edisi 58
sabtu 14 juni 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Aku Mangin dan Suatu Malam

Tak banyak yang kenal Mangin sekenal aku mengenal dia. Aku paham bahkan hari ke hari kehidupannya. Bukan lantaran aku dipercayanya membaca catatan hariannya. Akulah juga seorang buku hariannya pula. Pun setiap kali ada kejadian menarik menurut dia, menyentuh baginya, menyenangkan untuknya, sekalipun menyakitkan hatinya.

Aku tahu, dari diskusi, obrolan maupun keluh kesahnya setiap hari pada setiap perbalah-bantahan kami. Kadang aku tak mengerti mengapa dia lebih memilih sebagai pejalan yang sendirian. Dalam kehidupan sederhana pun, misalnya. Tak sekali dia menunggu atau meminta untuk ditemani atau membarangi siapapun, ke pasar, ke kampus, atau ke mana saja.

Dia bisa pergi sendiri tanpa sesiapa.

Sesungguhnya, dibalik kedekatan kami, aku berbeda jauh dengan dengan dia. Dia menyukai dunia jurnalistik. Sekalipun hanya memiliki sedikit ketekunan dan pembosan. Dia menyukai bentuk-bentuk pengkhabaran secara langsung tentang apa saja yang dia temui. Sementara aku lebih suka melebur diri dalam dunia sastra. Sekalipun bukan lantaran ucapan Seno Gumira Ajidarma bahwa sastra tetap bisa berbicara ketika jurnalistik dibungkam.

Tapi beruntung aku, kadang dia mengajakku terlibat dalam kegiatannya mencari berita. Dan seluruh dokumen di komputernya dihalalkan untukku sortir, kutip, bahkan dibajak untuk memperkaya bahan penulisan karya sastraku.

Mangin terlalu malas untuk mengerjakan itu. Banyak sekali cerita pendek dia yang hanya selesai hanya sampai permulaan. Tak selesai.

Kami dulunya sama-sama pendaki gunung. Sama-sama penyuka Balada Si Roy, sama-sama penyuka Winetou. Tapi dia menemukan bentuk petualangan lain, ke kampung-kampung, ke pinggir kota, dll. Dan setiap kali kuajak ke gunung, dia selalu menolak kalau hanya untuk mendaki gunung. Dia tak bersedia ikut jika memanjat tebing hanya untuk memanjat tebing.

Perjalanan yang semata perjalanan bukanlahperjalanan
(Sumber; In Memoriam; Sajak AMM)

Entah berapa lama aku telah mengenal dia, aku sendiri tak pernah terpikir untuk mengkalkulasikan berapa umur pertemanan kami, berapa batang kretek yang telah kami habiskan dalam diskusi sejak kami belajar merokok bersama ketika di bangku kuliah.

Banyak yang bilang kami sangat akur dan cocok. Apakah karena kami lahir di bawah rasi bintang yang sama? Dia sama sekali jauh dari kesan sempurna. Malas merawat diri, sungkan mandi, susah makan, dan kuat merokok.

Tapi selalu punya alasan pembenar, "Acun, aku beritahu padamu. Bahwa setiap mahluk adalah indah. Karena keindahan adalah ketidaksempurnaan."

Dia dan aku selalu terlibat dalam perbalah-bantahan alot setiap menjelang tidur mulai dari setelah bangun dan memulai aktivitas. Kadang aku tak sanggup mengikuti pola hidup seperti ini. Kadang aku ingin lari, jauh.

Memulai kehidupan yang sepi sebagai penulis. Ya, se-realis apapun, ketika di keramaian pun, penulis serta merta masuk ke kehidupan yang sepi ketika dia memindahkan perenungannya ke deretan abjad di atas kertas. Hieroglyph di atas batu, tapak tangan di gua gelap, surat ulu di kulit kayu, atau hijaiyah.

Suatu malam aku terpaksa meminta permaklumannya untuk lelap lebih dulu. Dia tetap saja berkeluh kesah padaku, seorang buku hariannya. "Shit!"

Menjadi pertanyaan,... mengapa aku suka, aku harus berani mengatakan padamu bahwa... aku men.... tak berani masih.

Itulah, makanya cocok kau sebut aku dengan kata PECUNDANG. Tapi kadang aku merasa bahwa setiap kita harus berani mencintai, sama halnya dengan untuk melakukan pembangkangan (terhadap) nilai-nilai yang menindas. Sangat yakin aku dengan persetubuhan mutlak antara pembangkangan, pemberontakan, revolusi dengan cinta.

Dalam dialog imajiner dengan Paulo Praire bahwa revolusi adalah mencintai, Che melakukan revolusi dengan cinta kepada nilai-nilai pembebasan, Muhammad melakukan revolusi di zaman jahiliyah juga dengan mencintai umat manusia.

Kuinginkan pun demikian engkau; mulailah melakukan pembangkangan seperti yang kita diskusikan selama ini di kantin Kang Leman dengan secangkir kopi, lakukanlah, lakukanlah saja dengan semangat bahwa kau mencintai kehidupan yang terbebaskan.
(Sumber; TentanG Pembangkangan dan Mencintai, renungan AMM)

Dalam keterpejamanku kudengar dia berdeklamasi. Seperti biasa, tak pernah malamku tak diganggu keluhannya tentang bayangan, Dinda. Makanya kadang aku lebih memilih pergi. "Lagi-lagi, Dinda!" Aku memaki.

Dia tetap melanjutkan ceritanya.

"Shit! Slamat malam!" Aku memotong. Kadang kupikirkan tentang sebuah kamar baru yang bebas dari persoalan-persoalan yang selalu harus kusantap sebelum terlelap seperti ini. Ku rindukan nenek yang suka menceritakan Langedipa, Jelihim, Rumasalit, Kude Irang, Kancil, Pandir atau apa saja.

"Acun, menurutmu bagaimana puisi yang kutulis ini?" Dia mengajukan selembar kertas buram.
"Diamlah, Jangkrik!"

Dia tetap saja merayu. Tiba-tiba saja aku merasa sangat kesal terhadapnya. Kalau saja kami menyimpan obat tidur sudah kuracuni dia sampai tidak bangun seribu tahun. Dan aku maupun dia tak pernah menyimpan apalagi memakai racun serangga cair. Mataku menjelajah kamar tidur, yang tak pernah rapi gara-gara dia menaruh segala macam kertas, kaos kaki, sendal, poster, gitar putus senar, kardus bekas, sembarangan.

"Besok kita rapikan, kamar."

Tumpukan pakaian kotor di atas meja belajarku di sudut dekat jendela. Dan mataku berhenti ketika melihat cernmantel satu gulung di gantung di dekat jendela. Kucekik kau, Sapi! Kugantung kau, aku teringat the algojo dalam from dust till down.

"Cun,...."

Tiba-tiba saja kubalikkan tubuh ke arah suaranya. Dia membelakangiku. Memandangi kertas di tangannya. Dalam hitungan detik jab dan hook kiri kananku menabrak belakang kepalanya. Tubuhnya limbung.

"Good night, my friend!" Aku langsung menjatuhkan diri kembali ke kasur. Tanpa merekam detik-detik kejatuhan dia ke karpet.

Mudah-mudahan dia pingsan.
*** tamat


tulisan edisi 58
esei Separatisme Kaum Ekspatriat
Aboeprijadi Santoso

komentar Freedom to Move
Sanie B. Kuncoro

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

sajak Senja di Buchenwald
Selma Hayek

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


tulisan tamu

Nefertiti di Video Porno
Tony Paterson

Dua Departemen Dikawal
Robert Fisk

ceritanet
©listonpsiregar2000