sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 5, Senin 12 Februari 2001

 

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

laporan Papua Yang Serba Mahal
Rin Hindryati P.

Papua atau Irian Jaya. Itu mungkin persoalan pertama yang aku hadapi ketika akan bertugas ke Pulau Burung itu. Presiden Abdurrahman Wahid sudah mendeklarasikan namanya sebagai Papua, tapi media massa Indonesia dan para pejabat eselon satu --setelah sempat menggunakan nama Papua-- kini kembali dengan Irian Jaya --untuk menegaskan bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi aku akan pergi atas nama sebuah koran asing; The Wall Street Journal. Jadi soal nama segera terselesaikan karena media asing cenderung menggunakan nama Papua --bahkan sebelum deklarasi dari Presiden Wahid sekalipun mereka sudah sering menyebutnya West Papua.

Tugas kali ini terasa membuat aku lebih semangat, karena selama 12 lebih tahun jadi wartawan aku sudah meliput hampir ke semua daerah, entah itu bersafari di Hutan Muarateweh, Kalimantan, maupun ke kawasan bergolak seperti Ternate dan Aceh. Tapi siapa nyana sampai pula aku ke Papua, dan tak tanggung-tanggung langsung menyapu tiga kota ; Jayapura, Merauke, dan Timika. Mungkin karena semangat, aku hanya berbekal peta dan obat anti nyamuk beberapa botol. Nyamuk Papua dengan malarianya sudah terkenal ke manca-negara. Dengan obat anti nyamuk ini aku berharap bebas dari gigitan nyamuk Papua, khususnya yang menyerbu saat subuh dan petang, yang katanya beresiko Malaria lebih tinggi.

Tapi perjalanan ke tiga kota Papua tak hanya butuh peta, obat nyamuk, dan semangat. Persoalan tehnis adalah tidak ada jalan darat yang menghubungkan satu kabupaten dengan kabupaten lain. Inipun segera terpecahkan karena tidak ada masalah buat The Wall Street Journal yang punya dana untuk tiket pesawat. Meskipun demikian aku terbayang-bayang juga dengan kecelakaan pesawat belum lama ini yang menewaskan para pejabat tinggi Papua. Pesawat yang membawa Pangdam, Kapolda, Ketua DPRD I, dan Kepala Kejaksaan Tinggi itu jatuh di kawasan pegunungan Jayawijaya. Semuanya tewas. Tapi jelas tidak ada pilihan, dan segera aku kesampingkan bayang-bayang kecelakaan itu.

Setelah mencoret-coret rencana dan waktu perjalanan yang pas --karena tidak setiap hari ada pesawat yang terbang dari satu kota ke kota lain-- maka dapatlah angka 8 juta rupiah untuk tiket satu orang. Perjalanan ini memang mahal. Belakangan aku tahu tak hanya mahal, juga panjang dan melelahkan.

Dari Bandara Soekarno-Hatta kami berangkat jam sembilan malam dan baru tiba di Bandara Sentani, Jayapura jam tujuh pagi keesokan harinya. Ada dua persinggahan; Ujung Pandang dan Biak. Hujan deras mengguyur kota Biak ketika akan lepas landas dan kami terkurung di bandara menunggu cuaca membaik. Aku membayangkan tinggal visa masuk saja yang tidak dibutuhkan, selebihnya sudah sama dengan perjalanan ke luar negeri. Penerbangan Biak ke Sentani seperti perjalanan dari Singapura ke Jakarta kalau terbang dari Eropa ke Jakarta. Orang-orangnya sudah sama, perjalanan hanya satu jam, dan badan sudah lelah disikat perjalanan lintas malam yang tidak nyaman tidurnya.

Bandara Sentani sebenarnya tidak terlalu buruk. Tapi tak ada AC yang tidak urung menambah penat badan. Belum lagi suasana kisruh mirip pasar kerumunan orang yang hendak menjemput kerabat. Bau tak sedap pun segera merebak. Untunglah aku telah menyiapkan diri untuk situasi yang lebih buruk, jadi gangguan ini aku anggap biasa saja. Aku dan kawanku, seorang wartawan bule Amerika, terlihat asing di tengah orang-orang setempat dan aku merasa diawasi. Aku bisa mengerti. Sebagian besar pendatang meninggalkan Papua karena alasan keamanan dan kami justru masuk. Aku lihat ke sekeliling tidak ada informasi untuk mendapatkan taksi, namun terlihat orang yang tadinya berada dalam satu pesawat. Aku bertanya dan ternyata ke'asingan' kami tidak menghambat jawaban yang amat membantu.

