edisi 58
sabtu, 14 juni 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Antipova sudah pulang. Mademoiselle yang memberi tahu pada Yury, menambahkan bahwa ia capek; ia tadi cepat-cepat makan dan naik ke kamarnya dengan berpesan supaya ia tak diganggu, "Tapi datang sajalah, ketuk pintunya," usul mademoiselle.

"Saya yakin ia belum tidur, mana kamarnya?"

Sesudah mengatasi keheranannya. mademoiselle menuturkan kamarnya di ujung gang di bordes tertinggi, melewati beberapa kamar tempat menyimpan semua perabot istri Tumenggung; Yury tak pernah ke situ.

Hari mulai gelap. Di luar, rumah-rumah dan pagar-pagar seolah dekat mendekat dalam magrib. Pohon-pohon keluar dari pedalaman taman, waktu kena sentuh cahaya lampu minyak yang bersinar di jendela-jendela. Hawa gelap dan lengket-lengket. Cahaya lampu yang menyorot ke pekarangan, menetes dari kulit pohon seperti keringat.

Yury berhenti di puncak tangga. Ia merasa bahwa mengetuk pintu Lara, padahal ia baru saja pulang dan letih oleh perjalananya, sudahlah hal yang tak patut dan memalukan. Lebih baik mengundurkan keterangannya sampai besok. Dalam keadaan linglung akibat pergantian pikiran, ia berjalan ke ujung lain dari gang itu, dimana ada jendela yang membuka pandangan atas pekarangan tetangga; ia menjenguk dari situ.

Malam penuh bunyi-bunyi rahasia yang tenang. Di dekatnya di dalam gang ada kran meneteskan air dengan tetesan penuh yang lamban. Di suatu tempat di luar jendela orang berbisik-bisik. Di suatu tempat ditanam sayur, orang menyiram persemaian mentimun; rantai sumur berdancing waktu orang mengangkat air dan menuangkannya dari ember ke ember.

Semua bunga berbau barengan, seolah sepanjang hari tadi bumi pingsan dan kini muali siuman.

Dan dari taman Tumenggung yang umurnya berabad-abad itu dikotori dahan-dahan gugur hingga susah dimasuki, bau harum berdebu dari pohon-pohon lidnen tua yang berkuntum mengalir dalam gelombang besar setinggi rumah.

Bunyi-bunyi keras datang dari jalan di seberang pagar di sebelah kanan --lagu sepotong-potong, prajurit mabuk, pintu-pintu terbanting.

Bulan merah besar terbit di belakang sarang gagak dalam taman Tumenggung. Mula-mula warna-warna pabrik batu bata baru di Zabushino, lalu berobah jadi kuning seperti menara air di Biryuchi.

Dan tepat di bawah jendela mengalun bau jerami yang baru tersabit, kuat bagai bau teh Tiongkok, bercampur dengan bau dari bayang-bayang malam yang mengerikan. Dan ada lembu sedang diikat; lembu itu diambil dari dusun jauh, ia berjalan sehari suntuk; lelah lagi rindu kepada kawan-kawannya dan belum mau menerima makan dari pemilik baru.

"Ayo, he, mau dipukul?" bujuk pemiliknya berbisik-bisik, tapi lembu itu meggeleng kepala dengan marahnya, menjulurkan leher, melenguh secara memilukan; dan di belakang lumbung-lumbung hitam di Melyuzejevo bersinarlah bintang-bintang dan benang-benang simpati tak terlihat bergantungan antara bintang-bintang dan lembu, sekan ada gudang ternak di dunia lain, dimana oran menyayanyi lembu.

Semuanya meradang, tumbuh, membubung oleh ragi hidup. Kegembiraan hidup bagai angin tenang mengalun dalam gelombang pasang sama rata lewat padang dan kota, menembus tembok dan pagar, kayu dan daging,. Agar luput dari arus yan membanjir ini, Yury keluar ke pelataran, untuk mendengarkan pidato-pidato.
***


tulisan edisi 58

esei Separatisme Kaum Ekspatriat
Aboeprijadi Santoso

cerpen Freedom to Move
Sanie B. Kuncoro

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

sajak Senja di Buchenwald
Selma Hayek

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

 

tulisan tamu

Nefertiti di Video Porno
Tony Paterson


Dua Departemen Dikawal
Robert Fisk

 


ceritanet
©listonpsiregar2000