sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 5, Senin 12 Februari 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

 

novel Dokter Zhivago 5
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Kini setelah kereta api tertahan satu abad lamanya, maka justru karena bukan orang lain selain Grigory Oispovich yang menarik rem darurat itulah membuat kesan seolah penghentian kereta-api serta keributan itu adalah karena kehendak keluarga Gordon.

Tak ada yang mengetahui, mengapa harus menunggu selama itu. Konon penghentian yang tiba-tiba itu telah merusakkan rem angin, kabar lain mengatakan bahwa kereta api berhendi di lereng curam dan bahwa lokomotif tidak dapat bergerak, kalau tidak menambah kecepatannya. Pendapat ketiga menyatakan bahwa yang bunuh diri itu orang terkemuka, hingga pengacaranya yang menemani dia di kereta api telah mendesak supaya didatangkan beberapa pegawai dari stasiun terdekat, yakni Kologrivovka agar dapat disusun keterangan yang resmi. Itu sebabnya pembantu masinis telah naik ke tiang telegraf; lori yang membawa regu pemeriksa kini dalam perjalanan.

Dari kakus-kakus datanglah bau busuk yang lemah, tak dapat dihilangkan seluruhnya oleh minyak wangi, dan dari tempat agak ketinggian tercium bau ayam goreng, dibungkus dalam kertas kotor yang tercoreng oleh minyak. Wanita-wanita dari Petersburg yang pendek nafas dengan suara ...... dan rambut yang mulai memutih, menjelma jadi zanggi, disebabkan alat-alat kecantikan bercampur jelaga; mereka membedaki muka dan mengusapkan jari ke sapu tangan, seolah tak terjadi apa-apa. Gang yang sempit memberi mereka kesempatan untuk menarik-narik pundak dengan lagak genit, dan ketika mereka lewat kupe tempat Gordon duduk, Misha mendapat kesan bahwa dengan bibir tertekan mereka mendesiskan : "Aduh! Itulah komplotan halus! Mereka merasa mahluk istimewa! Terpelajar! Semua ini terlalu berat bagi mereka!"

Jenasah orang yang bunuh diri itu terbaring di rumput di sisi tanggul. Darah menggoresi keningnya dengan corengan warna tua, seakan-akan mencoret hapus wajahnya. Darah kering itu tidak seperti darahnyha sendiri, tapi seperti berasal dari luar dirinya; plester yang direkatkan, atau sececah lumpur atau daun basah.

Orang bergilir-gilir menjenguk dengan rasa iba, berkelompok mengerumuni dia, sedangkan temannya seperjalanan, seorang pengacara gemuk dan angkuh yang nampak seperti hewan yang terpiara baik dalam kemejanya penuh keringat, berdiri di sampingnya bersungut-sungut dengan air muka tak bergerak. Ia tersiksa oleh hawa panas dan mengipas-ngipaskan topinya. Untuk menjawab segala pertanyaan ia mengangkat bahu dan berkata dengan geram: "Ia peminum. Apa boleh buat. Inilah hasil yang typis dari sakit ayan."

Sekali dua kali seorang perempuan tua kurus yang memakai baju wol dan saputangan renda menengok mayat itu. Dialah Tiverzina, seorang janda ; dua dari anak lelakinya menjadi masinis, maka diapun naik kelas tiga bersama dua menantunya dengan karcis cuma-cuma.

Bagaikan rubiah-rubiah dengan kepala biara, dua perempuan pendiam itu ikut sang mertua dengan berkerudung kain leher. Khalayak menyingkir untuk mereka.

Suami Tiverzina mati terbakar dalam kecelakaan kereta api. Ia berdiri agak surut dari mayat itu, tapi masih dapat melihatnya dari celah-celah kelompok orang; ia mengeluh, seakan membuat perbandingan antara dua kecelakaan itu: "Masing-masing punya takdirnya sendiri,'' demikian ia seolah berkata. "Yang satu tewas menurut iradah Tuhan, tapi demi sukmaku, yang ini meninggal karena kemewahan dan kekalutan pikiran!"

Segenap penumpang turun untuk menengok mayat dan hanya kembali ke tempat duduk karena kuatir barang-barang mereka akan dicuri orang.

