memoar Tikus
dan Kijang
Ahmad Taufik
Pukul
tiga dini hari baru saja lewat, ketika Aku sampai di rumah kontrakkanku.
Aku baru saja lolos dari sebuah pengalaman pahit di sebuah hotel
bertaraf internasional dan sebuah kantor polisi. Tapi aku masih
belum bisa merasa tenang. Aku pergi ke kamar mandi, lalu menggambil
air wudhu. Kulanjutkan dengan shalat sunnat dua rakaat. Aku harus
merasa bersyukur pada Tuhan, karena sempat lolos dari suasana
yang tak mengenakkan. Baju koko yang sebelumnya aku pakai ku
lepaskan. Tapi celana panjang yang aku kenakan sejak pagi tak
aku lepaskan.
Tidak
biasanya aku tidur memakai celana panjang. Biasanya cuma kain
sarung atau piyama. Istriku masih berbaring di kamar, di atas
tempat tidur. Di sisinya bayi berumur sekitar 8 hari, yang baru
ia lahirkan dengan susah payah. Nama anak kami yang pertama itu
aku ambil dari nama orang dan julukan orang-orang suci. Sedangkan
nama keduanya aku cari dalam kamus, sebuah nama indah yang artinya
mata air(ku).
Padahal
nama akhirnya julukan Imam terakhir, sang mesiah yang ditunggu.
Aqiqah dengan memotong seekor kambing jantan juga sudah aku laksanakan,
bersamaan dengan sedekah berupa nasi kebuli yang dibuatkan oleh
ibuku untuk para tetangga di rumah kontrakkan kami di Condet,
di ujung Timur Jakarta. Rencana untuk membuat semacam upacara
potong rambut di hari ke tujuh gagal, karena aku tidak menemukan
seorang ustadz pun yang mau melakukannya. Aku juga belum menemukan
orang-orang yang mau mencukur rambut bayi itu. Malah, ibuku mengancam
tak mau hadir pada upacara itu bila aku memaksa untuk mencukur
rambut cucunya.''Kasihan masih kecil, emak, sih, nggak tega melihat
anak kecil seperti itu dicukur gundul, masih merah,"kata Ibuku.
Banyak anggota keluargaku juga menyarankan agar aku menunda prosesi
pencukuran itu. Aku yang semula bersikeras hati akhirnya luluh
juga, itu pun lantaran aku tidak menemukan seorang ustadz atau
seseorang yang dapat memimpin upacara tersebut secara keyakinan
agamaku.
***
Dini hari itu aku
masuk ke kamar lalu menelentangkan diri di bed, di samping kiri
anakku. Anakku tidur lelap di tengah aku dan istriku. "Yang,
tidak ganti dulu dengan kain sarung,"tegur istriku mesra. Kami
memang sudah sepakat tidak memangggil adik atau abang, atau mama,
papa. Selain tak sesuai ajaran agama dan adat kami yang tak boleh
kawin dengan garis keturunan sedarah. Ia juga risih bila hanya
memanggil namaku, walaupun aku sudah minta agar menyarankan memanggil
nama saja.
Aku anya diam saja
tak menjawab, dan menarik nafas panjang. Jari tangan istriku
ku pegang erat-erat. Kantuk mulai menyerang. Tapi pikiran dan
ingatan pada kejadian yang baru saja berlalu masih membayang.
Tangan istriku ku lepaskan dengan menyentak, dan aku lalu membokonginya. "Kenapa
sih, yang,"tanya istriku lembut. Aku diam saja. Tak berapa lama,
aku mendengar suara-suara aneh, grasak- grusuk. Lalu ada seseorang
yang berjalan ke arah rumahku. Ia memanggil nama yang aku tahu
bukanlah namaku.
"Burhan...Burhan..,"teriaknya
dari luar rumah. Aku mengintip dari balik tirai kamar. Ku lihat
seorang lelaki yang menyopiri mobil sedan berwarna hitam yang
membawa ku dari hotel ke kantor polisi. ''Ya, polisi itu," hatiku
berkata. Belakangan aku tahu namanya Sang Mayor. Aku menenangkan
istriku. "Kamu tenang saja, ya." Istriku
diam saja. Ia masih tak tahu apa-apa. Aku segera bangkit dari
tempat tidur, lalu mengambil kunci dan membukakan pintu.
