laporan Papua
Yang Serba Mahal
Rin Hindryati P.
Papua atau Irian
Jaya. Itu mungkin persoalan pertama yang aku hadapi ketika akan
bertugas ke Pulau Burung itu. Presiden Abdurrahman Wahid sudah
mendeklarasikan namanya sebagai Papua, tapi media massa Indonesia
dan para pejabat eselon satu --setelah sempat menggunakan nama
Papua-- kini kembali dengan Irian Jaya --untuk menegaskan bagian
tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi
aku akan pergi atas nama sebuah koran asing; The Wall Street
Journal. Jadi soal nama segera terselesaikan karena media asing
cenderung menggunakan nama Papua --bahkan sebelum deklarasi dari
Presiden Wahid sekalipun mereka sudah sering menyebutnya West
Papua.
Tugas kali ini terasa
membuat aku lebih semangat, karena selama 12 lebih tahun jadi
wartawan aku sudah meliput hampir ke semua daerah, entah itu
bersafari di Hutan Muarateweh, Kalimantan, maupun ke kawasan
bergolak seperti Ternate dan Aceh. Tapi siapa nyana sampai pula
aku ke Papua, dan tak tanggung-tanggung langsung menyapu tiga
kota ; Jayapura, Merauke, dan Timika. Mungkin karena semangat,
aku hanya berbekal peta dan obat anti nyamuk beberapa botol.
Nyamuk Papua dengan malarianya sudah terkenal ke manca-negara.
Dengan obat anti nyamuk ini aku berharap bebas dari gigitan nyamuk
Papua, khususnya yang menyerbu saat subuh dan petang, yang katanya
beresiko Malaria lebih tinggi.
Tapi perjalanan ke
tiga kota Papua tak hanya butuh peta, obat nyamuk, dan semangat.
Persoalan tehnis adalah tidak ada jalan darat yang menghubungkan
satu kabupaten dengan kabupaten lain. Inipun segera terpecahkan
karena tidak ada masalah buat The Wall Street Journal yang punya
dana untuk tiket pesawat. Meskipun demikian aku terbayang-bayang
juga dengan kecelakaan pesawat belum lama ini yang menewaskan
para pejabat tinggi Papua. Pesawat yang membawa Pangdam, Kapolda,
Ketua DPRD I, dan Kepala Kejaksaan Tinggi itu jatuh di kawasan
pegunungan Jayawijaya. Semuanya tewas. Tapi jelas tidak ada pilihan,
dan segera aku kesampingkan bayang-bayang kecelakaan itu.
Setelah mencoret-coret
rencana dan waktu perjalanan yang pas --karena tidak setiap hari
ada pesawat yang terbang dari satu kota ke kota lain-- maka dapatlah
angka 8 juta rupiah untuk tiket satu orang. Perjalanan ini memang
mahal. Belakangan aku tahu tak hanya mahal, juga panjang dan
melelahkan.
Dari
Bandara Soekarno-Hatta kami berangkat jam sembilan malam dan
baru tiba di Bandara Sentani, Jayapura jam tujuh pagi keesokan
harinya. Ada dua persinggahan; Ujung Pandang dan Biak. Hujan
deras mengguyur kota Biak ketika akan lepas landas dan kami terkurung
di bandara menunggu cuaca membaik. Aku membayangkan tinggal visa
masuk saja yang tidak dibutuhkan, selebihnya sudah sama dengan
perjalanan ke luar negeri. Penerbangan Biak ke Sentani seperti
perjalanan dari Singapura ke Jakarta kalau terbang dari Eropa
ke Jakarta. Orang-orangnya sudah sama, perjalanan hanya satu
jam, dan badan sudah lelah disikat perjalanan lintas malam yang
tidak nyaman tidurnya.
Bandara
Sentani sebenarnya tidak terlalu buruk. Tapi tak ada AC yang
tidak urung menambah penat badan. Belum lagi suasana kisruh mirip
pasar kerumunan orang yang hendak menjemput kerabat. Bau tak
sedap pun segera merebak. Untunglah aku telah menyiapkan diri
untuk situasi yang lebih buruk, jadi gangguan ini aku anggap
biasa saja. Aku dan kawanku, seorang wartawan bule Amerika, terlihat
asing di tengah orang-orang setempat dan aku merasa diawasi.
Aku bisa mengerti. Sebagian besar pendatang meninggalkan Papua
karena alasan keamanan dan kami justru masuk. Aku
lihat ke sekeliling tidak ada informasi untuk mendapatkan taksi,
namun terlihat orang yang tadinya berada dalam satu pesawat.