Ketika mereka melompat ke jalan kereta api, lalu memetik bunga atau jalan sebentar guna melemaskan kaki, mereka merasa seolah seluruh tempat itu baru tercipta oleh berhentinya kereta, seolah rawa sepi atau sungai lebar atau rumah bagus serta gereja di tanggul curam depan mereka itu tak akan ada bila tak terjadi kecelakaan.

Bahkan matahari yang memanvacarkan cahaya senjanya pada tempat pembunuhan diri itu malu-malu seperti seekor lembu yang meninggalkan gerombolannya dekat dari situ untuk melihat orang banyak, diapun seperti alat panggung pertunjukan, gejala setempat belaka.

Misha sangat terharu oleh peristiwa ini dan mula-mula ia menangis karena terkejut dan iba. Sepanjang perjalanan yang lama itu, orang yang sekarang tewas ini berkali-kali datang ke kupe mereka untuk ngobrol berjam-jam dengan ayah Misha. Ia mengatakan bahwa ia merasa lega, berkat kesopanan budi, kedamaian serta pengertian yang ditemukan padanya, maka bertanyalah ia tak henti-henti tentang segala seluk beluk hukum mengenai cek, peraturan pembayaran, kebangkrutan, dan fraude; "Wah, tak kusangka!" serunya atas keterangan Gordon. "Lunak benar hukum itu! Mengapa pengacara saja berpemandangan muram sekali?"

Tiap kali orang yang urat sarafnya remuk redam ini menjadi tenang kembali, kawan seperjalanan itupun datang menjemputnya dari deresi kelas satu, lantas membawanya ke restorasi untuk minum sampanye. Kawan itu tak lain dari pengacara gemuk yang tercukur bersih, berpakaian bagus tapi kurang beradat itu yang kini berdiri di sisi mayat dengan pandangan seolah tak ada yang perlu diherankan. Sulitlah untuk melepaskan kesan bahwa kegelisahan langganannya yang terus-menerus tadi telah menguntungkan baginya, entah bagaimana.

Ayah Misha mengatakan padanya yang bunuh diri itu seorang jutawan, Zhivago, tukang plesir yang baik hati, tapi waktu itu setengah sinting. Tak acuh akan hadirnya Misha, iapun bercerita tentang mendiang istrinya serta anak lelakinya yang sebaya dengan Misha, kemudian tentang keluarganya yang kedua yang ditinggalkannya pula seperti yang pertama. Tiba ke soal itu ia lalu ingat sesuatu, menjadi pucat sebab takut dan mulai kmuat-kamit serta kehilangan jalan ceritanya.

Terhadap Misha ia menunjukkan kesayangannya yang sukar difahamkan dan agaknya mencerminkan perasaannya terhadap orang lain. Ia menghujani anak itu dengah hadiah-hadiah yang dibelinya setelah ia melompat di stasiun-stasiun besar; di situ orang jugm enjual alat-alal permainan serta barang-barang keanehan setempat dalam kios-kios buku di kamar tunggu kelas satu.

Ia minum tak henti-henti dan mengeluh bahwa ia tak tidur tiga bulan dan tiap kali ia sadarkan diri, sungguhpun untuk waktu singkat saja, iapun menderita siksaan yang tak dapat dibayangkan oleh manusia normal.

Akhirnya ia masuk bergegas dalam kompartemen mereka, menggapai tangan Gordon hendak mengatakan sesuatu, tapi tak sanggup bicara, lantas lari ke bordes dan melontarkan diri dari kereta api.

Kini Misha mengamat-amati peti kayu kecil berisi batu-batu galian dari Ural, hadiah terakhir dari yang wafat itu. Sekonyong-konyong orang banyak itu bergerak. Sebuah lori berderak-derak di atas rel di sebelah. Seorang dokter, dua agen polisi, dan seorang amtenar dengan kokar di topinya meloncat ke luar. Berbagai pertanyaan diucapkannya dengan suara resmi yang dingin dan catatanpun dibuat. Dengan terpeleset dan tergelincir, polisi dan para kondektur menyeret degan canggungnya mayat itu ke atas tanggul. Seorang petani perempuan mulai menangis. Para penumpang diminta kembali ke tempat duduk, kondektur meniup peluit dan kereta api berjalan lagi.
***

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet
 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000