cerpen
Collect
Call to God
Aulia
Andri
Kepada siapakah aku
harus menceritakan ini? Cerita yang diceritakan seorang teman kepadaku
ketika dia ingin berjumpa Tuhan. Katanya, dia ingin menceritakan kesedihan
hatinya. Maka itu, ketika dia bercerita ketika kami lama tak bertemu,
kudengarkan ceritanya dengan seksama.
Ceritanya bermula
tentang cerita cinta. Cerita yang sangat klasik bagiku. Cerita tentang
seorang pria yang jatuh cinta pada kepada seorang wanita. Cerita yang
sudah ribuan kali aku dengar. Tapi, aku memang harus terpaksa mendengar
ceritanya. Karena aku memang senang mendengarkan cerita orang. Cerita-cerita
itu aku rekam dalam relung-relung otakku. Untuk kemudian, kalau sudah
penuh, aku ceritakan lagi cerita itu pada orang-orang.
Jadi begini ceritanya.
Kami semula hanya
berteman. Biasa saja. Aku mengenal dia dalam sebuah pencarian jiwa.
Aku lupa dimana kami pertama kali bertemu. Mungkin pada suatu malam
ketika aku bermimpi. Atau mungkin kami telah berkenalan ketika aku belum
terlahir ke dunia ini.
Mungkin saja kami
pernah berjumpa di alam lain. Tapi ya seperti itulah, kami seperti sudah
mengenal saling lama. Tiba-tiba saja kami sudah saling mengetahui sapaan
masing-masing. Aku memanggilnya 'diajeng.'
Begitu saja.
"Jadi aku ingin
bertanya pada Tuhan, apakah aku memang sudah mengenalnya sebelum kehidupan
ini ada?"
Ah, aku tak tahu
harus menceritakan apa padanya tentang Tuhan. Aku pun tak tahu begitu
banyak tentang Tuhan. Hubunganku dengan Tuhan tidak begitu akrab. Maka
ketika dia menceritakan keinginannya bertemu Tuhan, aku hanya menyarankannya
untuk menghubungi Tuhan secara langsung.
"Bagaimana caranya?
Dimana Tuhan harus aku temui? Apa Tuhan masih punya waktu untukku? Aku
khawatir nanti Tuhan sedang sibuk. Aku malah mengganggunya," balasnya.
Aku pun jadi bingung.
Dimana harus menjumpai Tuhan. Katanya, Tuhan ada di atas langit sana.
Bersemayam di langit ke tujuh. Ditemani para malaikat yang setia mendengarkan
titahnya. Tapi, bagaimana caranya menjumpai Tuhan?
"Aku tidak tahu,
kawan. Tapi Tuhan mungkin sedang tidak sibuk jika akhir pekan,"
kataku.
"Bisakah kau mencari tahu dimana aku bisa menemui Tuhan?"
dia memelas meminta pertolongan.
"Nanti aku carikan informasinya,"
balasku singkat.
Sebenarnya entah
mengapa aku agak sungkan mengabulkan permintaanya. Mencari informasi
tentang Tuhan! Dimana gerangan Tuhan bisa aku cari? Lagi-lagi aku kebingungan.
Tuhan, tentu ada dimana-mana. Tapi bagaimana caranya untuk menemukan
Tuhan yang sesungguhnya?
Lalu pengembaraanku
mencari Tuhan dimulai. Aku mengawali dengan mencari Tuhan di internet.
Kutulis nama Tuhan di semua search engine. Akhirnya kutemukan setumpuk
informasi tentang Tuhan. Ternyata tidak sulit mencari Tuhan. Rupanya,
Tuhan benar-benar ngetop. Ia ada dimana-mana.
Aku meneliti semua
informasi tentang Tuhan. Tapi belum ada informasi yang benar-benar membuatku
puas. Namun dari semua informasi yang aku kumpulkan menyebutkan Tuhan
itu maha mendengar. Dimana pun hambanya mengucapkan permintaan atau
pertanyaan, Tuhan pasti mendengar.
Lalu ketika aku dan
temanku itu saling bertukar cerita lagi, kusarankan padanya untuk menelepon
Tuhan.
"Bagaimana kalau
kau menceritakan ceritamu kepada Tuhan dengan bertelepon," kataku
mencoba memberi solusi.
"Apakah Tuhan punya telepon?"
"Ngawur. Tuhan tahu semua percakapan di dunia ini. Baik melalui
telepon seluler biasa ataupun telepon satelit. Bahkan apa yang terbersit
di hatimu dan apa yang tersirat pada keinginanmu," kataku dengan
sewot.
"Baiklah, nanti aku akan menceritakan ceritaku pada Tuhan. Tapi
sekarang aku mau bertemu diajeng dulu. Aku sudah merindukannya,"
ujarnya.
***
Kepada siapakah aku
harus menceritakan ini? Cerita yang diceritakan seorang teman kepadaku
ketika dia ingin berjumpa Tuhan. Ketika dia ingin menceritakan ceritanya.
