut. Persetan dengan itu. Masak kita ribut-ribut tentang
itu saja di waktu begini. O, kuingin ketemu kau kemarin. Kemana aku
dalam keadaan baik, serasa dapat kuterangkan tiap hal di langit dan
di bumi, dapat kujawab tiap masalah. Benar, tak main-main, aku gatal-gatal
untuk mengeluarkan itu dari dadaku. Kuingin cerita padamu tenang istriku,
anakku, dan diriku sendiri... Wah mengapa laki-laki dewasa tidak boleh
bicara dengan wanita dewasa, tanpa dicurigai punya alasan yanglebih
lanjut! Persetan segala alasan --lanjut atau tidak. Seterikalah terus,
tak usah kau perhatikan aku, aku akan terus bicara. Aku berniat bicara
lama-lama."
"Coba pikir apa yang terjadi
sekarang! Dan kau dan aku hidup di jaman kini! Kau sadar bahwa yang
sedang berlaku ini luar biasa? Hanya satu kali terjadi dalam jaman abadi.
Coba seantero Rusia sudah roboh atapnya, dan kau dan aku dan siapa saja
ada di langit terbuka! Dan tak ada yang memat-matai kita. Kita bebas,
bebas tak hanya dalam kata-kata, kebebasan betul-betul, tiba dari langit,
kebebasan yang tak terduga. Kebebasan karena kebetulan saja, karena
salah paham."
"Dan tiap orang jadi besar,
terkejut oleh kebesarannya sendiri. Kau lihat. Orang-orang seolah-olah
teperanjat oleh dirinya sendiri, oleh keagungannya yang tiba-tiba nampak."
"Teruslah menyeterika. Tak
usah omong. Kau tak jemu, coba ganti seterikamu."
"Semalam kulihat rapat di pelataran.
Pemandangan di situ mengherankan. Ibu Pertiwi Rusia sedang bergerak,
tak bisa berhenti, ia gelisah dan tak dapat mengaso, ia bicara dan tak
sanggup berhenti. Dan bukan hanya manusia yang buka mulut. Bintang dan
pohon bertemu dan berbincang, bunga berfilsafat pada malam hari, rumah-rumah
batu berapat. Seperti dari Evangeli saja, bukan? Seperti dari jaman
para nabi. Seperti dalam Santa Paulus, ingat? Kau akan bicara dengan
lidah dan nubuat. Berdoalah untuk kesanggupan saling mengerti."
"Aku tahu yang kau maksudkan
tentang bintang dan pohon yang berapat. Aku paham. Pernah kualami juga."
"Sebagian disebabkan oleh perang,
revolusi menyebabkan yang selebihnya. Perang menggubah retak bikinan
dalam hidup --seolah hidup dapat ditunda sementara. Omong kosong! Revolusi
pecah mau tak mau, semalam nafas yang terlalu lama ditahan-tahan, Tiap
orang hidup kembali; lahir kembali, berobah lahir batin. Boleh dikatakan
tiap orang mengalami dua revolusi --revolusi pribadinya sendiri maupun
revolusi umum. Bagiku sosialisme merupakan hati, sedangkan arus-arus
tersendiri yang prive, yang pribadi itu mengalir ke dalamnya --laut
hidup, hidup yang berhak tesendiri. Kukatakan hidup, tapi yang kumaksud
adalah hidup yang terlihat dalam karya seni, diobah oleh jeni, diperkaya
oleh daya cipra. Bbaru sekaranglah orang memutuskan hendak mengalaminya,
bukan dalam buku serta gambar melainkandalam diri mereka sendiri, bukan
dalam teori, melainkan dalam praktek."
Suaranya yang sekonyong-konyong
bergeletar itu menunjukkan gairahnya yang meningkat, Lara berhenti menyeterika
serta menatapnya dengan sungguh-sungguh dan serba heran. Ini membuatnya
bingung, dan ia lupa apa yang hendak diucapkannya. Setelah sesaat berdiam
diri dengan malu-malu, ia pun dengan lancar meluncurkan lagi apa saja
yang melintas dalam kepala.
"Sekarang kuhasratkan sekali
penghiupdan yang jujur lagi produktif. Ingin sekali mengambil bagian
dalam pemesatan ini., Tapi di tengah kegembiraan umum yang terbit kembali
ini kujumpai ungkapan matamu yangnanar, sedih, penuh teka-teki, mengembara
entah dalam kerajaan mujizat yang mana. Aku mau korbankan apa saja,
asal itu tak terjadi, asal kulihat pada wajahmu bahwa kau tak kurang
satupun, bahwa kau segan hidup, tak butuh apa-apa dari siapapun juga.
Asal ada seseorang yang dekat padamu, kawan atau suami (sebaiknya seorang
prajurit) yang datang menggandeng tangan kau dan dengan ramahnya menuturkan
agar aku tak usah rusuh hati tentang nasibmu dan pergi saja meninggalkanmu.
Tapi kalau begitu akan kupukul dia... Maaf, bukan begitu maksudku."
Suaranya mengkhianatinya lagi. Ia
geleng kepala dan dengan malu yang tak tertahan iapun bangkit dan pergi
ke jendela. Besandar ke daun jendela, ia memandang ke luar dengan mata
linglung, gelisah dan buta ke arah taman yang dicadari kegelapan; ia
mencoba menenangkan dirinya.
Lara berjalan mengitari papan seterikanya
(yang dijejalkan antara tepi meja dan daun jendela lainnya), berhenti
dia tiga langkah di belakangnya ditengah kamar. "Itulah yang sudah
kukuatirkan," ujarnya lembut, seolah bicara pada diri sendiri.
"Seharusnya aku.... Jangan Yuri Andreyevich, jangan begitu. O coba
lihat apa yang kau buat!" Ia lari kembali ke papan seterika, dimana
sepotong blus yang hangus mengeluarkan asap tajam berkepul kecil dari
bawah seterika.
"Yury Andreyevich," sambungnya
sambil menghentakkan dengan marahnya alat itu ke atas landasannya, "
pakailah otak sehat, pergi sebentar ke mademoiselle, minum seteguk air
dan baiklah, sayang, dan bertindaklah seperti biasa, begitulah yang
kuinginkan. Kau dengar, Yuru Andreyevich? Kutahu kau sanggup dan kumintak
au berbuat begitu."
Mereka tak ada lagi keterangan semacam
itu dan semnggu kemudian berangkatlah Lara.
***
bersambung