|
edisi
59 |
ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis |
|
|
sampul |
Di
kampung-kampung di desa tepi sungai itu, adalah pantang menggali tanah.
Maka bila seseorang akan dikuburkan, ia pun akan direbahkan di atas tanah,
dan kemudian ditimbuni dengan batu-batu. Maka mereka kembali mengangkati batu-batu sungai itu ke tengah kampung. Menyusunnya di atas tumpukan batu-batu yang berhasil mereka kumpulkan kemarin dan hari-hari sebelumnya. Mereka bekerja nyaris tanpa suara. Di bawah terik matahari siang yang menghunjam tegak lurus, ubun-ubun dan wajah mereka dibanjiri keringat. Tangan dan kaki mereka, mulai mengeras oleh luka-luka dan hilangnya kepekaan akan rasa sakit. Tangan dan kaki itu, barangkali sudah menyesuaikan diri sedemikian rupa, dengan kerasnya batu-batu yang mereka angkut, maupun tajamnya batu-batu sungai yang mereka injak dengan kaki telanjang ketika menyusuri sungai ke hulu. Sebab di hululah terdapat batu-batu yang cukup besar, yang mereka inginkan. Hari itu, mereka mulai melangkah lamban, dengan beban yang semakin terasa berat di kedua tangan. Tapi belum ada tanda-tanda pekerjaan akan berakhir, atau dihentikan sejenak untuk makan siang. Sang pemimpin rombongan, yang sesekali ikut juga mengangkati batu-batu itu, lebih banyak berdiam diri daripada sebelumnya. Beberapa saat sebelumnya, si pemimpin itu masih senang memberi teguran bila salah seorang pekerjanya mengangkut batu yang agak kecil. Lalu ketika tegurannya dilaksanakan, si pemimpin pun akan melanjutkan dengan pujian. Pujian mana akan melegakan semua pekerja itu. Sang
pemimpin rombongan adalah sang ayah. Dan para pekerja adalah sang istri
bersama ketujuh anaknya, yang berusia enam tahun sampai delapan belas
tahun. Hari itu, masing-masing anak itu kembali menyimpulkan, bahwa ayah
mereka bukanlah pribadi yang menyenangkan. Ayah mereka, sangat berbeda
dari ayah anak-anak lain. Ayah mereka tak mengenal waktu untuk bermain-main.
Ayah mereka lebih senang bekerja daripada berleha-leha di warung seperti
ayah anak lain. Ayah
mereka seperti polisi di jalan raya, yang selalu mengawasi gerak-gerik
mereka setiap saat. Pada hari biasa, misalnya, semuanya tampak menjadi
beban yang berat bagi anak-anak itu, bila sang ayah terbangun dari tidur
siang. Sebab, hanya ketika tidur sianglah ayah mereka itu meluangkan waktu
bagi mereka untuk bermain. Dan waktu usai sekolah yang harus mereka lalui
di rumah, terkadang pun berhasil mereka isi menjadi pengalaman-pengalaman
yang beragam. Tidak semata-mata diisi dengan kerja, dan kerja. Sebagaimana hampir sebulan terakhir ini: mengangkat batu, dan mengangkat batu. Batu-batu itu dipergunakan membangun kuburan. Bukan sekali dua kali, terjadi di desa itu, sebelum seorang tua meninggal dunia, karena tak mau merepotkan orang-orang yang ditinggalkannya, maka si orang tua pun mempersiapkan segalanya. Termasuk mengenali waktu yang tepat, kapan ia akan meninggalkan dunia yang pernah diisinya dengan pengulangan-pengulangan yang menjemukan itu. Dan kali ini, atas permintaan dan pimpinan sang ayah -- sang istri dan ketujuh anak-nya itu pun -- sedang menyusun batu-batu yang akan dipergunakan, tak lama lagi, oleh sang pemimpin, atau sang ayah, sebagai kuburannya. |
|
|
puisi
Anak
Perempuanku Belum Pulang cerpen
Nyanyian
Hutan Perawan novel
Dokter
Zhivago |
||
|
ceritanet |
"Jangan
bergelombang," kata ayah mereka itu suatu ketika. Sang
ayah hanya menoleh sekilas kepada sang istri. Ia segera mengingatkan kepada
si anak yang bertanya tadi. "Ayo, kalian menyingkir dulu," katanya memerintahkan. Lalu ia menaiki dinding kuburan batu itu dengan cepat, dan setelah berdiri sejenak di puncaknya, turun lagi ke bagian dalam. "Ayo, kalian naik dulu, biar kalian lihat bagaimana aku akan merebahkan diri, dan kalian bisa membayangkan kerataan seperti apa yang kuinginkan," lanjutnya dari dalam ruang batu-batu yang kini tinggal terbuka menghadap langit siang itu. Anak-anak
itu pun naik, dan kemudian melihat ke bawah, ke dalam kuburan itu. Dengan
rasa ingin tahu, mereka memandangi ayah mereka itu merebahkan diri di
tengah ruang batu-batu empat persegi panjang yang telah mereka susun itu.