Ceritanya memang bermula tentang cerita cinta. Cerita tentang seorang
pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita dan ingin menceritakannya
pada Tuhan.Aku memang terpaksa terlibat ceritanya. Karena aku memang
senang mendengarkan cerita orang. Cerita-cerita itu aku rekam dalam
relung-relung otakku. Untuk kemudian, kalau aku punya kemampuan, aku
ceritakan lagi cerita itu pada orang-orang. Cerita tentang seorang pria
yang ingin bercerita pada Tuhan.
Jadi begini ceritanya:
Kudapati sebuah cerita
yang menceritakan bahwa manusia itu memang berpasang-pasangan. Itu cerita
dari Tuhan. Katanya, cerita dari Tuhan tidak akan pernah bohong. Maka
itu aku meyakininya. Tuhan memang menciptakan manusia berpasang-pasangan,
seperti Adam dan Hawa, seperti Ibrahim dan Siti Hajar, aku berniat menceritakan
hal ini pada dia. Bahwa, takdir berpasangannya memang sudah digariskan.
Begitu juga tentunya semua manusia.
Maka setelah dia bercerita
tentang semua cerita hidupnya padaku, dia tak pernah kembali lagi. Cerita
yang pernah kudengar dari mulut ke mulut menceritakan bahwa dia telah
hidup bahagia. Cerita itu tentu membuat aku bercerita pada orang lain
tentang ceritanya.
***
Kepada siapakah aku harus menceritakan
ini? Ketika dia tiba-tiba kembali lagi datang untuk menceritakan cerita
hidupnya. Bahwa dia ingin bercerita dengan Tuhan. Maka itu, kami saling
bercerita tentang Tuhan.
Ceritanya memang bermula tentang
cerita cinta. Cerita tentang seorang pria yang kini tertekuk dimeranai
oleh cinta kepada seorang wanita. Aku memang terpaksa terlibat ceritanya.
Karena aku memang senang mendengarkan cerita orang. Cerita-cerita itu
aku rekam dalam relung-relung otakku. Untuk kemudian, kalau aku punya
kemampuan, aku ceritakan lagi cerita itu pada orang-orang. Cerita tentang
seorang pria yang ingin bercerita pada Tuhan
Begini ceritanya:
"Diajeng pergi tak tahu rimbanya.
Sudah kucari dia dibalik mega-mega. Kukejar dia bersama angin malam
yang semilir di gubuk kami di tepi pantai. Tapi tak kutemukan diajeng
berada. Kabarnya, diajeng dibawa sang waktu pergi menghadap Tuhan. Aku
merana hidup tanpanya. Maka itu aku ingin bertanya pada Tuhan, bagaimana
kabar diajeng?"
Kini dia menjadi nestapa dalam kesendiriannya.
Tak ada lagi cerita yang dapat diceritakannya. Ceritanya, sudah dicarinya
Tuhana dimana-mana, tapi tak ditemukannya juga. Dia bercerita bahwa
kini dia bukanlah siapapun. Cerita yang kudengar dia telah kehilangan
segalanya.
"Apakah aku masih bisa bertemu
Tuhan?
"Tentu saja. Aku kan sudah menyarankan agar kau bertelepon saja
dengan Tuhan," jawabku.
"Aku tidak punya uang
untuk menelepon Tuhan. Pulsa telepon sekarang kan mahal. Pasti dikenakan
biaya SLJJ untuk menelepon Tuhan. Sedangkan aku kini bukanlah apa-apa.
Aku sudah kehilangan semuanya," lelaki itu mengiba dengan perasaan
putus asa yang sangat dalam.
"Apakah Tuhan bisa menerima
telepon collect call?" dia bertanya lagi.
Aku diam saja. Mencoba membayangkan
sedang apa Tuhan saat ini.
***
"Ya, halo tolong
disambungkan ke nomer 09090999909099"
"Busyet, ini nomer apa?" kata operator telepon.
"Ini nomer telepon Tuhan, tahu!"
"Dasar gendeng. Emangnya Tuhan bisa ditelepon."
"Sudah, jangan belagu. Sambungkan saja. Collect call ya. Biar Tuhan
nanti yang membayar."
"Oke," kata operator telepon lagi (sambil tersenyum geli).
Tuuuuttttt.......
Operator telepon
itu terkejut ketika mendapati nada tersambung.
"Halo, ada seseorang yang mau berbicara dengan Tuhan. Dia juga
minta collect call, apakah bisa
diterima?" kata operator itu --dengan perasaan yang sedikit kebingungan).
"Wah, maaf, Tuhan lagi sibuk. Tapi dia bisa collect call lagi tengah
malam nanti. Katakan padanya untuk menelepon lagi kira-kira sepertiga
malam. Sorry!"
***
Kepada siapakah aku
harus menceritakan ini? Cerita tentang seorang temanku yang ingin menceritakan
cerita tentang dirinya kepada Tuhan. Maka itu, ketika dia bercerita
di sebuah taman denganku, kudengarkan ceritanya dengan seksama.
***
untuk: muslihun dan almarhumah diajeng
Kalibata, 23 Juni 2003