Café itu cukup ramai pengunjung,
aku celingukan mencari sosok Her. Hm, tidak terlihat batang hidungnya.
Mungkin dia bosan menunggu, aku memang terlambat 30 menit. Sudahlah.
Aku menghampiri pintu. Ketika aku membuka pintu, wajah Her ada di hadapanku.
Aku terkejut. "Eh, kau."
"Ya, aku pergi sebentar, dan kembali lagi. Sudah selesai mengajar?"
Aku mengangguk dan kami melangkah menjauhi café. Tak terasa meluncur
cerita dari mulutku. Dan ia mendengarkan dengan sesekali menatapku.
Aku jengah diperlakukan demikian.
"Alors, sekarang ceritamu
"
Ia mengangkat bahu,
"Tak ada yang
istimewa. Hari ini aku harus ketemu pembimbingku, dan sialnya aku telat
5 menit! Begitulah
tadi aku pergi ke telepon umum, kupikir, seselesainya
aku menelepon kau pasti sudah ada di café. Bagaimana ceritanya
kau hidup di negeri ini?"
Kini aku yang mengangkat
bahu. "Ntahlah
terdengar aneh mungkin, tetapi sudahlah mengapa
kita harus membicarakan itu. Bagaimana kalau sekarang kita pulang saja.
Aku agak lelah. Kau tinggal di mana?" Ia menyebut satu jalan yang
kukenal baik. Aku tidak lagi berbasa-basi mengajak ia mampir, karena
aku sudah terlampau penat. Ia nampaknya mengerti. Her, lelaki itu mengucapkan
kata perpisahan dan kemudian menghilang ke dalam stasiun Metro.
***
Hiruk pikuk orang lalu lalang di pasar dekat rumahku selalu membuatku
merasa hidup. Entah mengapa. Aku membeli keperluanku. Kubeli juga buah
Cherry yang menggiurkan. Entah mengapa ketika aku menunggu penjual Cherry
itu aku merasa seperti ada orang yang memperhatikanku. Aku menoleh dan
kulihat wajah Her, aku tersenyum. "Belanja, Her? Jauh juga kau
ke sini."
Ia tersenyum, "Aku
melihat kau menikmati sekali kehirukpikukan pasar ini. Mari kubantu
kubawakan belanjaanmu," ia mengulurkan tangannya. Aku menggeleng.
"Ah Her, ini tak seberapa. Biasa saja, belanja biasa. Kau sudah
trés occupé kan. Tanganmu sudah penuh dengan belanjaanmu."
Ia tetap mengambil belanjaanku. Aku berseloroh agar tak tertukar nantinya.
Sepanjang perjalanan, kami bertukar cerita sampai di depan pintu apartemen.
"Mampir?"
tanyaku berbasa-basi.
"Hm, kalau boleh?"
"Pourquoi pas? Ayo
tempatku di lantai tiga, kau tau kan sebesar
apa tempatnya. Bertahan dengan pegalnya kaki menaiki tangga, ya?"
selorohku.
"Her, mau teh? Aku punya Earl Grey."
"Hm, tehmu ya?"
"Eh, kok tau?"
"Kuperhatikan kau beli teh itu, di tas plastik belanjaanmu itu.
Dan kuingat, pertama kali jumpa di café, kau juga minum itu.Kau
tahu cerita di balik tehmu itu?"
Aku menggeleng, sambil
membuka kunci pintu dan kemudian membuka pintu dan menaruh belanjaan
di meja. "Duduk dulu, Her
maaf ya, ruangnya kecil."
Aku segera menaruh
belanjaanku dan membuka bungkus Earl Grey tea kesukaanku. Dalam sekejap
aku sudah kembali ke "ruang duduk"ku dengan 2 cangkir di tangan.
"Silahkan. Nah, apa yang kau tau tentang tehku ini?" Ia tersenyum.
"Hehehe
tidak banyak. Tehmu ini, teh hitam diproses dengan
campuran bergamot. Hmmm, makanya wanginya ada seperti jeruk sitrun."
Aku mengangguk-angguk, "aku hanya tahu ini the enak
aku suka
wanginya. Teh ini membawaku ke awang-awang, ke imajinasiku tertinggi
". Ia tertawa, kami ngobrol ngalor-ngidul.
"Hmm, aku harus
pergi, Fay. Sorry tidak bisa lama. Terima kasih tehnya. O, kalau boleh,
dan kau ada waktu
aku ingin mengajakmu nonton selepas pukul empat
nanti. Bagaimana?" Aku tersenyum, "mungkin tidak hari ini,
Her
aku masih banyak tugas yang harus kukerjakan. Besok aku harus
menghadap dosen pembimbingku juga. Lain kali, ya?" Ia mengangguk
dan bergegas.
***
Pertemananku dengan Her semakin akrab. Kami bicara banyak hal, tetapi
tidak untuk urusan pribadi. Aku bersyukur, Her tidak begitu banyak mengusik
sisi pribadiku, demikian sebaliknya.
