|
edisi
5, Senin 12 Februari 2001
ceritanet
situs
nir-laba untuk karya tulis
terbitan Mari
Bung, Rebut Kembali...!
Dianto
Bachriadi dan Anton
Lucas
Pagi itu, Rabu
20 Mei 1998, adalah hari kedua Sobari (37) 'libur' kerja. Jakarta
dalam suasana sangat tegang. Puluhan ribu mahasiswa menduduki
gedung DPR/MPR di Senayan. Ratusan ribu mahasiswa di berbagai
kota lain melakukan hal yang serupa. Hampir seminggu jalanan,
alun-alun, dan gedung perwakilan rakyat yang ada di kota-kota
besar di Indonesia ditumpahi ribuan demonstran. Dalam setiap
demonstrasi mahasiswa dan rakyat kebanyakan bergabung. Tuntutan
mereka jelas, menuntut agar Soeharto berhenti sebagai presiden.
Berbagai ungkapan dalam spanduk, poster, atau coretan di tempat-tempat
umum bahkan menuntut Soeharto diadili dan dimintai pertanggungjawaban
atas perilaku politiknya selama berkuasa. Di Bandung, misalnya,
atap gedung DPRD Jawa Barat di lingkungan Gedung Sate yang
berwarna hitam ditulisi kata-kata turunkan Soeharto berwarna
putih hingga memenuhi seluruh atap. Di seberang gedung, sebuah
dinding seng penutup lahan kosong ditulisi tulisan yang sangat
besar 'gantung Soeharto!.'
Di kampung-kampung,
terutama di sekitar Jabotabek, suasana tegang juga terjadi.
Demikian pula di Desa Cibedug. Penduduk Desa Cibedug terus
mengamati dan menanti dengan tegang apa yang akan terjadi dengan
Soeharto, nama yang bagi sebagian besar penduduk telah menimbulkan
amarah dan dendam yang berkepanjangan. Sejumlah peristiwa yang
menggegerkan, seperti tertembaknya empat mahasiswa Universitas
Trisakti pada 12 Mei 1998 disusul aksi penjarahan dan pembakaran
di Jakarta keesokan harinya, kemudian terjadi. Dalam aksi kerusuhan
ini, banyak penduduk kampung sekitar Jakarta terlibat, baik
dengan cara dimobilisasi maupun tidak. Bahkan ada dari mereka
yang turut terpanggang api. Menyikapi perkembangan yang terjadi,
politik yang loyal kepada Soeharto tidak memiliki banyak pilihan
kecuali mendukung tuntutan demonstran.
Sobari, yang tidak
pernah lepas dari radio kecilnya, terus memantau perkembangan
yang terjadi di Jakarta. Kamis, 21 Mei 1998, tiba-tiba dia
terhenyak, seperti jutaan rakyat Indonesia yang lain, ketika
semua media elektronik menyiarkan berita tentang pengunduran
diri Soeharto sebagai presiden RI periode 1998-2003. Jabatan
itu baru dipegangnya selama 71 hari. Soeharto tampaknya tidak
punya pilihan lain ketika berbagai alternatif penyelesaian
krisis ekonomi-politik yang ditawarkannya ditolak oleh banyak
pihak, termasuk oleh lingkaran elite politik di sekitarnya.
Beberapa
jam setelah pengumuman pengunduran diri Soeharto, Sobari menghubungi
beberapa petani yang tinggal di sekitarnya untuk menduduki
dan mencangkuli lahan di Tapos. Hasan, salah seorang yang dihubungi,
ternyata punya fikiran yang sama. "Kekuasaannya telah
tumbang. Sekarang tidak ada lagi penguasa yang lain di tanah
itu," kata Sobari. Meskipun demikian, Sobari mengajak
Hasan untuk mulai menggarap tanah Tapos keesokan harinya, tetapi
hasan malah Hasan malah mengatakan, "Engke wae pas lohor
(nanti saja saat dhuhur)."
