edisi 59
kamis 10 juli 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

cerpen Nyanyian Hutan Perawan
Imron Supriyadi

Pagi menjelang fajar aku sudah berkemas. Jaket, parang, pisau pinggang, minyak, lampu, korek, botol minum, dan sedikit singkong rebus sudah masuk kedalam ransel. Kuputuskan, pagi itu, aku harus pergi ke hutan. Aku tidak bisa terus menerus hidup dalam perkampungan yang pengab. Suhu udara, suhu politik dan suhu kebudayaan di kampungku tak bisa membuatku tenang lagi. Aku harus pergi!

"Pagi-pagi buta seperti ini kau akan pergi?", tanya Er, yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku.

Er masih pakai telekung. Ia sepertinya baru saja pulang dari surau. Er, adalah salah satu perempuanku dari golongan ningrat yang gagal kunikahi lantaran dulu aku tak mampu membeli kain songket dan membayar maskawin.

"Lebih cepat lebih baik. Sebab sebentar lagi orang kampung akan segera berhambur keluar. Dan aku tak mau dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh mereka. Kujelaskan sedetil apapun, mereka juga tidak akan tahu, kenapa aku harus pergi ke hutan".

Er, masih terpaku.

"Tetaplah hidup dengan suamimu di sini. Tak ada gunanya kau melarangku pergi".
"Lalu bagaimana dengan aku?", sebuah suara muncul dari arah belakang. Tiba-tiba saja Tri muncul menyela pembicaraan aku dan Er.

Tri, adalah perempuan keduaku, yang belum sempat kunikahi, lantaran sampai tahun ini orang tuanya masih bersikeras untuk menyuap seorang pegawai kabupaten agar Tri menjadi PNS. Makanya, aku tetap bertahan untuk menolak menikah, sampai Tri mengharamkan suap.

"Kau tidak sendirian disini, Tri. Banyak orang yang akan melindungimu. Semua akan menjagamu".

"Apa keputusanmu sudah bulat, Nak?", Ibuku ikut muncul tak mau ketingalan melepas kepergianku.

Ibuku, adalah perempuan yang kuangungkan di alam raya ini. Tanpa darah, keringat dan air mata ibu, aku takkan lahir. "Ini sudah menjadi tekadku Bu," jawabku dengan suara lebih pelan dan --aku mendengarnya sendiri-- tak terlalu meyakinkan seperti kepada Er dan Tri.

"Tapi, hutan bukan duniamu?".
"Tidak Tri, semua milik Tuhan. Dan kita berhak hidup dimana kita suka. Di hutan, akan kutemukan kedamaian dan kejujuran. Di hutan, aku akan temukan kesejukan angin yang bersih dari cerobong pabrik, dan telingaku akan lepas dari bisingnya mesin, atau kasak-kusuk aksi suap menyuap dalam suksesi Bupati, Walikota dan Gubernur".

"Kalau hanya itu alasanmu, kenapa kau mesti ke hutan? Apa ini bukanlah sikap kerdilmu, untuk menghindar dari kekalahan?"
"Cukup Tri! Biarkan aku pergi. Jangan seperti orang kampung ini, yang tak mau lagi peduli, bagaimana menempuh perjalanan panjang untuk satu perubahan".

Ketiga perempuan itu hanya terpaku.

"Bu, dan kepada kalian berdua, Tri dan Er, aku pergi. Fajar akan segera tiba. Dan katakan pada ayah, akau akan kembali".

Tepat jam lima pagi, aku sudah keluar dari dusun. Aku tidak akan pusing lagi dengan sapaan basa-basi dari orang-orang dusun. Kalau aku terus berjalan, berarti pada sore nanti, aku sudah sampai di hutan, tempat aku akan bercengkerama dengan alam.


tulisan edisi 59

cerpen Batu-batu Kuburan
Arie MP. Tamba

puisi The discovery of the lost paradise
M Najib Azca

puisi Anak Perempuanku Belum Pulang
Selma W. Hayati

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000

 


Matahari mulai memancar dari ujung timur. Embun yang menempel di dedaunan perlahan mengering. Berapa butir peluh sudah membasahi tubuhku. Entah berapa kali, aku harus menyeka keringat yang mengalir dari pinggir kening.

Sesaat, aku harus berhenti untuk turun minum. Pada sebuah lereng aku berhenti. Beberapa potong singkong rebus sudah masuk dalam perut. Beberapa teguk air, sudah berhasil mengusir rasa haus yang beberapa jam tertahan.


Aku terus melangkah. Tak sesiapa yang kutemui. Sesekali, hanya ocehan burung yang terdengar samar.