Aku bertanya dan ternyata ke'asingan' kami tidak menghambat jawaban
yang amat membantu.
Berbekal
sebuah nama hotel dari seorang teman, kami mendapatkan sebuah
hotel yang terletak di pertengahan Sentani-Jayapura. Kebersahajaan
tempat yang disebut 'hotel' ini bisa aku maklumi karena sepengetahuanku
Papua adalah salah satu propinsi tertinggal di Indonesia. Sudah
pasti tak ada telepon dalam kamar. Toilet bocor, lampu remang-remang,
dan ruang kamarnya sempit. Untunglah masih ada AC yang sejuk
walau lumayan berisik. Tak masalah, aku sudah menyiapkan diri.
Belakangan, dari
supir taksi kami tahu kalau hotel itu masih sekitar satu jam
dari Jayapura, ibukota propinsi Papua, yang justru menjadi tujuan
utama. Dan di Jayapura ada hotel kelas berbintang. Bahkan wawancara
dengan Presiden Papua Merdeka, Theys Eluay --yang saat itu masih
belum ditangkap-- berlangsung di Hotel Matoa berbintang tiga.
Usai wawancara --yang jawabannya tidak banyak berbeda dengan
pernyataan-pernyataan sebelumnya-- kami makan siang di Hotel
Matoa, seperti orang yang terbebas sebentar dari penjara di pelosok
kota. Dan kami mau membebaskan diri, namun kamar hotel sudah
penuh. Tapi syukurlah ada hotel lain di Jayapura yang menjanjikan
istirahat tenang.
Ada persoalan waktu
check out di Hotel Sentani. Manajer hotel bingung mau menagih
karena satu malampun belum kami lewatkan di sana. Kebetulan si
pemilik, seorang wanita setengah baya dengan dandanan menor,
sedang di counter dan setelah mengawasi aku dari atas ke bawah
dengan pandangan tajam menuduh, ia memutuskan menagih biaya penuh
untuk kedua kamar yang kami gunakan. Tidak ada masalah karena
segera kami bayar. Tapi aku betul-betul terganggu ketika terdengar
celutukannya sebelum beranjak pergi; ''ooo....sotem!'' Maksudnya
short term. Aku sempat terintimidasi, tapi sudahlah.
Sore hari di Jayapura,
aku duduk menikmati kopi di lobby hotel sambil mengamati orang-orang
yang berlalu-lalang di dalam dan di luar hotel. Seorang petugas
hotel sepertinya menduga isi benakku dan ia mendekati untuk mengingatkan
agar jangan ke luar hotel pada malam hari. Agak berbahaya, katanya,
karena situasi politik yang masih belum menentu.
Aku sendiri tidak
punya rencana keluar, karena malam itu aku bertemu dengan seorang
teman wartawan yang dulu aku kenal di Jakarta dan sekarang menjadi
pemimpin redaksi koran setempat. Kami makan malam di restoran
hotel dan dengan iringan musik aku merasa gambaran Papua yang
aku siapkan dari Jakarta -dan yang aku dapatkan di bandara serta
hotel di Sentani-- langsung lenyap. Malam itu sama saja dengan
makan malam di restoran biasa di tempat biasa lainnya. Tapi tiba-tiba
aku terasa ditarik kembali ke alam nyata. Seorang penduduk asli
datang ke arahku dan mengulurkan tangan. Aku bingung tapi kujabat
juga tangannya. Ia lantas bertanya pendapatku tentang Papua.
Bau alkohol menyebar dari mulutnya walau jarak kami cukup jauh.
Aku sempat menjawab basa-basi sebelum orang itu ditarik ke luar
oleh Satpam Hotel. Kata kawanku, orang-orang seperti itu sudah
biasa membuat para pendatang tidak nyaman. Buatku ini jadi salah
satu karasteristik Papua, walau yang aku alami memang bisa saja
terjadi dimana-mana.
Setelah
empat hari menyusuri Jayapura, kami terbang selama dua jam ke
Merauke dengan pesawat Boeing 737. Jadi bukan dengan pesawat
kecil seperti pesawat misionaris yang sering aku dengar. Tenang
di perjalanan tak berarti tenang di bandara tujuan. Suasana bandara
Merauke lebih kacau dan sumpek. Kondisi bandara yang tak karuan
membuatku sedikit frustrasi. Lantas jumlah orang yang menjemput
jauh lebih banyak dari penumpang pesawat dan itu menyusahkan
kami untuk mengurus bagasi. Untuk mengambil tas, terpaksa kami
harus berjuang keras. Sementara aku rasakan berpasang-pasang
mata orang setempat begitu tajam terarah ke kami berdua.