"Lihat, kakiku saja masih terganjal. Ayo, tunda dulu mencari batu untuk penopang kaki. Kalian mundurkan dulu di bagian kaki ini kira-kira dua batu lagi. Aku tak mau mati dengan kaki tertekuk seperti ini. Aku akan capek," kata sang pemimpin itu. Maka hari itu, pekerjaan anak-anak itu dialihkan sejenak untuk memundurkan batu-batu yang menjadi dinding di bagian kaki itu. Sampai kemudian ayah mereka itu merebahkan diri kembali, dan menemukan, bahwa kakinya bisa diselonjorkan dengan bebas. Sang ayah pun tampak tersenyum puas, dan ketujuh anak itu pun diijinkan untuk mandi-mandi di sungai, sambil mencari sebuah batu yang rata untuk penopang kaki, sebelum malam turun. "Jangan berlama-lama, sebentar lagi kita akan makan siang dan makan malam. Dan ini yang terakhir untukku..." Anak-anak itu tak begitu pendengarkan perkataan itu. Mereka telah menghambur pergi. Hanya mencari sebuah batu lagi, adalah pekerjaan yang tidak begitu sukar. Sekalipun perut mereka sangat lapar, tapi membayangkan akan bisa mandi-mandi sepuasnya, dan bermain-main sampai menjelang malam turun -telah membuat perut mereka merasa kenyang. Anak-anak
iitu masih merasa ragu atas apa yang mereka dengar pada malam harinya.
Tapi kemudian sang ayah meminta untuk kedua kalinya, dan kali ini dengan
nada memerintah yang tegas -- agar mereka segera menguburkannya. Anak-anak
itu saling memandang satu sama lain, dan saling menemukan rasa bingung
dan takut di wajah yang lainnya. Lalu, serentak mereka pun menoleh kepada
sang ibu. Tapi anak-anak itu hanya menemukan rasa pedih yang mengerikan
di wajah ibu mereka. "Tidak...,"
terdengar akhirnya bantahan si sulung. "Kalau ayah mau mati sekarang,
matilah sendirian saja. Jangan melibatkan kami -- harus mengubur ayah
hidup-hidup..." Di
bawah penerangan beberapa bintang di langit jauh sana, si ayah tiba-tiba
saja bangkit dari ruang kuburannya. Dan memandang nanap kepada anak-anaknya
yang berdiri di tepi batu-batu berbentuk kuburan itu. "Kalau
kalian tak menguburku, bagaimana aku akan mati -- padahal sekaranglah
waktu kematianku," katanya dengan wajah menyesalkan. "Ayah
mati saja sendiri...kami tak ikut campur!" kembali si sulung membantah,
dan disambut oleh anggukan setuju dari adik-adiknya. "Makanya
kuburkan aku segera!" kini sang ayah menghardik. Saat
itu, sang istri pun ikut naik ke tepi kuburan itu, dan memandang sang
suami dengan perasaan khawatir. "Sudahlah. Mati saja!" katanya
dengan bimbang, dan berusaha berpegangan kepada salah seorang anaknya,
karena ia hampir tergelincir. "Apa ini. Kau pun ikut berbicara yang tidak-tidak. Seolah-olah ini hal baru. Padahal sudah berpuluh-puluh tahun menjadi kebiasaan di semua kampung di desa sini. Ayo, lemparkan batumu...biar kau yang pertama dan anak-anakmu nanti menyusul...," kata sang suami tegas. "Tidak...aku
tak ikut campur..." terdengar sang istri mendesah. Si
bungsu terkejut dan menggeleng cepat. Ia berdiri gemetar, dan hampir terjatuh
ke dalam lubang kuburan itu, kalau tidak segera dipegangi oleh salah seorang
kakak perempuannya. "Lempar!"
hardik sang ayah kepada salah seorang anak perempuannya itu. "Tak tahu adat kalian semua!" teriak sang ayah tiba-tiba. "Ayo, ayo, kalian kembali saja ke rumah. Biar aku mengubur diriku sendiri. Ayo, kembali!" kata sang ayah itu diamuk rasa marah di dada. Lalu tangannya digerakkan seperti ingin mengambil sebutir batu yang cukup besar, dan seolah-olah akan melemparkannya kepada sang istri dan ketujuh anak itu. Maka
sang istri dan ketujuh anak itu pun saling berebut menuruni puncak dinding
kuburan batu itu. Dan selanjutnya, mereka pun saling mendahului berlari
masuk ke dalam rumah. Meninggalkan malam yang hanya diterangi beberapa
bintang itu, menelan ayah mereka di halaman kampung itu. Ketika sang istri dan ketujuh anak itu terbangun esok harinya, dan menemukan sang pemimpin telah mati dengan damai, maka mereka pun takjub. Benar-benar tak ada tanda-tanda ayah mereka itu telah melempari dirinya sendiri, atau mengubur dirinya sendiri. Sang pemimpin menelentang dengan damai menatap langit pagi. Hingga si sulung kemudian turun secara perlahan, dan kemudian menutupkan sepasang mata sang ayah dengan hati-hati. "Sekarang
memang waktu kematiannya. Kita harus menguburnya," kata si sulung
itu ketika telah berdiri di tepi dinding kuburan itu. Maka
hari itu sang pemimpin pun ditimbuni batu-batu sungai di tengah halaman
kampung itu, oleh sang istri dan ketujuh anaknya. Lalu pada hari-hari
selanjutnya, setiap kali anak-anak itu melihat ke arah gundukan kuburan
itu -- mereka tahu pasti, bahwa sang ayah tak pernah pergi jauh. Sang
ayah selalu menemani mereka siang dan malam. Sang pemimpin, seperti polisi
di jalan raya, selalu mengawasi gerak-gerik mereka, dari tempat yang dipilihnya. |
|