edisi 60
kamis 24 juli 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

puisi Lagu Nostalgia
T.S. Pinang

minta meja untuk dua orang, ya. ada yang harus kami bicarakan. penting. tentu saja bukan soal puisi. ini soal hidup dan mati. masa depan kami

kalau nanti kami berciuman di sini, tolong tak usah peduli. kami ini remaja. belum begitu percaya pada agama, atau bahkan sudah lupa. bawakan saja hidangan anda yang paling istimewa. juga lagu nostalgia tentang cinta

kalau nanti ada airmata mengalir di pipi kami, biarkan saja. itulah cara kami menulis prasasti, agar ada bahan untuk buku diary. tetapi jika anda punya sedikit saran yang bijak, boleh juga kami dengar, siapa tahu jalan kami ini kurang benar, atau terlalu kurangajar. kami ini remaja. masih perlu banyak belajar

minta meja untuk dua orang, ya. kami ingin mendengarkan Frank Sinatra. lagu kesukaan orang tua kami saat pacaran. siapa tahu lagu itu membawa berkah, bagi kami yang sedang dirundung gairah. ada yang ingin tumpah, tapi kami belum mau menyerah

kalau ada orang tua kami mencari, dan kami tak ada lagi di sini, katakan saja kami sudah mengerti. bagi kami Romeo-Juliet adalah kisah basi.
*2003

Berita Pernikahan
kepada EOM

ada tukak di lambung buku harianku. di sana mengalir Musi dan kota yang tenggelam dalam asap hutan yang dibakar. potretmu meloncat-loncat ingin melayangkan sebuah ciuman tetapi kau sudah tak punya perangko tersisa. di lidahku masih ada decap rasa kopi Pagaralam nomor satu, ungkapan cintamu padaku seperti aku masih menyimpan nomor teleponmu dalam daftar VIP juga puisi-puisi cinta atau foto-foto kita

aku tak pernah mengharapkan legenda perempuan gurun atau kesetiaan Otsu, di duniamu sungailah yang mengabarkan berita para perantau, tak ada angin berpasir di sana sedangkan aku adalah Sahara, atau anak gembala, atau sebutir pasirnya. kita telah begitu saling mengerti: kisah asap dan sisip kopi, juga puisi

engkau memang bukan perempuan gurun. telah engkau tetapkan batas penantianmu bersama daun yang jatuh, ada yang rontok di sini suatu tempat yang sama kita mengerti. aku hanya ingin menjadi si gembala domba yang mengejar mimpi. mimpimu telah berganti. aku mengerti

ada selembar uban yang jatuh, aku merayakannya bersama cicak dan pensil arang. biarlah kunikmati sepiring cerita sekarang dan kutimbun kenang sebagai kompos atau pupuk kandang, karena cintamu aku tak ragu. aku hanya rindu terik mentari: belajar bahasa ini bisa lama sekali dan aku senang engkau mengerti. aku ini Musashi, engkau bukan Fatima, bukan pula Otsu. engkaulah Musi. kucintai engkau karena tetap mengalirmu

dan aku akan tetap belajar bicara dalam bahasa angin, bahasa gurun, bahasa semesta.
*2003


tulisan edisi 60

cerpen Tea and Her
Farah Rachmat

cerpen Polisi dan Sopir
Dodi Mawardi

cerpen Collect Call to God
Aulia Andri

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


ceritanet

©listonpsiregar2000

 

-32' C
(sore datang dini)

sendi ruas jemari kaki gemeretuk kaku nyeri oleh jepitan gigil winter, frost meruncing di ujung rumputan. sore ini aku datang di gerbang dairy farm-mu disambut bau kencing sapi dan kompos jerami, hanya ada sepi dan kristal-kristal salju melayang sesekali, tak ada keramahan. kehangatan seperti apa mungkin hadir dalam musim dingin begini?

tetapi ada hangat uap nafas menyapa bibir tropisku yang membiru beku dan sedikit kilat lip-gloss menjelma jadi birahi. hidung siapa itu menyala di sebelah pipi? sedangkan aku mulai bosan menjadi musafir, negeri ini terlalu beku dan tak lagi menyisakan peduli, tapi basa-basi apa lagi yang kuperlukan dari pelukanmu yang terperam berhari-hari?

(ada yang retak di sini)

seperti gergaji es dan garam pasir, seperti pisau sepatu luncurmu menggores permukaan yang mengeras oleh musim yang lain di album mimpi, mari kita masuk ke ruang yang hangat di mana ada kayu api, secangkir cider panas dan sekerat roti: kita akan membakar banyak kalori sore ini

(setelah pagutan pertama, dan sedikit percakapan basa-basi)

biarlah kita tunda dulu makan malam, aku masih mengeringkan kaos kaki. "asal jangan kau keringkan hati," bisikmu sambil kaunyalakan televisi. aku membayangkan dirimu menari, dalam langkah empat ketukan yang rapi, tetapi ada yang meloncat-loncat di jilatan api

mataku. mungkin juga di tungku api, atau radio melaporkan ramalan cuaca: badai akan datang besok pagi

(maafkan sayang, di mana kamar mandi?)

"mari kita merayakan natal lebih awal," katamu, karena desember akan membawa bau tubuhku pergi dari ruangan ini. lalu kaukenakan topi merah santa dan jaket tebal serat biri-biri

ah, betapa kurindu matahari.
*vanderhoof 1995 - jogja 2003