"Masuk, tapi, ssssst,
anakku lagi tidur jangan berisik,''kataku santai. Rasa takut
ku sudah kubuang jauh-jauh. Begitu pintu terbuka bukan hanya
Sang Mayor yang masuk, tapi ada enam orang lainnya yang bertampang
seram dan beberapa diantaranya berbadan tambun. Mata mereka liar
melahap seluruh isi rumah kontrakkan ku. Beberapa diantaranya,
memeriksa rumah yang hanya seluas 12 meter x 5 meter itu. Melihat
muka mereka aku jadi mau buang air besar. "Sebentar aku mau berak
dulu perutku mulas,"kataku cuek pada Sang Mayor.
Seorang polisi bertubuh
tambun yang lain malah mencegah. "Nggak usah, nggak usah berak,
udah cepat ikut saja,"katanya kasar. Tapi aku tidak ambil perduli.
Aku masuk ke kamar mandi dan langsung nongkrong di atas kakus.
Pintu kamar mandi sempat dicegah polisi agar tidak ditutup. Dua
orang menungguiku saat aku berak. Aku cuek saja, toh, perutku
tak mau diajak kompromi. Aku nongkrong beberapa menit. Sial,
sudah aku paksakan tai itu tak mau keluar juga. Walaupun tai
tak keluar aku cebok juga. "Kok, cepat amat,"kata Sang Mayor. "Gara-gara
lu, tai gua nggak keluar,''makiku pelan.
Aku masuk lagi ke
dalam kamar ku. "Sebentar ya, aku mau pakai baju dulu,"kataku
pada Sang Mayor. Aku hanya mau bicara pada dia, karena dia yang
aku agak kenal dan tampak lebih simpatik dibandingkan yang lainnya. "Udah,
nggak usah apa adanya saja,"kata polisi yang lain, berusaha mencegah.
Aku cuek saja dan mengambil baju dari lemari. Pintu kamar ditahan
polisi agar tetap terbuka. Sang Mayor berdiri di depan pintu
kamar memperhatikan gerak-gerikku. Sambil aku mengenakan pakaian,
aku masih sempat memberitahukan secara sekilas pada istriku. "Aku
pergi sebentar ya, aku tadi sudah berada di kantor polisi, lalu
aku pulang dulu. Kamu tenang saja, deh, tenang, ya!''kataku.
Istriku diam saja, tertegun tampaknya.
Lalu polisi bertubuh
tambun itu mengambil secarik kertas berwarna merah. "Kami dari
polisi,''kata polisi itu pada istriku sekilas. Digiring oleh
enam orang polisi, aku keluar dari rumah menembus kegelapan dini
hari di sebuah perkampungan di kawasan Condet. Dari kejauhan
kulihat bapak ketua RT masuk ke sebuah gang kecil menuju rumahnya.
Rupanya tugasnya sebagai kepala kampung sudah dipenuhi, memberitahu
kepada polisi rumah salah seorang warganya untuk ditangkap. Aku
dan para polisi berjalan kaki sejauh 300 meter menyusuri jalan
kampung.
***
Kampung
kami itu selalu di tutup portal mulai tengah malam, hingga subuh.
Jadinya, mobil toyota kijang polisi hanya bisa parkir di ujung
gang, tepatnya di Jalan Raya Condet. Lalu aku dipaksa masuk ke
mobil kijang. Sebuah mobil Suzuki Carry tampak membayangi mobil
yang membawaku. Tampak wajah riang, wajah kemenangan di air muka
polisi-polisi. Meluncurlah cerita tentang kesuksesan dalam proses
penangkapan ku. "Saya yakin ia bakal pulang ke rumah, sebab bukan
kriminal sih,''kata Sang Mayor membuka percakapan pada kawannya.
Suara Handy Talky terus terdengar.
bersambung