edisi 60
kamis 24 juli 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

cerpen Collect Call to God
Aulia Andri

Kepada siapakah aku harus menceritakan ini? Cerita yang diceritakan seorang teman kepadaku ketika dia ingin berjumpa Tuhan. Katanya, dia ingin menceritakan kesedihan hatinya. Maka itu, ketika dia bercerita ketika kami lama tak bertemu, kudengarkan ceritanya dengan seksama.

Ceritanya bermula tentang cerita cinta. Cerita yang sangat klasik bagiku. Cerita tentang seorang pria yang jatuh cinta pada kepada seorang wanita. Cerita yang sudah ribuan kali aku dengar. Tapi, aku memang harus terpaksa mendengar ceritanya. Karena aku memang senang mendengarkan cerita orang. Cerita-cerita itu aku rekam dalam relung-relung otakku. Untuk kemudian, kalau sudah penuh, aku ceritakan lagi cerita itu pada orang-orang.

Jadi begini ceritanya.

Kami semula hanya berteman. Biasa saja. Aku mengenal dia dalam sebuah pencarian jiwa. Aku lupa dimana kami pertama kali bertemu. Mungkin pada suatu malam ketika aku bermimpi. Atau mungkin kami telah berkenalan ketika aku belum terlahir ke dunia ini.

Mungkin saja kami pernah berjumpa di alam lain. Tapi ya seperti itulah, kami seperti sudah mengenal saling lama. Tiba-tiba saja kami sudah saling mengetahui sapaan masing-masing. Aku memanggilnya 'diajeng.'

Begitu saja.

"Jadi aku ingin bertanya pada Tuhan, apakah aku memang sudah mengenalnya sebelum kehidupan ini ada?"

Ah, aku tak tahu harus menceritakan apa padanya tentang Tuhan. Aku pun tak tahu begitu banyak tentang Tuhan. Hubunganku dengan Tuhan tidak begitu akrab. Maka ketika dia menceritakan keinginannya bertemu Tuhan, aku hanya menyarankannya untuk menghubungi Tuhan secara langsung.

"Bagaimana caranya? Dimana Tuhan harus aku temui? Apa Tuhan masih punya waktu untukku? Aku khawatir nanti Tuhan sedang sibuk. Aku malah mengganggunya," balasnya.

Aku pun jadi bingung. Dimana harus menjumpai Tuhan. Katanya, Tuhan ada di atas langit sana. Bersemayam di langit ke tujuh. Ditemani para malaikat yang setia mendengarkan titahnya. Tapi, bagaimana caranya menjumpai Tuhan?

"Aku tidak tahu, kawan. Tapi Tuhan mungkin sedang tidak sibuk jika akhir pekan," kataku.
"Bisakah kau mencari tahu dimana aku bisa menemui Tuhan?" dia memelas meminta pertolongan.
"Nanti aku carikan informasinya," balasku singkat.

Sebenarnya entah mengapa aku agak sungkan mengabulkan permintaanya. Mencari informasi tentang Tuhan! Dimana gerangan Tuhan bisa aku cari? Lagi-lagi aku kebingungan. Tuhan, tentu ada dimana-mana. Tapi bagaimana caranya untuk menemukan Tuhan yang sesungguhnya?

Lalu pengembaraanku mencari Tuhan dimulai. Aku mengawali dengan mencari Tuhan di internet. Kutulis nama Tuhan di semua search engine. Akhirnya kutemukan setumpuk informasi tentang Tuhan. Ternyata tidak sulit mencari Tuhan. Rupanya, Tuhan benar-benar ngetop. Ia ada dimana-mana.

Aku meneliti semua informasi tentang Tuhan. Tapi belum ada informasi yang benar-benar membuatku puas. Namun dari semua informasi yang aku kumpulkan menyebutkan Tuhan itu maha mendengar. Dimana pun hambanya mengucapkan permintaan atau pertanyaan, Tuhan pasti mendengar.

Lalu ketika aku dan temanku itu saling bertukar cerita lagi, kusarankan padanya untuk menelepon Tuhan.

"Bagaimana kalau kau menceritakan ceritamu kepada Tuhan dengan bertelepon," kataku mencoba memberi solusi.
"Apakah Tuhan punya telepon?"
"Ngawur. Tuhan tahu semua percakapan di dunia ini. Baik melalui telepon seluler biasa ataupun telepon satelit. Bahkan apa yang terbersit di hatimu dan apa yang tersirat pada keinginanmu," kataku dengan sewot.
"Baiklah, nanti aku akan menceritakan ceritaku pada Tuhan. Tapi sekarang aku mau bertemu diajeng dulu. Aku sudah merindukannya," ujarnya.
***

Kepada siapakah aku harus menceritakan ini? Cerita yang diceritakan seorang teman kepadaku ketika dia ingin berjumpa Tuhan. Ketika dia ingin menceritakan ceritanya. Ceritanya memang bermula tentang cerita cinta. Cerita tentang seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita dan ingin menceritakannya pada Tuhan.Aku memang terpaksa terlibat ceritanya. Karena aku memang senang mendengarkan cerita orang. Cerita-cerita itu aku rekam dalam relung-relung otakku. Untuk kemudian, kalau aku punya kemampuan, aku ceritakan lagi cerita itu pada orang-orang. Cerita tentang seorang pria yang ingin bercerita pada Tuhan.