Seekor Elang terlihat sedang mengejar induk Pipit. "Wush!", Elang berhasil menyambar burung induk Pipit. Tak ada perlawanan, karena Pipit hanya sendirian. Dan Elang pun melenggang puas. Sementara, beberapa ekor Pipit di sarangnya, pasti masih menunggu induknya pulang membawa makanan. Anak-anak Pipit itu tidak tahu mereka telah kehilangan induknya lantaran seekor Elang, yang lebih kuat sedang ingin memangsa mahluk yang lemah.

Ada keprihatinan yang tiba-tiba melintas. Serangan Elang terhadap induk burung pipit, tak ubahnya seperti kenyataan hidup di kampungku.

Aku ingat Mang Likin, seorang abang becak di kampungku, yang masuk rumah sakit karena dikeroyok lima oknum polisi. Perkaranya sepele, karena becaknya tidak memiliki SIM yang diatur Perda Nomor 39 Tahun 2002. Mang Likin rupanya sudah ditegur beberapa kali tapi tetap tak juga mengurus SIM. Pada suatu malam naas oknum polisi yang merasa dikerjain Mang Likin itu lepas kendali dan memanggil empat temannya untuk memberi pelajaran versi mereka kepada Mang Likin. Begitulah cerita Pak Lurah kepada istri dan anak Mang Likin.

Dan belum sempat sembuh total dari sakitnya, surat tagihan rumah sakit dan denda lima juta rupiah harus ditanggung Mang Likin. Karena tak mampu, terpaksa Mang Likin menebus dengan penjara 3 bulan. Istri dan kedua anaknya, kini harus mencari hidup sendiri, sambil menunggu Mang Likin bebas dari penjara. Kelima polisi yang mengeoroyok Mang Likin masih kulihat lalu lalang seperti biasa di pos polisi.

Aku kembali melangkah. Matahari sudah ada diatas kepala.

Berarti, setengah hari lagi, aku akan segera sampai. Aku akan temukan ketenangan disana. Crus! Crus! Beberapa kali, aku harus memangkas ranting-ranting pohon. Aku percepat langkahku, saat di lembah lereng, mataku menatap aliran sungai. Aku makin bergegas untuk membasahi badan, baying-bayang kesegaran memanggilku buru-buru.

Belum lagi aku sempat mencelupkan tangan ke dalam sungai, kulihat seekor buaya melintas. Aku melompat. Aku tidak ingin mati konyol hanya gara-gara buaya, yang dan berhenti di tengah sungai menyamar menjadi balok kayu. Lama aku duduk di tepi sungai menunggu buaya itu pergi tapi aku merasa matahari sudah bergerak sedikit ke arah Barat dan buaya itu tetap disitu.

Menjelang maghrib, sekelompok rusa muncul dari semak-semak. Mereka bergerombol. Sepertinya mereka hendak minum ke sungai. Aku masih menatap ke arah buaya, yang masih pura-pura diam di tengah sungai. Ratusan rusa yang tak tahu kalau buaya sedang menunggu mangsa.

Byur! Pyak! Pyak! Slep!, gerakan cepat buaya tak diduga oleh rusa. Seekor rusa disantap oleh buaya. Ratusan rusa lainnya lari menjauh dari sungai dan diam berdiri menyaksikan seekor teman mereka dimangsa buaya. Tak ada perlawanan.

Lagi, sebuah kesewenang-wenangan penguasa air memunculkan ketakutan kepada rusa dan juga aku yang ikut terpaku.

Aku terkenang Mak Ijah, tukang jual sayur di pajak sore dekat terminal. Dia menjual kangkung dan tomat dari hasil kebun di halaman belakangnya, jadi bukan kelas pedagang sayur yang punya modal untuk sewa kios. Anaknya lima, dua sudah putus sekolah setamat SD dan yang sulung jadi kenek angkutan kota sedang yang nomor dua kerja tukang parker di Rumah Pemotongan Hewan. Tiga lagi, waktu itu sekitar satu tahun lalu, masih sekolah.

Suatu hari Mak Ijah, yang jualan di atas selembar tikar ditabrak Toyota Land Cruiser yang membanting stir ke kiri karena ada motor yang nyelonong dari arah depan. Mak Ijah terserempet badan mobil bagian belakang dan kakinya patah. Satu bulan Mak Ijah tak bisa kerja menunggu kakinya pulih dan supir Toyota Land Cruiser ngotot tidak mau mengganti uang pengobatan atau uang ganti rugi karena Mak Ijah jualan di bagian jalan raya, bukan di kaki lima.

Polisi membenarkan supir itu -aku dengar-dengar karena supir merasa lebih untung menyogok 100 ribu kepada polisi daripada membayar uang pengobatan dan ganti rugi sebesar 500 ribu.