Segera
siang itu Sobari dan Hasan bertemu lagi dengan tiga kawannya
yang berani mewujudkan impian panjang mereka yang sudah hampir
terkubur. Dengan berbekal pacul dan tali rafia mereka memasuki
Peternakan Tapos dari sisi belakang. Mereka kemudian mematok
lahan sekitar lima ribu meter persegi Kelima orang itu, Hasan,
Sobari, Badrudin, Atin, dan Anang, masing-masing mematok sekitar
seribu meter persegi. Pada tali rafia yang mereka rentang mengelilingi
lahan yang dipatok mereka gantungkan sebuah poster yang bertuliskan "Setelah
penguasa lengser, tidak ada penguasa yang lain." Setiap
hari mereka membersihkan dan mematok lahan.
Warga
lain merespons usaha kelima pioneer itu. Upaya Sobari dan keempat
kawannya berhasil memecah ketakutan yang selama ini mengungkung
para petani. Keesokan harinya, beberapa warga lain mengikuti
tindakan Sobari dan keempat kawannya. Untuk menandai batas
tanah yang mereka patok, para petani menanam pohon pisang dan
singkong. Hingga 23 Mei 1998 para petani masih bergembira,
sebagaimana dicatat oleh Sobari: Sabtu, 23 Mei 1998. Hasan
bersama anaknya-istrinya begitu gembira. Anaknya bermain-main.
Begitu juga dengan yang lain. Atin dan anak-istrinya juga tidak
kalah gembira. Dia malah membawa sepikul anak pisang yang siap
ditanam.
Tetapi,
ketika mereka sedang bergembira, tiba-tiba datang dua orang
pekerja PT RSB bersama sejumlah aparat keamanan. Para petani
pun terkejut. Dua pekerja PT RSB dan aparat keamanan yang menyertainya
itu melarang warga mematok dan menggarap lahan di Tapos. "Pak
Hasan, kalau hal ini diteruskan, maka Pak Hasan akan berhadapan
dengan aparat kepolisian!" kata Made Soewecha, Koordinator
Peternakan Tapos. Sebagai gantinya, PT RSB manawari petani
lahan seluas lima hektar. Kepada Hasan dan Sobari aparat juga
menawari jabatan mandor hutan.
Pada 29 Mei 1998
para petani, ketua RT, RW, dan kepala dusun di Cibedug dipanggil
ke kantor kecamatan untuk membicarakan soal penggarapan kembali
lahan di Tapos. Dalam pertemuan ini ditegaskan, para petani
dilarang menggarap lahan di Peternakan Tri-S Tapos. Setelah
itu penjagaan Peternakan Tri-S Tapos oleh aparat kemanan dan
militer ditingkatkan.
Sejak saat itu,
para petani tidak lagi menggarap lahan yang telah mereka patok.
Meski demikian, bukan berarti para petani telah patah semangat
untuk mendapatkan kembali lahan. Sobari, misalnya, mencari
dukungan kepada LBH Jakarta. Lewat usaha Sobari ini pula masyarakat
Cibedug berjumpa dengan sejumlah aktivis mahasiswa. Dari pertemuan
yang diselenggarakan LBH Jakarta itu yang juga dihadiri oleh
sejumlah aktivis mahasiswa dari Bogor, ada mahasiswa yang meminta
alamat mereka di Cibedug dan berjanji akan datang berkunjung.
Benar saja, keesokan harinya para mahasiswa dari Bogor itu
datang dan bahkan menginap di Desa Cibedug. Kunjungan pertama
ini kemudian disusul oleh kunjungan selanjutnya secara berkala.
Selanjutnya terjadilah upaya-upaya konsolidasi yang intensif
di tingkat warga Cibedug untuk mewujudkan cita-cita mereka
merebut kembali tanahnya.