Berbekal sebuah nama hotel dari seorang teman, kami mendapatkan sebuah hotel yang terletak di pertengahan Sentani-Jayapura. Kebersahajaan tempat yang disebut 'hotel' ini bisa aku maklumi karena sepengetahuanku Papua adalah salah satu propinsi tertinggal di Indonesia. Sudah pasti tak ada telepon dalam kamar. Toilet bocor, lampu remang-remang, dan ruang kamarnya sempit. Untunglah masih ada AC yang sejuk walau lumayan berisik. Tak masalah, aku sudah menyiapkan diri.

Belakangan, dari supir taksi kami tahu kalau hotel itu masih sekitar satu jam dari Jayapura, ibukota propinsi Papua, yang justru menjadi tujuan utama. Dan di Jayapura ada hotel kelas berbintang. Bahkan wawancara dengan Presiden Papua Merdeka, Theys Eluay --yang saat itu masih belum ditangkap-- berlangsung di Hotel Matoa berbintang tiga. Usai wawancara --yang jawabannya tidak banyak berbeda dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya-- kami makan siang di Hotel Matoa, seperti orang yang terbebas sebentar dari penjara di pelosok kota. Dan kami mau membebaskan diri, namun kamar hotel sudah penuh. Tapi syukurlah ada hotel lain di Jayapura yang menjanjikan istirahat tenang.

Ada persoalan waktu check out di Hotel Sentani. Manajer hotel bingung mau menagih karena satu malampun belum kami lewatkan di sana. Kebetulan si pemilik, seorang wanita setengah baya dengan dandanan menor, sedang di counter dan setelah mengawasi aku dari atas ke bawah dengan pandangan tajam menuduh, ia memutuskan menagih biaya penuh untuk kedua kamar yang kami gunakan. Tidak ada masalah karena segera kami bayar. Tapi aku betul-betul terganggu ketika terdengar celutukannya sebelum beranjak pergi; ''ooo....sotem!'' Maksudnya short term. Aku sempat terintimidasi, tapi sudahlah.

Sore hari di Jayapura, aku duduk menikmati kopi di lobby hotel sambil mengamati orang-orang yang berlalu-lalang di dalam dan di luar hotel. Seorang petugas hotel sepertinya menduga isi benakku dan ia mendekati untuk mengingatkan agar jangan ke luar hotel pada malam hari. Agak berbahaya, katanya, karena situasi politik yang masih belum menentu.

Aku sendiri tidak punya rencana keluar, karena malam itu aku bertemu dengan seorang teman wartawan yang dulu aku kenal di Jakarta dan sekarang menjadi pemimpin redaksi koran setempat. Kami makan malam di restoran hotel dan dengan iringan musik aku merasa gambaran Papua yang aku siapkan dari Jakarta -dan yang aku dapatkan di bandara serta hotel di Sentani-- langsung lenyap. Malam itu sama saja dengan makan malam di restoran biasa di tempat biasa lainnya. Tapi tiba-tiba aku terasa ditarik kembali ke alam nyata. Seorang penduduk asli datang ke arahku dan mengulurkan tangan. Aku bingung tapi kujabat juga tangannya. Ia lantas bertanya pendapatku tentang Papua. Bau alkohol menyebar dari mulutnya walau jarak kami cukup jauh. Aku sempat menjawab basa-basi sebelum orang itu ditarik ke luar oleh Satpam Hotel. Kata kawanku, orang-orang seperti itu sudah biasa membuat para pendatang tidak nyaman. Buatku ini jadi salah satu karasteristik Papua, walau yang aku alami memang bisa saja terjadi dimana-mana.

Setelah empat hari menyusuri Jayapura, kami terbang selama dua jam ke Merauke dengan pesawat Boeing 737. Jadi bukan dengan pesawat kecil seperti pesawat misionaris yang sering aku dengar. Tenang di perjalanan tak berarti tenang di bandara tujuan. Suasana bandara Merauke lebih kacau dan sumpek. Kondisi bandara yang tak karuan membuatku sedikit frustrasi. Lantas jumlah orang yang menjemput jauh lebih banyak dari penumpang pesawat dan itu menyusahkan kami untuk mengurus bagasi. Untuk mengambil tas, terpaksa kami harus berjuang keras. Sementara aku rasakan berpasang-pasang mata orang setempat begitu tajam terarah ke kami berdua.

