edisi 58
sabtu, 14 juni 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Sigap menerima komando, Jagger mengikuti kawan-kawan barunya ke bawah, ke lantai dua restoran itu. Jadi rupanya Iwan ini anak rakyat biasa, dan sukses di London hanya bermodal keberanian belaka.

Keberanian apa? Keberanian memainkan kontol? Hebat juga dia, Jagger mengakui dalam hati. Dan sekarang, apa pula ajakan memainkan biji peler ini? Akan ada acara umbar-mengumbar berahi? OK! Pikir Jagger, waktunya tiba untuk rock 'n ' roll!

Bangku dan meja ruangan itu semua dipinggirkan ke dinding dan di ruangan lantai yang terbentuk di tengah, orang berjoged. Hampir semuanya perempuan, dan sebagian besar berkulit hitam. Mereka berjoget mengikuti dentam irama house music yang bedegum-degum dengan petikan bass yang rapat.

Perempuan-perempuan berkulit hitam dengan buah dada dan pantat padat berisi, menggerak-gerakkan pinggul mirip dengan penyanyi dangdut seronok di kampung halaman. Satu-satu kawan Jagger bergoyang memasuki arena dan mendapatkan lawan berjoget.

Jagger pun mengikuti. Biarpun dia belum pernah berjoged dengan music degam dentum seperti ini, dia menikmati juga. Larut dalam berahi pesta dia mengangkat kedua tangannya dan beringsut berirama sambil menggeleng-gelengkan kepala memasuki arena. Seorang perempuan berkulit hitam menarik pinggulnya dan tanpa pendahuluan menggosok-gosok kemaluannya dengan tangannya yang satu. Mungkin karena pengaruh kokain di dalam darah yang merangsang syaraf-syarafnya, Jagger dengan gampang mengikuti, mengimbangi. Jadi ini dia ngentot gratis yang diceritakan oleh Iwan Medan tadi, pikirnya.

Musik semakin panas, dentam bass semakin terasa berdetak dalam nadi Jagger.

Kemaluannya menegang. Kawan berjogednya meremas-remas kemaluan yang menegang di balik celana kulitnya dan dengan tangannya yang lain, yang tadi memegangi pinggul Jagger, dia mencengkeram tengkuk dan merapatkan muka Jagger ke mukanya, lalu dengan penuh gairah menempelkan bibir pada bibir Jagger.

Dengan nafsu dia mengeksplorasi bibir dower Jagger dengan bibirnya sendiri yang juga tak kalah dowernya. Pikiran Jagger melayang kepada Elaine dan Sanca, dan semacam perasaan bersalah merayapi tubuhnya. Kemaluannya yang semula tegang mengkayu melembek kembali.

Serta merta pasangan berahi yang masih bernafsu mencipok itu mendorong, melepas gamitan bibir dowernya. Ia dekatkan mulut ke telinga Jagger dan dengan teriak dia bertanya:

"What's wrong, man? You don't like your woman hot, man?"

Jagger pura-pura tak mendengar, pura-pura larut di dalam musik, pura-pura masih senafsu saat pertama kemaluannya diraba. Tetapi Elaine dan Sanca tetap berada di pikirannya. Apakah ini pengaruh kokain, pikirnya. Kenapa dulu dia enteng saja bercinta dengan beberapa nanny yang ditemuinya di Holland Park saat momong Sanca? Kenapa sekarang dia lembek bagai agar-agar kebanyakan air? Malu karena penisnya kurang heroik, dia usahakan membuang pikiran tentang anak dan istri di rumah. Dibayangkan dengan sengaja adegan-adegan yang merangsang birahi.

Berhasil, tak lama kemudian dia ngaceng lagi. Pasangan joget Jagger gembira dengan kehidupan di balik celana kulit Cibaduyut itu.

"You ever fucked a black woman, man?"
"No!" Jagger balas berteriak mengatasi musik.
"Would you like to fuck a black woman, man?"
"Yes!" jawab Jagger dengan kemantapan sapi pejantan yang tak hendak mengecewakan.
"Once you fuck a black woman you will never want a white girl again. You have a woman, man?"
"No. I am single", jawab Jagger, berbohong.

Tak lama kemudian Jagger mengikuti tarikan tangan pasangan jogednya ke atas, menuju ke ruangan kantor Mawar Medan. Dengan sigap perempuan itu menutup pintu dan memelorotkan celana Jagger. Kemaluannya yang tegang mengangguk-angguk menyambut.

"You got a condom, man?"
"Condom?"
"Yeah, no way you gonna fuck me without a condom, man!"
"No, I no have condom. You like condom?"
"No way we fuck without a condom, man!"
"Ah, uh. Let me find a condom. You wait here."

Jagger keluar dari pintu kantor dan menuju ke lantai dua Mawar Medan. Dengan tergesa di menghampiri Iwan yang sedang berjoged bersama dengan seorang perempuan berkulit hitam bertubuh montok semampai.

"Wan, Wan, gue bagi kondom, dong!"
"Wah, cepet juga lu dapet gaetan", teriak Iwan mengatasi deru musik.
"Iya, nih, tolong dong, cewek gue nggak mau kalau nggak ada kondom."
"Wah, lu, udah ngentot gratis, modal kondom saja gak mau. Coba tanya Mamat!"

Mamat juga sedang berjoged dengan satu dari dua perempuan berkulit putih yang ada di Mawar Medan itu. Kembali Jagger berteriak minta bantuan pinjaman kondom.

