|
edisi
5, Senin 12 Februari 2001
ceritanet
situs
nir-laba
untuk karya tulis
cerpen Membunuh
Tuhan
Imron Supriyadi
Siapa bilang Tuhan
tak bisa mati! Tuhan bisa saja mati.! Tuhan sering dibunuh
oleh semua. Bukan saja aku, tetapi, kau dan kita! Ya semua
telah melakukan pembunuhan Tuhan. Bukan seorang kiai. Bukan
seorang bhiksu dan pastor. Bukan pula seorang suster, sampai
seorang birokrat dan para kaum gembel, semua juga melakukan
pembunuhan Tuhan. Maka Tuhan pun bisa mati. Kalau dulu Nietcshe
mempermaklumkan kematian Tuhan. Kini, aku mengatakan, Tuhan
pun bisa mati.
Tuhan sering terbunuh
oleh kita. Bahkan kita sengaja membunuhNya. Kemarin, Warman
teman kerjaku menceritakan bagaimana Tuhan telah tergadai oleh
sepiring nasi. Lalu ditempat lain, Tuhan diperjual-belikan
sebanding dengan harga kangkung. Tuhan sudah bisa ditawar.
Tuhan dihargai murah. Tuhan diperdaya, dengan dalih mempertahankan
hidup.
Belum lagi puluhan
pedagang lainnya, turut melakukan hal yang sama. Mereka membuang,
dan menginjak Tuhan di hadapan para pembeli dengan terang-terangan.
Pada sebuah kedai malam, tempat berkerumunnya para perempuan
dan laki-laki, kembali Tuhan diperdaya. Tuhan dibutakan sama
sekali. Dan proses pembunuhan Tuhan pun kembali terjadi. Tuhan
benar-benar ditiadakan, sekalipun ketiadaan itu adalah Tuhan.
Tawa dan canda membawa mereka semakin mengubur Tuhan. Larangan
bukan lagi yang mesti ditakuti. Semua mereka jalani, tanpa
lagi melihat Tuhan. Dan di dalam kamar remang, Tuhan pun terselip
di balik kasur. Terlibas oleh dengus napas yang memburu hingga
pagi tiba.
Dalam
gedung pemerintah, tempat berkumpulnya orang-orang yang mengaku
mewakili rakyat. Ada seribu lagi cara orang-orang membunuh Tuhan.
Ketika sebuah pabrik dilaporkan melakukan pencemaran. Maka, ratusan
orang pun berduyun-duyun membawa nama Tuhan ke gedung itu. Katanya,
demi lestarinya bumi Tuhan. Maka berteriaklah orang-orang tadi.
Begitu juga orang-orang yang suka berkerumun di gedung pemerintah
itu. Mereka bicara lantang. Seakan Tuhan berada di samping kanan
kiri mereka. Lalu mengatas-namakan pelestarian lingkungan, demi
terjaganya sungai titipan Tuhan, mereka memperdebatkan, sampai
tak ada ujung pangkalnya. Esoknya, surat kabar bicara, limbah pabrik
dianggap selesai. Bumi Tuhan kembali dinyatakan bersih dari pencemaran.
Mulut-mulut
pun terbeli oleh segepok rupiah. Maka suara Tuhan pun tergadai
lagi. Kerusakan dianggap perbaikan. Perbaikan diangap mengganggu
stabilitas pabrik. Mereka lalu membuat Tuhan menjadi Tuli. Orang-orang
telah membutakan Tuhan dari ketidak-butaan. Maka, mereka juga telah
membuat Tuhan menjadi mati. Tuhan telah Mati dalam kedirian mereka.
Mati dalam detak jantungnya, sehingga Tuhan bisa seenaknya dipanggil
dan diusir kapan saja. Tuhan tak ubahnya seperti seorang pembantu.
Ia dipanggil ketika dibutuhkan. Lalu diusir ketika tidak lagi dibutuhkan.
Tuhan hanya sekedar barang pelengkap. Tak ada yang berarti apa-apa.
Ternyata Tuhan benar-benar mati. Mereka telah membunuhNya.
Pada
sebuah mihrab masjid, atau di gereja dan vihara. Bukan saja para
kiai, pastor, dan bhiksu, mereka juga sama melakukan pembunuhan
Tuhan. Kujumpai orang-orang yang mengaku moralis itu, berjibaku
dengan kediriannya manusia yang paling dekat dengan Tuhan. Kiai,
dengan ceramah dan petuah-petuahnya, menidurkan kaumnya menjadi
kaum yang suka menghitung pahala. Para kiai sudah mengajari umatnya,
mengukur ibadah dengan angka-angka. Ibadah ritual sudah bisa dihitung
dengan material. Demikian pula pastor, dan bhiksu. Melakukan pendekakan
diri kepada Tuhan, tanpa mempertanyakan dimana ia tinggal, dan
berapa jumlah orang lagi yang masih merasakan lapar dan haus. Bukan
kiai, pastor dan bhiksu, mereka semua membunuh Tuhan, sambil mereka
asyik melakukan onani spiritual. Seolah sorga telah menjadi milik
mereka.
Tetapi,
malam kemarin, Malaikat mengabariku. Katanya, "Pada saatnya nanti,
di hadapan Tuhan, banyak manusia yang terbalik. Ada ulama, kiai,
pastor dan bhiksu masuk neraka. Tetapi tidak sedikit para preman
dan maling masuk sorga."
Ketika
para kaum moralis itu bertanya, maka Tuhan pun menjawab, "Kalian
adalah manusia-manusia egois. Kalian merasa, bahwa hanya kalian
saja yang berhak atas sorga. Bukan! Bukan sama sekali. Sebab,
ketaatan bukan saja memuji dan memujaku sepanjang hari. Hei,
kalian semua, para kiai, bhiksu dan pastor, ternyata dalam
ketataan, kalian telah mengesampingkan semua keadaan yang namanya
lapar, kehausan keterbelakangan, dan ketertindasan. Kenapa
kalian hanya diam dengan keadaan seperti itu? Kenapa kalian
tidak perjuangkan juga, sebagaimana kalian berjuang untuk mendapatkan
sorga?"
Semua
begong. Dan tertunduk malu. Sebuah kekuatan asing tiba-tiba
menarik mereka dengan kasar. Hanya lengkingan saja yang terdengar.
Kemudian suara gemuruh meningkahinya. Lalu, kematian Tuhan
pun terjdi di berbagai kantor pemerintah, swasta dan kantor
agama sekalipun. Sekelompok orang berduyun-duyun melamar di
lembaga agama. Katanya, mereka berniat untuk lebih dekat dengan
Tuhan. Dengan berbagai cara, mereka lalu masuk.ke dalamnya,
setelah sebelumnya mereka juga harus menggadaikan Tuhan dalam
diri mereka dengan harga 15 sampai 20 juta rupiah. Di sebuah
kantor agama, tempat orang banyak bertanya tentang Tuhan. Tempat
berkumpulnya orang-orang yang mengaku dekat dengan Tuhan. Di
sana, masih juga ada pembunuhan Tuhan.
Tapi
sebenarnya zat Tuhan takkan pernah mati. Ia akan tetap hidup.
Soalnya, akankah Tuhan tetap hidup dalam kedirian kita? Bisakah
kita terus mempertahankan Tuhan tetap bersemayam dalam kerohanian
kita? Atau kita juga bagian dari orang-orang yang sering membunuh
Tuhan?
***
situs
nir-laba untuk karya
tulis ceritanet
kirim
karya tulis
©listonpsiregar2000
|