Di mana-mana kulihat tentara berjaga-jaga. Bersama kami ada juga serombongan TNI berseragam yang disambut para koleganya. Aku menguping pembicaraan mereka dan sepertinya akan ada penambahan pasukan dari berbagai daerah. Sejmua tentara yang aku lihat di Bandara bertampang Jawa dan mereka dengan ringan berbicara dengan aksen Jawa yang kental. Wajar jika penduduk asli gerah.

Seorang pegiat yang sudah kuhubungi sebelumnya berjanji akan menjemput kami. Di tengah kerumunan orang berkulit coklat gelap dan rambut keriting aku bingung mencari pegiat itu, tapi untunglah dia segera menghampiri kami. Merauke kota yang membosankan. Datar. Orang lebih suka diam di rumah jika malam tiba. Aku membayangkan pesawat dari Merauke baru tiga hari lagi dan sulit membayangkan mengisi waktu di Merauke yang datar dan nyaris mati ini. Ini karakter lain Papua; menekan!

Kawan orang Amerika sudah nyaris hampir putus asa begitu tiba. Ia tak sanggup menunggu lebih lama dan mau kembali keesokan paginya. Supaya aku tenang dari keluhannya maka aku suruh pegawai hotel tiga botol bir dan kawan itu aku minta menenggak semuanya. Dalam keadaan sedikit mabuk dia rupanya langsung masuk kamar dan tidur. Belakangan, waktu laporan kami dimuat The Wall Street Journal --dan mendapat pujian-- dia secara khusus mengucapkan terimakasih atas strategi bir, tidur, dan meminggirkan frustasi.

Reportase di Merauke ternyata lebih hidup karena sumber-sumber di Jayapura mengatakan kalau Merauke adalah salah satu basis perjuangan Papua Merdeka. Terlihat memang bendera Papua yang berkibar jauh lebih banyak dan dan posko-posko Papua tersebar hampir di setiap sudut jalan. Tiga hari ternyata tidak terasa di Merauke dan kami terbang ke tujuan akhir Timika, di kaki bukit pertambangan Freeport. Di situ paling tidak ada Hotel Sheraton Timika. Dan di Bandara langsung terlihat petugas penjemput Sheraton menunggu dengan memajang nama kami berdua. Tak terbayangkan olehku di tengah hutan belantara berdiri hotel internasional dan aku langsung menikmati istirahat total di kamar yang yang punya shower, mini bar, kasur empuk, dan saluran televisi kabel.

Tak ada masalah reportase di sini, walau di jaman Suharto dulu Timika termasuk satu daerah panas karena unjuk rasa penduduk setempat untuk menuntut saham Freeport. Kami juga bertemu dengan pegiat utama di Timika, Tom Beanal, yang pernah mengajukan gugatan atas Freeport di Amerika Serikat namun kalah.

Usai bertugas aku berjalan-jalan di sekeliling hotel. Tak terbayangkan olehku bagaimana susahnya membangun hotel bertaraf internasional seperti Sheraton ini dan mengelolanya. Tak terasa kalau kita sedang berada di tengah hutan, di tengah tarik ulur antara perusahaan raksasa Amerika yang makmur dengan orang-orang Papua yang masih bergulat untuk hidup sehari-hari, dan juga di tengah-tengah tarikan politik antara pemerintah pusat Jakarta dengan Dewan Presidium Papua yang mau merdeka. Hari Minggu, yang dipandang ketat oleh orang Papua sebagai hari beribadah, aku bersantai di hotel. Sambil merenung-renung dikelilingi keasrian Sheraton Timika, aku tersenyum sendiri. Tersenyum kecil merasakan aku akhirnya menginjak Tanah Papua. Atau Irian Jaya?

Entahlah. Apapun namanya, aku yakin banyak yang harus dikerjakan di daratan ini, yang sudah menghasilkan pundi-pundi ke banyak orang di luar sana. Dan tiba-tiba aku tersadar kalau bukan hanya perjalanan yang mahal, tapi kehidupan pun terasa mahal. Mahal secara ekonomis, secara politik, dan secara sosial.
***

situs nir-laba
untuk
karya tulis
ceritanet
 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000