Meski demikian,
Sobari sempat pesimis terhadap LBH Jakarta. Menurutnya, kerja
LBH sangat lambat dan terlalu mementingkan bukti kepemilikan
atau hak yang dapat dipakai untuk menggugat PT RSB di pengadilan
atau dijadikan pegangan petani untuk menggarap kembali tanah
Tapos. Bahkan salah seorang staf/pengacara dari LBH Jakarta
- Tubagus, SH, -- mengatakan kepada Sobari bahwa HGU yang dikantongi
oleh PT RSB sah secara hukum. Hal ini tentu saja membuat Sobari
yang masih buta soal hukum agraria nyaris putus semangatnya.
Meski demikian, LBH
Jakarta mengirimkan juga Tim Pencari Fakta ke Desa Cibedug dan
mendatangi sejumlah kantor pemerintah daerah untuk mencari kejelasan
soal riwayat dan asal-usul tanah di Tapos. Sesuai permintaan LBH
Jakarta, sebelumnya Sobari menyerahkan sejumlah fotokopi KTP warga
setempat untuk kepentingan proses pembelaan. Sementara LBH Jakarta
mulai menindaklanjuti pengaduan Sobari dan kawan-kawannya, Sobari
aktif menyebarkan kronologi kasus sengketa tanah di Tapos yang
disusunnya, berikut daftar perusahaan keluarga Soeharto yang pernah
dimuat oleh majalah Warta Ekonomi ke berbagai media cetak. Sobari
juga aktif mengikuti berbagai pertemuan para korban penggusuran
di Jabotabek yang difasilitasi LBH Jakarta.
Situasi di Desa Cibedug
sendiri berkembang lebih cepat dari proses hukum yang dilakukan
oleh LBH Jakarta. Konsolidasi dan berbagai pertemuan antar petani
penggarap yang difasilitasi mahasiswa Bogor dan STI (Serikat Tani
Indonesia) berlangsung cukup intensif. Dalam proses konsolidasi
ini para petani memperoleh dukungan dan pembelaan dari berbagai
elemen gerakan mahasiswa dan organisasi non pemerintah (ornop)
yang berbasis di Bogor, seperti STI (Solidaritas Tani Indonesia),
SI (Solidaritas Indonesia), Front Indonesia dan LBH-Ampera.
Setelah proses konsolidasi
itu, pada 15 Juli 1998 sekitar 300 petani berbondong-bondong mendaki
jalan setapak memasuki Peternakan Tapos, bergotong-royong mengapling
tanah, mencangkulinya, dan menanam sayuran dan palawija. Tetapi,
di tengah-tengah kegembiraan mereka, datang 30 petugas keamanan
dan sejumlah tukang pukul yang dipimpin oleh Made Soewecha, Koordinator
Peternakan Tapos. Mereka membubarkan petani, mencabuti bibit tanaman,
dan menebas patok-patok yang sudah ditanam. Mereka juga mengancam
dan mengejar siapa saja, termasuk para mahasiswa yang mendampingi
petani. Dua mahasiswa, Ade dan Idil, mengalami luka-luka akibat
pukulan petugas keamanan. Akibat pukulan itu Ade, Mahasiswa Pakuan,
Bogor, sempat pingsan sekitar enam jam dan Idil harus mendapatkan
jahitan di kepala. Sementara itu, Ujang, seorang petani yang coba
melindungi Ade dan Idil, mengalami luka-luka. Sebelumnya, Ade dan
dua kawannya coba mencegah tindakan aparat keamanan dan satuan
pengaman PT RSB dengan mengajak berdialog. Tetapi, pembicaraan
tidak berlangsung lama. Ade dan dua temannya kemudian digebuk dan
diteriaki "PKI, PKI
"
Meski demikian, hadangan
petugas keamanan tidak membuat para petani surut langkah. Esok
harinya mereka kembali memasuki areal peternakan dan menggarap
kembali lahan yang sebelumnya sudah diobrak-abrik oleh petugas
keamanan. Hari ini Hasan sempat dipukul oleh aparat keamanan.
