puisi
Lagu
Nostalgia
T.S.
Pinang
minta meja untuk dua
orang, ya. ada yang harus kami bicarakan. penting. tentu saja bukan
soal puisi. ini soal hidup dan mati. masa depan kami
kalau nanti kami berciuman di sini,
tolong tak usah peduli. kami ini remaja. belum begitu percaya pada agama,
atau bahkan sudah lupa. bawakan saja hidangan anda yang paling istimewa.
juga lagu nostalgia tentang cinta
kalau nanti ada airmata mengalir
di pipi kami, biarkan saja. itulah cara kami menulis prasasti, agar
ada bahan untuk buku diary. tetapi jika anda punya sedikit saran yang
bijak, boleh juga kami dengar, siapa tahu jalan kami ini kurang benar,
atau terlalu kurangajar. kami ini remaja. masih perlu banyak belajar
minta meja untuk dua orang, ya.
kami ingin mendengarkan Frank Sinatra. lagu kesukaan orang tua kami
saat pacaran. siapa tahu lagu itu membawa berkah, bagi kami yang sedang
dirundung gairah. ada yang ingin tumpah, tapi kami belum mau menyerah
kalau ada orang tua kami mencari,
dan kami tak ada lagi di sini, katakan saja kami sudah mengerti. bagi
kami Romeo-Juliet adalah kisah basi.
*2003
Berita
Pernikahan
kepada EOM
ada tukak di lambung
buku harianku. di sana mengalir Musi dan kota yang tenggelam dalam asap
hutan yang dibakar. potretmu meloncat-loncat ingin melayangkan sebuah
ciuman tetapi kau sudah tak punya perangko tersisa. di lidahku masih
ada decap rasa kopi Pagaralam nomor satu, ungkapan cintamu padaku seperti
aku masih menyimpan nomor teleponmu dalam daftar VIP juga puisi-puisi
cinta atau foto-foto kita
aku tak pernah mengharapkan
legenda perempuan gurun atau kesetiaan Otsu, di duniamu sungailah yang
mengabarkan berita para perantau, tak ada angin berpasir di sana sedangkan
aku adalah Sahara, atau anak gembala, atau sebutir pasirnya. kita telah
begitu saling mengerti: kisah asap dan sisip kopi, juga puisi
engkau memang bukan
perempuan gurun. telah engkau tetapkan batas penantianmu bersama daun
yang jatuh, ada yang rontok di sini suatu tempat yang sama kita mengerti.
aku hanya ingin menjadi si gembala domba yang mengejar mimpi. mimpimu
telah berganti. aku mengerti
ada selembar uban
yang jatuh, aku merayakannya bersama cicak dan pensil arang. biarlah
kunikmati sepiring cerita sekarang dan kutimbun kenang sebagai kompos
atau pupuk kandang, karena cintamu aku tak ragu. aku hanya rindu terik
mentari: belajar bahasa ini bisa lama sekali dan aku senang engkau mengerti.
aku ini Musashi, engkau bukan Fatima, bukan pula Otsu. engkaulah Musi.
kucintai engkau karena tetap mengalirmu
dan aku akan tetap
belajar bicara dalam bahasa angin, bahasa gurun, bahasa semesta.
*2003