"Elu, kondom masa minjem. Minta dong!" kata Mamat.
"Iya, iya, minta dong, satu saja", teriak Jagger.
"Kagak ada gue, cuman satu, mau gue pake sendiri."
"Jadi gimana dong!"
"Lu pake cling-film aja!" jawab Mamat memberi ide, "ambil saja di pantry, tuh di balik pintu item itu."

Jagger melangkah tegap menuju pintu yang ditunjuk oleh Mamat, membukanya dan mendapati ruangan besar yang penuh dengan rak-rak berisi berbagai macam bahan makanan kering dan kaleng. Cahaya siang yang redup berawan masuk melalui satu jendela kaca kecil.

Mata Jagger meneliti rak-rak itu dan mendapatkan beberapa gulung cling-film di dekat gulungan aluminium foil. Dia mengambil segulung dan menyelipkannya di punggung seperti seorang abdi dalem keraton Jogja menyelipkan keris.

Bergegas dia keluar, menutup pintu di belakangnya dan naik ke ruangan kantor lagi. Di kantor didapati perempuan berkulit hitam itu sudah telanjang bulat kecuali sepatunya, terlentang di atas sofa. Kaki mengangkang, mata terpejam, tangan dan jari-jari kiri memainkan kemaluannya yang melekek seperti kue bikan.

Nafsu Jagger tak terbendung lagi. Mendengar pintu di buka, perempuan yang tidak diketahui namanya itu makin gencar bermasturbasi, dan bertanya mendesah:

"You got yourself a condom, man?"
"Yes.Yes", jawab Jagger, menipu.
"Ah, then come on, fuck me. Fuck me now", desau perempuan itu lagi.

Tanpa banyak cingcong Jagger memelorotkan celana kulitnya dan bersimpuh di ujung sofa. Dengan satu tangan dia meraba-raba paha gadis itu. Kulitnya tak sehalus dibayangkan tetapi apa boleh buat. Semula Jagger hendak merangsang gadis itu secara oral namun ketika didekatkan mulut dowerenya ke selangkangan perempuan itu, aroma tengik membuat dia membatalkan rencana.

Dengan satu tangan diikuti jari-jari perempuan yang bermasturbasi itu, dan tangan lain menyobek sepotong cling-film dari gulungannya. Gadis itu merem-merem tak perhatikan yang diperbuat pejantannya. Sulit mendapatkan selembar cling film dengan hanya menggunakan satu tangan yang disembunyikan di balik sofa, namun Jagger berhasil juga.

Serta merta ia putar pinggul gadis itu agar dia nungging dan tidak melihat dia memasang cling film pengganti kondom pada penisnya yang tegang. Perempuan itu menurut, berbalik dan nungging. Jagger menggunakan kesempatan itu untuk membalut kemaluannya dengan cling film yang telah disobeknya selembar. Bagian ujung plastik yang lengket itu dia tekuk agar seluruh penisnya terbungkus. Tidak rapi memang, dan sama sekali jauh dari kehalusan sebuah kondom, tetapi, sebagai alat darurat, bolehlah, pikir Jagger.

"Fuck me. Fuck me now, man" lagi-lagi gadis itu merintih.

Jagger membulatkan tekad. Dan seperti selalu dilakukan setiap bersenggama, secara sadar tak sadar, dia menyebut nama Tuhan sebelum memepetkan kemaluan berbungkus plastik miliknya pada gadis yang tidak dikenalnya itu. Dengan perlahan tetapi pasti ia menekan pinggul, dan masuklah seluruh penis dan bebatan cling film ke dalam badan gadis yang nungging itu.

Gadis itu meronta kesakitan. Cling film yang dibebatkan pada penis Jagger menggores dan melukai bagian tubuhnya yang sensitif dan lembut. Serta merta ia membalik dan mendorong Jagger hingga tercabut kemaluannya, meninggalkan selembar kusut cling film di vaginanya, sebagian ujung cling film itu terlihat di luar. Sambil berteriak-teriak marah dan sakit gadis itu mencabut sisa plastik yang masih di dalam, dan melemparkannya pada muka Jagger yang merah karena malu.

"Shit, man! This is cling film, man! You're a fuck-wit, stupid, idiot, man!"

Perempuan itu tak puas hanya memaki-maki, sambil memasangkan rok dan bluesnya dengan tergesa, dia jambak rambut Jagger yang panjang dan terus dia memaki-maki.

"What do you think I am, man? You're sick, man!"

Setelah rok dan blues terpasang, tak puas dia hanya menjambak. Tangannya yang satu mulai meninju dan menampari muka Jagger dengan beringas. Satu bogem keturunan Afrika menyasar di bibir Jagger yang dower dan pecahlah bibirnya itu. Darah segar mengalir.

"Ugh, you're disgusting, man!"

Jagger tak berkutik. Gadis yang tak dikenalnya itu menampar mukanya sekali lagi dan berbalik, membanting pintu kantor dan keluar. Jagger termangu sendirian, membetulkan celananya lalu menyusul ke bawah. Di kembalikan sisa cling film ke pantry, lalu dia duduk di sudut, malu, mengamati semua yang
masih berjoget. Gadis yang tak sempat diketahui namanya itu sudah tidak ada. Ingin dia sekali lagi menghirup kokain, tetapi tak ada yang menawarkan.
*
** bersambung

tulisan edisi 58
esei Separatisme Kaum Ekspatriat
Aboeprijadi Santoso

koemntar Freedom to Move
Sanie B. Kuncoro

sajak Senja di Buchenwald
Selma Hayek

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


tulisan tamu

Nefertiti di Video Porno

Tony Paterson

Dua Departemen Dikawal
Robert Fisk


ceritanet
©listonpsiregar2000