Kenyamanan itu terasa
sangat menentramkan dalam perasaanku. Suatu hari, entah apa gerangan
yang membuatnya, Her tiba-tiba muncul di muka pintu apartemen dengan
wajah yang sangat ceria. Aku menyambutnya dengan suka cita.
"Fay, aku ingin
tanya sesuatu, mungkin saja kau bersikap lain setelah ini, aku tidak
tahu, tetapi
aku ingin jawaban." Matanya menatap mataku dalam
sekali, aku jadi gelisah.
"Hei, ada apa sih? Kau
mau tanya apa?"
"Aku
aku ingin mengajakmu mendalami hubungan kita ini, aku
merasa nyaman bersamamu, Fay. Aku tau, bisa saja kau menjawab tidak,
bisa saja kau menjawab sebaliknya. Aku
aku hanya ingin kau tahu
bahwa
bahwa aku ingin menjadi kekasihmu."
Aku terdiam. Berusaha
mencerna apa yang kudengar. Aku memandangnya, kepalanya tertunduk dan
akupun bingung harus menjawab apa. Aku menyukainya, suka akan keceriaannya.
"Her, aku ingin sekali menjawab pertanyaanmu dengan segera
namun
"hatiku
berkecamuk. Bibirku hampir mengatakan semua itu, namun suara yang kudengar
dan
aku pun terkejut, "Boleh aku memikirkannya? Sekarang kita bisa
cari makan dulu, yuk?"
***
Begitulah, tahun berganti
tahun setelah peristiwa itu. Sampai kini, aku merasa berhutang padanya.
Aku tidak mendapat kesempatan apapun untuk menjawab pertanyaannya. Keadaan
yang mendesakku.
Dua hari setelah pertemuan
kami terakhir, Her dipanggil pulang oleh Ibunya. Aku tidak sempat berucap
apa-apa kecuali selamat jalan di telepon. Setelah itu, aku sama sekali
kehilangan kontak dan aku merasa itulah jalannya hidup. Kini, sudah
tiga tahun aku kembali ke tanah air. Aku masih memikirkannya.
Tehku sudah dingin,
aku mengambil air panas, menuangkannya dalam cangkirku. Bel berdentang.
Aku beranjak menuju pintu depan. Pak Pos. Surat-surat bank, tidak ada
yang menarik. Satu di antaranya terjatuh dan aku memungutnya
Surat
tanpa perangko, tanpa nama kecuali inisial HER. Segera kubuka.
23 Desember 2002
Dear Fay,
Kau pasti terkejut dengan suratku ini. Kau pasti terkejut mengapa aku
bisa mendapatkan alamatmu. Dan kau pasti tidak akan menyangka cerita
pertemanan kita berkelana tanpa arah seperti ini. Fay, coba kau keluar
rumahmu saat ini. Kau akan melihat rumah di seberang rumahmu. Tanyakan
apakah ada orang bernama "Her". Aku masih menunggu jawabmu.
HER
Aku mengingat-ingat
nama tetangga di depanku. Apakah ini Her, Her yang kukenal dulu? Aku
hanya ingat ada seorang Ibu tua dan kucingnya selalu duduk di beranda.
Aku keluar rumah, berjalan menuju rumah itu. Mengetuk pintunya. Tak
lama, seorang Ibu muncul dengan senyum ramah.
"Fay, silahkan."
Aku tertegun, ia tau namaku. Seingatku aku belum menyebut nama. "Ibu
tahu, kau pasti bingung mengapa Ibu tahu namamu. Kau tidak perlu bertanya
lagi. Sebentar
" ia masuk ke dalam. Kemudian, muncul seorang
lelaki berperawakan tidak terlampau tinggi dan agak gemuk berdiri di
hadapanku. "Fay
" dengan senyum yang tak dapat kulupakan.
Aku hanya terpana.
"Ya, aku juga
tidak menyadari bahwa tetangga depan rumahku adalah kau. Aku memang
memperhatikan beberapa hari, menyakinkan diri apakah itu memang benar
kau. Tak sengaja kemarin aku melihat kau di paserba, aku melihat isi
keranjang belanjaanmu
aku ingat sekali
ada seorang gadis yang
selalu membeli Earl Grey
dan wajahnya persis "Fay" yang
kukenal
aku melihatmu seperti waktu kita bertemu di sebuah pasar
di Paris. Ah, begitu lama, Fay
lalu
apa kabarmu sekarang?"
"Aku bekerja sebagai
konsultan, masih ada hubungannya dengan Prancis. Aku
" Dan
begitulah cerita mengalir dari mulutku
Semua seakan berputar lagi,
berputar lagi bagai putaran film 35mm. Aku tidak ingin menyia-nyiakan
kesempatan ini!
***
Jakarta, 16 Juli 03