sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 5, Senin 12 Februari 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

memoar Tikus dan Kijang
Ahmad Taufik

Pukul tiga dini hari baru saja lewat, ketika Aku sampai di rumah kontrakkanku. Aku baru saja lolos dari sebuah pengalaman pahit di sebuah hotel bertaraf internasional dan sebuah kantor polisi. Tapi aku masih belum bisa merasa tenang. Aku pergi ke kamar mandi, lalu menggambil air wudhu. Kulanjutkan dengan shalat sunnat dua rakaat. Aku harus merasa bersyukur pada Tuhan, karena sempat lolos dari suasana yang tak mengenakkan. Baju koko yang sebelumnya aku pakai ku lepaskan. Tapi celana panjang yang aku kenakan sejak pagi tak aku lepaskan.

Tidak biasanya aku tidur memakai celana panjang. Biasanya cuma kain sarung atau piyama. Istriku masih berbaring di kamar, di atas tempat tidur. Di sisinya bayi berumur sekitar 8 hari, yang baru ia lahirkan dengan susah payah. Nama anak kami yang pertama itu aku ambil dari nama orang dan julukan orang-orang suci. Sedangkan nama keduanya aku cari dalam kamus, sebuah nama indah yang artinya mata air(ku).

Padahal nama akhirnya julukan Imam terakhir, sang mesiah yang ditunggu. Aqiqah dengan memotong seekor kambing jantan juga sudah aku laksanakan, bersamaan dengan sedekah berupa nasi kebuli yang dibuatkan oleh ibuku untuk para tetangga di rumah kontrakkan kami di Condet, di ujung Timur Jakarta. Rencana untuk membuat semacam upacara potong rambut di hari ke tujuh gagal, karena aku tidak menemukan seorang ustadz pun yang mau melakukannya. Aku juga belum menemukan orang-orang yang mau mencukur rambut bayi itu. Malah, ibuku mengancam tak mau hadir pada upacara itu bila aku memaksa untuk mencukur rambut cucunya.''Kasihan masih kecil, emak, sih, nggak tega melihat anak kecil seperti itu dicukur gundul, masih merah,"kata Ibuku. Banyak anggota keluargaku juga menyarankan agar aku menunda prosesi pencukuran itu. Aku yang semula bersikeras hati akhirnya luluh juga, itu pun lantaran aku tidak menemukan seorang ustadz atau seseorang yang dapat memimpin upacara tersebut secara keyakinan agamaku.

***

Dini hari itu aku masuk ke kamar lalu menelentangkan diri di bed, di samping kiri anakku. Anakku tidur lelap di tengah aku dan istriku. "Yang, tidak ganti dulu dengan kain sarung,"tegur istriku mesra. Kami memang sudah sepakat tidak memangggil adik atau abang, atau mama, papa. Selain tak sesuai ajaran agama dan adat kami yang tak boleh kawin dengan garis keturunan sedarah. Ia juga risih bila hanya memanggil namaku, walaupun aku sudah minta agar menyarankan memanggil nama saja.

Aku anya diam saja tak menjawab, dan menarik nafas panjang. Jari tangan istriku ku pegang erat-erat. Kantuk mulai menyerang. Tapi pikiran dan ingatan pada kejadian yang baru saja berlalu masih membayang. Tangan istriku ku lepaskan dengan menyentak, dan aku lalu membokonginya. "Kenapa sih, yang,"tanya istriku lembut. Aku diam saja. Tak berapa lama, aku mendengar suara-suara aneh, grasak- grusuk. Lalu ada seseorang yang berjalan ke arah rumahku. Ia memanggil nama yang aku tahu bukanlah namaku.

"Burhan...Burhan..,"teriaknya dari luar rumah. Aku mengintip dari balik tirai kamar. Ku lihat seorang lelaki yang menyopiri mobil sedan berwarna hitam yang membawa ku dari hotel ke kantor polisi. ''Ya, polisi itu," hatiku berkata. Belakangan aku tahu namanya Sang Mayor. Aku menenangkan istriku. "Kamu tenang saja, ya." Istriku diam saja. Ia masih tak tahu apa-apa. Aku segera bangkit dari tempat tidur, lalu mengambil kunci dan membukakan pintu.