Setelah Mak Ijah sembuh, dia tak bisa lagi jualan sayur karena halaman belakangnya sudah dijual untuk pengobatan dan biaya hidup selama tidak bekerja. Sekarang ketiga anak Mak Ijah putus sekolah dan membantunya mengangkati beras di pasar.

Aku lihat langit yang mulai malam dan wajah ketiga anak Mak Ijah meliuk-liuk di antara bintang. Tak terasa malam mulai menjelang. Suara binatang sahut-sahutan terdengar. Sementara, mataku sudah berat setelah seharian berjalan tanpa memejamkan mata sedetikpun. Rasa kantuk tak tertahan. Aku terlelap.

Sebuah auman Singa membangunkanku dari tidur. Aku cepat-cepat beringkas. Jangan-jangan, Singa sudah mengintaiku. Aku masuk berlindung ke dalam semak-semak dan mengintip.

Auww! Gludug! Gludug! Auwww! Aku lihat seekor singa tiba-tiba berguling-guling.
Kedua kakinya seperti mengorek-ngorek telinganya. Beberapa kali, Singga itu terguling-guling. Ada sesuatu yang sepertinya sedang ditahan dalam telinganya. Singa itu terguling-guling terus sekian lama tak jauh dari tempatku bersembunyi.

Lambat laun ia melemah dan terguling tanpa daya. Sesaat kemudian, Singa itu tak bergerak lagi dan burung-burung pemangsa bangkai sudah mengitarinya. Aku lempar sepotong kayu ke Singa itu dan tetap tidak ada gerakan. Aku coba mendekat perlahan-lahan. Singa itu masih tetap tak bergerak. Aku makin berani mendekat dan kulihat sebuah luka menganga di lehernya.

Di dalam telinganya jutaan semut merah sedang berpestapora, seakan sedang merayakan
kemenangan. Semut dan burung pemakan bangkai saling berbagi. Raja hutan ini menjadi santapan burung pemakan bangkai setelah dikeroyok jutaan semut merah.

Aku korek-korek benak kenanganku, mencari-cari apakah aku pernah menyaksikannya yang seperti ini di dunia manusia. Sempat terlintas peristiwa Mei 1998, ketika ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, tapi cepat-cepat aku buang jauh-jauh kenangan itu. Aku ragu apakah memang ribuan mahasiswa memang berhasil menjatuhkan seorang raja lalim atau hanya menganti raja lalim yang satu dengan raja lalim yang lain. Entahlah.

Gelap masih menyelubung dan aku duduk tak jauh dari burung bangkai yang bersantap malam. Aku mengenang kembali Mang Likin yang dikeroyok lima polisi, Mak Ijah dan tiga anaknya yang mengangkat beras di pasar, burung Pipit yang disambar Elang, dan rusa yang dimangsa buaya. Aku juga mengenang semut-semut merah di kuping Singa, dan juga di kampungku.

Sinar matahari pagi mulai menyebar di ufuk Timur dan aku beranjak pulang dengan kaki ringan. Rasa lelah tadi malam hilang begitu saja dimakan semangat untuk mengabarkan kepada orang-orang di kampungku tentang semut-semut merah yang perkasa.

Selepas magrib aku memasuki rumahku diam-diam dan ketiga perempuanku terhentak, seperti melihatku bangkit dari liang kubur. Aku melempar senyum bahagia kepada mereka.

"Ibu, Tri dan Kau Er, sampaikan kepada semua perempuan di kampung ini untuk tidak pernah berhenti melawan kesewenangan. Kita lemah jika berdiri sendirian tapi kokoh jika bersatu."

"Tapi kita perlu pemimpin," potong ibuku.
"Ini," kataku menunjuk perut Er yang sebentar lagi melahirkan seorang bayi.

Dari janin-janin yang bersih inilah, kita akan mencapai perubahan," kataku amat yakin. "Aku mau keliling kampung," tambahku memutus keterpanaan mereka. Di benakku terlintas istri Mang Likin di rumahnya berlantai tanah yang sempit, Mak Ijah yang mengumpulkan tumpahan beras di pasar untuk makan malamnya, dan semut-semut kampung lainnya.

Pulang keliling kampung, kutemui tiga perempuanku berdzikir. Aku berjinjit perlahan-lahan, mendengar keinginan ibu agar aku segera menikah. Keyakinanku akan semut-semut merah yang perkasa jadi berkurang sedikit, tapi aku sudah terlalu lelah dan menyelinap ke kamar tidur.
***
Demang Lebar Daun-Palembang, 26 Mei 2003