edisi 58
sabtu, 14 juni 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

esei Separatisme Kaum Ekspatriat
Aboeprijadi Santoso

Awalnya dari Takengon, Aceh Tengah. Meski pun saat upaya damai RI-GAM pertama kali diteken, Mei 2000, Wakil RI Hassan Wirayudha berharap "ini awal perjalanan 100 langkah" dan kemudian tercapai pakta yang lebih mantap (CoHA Desember 2002), namun belum lagi "100 langkah", awal Maret 2003, ratusan milisi sudah digerakkan dari Takengon.

Sejak itu, tim monitor internasional hengkang dan proses damai merosot. Setiap jeda dan gencatan, kedua pihak melanggarnya. Tapi kali ini persiapan perang dan ultimatum Jakarta membuat babak final di Tokyo sia sia, sementara pihak GAM sudah mau meninggalkan perjuangan bersenjata, tapi tak mau eksplisit menerima otonomi. Yang terakhir inilah yang menjadi break point di Tokyo. Walhasil, Tokyo menjadi unjuk "good will" di muka para donor ketika proses damai di lapangan sudah buyar.

Fait d'accompli militer memblokir solusi damai. Ini bukan barang baru. Amerika juga begitu dalam soal Irak, dan dalam kasus Timor Timur, itu juga terjadi. Ketika Menlu Adam Malik, kepada J. Ramos-Horta, pertengahan 1974, mengakui sepenuhnya hak penentuan nasib sendiri bagi Tim-Tim, Opsus-nya Jendral Ali Moertopo sudah menyiapkan agresi. Ujung-ujungnya, kita terjebak rawa-rawa Tim-Tim selama 24 tahun.

Aceh adalah sebuah kisah panjang yang pasang surut dengan tiga kecenderungan: loyal, diam atau tiarap, dan berontak. Ketika kawasan guncang atau dominasi pusat redup, Aceh akan berontak demi Aceh.

Akhir abad ke XIX, ketika Inggris dan Belanda berrebut Selat Malaka, Aceh bergolak. Atjeh Oorlog (Perang Aceh 1873-1913) yang memerangi Kesultanan Aceh menjadi perang terpanjang Belanda, yang resminya tak berkesudahan karena Aceh menggabung ke dalam perjuangan RI. Saat republik muda ini lemah, Aceh berontak di bawah Daud Beureueh. Tetapi di puncak kejayaan Orde Baru, 1980an, Aceh kembali loyal, GAM (lahir 1976) tiarap dan gubernurnya mengundang Daerah Operasi Militer, DOM.

James Siegel dalam "The Rope of God" (1969) melukiskan Aceh sepanjang 1950-60an sebagai dinamika kaum ulama ketika "Tali Ilahi" menjadi panutan ummat. Tetapi tiga dasawarsa Orde Baru - peluang pendidikan yang meningkat, minyak, gas bumi dan ganja yang memikat, terutama tragedi perang kotor DOM - mengubah hampir segalanya. Walhasil, ketika Soeharto mundur dan momentum baru bergulir di Aceh, para korban DOM jadi gerilyawan dan Inong Balee (gerilyawati), dan GAM jebolan Libia pulang. Berkat DOM-nya tentara, maka reformasi dan eksodus-mudik kedua (yang pertama tahun 1989) itu menggoyang bandul Aceh dan GAM maju pesat.

Namun GAM, sebagai gerakan, juga aneh. Tahun 1980an, bos GAM Teungku Hassan Mohammad di Tiro sering tampil di UNPO (semacam "PBB" bagi negeri-negeri yang tak bernegara) di Den Haag, Belanda. Ketika saya temui, April 1989, dia pamerkan foto-foto latihan kemiliteran GAM di Libia, tetapi di dalam kampanyenya, tak ada seruan melawan penindasan sebagai lazimnya gerakan perjuangan. Perang melawan "neo-kolonialisme Indonesia-Jawa" baginya adalah "perang kemerdekaan Bangsa Atjeh. Titik!"

Lebih janggal lagi, GAM yang mestinya membutuhkan dukungan rakyat malah memeras ("mengutip" istilahnya) rakyat - tak beda dengan oknum aparat RI. Singkatnya, legitimasi GAM bertumpu pada nasionalisme-ethnik belaka.

Hassan di Tiro adalah seorang yang keras, konsekuen, tapi rigid. Kepeloporannya yang tegar dan panjang membuat dirinya memiliki legitimasi yang lengkap. Tetapi sejak kena stroke tiga tahun lalu, GAM di pengasingan pecah seputar isu suksesi dan pimpinan jatuh ke tangan Malik Mahmud dan Zaini Abdullah. Pada usia H. di Tiro 78 tahun, GAM bisa terancam krisis kepemimpinan. Pasalnya, siapa yang tersisa dari mereka yang pernah dilantik jadi "Mantri Kabinet GAM" di Gunung Halimun pada 1976?

Sebagian sudah tiada, cuma H. di Tiro di dalam kelompoknya, dan sisanya di dalam sempalan GAM (MP- GAM Eropa) pimpinan Husaini Hassan, juga di Noborsk, Swedia. Pasca CoHA kedua kubu mendekat, tapi pasca Tokyo, bisa bercerai lagi.

Soal legitimasi ekspatriat GAM ini penting sebab GAM mendefinisikan diri bukan sebagai gerakan, melainkan "negara". Dalam konferensi antar masyarakat Aceh dari Belanda, Jerman, Skandinavia di Stavanger, Norwegia, Juli 2002, diumumkan: kepemimpinan GAM beralih ke Malik Mahmud, GAM resmi menjadi "Neugara Atjeh" dan tentara AGAM jadi TNA, "Tentara Neugara Atjeh".

Jadi, kalau di Asia Afrika banyak gerakan rakyat memimpin negara baru ketika menang, yang terjadi pada GAM persis kebalikannya: sebuah gerakan di pengasingan sudah menjadi "negara" kaum ekspatriat, sebelum menang, dalam rangka "memulihkan" suatu negara lama (Kesultanan) di bumi patria kelak.

Dengan kata lain, GAM adalah gerakan regresif - bukan gerakan perjuangan progresif - karena berpaku pada masa lampau untuk mematokkan sebuah ilusi dan citra dari masa tsb di masa depan.

Nah, masalahnya, ketika ruang demokratik perlu menjadi solusi bagi Aceh, bagaimana GAM yang - qua negara - menolak jadi partaipolitik (ini pernah ditegaskan oleh Zaini Abdullah) secara demokratik bisa diajak ikut menentukan nasib Aceh? Inilah problim gerakan regresif di rantau jika tak (mau?) berpadu dengan generasi baru civil society di Aceh.

"Take the guns out of politics" adalah inti konsensus antara RI, GAM, empat bijak bestari di balik Henry Dunant Center dan para donor internasional yang melandasi Perjanjian CoHA. Pesan itu masih, dan hanya, akan berharga sebagai kunci solusi damai jika TNI bersedia menghentikan perang, GAM mau menjadi partai politik dan ada sanksi di tangan mediator yang berwibawa. Kekerasan militer tak akan membawa solusi - begitu juga "negara" yang sudah dipatri sebelum kontes yang demokratik.
***

tulisan edisi 58

koemntar
Freedom to Move
Sanie B. Kuncoro

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

sajak Senja di Buchenwald
Selma Hayek

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


tulisan tamu

Nefertiti di Video Porno
Tony Paterson

Dua Departemen Dikawal
Robert Fisk


ceritanet
©listonpsiregar2000