edisi 60
kamis 24 juli 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

cerpen Tea and Her
Farah Rachmat


Aku bangun dari peraduanku. Kubuka jendela, bbbrrr, dingiiiiin…kubiarkan jendela itu terbuka dan aku segera turun ke dapur. Perlahan kubuat secangkir Earl Grey tea, mencium wanginya dan menghirupnya perlahan…wangi teh ini membuatku terbawa dalam kenangan. Tea and Her. Itu mungkin judul yang tepat.

Ya, aku teringat lagi dengan kenangan awal pertemuan kami. Aku sedang duduk di sebuah café di Paris, menikmati suatu hari di musim panas yang cerah. Dengan berbekal buku dan kaca mata hitam, aku menikmati hari itu dengan riang. Entah bagaimana, memang karena café itu merupakan café favorit, maka memang hampir tiada henti pengunjung.

Tiba-tiba seorang lelaki mendekati mejaku dan bertanya dengan bahasa Inggris, "Is it free?" Aku mengangkat kepala dan kulihat seorang lelaki berperawakan tidak terlampau tinggi dan agak gemuk. Aku melihat sekeliling, kemudian mengangguk. Aku kembali tenggelam dalam bacaan dan tidak mempedulikan lagi teman duduk di seberangku. Sampai pada akhirnya ia kembali angkat suara, "Ända dari Indonesia?" Aku tidak heran karena aku memang mengenakan baju batik kesayanganku. "And you?" tanpa kuhiraukan pertanyaannya. Ia tertawa. "Apa yang Anda dapat duga?" Aku jadi terpana. Kami berdua tidak ada yang menjawab pertanyaan.

Hm. Ia mengulurkan tangan, "Her". Aku membalasnya dengan segan tanpa menyebut namaku. "Apa kau tidak punya nama?" Aku mendelik… alangkah. Aku gemas sekali. "Fay," jawabku. Pembicaraan berhenti di sana. Aku lirik jam di pergelangan tanganku, aku harus pergi, segera kubereskan barang-barang dan pergi. "Hei, kok kabur?" Aku diam saja.
Kugelengkan kepalaku seakan ingin menghapus kenangan itu. Namun film itu terus berputar dalam benakku.

***
Entah mengapa, hari itu aku ingin sekali menikmati akhir musim panas itu dengan naik bus. Setelah lelah aku berjalan dari Les Marais, sekilas aku melihat tempat duduk kosong. Aku mengambil tempat duduk itu. "Hei, ketemu lagi. Fay, kan?" Aku mengerenyitkan dahi, hmm... tak kusangka lelaki yang kutemui di café itu duduk di sebelahku.

Ah! Aku diam. Dia diam. Aku berusaha sekali tidak mempedulikan dia dengan sibuk melihat peta di dinding bus. Hm, tiga perhentian lagi. Cukup lama. "Fay, boleh ngobrol? Kamu kok tegang sekali. Aku bukan orang jahat kok. Mungkin karena aku berbadan besar seperti ini dan tidak tampan bisa kau anggap penjahat. Eh, kamu mau ke mana?" Aku menggeleng.

Perhentianku sudah dekat. Aku beranjak dari tempat duduk dan segera turun. "Hei… Fay, kotakmu ketinggalan… ". "Fay!" Aku menoleh, aku tidak menyangka Her turun pula dari bus. "Fay, kotakmu…" ia mengulurkan kotakku. "Oh, terima kasih."aku berjalan lagi, kulihat ia mengiringi langkahku. "Kau tinggal di daerah ini?" Aku mengangguk dan menggeleng. "Ehm, Her, ehm…, maaf, aku bukannya ingin berlaku tak sopan, aku harus mengajar sekarang, kau ada waktu nanti sore atau dua jam lagi? Kita bisa bertemu di sana, di café itu?" aku menunggu jawabnya. "D'accord…à tout à l'heure!"


tulisan edisi 60

puisi Lagu Nostalgia
T.S. Pinang

cerpen Polisi dan Sopir
Dodi Mawardi

cerpen Collect Call to God
Aulia Andri

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

ceritanet
©listonpsiregar2000



Café itu cukup ramai pengunjung, aku celingukan mencari sosok Her. Hm, tidak terlihat batang hidungnya. Mungkin dia bosan menunggu, aku memang terlambat 30 menit. Sudahlah. Aku menghampiri pintu. Ketika aku membuka pintu, wajah Her ada di hadapanku. Aku terkejut. "Eh, kau."
"Ya, aku pergi sebentar, dan kembali lagi. Sudah selesai mengajar?"
Aku mengangguk dan kami melangkah menjauhi café. Tak terasa meluncur cerita dari mulutku. Dan ia mendengarkan dengan sesekali menatapku. Aku jengah diperlakukan demikian.
"Alors, sekarang ceritamu…"
Ia mengangkat bahu,

"Tak ada yang istimewa. Hari ini aku harus ketemu pembimbingku, dan sialnya aku telat 5 menit! Begitulah…tadi aku pergi ke telepon umum, kupikir, seselesainya aku menelepon kau pasti sudah ada di café. Bagaimana ceritanya kau hidup di negeri ini?"