Pada hari itu juga,
25 orang wakil petani dan mahasiswa mendatangi kantor Komnas HAM
untuk mengadukan soal tindak kekerasan yang mereka alami di hari
kemarin. Para petani juga mendapat dukungan dari berbagai kelompok,
dengan mengeluarkan seruan, pernyataan sikap, serta tuntutan. Salah
satu isi tuntutan mereka adalah meminta agar tanah yang dirampas
oleh mantan Presiden Soeharto diusut. Atas seruan, pernyataan sikap,
dan tuntutan ini banyak pihak berkomentar, termasuk mantan Pangab
Jenderal Wiranto. Wiranto mengatakan, penjarahan semacam yang terjadi
di Tapos jelas-jelas melanggar hukum, dan pihaknya sudah menginstruksikan
kepada Bakorstanasda (Badan Koordinasi Stabilitas Nasional Daerah)
di seluruh Indonesia untuk mengantisipasi dengan tindakan tegas,
menangkap, dan mengusut oknum-oknum pelakunya tanpa pandang bulu.
Instruksi Wiranto ini ditanggapi oleh Pangdam III/Siliwangi pada
waktu itu, Mayjen TNI Purwadi, dengan menyatakan pihaknya tidak
akan menempuh jalur hukum dalam menyelesaikan aksi petani penggarap
di Tapos. Sementara Andi Ghalib, mantan Jaksa Agung, mengatakan
bahwa perbuatan petani adalah tindak kriminal.
Pada hari itu juga
muncul berita di media massa cetak bahwa selain mematoki dan
menggarap lahan di Tapos, petani Cibedug juga mencuri dan menyembelih
ternak. Berita ini ternyata tidak benar. Pihak kepolisian juga
menyanggah berita tersebut. Petani dan LBH-Ampera menduga isu
tersebut dihembuskan oleh PT RSB karena perusahaan ini gigih
menghentikan aksi petani penggarap.
Seakan
tak peduli atas berbagai komentar yang muncul, petani terus
menggarap lahan di Tapos secara terorganisir. Rata-rata petani
mendapat antara 3.000 meter sampai 6.000 meter lahan. Melalui
kelompok-kelompok kecil yang mereka bentuk berdasarkan lokasi
tempat tinggal, para petani menerapkan sejumlah pembatasan
untuk mencegah terjadinya penggarapan tanah secara berlebihan
atau tindakan yang melenceng dari tujuan semula, yakni menguasai
kembali lahan pertanian mereka.
Mereka
menentukan sendiri pemimpin tiap kelompok dan seluruh kelompok.
Secara organisatoris, para petani tergabung dalam dalam STI
wilayah Cibedug. Selain itu, para petani melakukan upaya yang
mereka sebut sebagai "penataan produksi" untuk membangun
organisasi tani yang solid dan kuat.
Petani
aktif pula melakukan aksi massa dan pengajuan tuntutan-tuntutan
ke berbagai instansi pemerintah. Puncak aksi massa itu adalah
saat ratusan petani Tapos yang tergabung dalam STI dan sejumlah
pemuda serta mahasiswa membentuk aliansi gerakan yang dinamakan
ALARM (Aliansi Aksi Rakyat Menggugat). Aliansi ini melakukan
demonstrasi tutup mulut menuju ke rumah Soeharto di Jalan Cendana,
Jakarta, untuk menuntut pertanggungjawaban atas segala hal
perilaku buruk Soeharto selaku presiden RI, khususnya perilaku
buruk yang dilakukannya di Tapos.
***
Cerita ini penggalan
dari buku Merampas Tanah Rakyat: Kisah
Petani Tapos dan Cimacan, terbitan Kepustakaan Populer
Gramedia 2001. Dianto Bachriadi memberikan naskah ini saat melakukan
fund raising ke kawasan Eropa untuk Konsorsium Pembaruan Agraria
KPA.
situs
nir-laba untuk karya
tulis
ceritanet
kirim
tulisan
©listonpsiregar2000
|