|
tentang
ceritanet
sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku
kirim
tulisan
ikut
mailing list
|
puisi Senja
di Buchenwald
Selma
Hayek
Harusnya Aku tak di
sini,
Termangu di depan gerbang pesakitan.
Jalanan ini terlalu
dingin untuk kulalui,
Menginjak kerikil, nafas mereka yang mati tanpa penghormatan
Namun,
Kubiarkan saja langkahku bergelayut manja, pada:
Angin jahanam yang menerbangkanku:
Membaui sepi,
memeluk sakit,
memaki bau gas
dan
menelanjangi sisa-sisa benda yang pernah bertuan.
Masih ada dedaunan
pinus,
bukan Maple,
bukan pohon-pohon karet,
Cantik, menyuarakan musik perdamaian,
Mengantar pesakitan ke langit jingga: kematian.
Bukan Bach,
yang terbaring nyaman dipeluk mozaik tua dan malaikat di tengah kota.
Pinus,
Bukan Maple, bukan karet, dan bukan Bach.
'Disini, telah dikuburkan:
rasa kemanusiaan'
Hanya deretan kata itu saja yang mampu kutinggalkan.
Buchenwald, Mei 96
Menggambar
Tanpa Hujan
Kertas lusuh tak lagi
putih,
Pena mencoret tak sempurna
Kiri, kanan, kemudian melingkar,
Menggaris lengkung, tak lurus:
Berulang-ulang
Terulang-ulang
Diulang-ulang
Pena diam tak bergerak,
tanpa sang Hujan
Terpuruk menabur hijau bau akar rumput
Tak mampu mensejajarkan bintang malam,
di pahatan langit.
Penaku:
Membiarkan batu berserak, bisu
Menali pasir, terkumpul, diam
Tak peduli tanah kering tanpa bau Hujan
Tak memberi nafas perahu kayu, tanpa rasa.
Sepi
Sunyi
Kering
Hampa
Abu-abu,
Bukan biru, tak ada hijau, apalagi merah.
Penaku:
Jatuh,
Patah,
Membatu
Tanpa rasa:
Kering.
Hujan tak lagi memeluk
penaku, pergi
Berkemas, pergilah sudah
Menggenggam masa, yang pernah pertemukan nafas kita
Memeluk mimpi yang pernah kita gambar, tetap peluklah
Biarkan penaku patah,
Berhenti menggambar
Tak mengkaitkan kata-kata
Tak mewarna jalan dan tanah.
Penaku,
Aku,
Patah
London,
06-02-2003
|