puisi
Anak
Perempuanku Belum Pulang
Selma
W. Hayati
Anak perempuanku belum pulang
Masih di perbatasan
Menantu tak membawa anak perempuanku
pulang:
Memasak bunga
pepaya obat malaria,
bersembahyang
bersama di Motael,
Mencium pipi
dan merengkuhku,
Menghibur dengan
kidung tangis cucuku
Anak perempuanku,
Apakah takut masih mencumbui mesra, laki-lakimu?
Ingatkah rumah batako kita di atas aliran Mantane?
Ingatkah kau akan bau bunga kopi, juga
Lari kuda di tengah ladang jagung di seberang sungai?
Jeruji tembok penjara membangkitkan ketakutan
Ketakutan telah melahap keberanian
Ketakutan menjadi batas
Menggaris nyata antara negeri yang memberinya makan
Dan tanah sang penjajah yang mengajarinya memegang senjata pencabut
jiwa
Menantuku, dengarkan
keluhku:
Tak akan ada lagi perintah tangkap, tembak, dan bunuh!
Bendera telah berkibar
Kebebasan telah berdentang
Denting lonceng gereja pun tak berlagu kesedihan
Nasi yang seharusnya memberiku badan
Mengering di kerongkongan
Anak perempuan
dan menantuku belum pulang:
Masih
di batas ketakutan dan keberanian!
[London, 3 April 03, dini hari: buat Mama dan Kak
Ivo yang akhirnya kembali ke T. Leste]
Berkatalah
Tjoet Nyak Din