Di
mana-mana kulihat tentara berjaga-jaga. Bersama kami ada juga
serombongan TNI berseragam yang disambut para koleganya. Aku
menguping pembicaraan mereka dan sepertinya akan ada penambahan
pasukan dari berbagai daerah. Sejmua tentara yang aku lihat di
Bandara bertampang Jawa dan mereka dengan ringan berbicara dengan
aksen Jawa yang kental. Wajar jika penduduk asli gerah.
Seorang
pegiat yang sudah kuhubungi sebelumnya berjanji akan menjemput
kami. Di tengah kerumunan orang berkulit coklat gelap dan rambut
keriting aku bingung mencari pegiat itu, tapi untunglah dia segera
menghampiri kami. Merauke kota yang membosankan. Datar. Orang
lebih suka diam di rumah jika malam tiba. Aku membayangkan pesawat
dari Merauke baru tiga hari lagi dan sulit membayangkan mengisi
waktu di Merauke yang datar dan nyaris mati ini. Ini karakter
lain Papua; menekan!
Kawan
orang Amerika sudah nyaris hampir putus asa begitu tiba. Ia tak
sanggup menunggu lebih lama dan mau kembali keesokan paginya.
Supaya aku tenang dari keluhannya maka aku suruh pegawai hotel
tiga botol bir dan kawan itu aku minta menenggak semuanya. Dalam
keadaan sedikit mabuk dia rupanya langsung masuk kamar dan tidur.
Belakangan, waktu laporan kami dimuat The Wall Street Journal
--dan mendapat pujian-- dia secara khusus mengucapkan terimakasih
atas strategi bir, tidur, dan meminggirkan frustasi.
Reportase
di Merauke ternyata lebih hidup karena sumber-sumber di Jayapura
mengatakan kalau Merauke adalah salah satu basis perjuangan Papua
Merdeka. Terlihat memang bendera Papua yang berkibar jauh lebih
banyak dan dan posko-posko Papua tersebar hampir di setiap sudut
jalan. Tiga hari ternyata tidak terasa di Merauke dan kami terbang
ke tujuan akhir Timika, di kaki bukit pertambangan Freeport. Di
situ paling tidak ada Hotel Sheraton Timika. Dan di Bandara langsung
terlihat petugas penjemput Sheraton menunggu dengan memajang
nama kami berdua. Tak terbayangkan olehku di tengah hutan belantara
berdiri hotel internasional dan aku langsung menikmati istirahat
total di kamar yang yang punya shower, mini bar, kasur empuk,
dan saluran televisi kabel.
Tak
ada masalah reportase di sini, walau di jaman Suharto dulu Timika
termasuk satu daerah panas karena unjuk rasa penduduk setempat
untuk menuntut saham Freeport. Kami juga bertemu dengan pegiat
utama di Timika, Tom Beanal, yang pernah mengajukan gugatan atas
Freeport di Amerika Serikat namun kalah.
Usai
bertugas aku berjalan-jalan di sekeliling hotel. Tak terbayangkan
olehku bagaimana susahnya membangun hotel bertaraf internasional
seperti Sheraton ini dan mengelolanya. Tak terasa kalau kita
sedang berada di tengah hutan, di tengah tarik ulur antara perusahaan
raksasa Amerika yang makmur dengan orang-orang Papua yang masih
bergulat untuk hidup sehari-hari, dan juga di tengah-tengah tarikan
politik antara pemerintah pusat Jakarta dengan Dewan Presidium
Papua yang mau merdeka. Hari Minggu, yang dipandang ketat oleh
orang Papua sebagai hari beribadah, aku bersantai di hotel. Sambil
merenung-renung dikelilingi keasrian Sheraton Timika, aku tersenyum
sendiri. Tersenyum kecil merasakan aku akhirnya menginjak Tanah
Papua. Atau Irian Jaya?
Entahlah.
Apapun namanya, aku yakin banyak yang harus dikerjakan di daratan
ini, yang sudah menghasilkan pundi-pundi ke banyak orang di luar
sana. Dan tiba-tiba aku tersadar kalau bukan hanya perjalanan
yang mahal, tapi kehidupan pun terasa mahal. Mahal secara ekonomis,
secara politik, dan secara sosial.
***