Jadi begini ceritanya:

Kudapati sebuah cerita yang menceritakan bahwa manusia itu memang berpasang-pasangan. Itu cerita dari Tuhan. Katanya, cerita dari Tuhan tidak akan pernah bohong. Maka itu aku meyakininya. Tuhan memang menciptakan manusia berpasang-pasangan, seperti Adam dan Hawa, seperti Ibrahim dan Siti Hajar, aku berniat menceritakan hal ini pada dia. Bahwa, takdir berpasangannya memang sudah digariskan. Begitu juga tentunya semua manusia.

Maka setelah dia bercerita tentang semua cerita hidupnya padaku, dia tak pernah kembali lagi. Cerita yang pernah kudengar dari mulut ke mulut menceritakan bahwa dia telah hidup bahagia. Cerita itu tentu membuat aku bercerita pada orang lain tentang ceritanya.
***

Kepada siapakah aku harus menceritakan ini? Ketika dia tiba-tiba kembali lagi datang untuk menceritakan cerita hidupnya. Bahwa dia ingin bercerita dengan Tuhan. Maka itu, kami saling bercerita tentang Tuhan.

Ceritanya memang bermula tentang cerita cinta. Cerita tentang seorang pria yang kini tertekuk dimeranai oleh cinta kepada seorang wanita. Aku memang terpaksa terlibat ceritanya. Karena aku memang senang mendengarkan cerita orang. Cerita-cerita itu aku rekam dalam relung-relung otakku. Untuk kemudian, kalau aku punya kemampuan, aku ceritakan lagi cerita itu pada orang-orang. Cerita tentang seorang pria yang ingin bercerita pada Tuhan

Begini ceritanya:

"Diajeng pergi tak tahu rimbanya. Sudah kucari dia dibalik mega-mega. Kukejar dia bersama angin malam yang semilir di gubuk kami di tepi pantai. Tapi tak kutemukan diajeng berada. Kabarnya, diajeng dibawa sang waktu pergi menghadap Tuhan. Aku merana hidup tanpanya. Maka itu aku ingin bertanya pada Tuhan, bagaimana kabar diajeng?"

Kini dia menjadi nestapa dalam kesendiriannya. Tak ada lagi cerita yang dapat diceritakannya. Ceritanya, sudah dicarinya Tuhana dimana-mana, tapi tak ditemukannya juga. Dia bercerita bahwa kini dia bukanlah siapapun. Cerita yang kudengar dia telah kehilangan segalanya.

"Apakah aku masih bisa bertemu Tuhan?
"Tentu saja. Aku kan sudah menyarankan agar kau bertelepon saja dengan Tuhan," jawabku.
"Aku tidak punya uang untuk menelepon Tuhan. Pulsa telepon sekarang kan mahal. Pasti dikenakan biaya SLJJ untuk menelepon Tuhan. Sedangkan aku kini bukanlah apa-apa. Aku sudah kehilangan semuanya," lelaki itu mengiba dengan perasaan putus asa yang sangat dalam.
"Apakah Tuhan bisa menerima telepon collect call?" dia bertanya lagi.

Aku diam saja. Mencoba membayangkan sedang apa Tuhan saat ini.
***

"Ya, halo tolong disambungkan ke nomer 09090999909099"
"Busyet, ini nomer apa?" kata operator telepon.
"Ini nomer telepon Tuhan, tahu!"
"Dasar gendeng. Emangnya Tuhan bisa ditelepon."
"Sudah, jangan belagu. Sambungkan saja. Collect call ya. Biar Tuhan nanti yang membayar."
"Oke," kata operator telepon lagi (sambil tersenyum geli).

Tuuuuttttt.......

Operator telepon itu terkejut ketika mendapati nada tersambung.
"Halo, ada seseorang yang mau berbicara dengan Tuhan. Dia juga minta collect call, apakah bisa
diterima?" kata operator itu --dengan perasaan yang sedikit kebingungan).
"Wah, maaf, Tuhan lagi sibuk. Tapi dia bisa collect call lagi tengah malam nanti. Katakan padanya untuk menelepon lagi kira-kira sepertiga malam. Sorry!"
***

Kepada siapakah aku harus menceritakan ini? Cerita tentang seorang temanku yang ingin menceritakan cerita tentang dirinya kepada Tuhan. Maka itu, ketika dia bercerita di sebuah taman denganku, kudengarkan ceritanya dengan seksama.
***
untuk: muslihun dan almarhumah diajeng
Kalibata, 23 Juni 2003


tulisan edisi 60

puisi Lagu Nostalgia
T.S. Pinang

cerpen Tea and Her
Farah Rachmat

cerpen Polisi dan Sopir
Dodi Mawardi

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

ceritanet
©listonpsiregar2000