Kini aku yang mengangkat bahu. "Ntahlah…terdengar aneh mungkin, tetapi sudahlah mengapa kita harus membicarakan itu. Bagaimana kalau sekarang kita pulang saja. Aku agak lelah. Kau tinggal di mana?" Ia menyebut satu jalan yang kukenal baik. Aku tidak lagi berbasa-basi mengajak ia mampir, karena aku sudah terlampau penat. Ia nampaknya mengerti. Her, lelaki itu mengucapkan kata perpisahan dan kemudian menghilang ke dalam stasiun Metro.
***
Hiruk pikuk orang lalu lalang di pasar dekat rumahku selalu membuatku merasa hidup. Entah mengapa. Aku membeli keperluanku. Kubeli juga buah Cherry yang menggiurkan. Entah mengapa ketika aku menunggu penjual Cherry itu aku merasa seperti ada orang yang memperhatikanku. Aku menoleh dan kulihat wajah Her, aku tersenyum. "Belanja, Her? Jauh juga kau ke sini."

Ia tersenyum, "Aku melihat kau menikmati sekali kehirukpikukan pasar ini. Mari kubantu kubawakan belanjaanmu," ia mengulurkan tangannya. Aku menggeleng. "Ah Her, ini tak seberapa. Biasa saja, belanja biasa. Kau sudah trés occupé kan. Tanganmu sudah penuh dengan belanjaanmu." Ia tetap mengambil belanjaanku. Aku berseloroh agar tak tertukar nantinya. Sepanjang perjalanan, kami bertukar cerita sampai di depan pintu apartemen.

"Mampir?" tanyaku berbasa-basi.
"Hm, kalau boleh?"
"Pourquoi pas? Ayo… tempatku di lantai tiga, kau tau kan sebesar apa tempatnya. Bertahan dengan pegalnya kaki menaiki tangga, ya?" selorohku.
"Her, mau teh? Aku punya Earl Grey."
"Hm, tehmu ya?"
"Eh, kok tau?"
"Kuperhatikan kau beli teh itu, di tas plastik belanjaanmu itu. Dan kuingat, pertama kali jumpa di café, kau juga minum itu.Kau tahu cerita di balik tehmu itu?"

Aku menggeleng, sambil membuka kunci pintu dan kemudian membuka pintu dan menaruh belanjaan di meja. "Duduk dulu, Her… maaf ya, ruangnya kecil."

Aku segera menaruh belanjaanku dan membuka bungkus Earl Grey tea kesukaanku. Dalam sekejap aku sudah kembali ke "ruang duduk"ku dengan 2 cangkir di tangan. "Silahkan. Nah, apa yang kau tau tentang tehku ini?" Ia tersenyum. "Hehehe…tidak banyak. Tehmu ini, teh hitam diproses dengan campuran bergamot. Hmmm, makanya wanginya ada seperti jeruk sitrun." Aku mengangguk-angguk, "aku hanya tahu ini the enak…aku suka wanginya. Teh ini membawaku ke awang-awang, ke imajinasiku tertinggi… ". Ia tertawa, kami ngobrol ngalor-ngidul.

"Hmm, aku harus pergi, Fay. Sorry tidak bisa lama. Terima kasih tehnya. O, kalau boleh, dan kau ada waktu…aku ingin mengajakmu nonton selepas pukul empat nanti. Bagaimana?" Aku tersenyum, "mungkin tidak hari ini, Her…aku masih banyak tugas yang harus kukerjakan. Besok aku harus menghadap dosen pembimbingku juga. Lain kali, ya?" Ia mengangguk dan bergegas.
***
Pertemananku dengan Her semakin akrab. Kami bicara banyak hal, tetapi tidak untuk urusan pribadi. Aku bersyukur, Her tidak begitu banyak mengusik sisi pribadiku, demikian sebaliknya.

