sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar
edisi
5, Senin 12 Februari 2001
ceritanet
situs
nir-laba untuk karya tulis
laporan Papua
Yang Serba Mahal
Rin Hindryati P.
Papua
atau Irian Jaya. Itu mungkin persoalan pertama yang aku hadapi ketika
akan bertugas ke Pulau Burung sana. Presiden Abdurrahman Wahid sudah
mendeklarasikan namanya sebagai Papua, tapi media massa Indonesia dan
para pejabat eselon satu --setelah sempat menggunakan nama Papua-- kini
kembali dengan Irian Jaya --untuk menegaskan bagian tak terpisahkan dari
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi aku akan pergi atas nama sebuah
koran asing; The Wall Street Journal. Jadi soal nama segera terselesaikan
karena media asing cenderung menggunakan nama Papua --bahkan sebelum
deklarasi dari Presiden Wahid sekalipun mereka sudah sering menyebutnya
West Papua.
Selengkapnya
memoar Tikus
Dan Kijang
Ahmad Taufik
Pukul
tiga dini hari baru saja lewat, ketika Aku sampai di rumah kontrakkanku.
Aku baru saja lolos dari sebuah pengalaman pahit di sebuah hotel bertaraf
internasional dan sebuah kantor polisi. Tapi aku masih belum bisa merasa
tenang. Aku pergi ke kamar mandi, lalu menggambil air wudhu. Kulanjutkan
dengan shalat sunnat dua rakaat. Aku harus merasa bersyukur pada Tuhan,
karena sempat lolos dari suasana yang tak mengenakkan. Baju koko yang
sebelumnya aku pakai kulepaskan. Tapi celana panjang yang aku kenakan
sejak pagi tak aku lepaskan. Tidak biasanya aku tidur memakai celana
panjang. Biasanya cuma kain sarung atau piyama. Istriku masih berbaring
di kamar, di atas tempat tidur. Di sisinya bayi berumur sekitar 8 hari,
yang baru ia lahirkan dengan susah payah. Nama anak kami yang pertama
itu aku ambil dari nama orang dan julukan orang-orang suci. Sedangkan
nama keduanya aku cari dalam kamus, sebuah nama indah yang artinya
mata air(ku).
Selengkapnya
cerpen Membunuh
Tuhan
Imron
Supriyadi
Siapa bilang Tuhan
tak bisa mati! Tuhan bisa saja mati.! Tuhan sering dibunuh oleh
semua. Bukan saja aku, tetapi, kau dan kita! Ya semua telah melakukan
pembunuhan Tuhan. Bukan seorang kiai. Bukan seorang bhiksu dan
pastor. Bukan pula seorang suster, sampai seorang birokrat dan
para kaum gembel, semua juga melakukan pembunuhan Tuhan. Maka Tuhan
pun bisa mati. Kalau dulu Nietcshe mempermaklumkan kematian Tuhan.
Kini, aku mengatakan, Tuhan pun bisa mati. Tuhan
sering terbunuh oleh kita. Bahkan kita sengaja membunuhNya. Kemarin,
Warman teman kerjaku menceritakan bagaimana Tuhan telah tergadai
oleh sepiring nasi. Lalu ditempat lain, Tuhan diperjual-belikan
sebanding dengan harga kangkung. Tuhan sudah bisa ditawar. Tuhan
dihargai murah. Tuhan diperdaya, dengan dalih mempertahankan hidup.
Selengkapnya
terbitan Mari
Bung, Rebut Kembali...!
Dianto
Bachriadi dan Anton
Lucas
Pagi
itu, Rabu 20 Mei 1998, adalah hari kedua Sobari (37) 'libur'
kerja. Jakarta dalam suasana sangat tegang. Puluhan ribu mahasiswa
menduduki gedung DPR/MPR di Senayan. Ratusan ribu mahasiswa di
berbagai kota lain melakukan hal yang serupa. Hampir seminggu
jalanan, alun-alun, dan gedung perwakilan rakyat yang ada di
kota-kota besar di Indonesia ditumpahi ribuan demonstran. Dalam
setiap demonstrasi mahasiswa dan rakyat kebanyakan bergabung.
Tuntutan mereka jelas, menuntut agar Soeharto berhenti sebagai
presiden. Berbagai ungkapan dalam spanduk, poster, atau coretan
di tempat-tempat umum bahkan menuntut Soeharto diadili dan dimintai
pertanggung-jawaban atas perilaku politiknya selama berkuasa.
Di Bandung, misalnya, atap gedung DPRD Jawa Barat di lingkungan
Gedung Sate yang berwarna hitam ditulisi kata-kata 'turunkan
Soeharto' berwarna putih hingga memenuhi seluruh atap. Di seberang
gedung, sebuah dinding seng penutup lahan kosong ditulisi tulisan
yang sangat besar 'gantung Soeharto!.'
Selengkapnya
novel Dokter
Zhivago 5
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin
sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan
ejaan baru
Kini
setelah kereta api tertahan satu abad lamanya, maka justru karena
bukan orang lain selain Grigory Oispovich yang menarik rem darurat
itulah membuat kesan seolah penghentian kereta-api serta keributan
itu adalah karena kehendak keluarga Gordon. Tak ada yang mengetahui,
mengapa harus menunggu selama itu. Konon penghentian yang tiba-tiba
itu telah merusakkan rem angin, kabar lain mengatakan bahwa kereta
api berhendi di lereng curam dan bahwa lokomotif tidak dapat bergerak,
kalau tidak menambah kecepatannya. Pendapat ketiga menyatakan bahwa
yang bunuh diri itu orang terkemuka, hingga pengacaranya yang menemani
dia di kereta api telah mendesak supaya didatangkan beberapa pegawai
dari stasiun terdekat, yakni Kologrivovka agar dapat disusun keterangan
yang resmi. Itu sebabnya pembantu masinis telah naik ke tiang telegraf;
lori yang membawa regu pemeriksa kini dalam perjalanan.
Selengkapnya
situs
nir-laba untuk karya
tulis
ceritanet
kirim
tulisan
©listonpsiregar2000
sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar
|