"Masuk, tapi, ssssst, anakku lagi tidur jangan berisik,''kataku santai. Rasa takut ku sudah kubuang jauh-jauh. Begitu pintu terbuka bukan hanya Sang Mayor yang masuk, tapi ada enam orang lainnya yang bertampang seram dan beberapa diantaranya berbadan tambun. Mata mereka liar melahap seluruh isi rumah kontrakkan ku. Beberapa diantaranya, memeriksa rumah yang hanya seluas 12 meter x 5 meter itu. Melihat muka mereka aku jadi mau buang air besar. "Sebentar aku mau berak dulu perutku mulas,"kataku cuek pada Sang Mayor.

Seorang polisi bertubuh tambun yang lain malah mencegah. "Nggak usah, nggak usah berak, udah cepat ikut saja,"katanya kasar. Tapi aku tidak ambil perduli. Aku masuk ke kamar mandi dan langsung nongkrong di atas kakus. Pintu kamar mandi sempat dicegah polisi agar tidak ditutup. Dua orang menungguiku saat aku berak. Aku cuek saja, toh, perutku tak mau diajak kompromi. Aku nongkrong beberapa menit. Sial, sudah aku paksakan tai itu tak mau keluar juga. Walaupun tai tak keluar aku cebok juga. "Kok, cepat amat,"kata Sang Mayor. "Gara-gara lu, tai gua nggak keluar,''makiku pelan.

Aku masuk lagi ke dalam kamar ku. "Sebentar ya, aku mau pakai baju dulu,"kataku pada Sang Mayor. Aku hanya mau bicara pada dia, karena dia yang aku agak kenal dan tampak lebih simpatik dibandingkan yang lainnya. "Udah, nggak usah apa adanya saja,"kata polisi yang lain, berusaha mencegah. Aku cuek saja dan mengambil baju dari lemari. Pintu kamar ditahan polisi agar tetap terbuka. Sang Mayor berdiri di depan pintu kamar memperhatikan gerak-gerikku. Sambil aku mengenakan pakaian, aku masih sempat memberitahukan secara sekilas pada istriku. "Aku pergi sebentar ya, aku tadi sudah berada di kantor polisi, lalu aku pulang dulu. Kamu tenang saja, deh, tenang, ya!''kataku. Istriku diam saja, tertegun tampaknya.

Lalu polisi bertubuh tambun itu mengambil secarik kertas berwarna merah. "Kami dari polisi,''kata polisi itu pada istriku sekilas. Digiring oleh enam orang polisi, aku keluar dari rumah menembus kegelapan dini hari di sebuah perkampungan di kawasan Condet. Dari kejauhan kulihat bapak ketua RT masuk ke sebuah gang kecil menuju rumahnya. Rupanya tugasnya sebagai kepala kampung sudah dipenuhi, memberitahu kepada polisi rumah salah seorang warganya untuk ditangkap. Aku dan para polisi berjalan kaki sejauh 300 meter menyusuri jalan kampung.

***

Kampung kami itu selalu di tutup portal mulai tengah malam, hingga subuh. Jadinya, mobil toyota kijang polisi hanya bisa parkir di ujung gang, tepatnya di Jalan Raya Condet. Lalu aku dipaksa masuk ke mobil kijang. Sebuah mobil Suzuki Carry tampak membayangi mobil yang membawaku. Tampak wajah riang, wajah kemenangan di air muka polisi-polisi. Meluncurlah cerita tentang kesuksesan dalam proses penangkapan ku. "Saya yakin ia bakal pulang ke rumah, sebab bukan kriminal sih,''kata Sang Mayor membuka percakapan pada kawannya. Suara Handy Talky terus terdengar.
bersambung

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000