Kenyamanan itu terasa sangat menentramkan dalam perasaanku. Suatu hari, entah apa gerangan yang membuatnya, Her tiba-tiba muncul di muka pintu apartemen dengan wajah yang sangat ceria. Aku menyambutnya dengan suka cita.

"Fay, aku ingin tanya sesuatu, mungkin saja kau bersikap lain setelah ini, aku tidak tahu, tetapi…aku ingin jawaban." Matanya menatap mataku dalam sekali, aku jadi gelisah.
"Hei, ada apa sih? Kau mau tanya apa?"
"Aku…aku ingin mengajakmu mendalami hubungan kita ini, aku merasa nyaman bersamamu, Fay. Aku tau, bisa saja kau menjawab tidak, bisa saja kau menjawab sebaliknya. Aku…aku hanya ingin kau tahu bahwa…bahwa aku ingin menjadi kekasihmu."

Aku terdiam. Berusaha mencerna apa yang kudengar. Aku memandangnya, kepalanya tertunduk dan akupun bingung harus menjawab apa. Aku menyukainya, suka akan keceriaannya. "Her, aku ingin sekali menjawab pertanyaanmu dengan segera…namun…"hatiku berkecamuk. Bibirku hampir mengatakan semua itu, namun suara yang kudengar…dan aku pun terkejut, "Boleh aku memikirkannya? Sekarang kita bisa cari makan dulu, yuk?"
***
Begitulah, tahun berganti tahun setelah peristiwa itu. Sampai kini, aku merasa berhutang padanya. Aku tidak mendapat kesempatan apapun untuk menjawab pertanyaannya. Keadaan yang mendesakku.

Dua hari setelah pertemuan kami terakhir, Her dipanggil pulang oleh Ibunya. Aku tidak sempat berucap apa-apa kecuali selamat jalan di telepon. Setelah itu, aku sama sekali kehilangan kontak dan aku merasa itulah jalannya hidup. Kini, sudah tiga tahun aku kembali ke tanah air. Aku masih memikirkannya.

Tehku sudah dingin, aku mengambil air panas, menuangkannya dalam cangkirku. Bel berdentang. Aku beranjak menuju pintu depan. Pak Pos. Surat-surat bank, tidak ada yang menarik. Satu di antaranya terjatuh dan aku memungutnya… Surat tanpa perangko, tanpa nama kecuali inisial HER. Segera kubuka.

23 Desember 2002
Dear Fay,
Kau pasti terkejut dengan suratku ini. Kau pasti terkejut mengapa aku bisa mendapatkan alamatmu. Dan kau pasti tidak akan menyangka cerita pertemanan kita berkelana tanpa arah seperti ini. Fay, coba kau keluar rumahmu saat ini. Kau akan melihat rumah di seberang rumahmu. Tanyakan apakah ada orang bernama "Her". Aku masih menunggu jawabmu.
HER

Aku mengingat-ingat nama tetangga di depanku. Apakah ini Her, Her yang kukenal dulu? Aku hanya ingat ada seorang Ibu tua dan kucingnya selalu duduk di beranda. Aku keluar rumah, berjalan menuju rumah itu. Mengetuk pintunya. Tak lama, seorang Ibu muncul dengan senyum ramah.

"Fay, silahkan." Aku tertegun, ia tau namaku. Seingatku aku belum menyebut nama. "Ibu tahu, kau pasti bingung mengapa Ibu tahu namamu. Kau tidak perlu bertanya lagi. Sebentar… " ia masuk ke dalam. Kemudian, muncul seorang lelaki berperawakan tidak terlampau tinggi dan agak gemuk berdiri di hadapanku. "Fay…" dengan senyum yang tak dapat kulupakan.
Aku hanya terpana.

"Ya, aku juga tidak menyadari bahwa tetangga depan rumahku adalah kau. Aku memang memperhatikan beberapa hari, menyakinkan diri apakah itu memang benar kau. Tak sengaja kemarin aku melihat kau di paserba, aku melihat isi keranjang belanjaanmu…aku ingat sekali…ada seorang gadis yang selalu membeli Earl Grey…dan wajahnya persis "Fay" yang kukenal… aku melihatmu seperti waktu kita bertemu di sebuah pasar di Paris. Ah, begitu lama, Fay… lalu…apa kabarmu sekarang?"

"Aku bekerja sebagai konsultan, masih ada hubungannya dengan Prancis. Aku…" Dan begitulah cerita mengalir dari mulutku… Semua seakan berputar lagi, berputar lagi bagai putaran film 35mm. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini!
***
Jakarta, 16 Juli 03