edisi 59
kamis 10 juli 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

puisi Anak Perempuanku Belum Pulang
Selma W. Hayati

Anak perempuanku belum pulang
Masih di perbatasan

Menantu tak membawa anak perempuanku pulang:
         Memasak bunga pepaya obat malaria,
         bersembahyang bersama di Motael,
         Mencium pipi dan merengkuhku,
         Menghibur dengan kidung tangis cucuku

Anak perempuanku,
Apakah takut masih mencumbui mesra, laki-lakimu?
Ingatkah rumah batako kita di atas aliran Mantane?
Ingatkah kau akan bau bunga kopi, juga
Lari kuda di tengah ladang jagung di seberang sungai?

Jeruji tembok penjara membangkitkan ketakutan
Ketakutan telah melahap keberanian
Ketakutan menjadi batas
Menggaris nyata antara negeri yang memberinya makan
Dan tanah sang penjajah yang mengajarinya memegang senjata pencabut jiwa

Menantuku, dengarkan keluhku:
Tak akan ada lagi perintah tangkap, tembak, dan bunuh!
Bendera telah berkibar
Kebebasan telah berdentang
Denting lonceng gereja pun tak berlagu kesedihan
Nasi yang seharusnya memberiku badan
Mengering di kerongkongan

          Anak perempuan dan menantuku belum pulang:
          Masih di batas ketakutan dan keberanian!

[London, 3 April 03, dini hari: buat Mama dan Kak Ivo yang akhirnya kembali ke T. Leste]

 

Berkatalah Tjoet Nyak Din

Mestilah kita berteriak
Ketika bendera tak lagi berkibar
Layu…tertunduk, ragu

Bulan sabit enggan muncul
Digantikan kilatan desing peluru
Yang angkuh berbicara, menutup lubang jiwa

Kemana langkah hendak dituju?
Ketika hijau daun, birunya laut
Digantikan merah darah,
Kemana harapan hendak ditanam?
Ketika pekik ayam jago
Digantikan oleh pekik kesakitan
Perempuan malang korban perkosaan

Kabut cerobong asap minyak
Menghitamkan bendera dan bulan sabitku
Dimana tawa riang si buyung,
Dimana gelegar semangat perempuanku,
Dimana anak-anak angkatan mudaku,
Dimana keadilan,
Ketika tebasan senjata membabat habis pasukanku?
Dimana keadilan,
Ketika bom tanpa mata menghujam habis rumah papanku?
Dimana? Ke mana mereka semua?

Kapan kutersenyum,
Mendengarkan obrolan kopi pagi hari,
Wajah-wajah damai Acehku…
Lunglai kuberkata:''teruskan langkah, kibarkan bendera sepenuhnya!''
London, 120503

tulisan edisi 59

cerpen Batu-batu Kuburan
Arie MP. Tamba

puisi The discovery of the lost paradise
M Najib Azca

cerpen Nyanyian Hutan Perawan
Imron Supriyadi

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


ceritanet
©listonpsiregar2000