edisi 57
jumat, 18 april 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Yury sedang keliling ke kantor-kantor dimana ia perlu minta ijin dan prioritas untuk kepulangannya ke Moskow pun untuk menemui para sahabat dan kenalannya, guna pamit.

Waktu itu komisaris muda yang baru diangkat untuk sektor setempat di medan perang tinggal beberapa hari di Melyuzeyevo dalam perjalananya ke tentara. Kabarnya ia masih remaja betul.

Pengangkatanya berhubungan dengan kegiatan baru di medan perang. Tentara bersiap-siap hendak menyerang dan orang berusaha sedapat-dapatnya untuk melenyapkan kelesuan para prajurit serta mengokohkan disiplin. Orang mendirikan mahkamah-mahkamah perang revolusioner dan hukuman mati yang baru-baru ini dibatalkan, telah dipulihkan kembali.

Salah satu tanda-tangan yang diperlukan Yury untuk kertas-kertasnya ialah tanda tangan walikota setempat. Biasanya orang tak dapat mendekati kantornya. Antrian memanjang separoh jalanan dan di kantorpun begitu riuh, hingga orang tak dapat dengar apa-apa.

Tapi hari ini bukan hari penerimaan tamu. Para perakit duduk berdiam diri dalam kantor tenang itu, tak puas karena pekerjaan makin rumit, dan mereka bertukaran pandangan yang ironis. Dari kamar walikota terdengar suara-suara gembira; di situ seolah ada orang-orang yang melepaskan baju, lagi minum minum.

Galiulin keluar dari kamar itu, melihat Yury, lantas melamabai padanya dengan gerak-gerik seluruh badannya yang berlebih-lebihan, nyaris merangkak, seolah hendak meluncur untuk perlombaan berlari.

Lantaran perlu sekali ketemu dengan walikota, Yurypun masuk, Dilihatnya kamar dalam keadaan kacau yang patut dilukis.

Pusat perhatian ialah komisaris baru, pahlawan hari itu dan buah bibir di kota, yang mestinya pergi ke posnya, tapi kini sibuk bicara dengan para penguasa kerajaan kertas ini, terlepas semata-mata dari soal-soal staf dan operasi.

"Ha, inilah bintang kita juga," kata walikota, memperkenalkan Yury. Komisari yang hanya sibuk dengan diri sendiri itu tak melihat keliling dan walikota yang hanya berpaling untuk menanda-tangani kertas-kertas yang oleh Yury diletakkan di depannya untuk mengisyaratkan dengan sopan agar Yury duduk di atas puf yang rendah, diapun mengambil sikapnya seperti tadinya, penuh minat yang terpesona.

Yurypun duduk. Ia satu-satunya orang di kamar yang duduk selayak mahluk insani. Lainnya berlendehan secara ajaib dengan rasa nyaman yang berlebih-lebihan dan dbikin-bikin. Walikota hampir terbaring kelesenarnya, bertopang pipi dengan sikap berpikir seperti Byron. Pembantunya, seorang gendut yang padat, bertengger di lengan dipan, kakinya terlipat di atas tempat duduk, seolah naik pelana dengan menghadap ke samping. Galiulin duduk menjangkangi kursi, mendekap sandaran, kepalanya menekur ke lengannya; sedangkan komisaris itu selalu mengangkat diri dengan kedua belah pergelanganya ke daun jendela, lantas meloncat dari situ, mundar-mandir di kamar dengan langkah kecil serba cepat, menggerantang bagai mesin penggilingan sesaatpun tak berhenti atau diam. Ia omong tak habis-habis; pokok pembicaraan ialah masalah kaum disertir di Biryuchi.

Komisaris itu tepat seperti yang digambarkan orang kepada Yury; kurus dan manis, anak muda yang baru keluar dari sekolah berapi-api bagai lilin oleh cita-citanya. Konon ia berasal dari keluarga baik-baik (anak senator, menurut dugaan) dan salah seorang yang pertama-tama membawa resimennya ke Duma dalam Bulan Februari. Namanya Gintz atau Gintze --Yuri tak mendengarnya betul-betul-- dan bicaranya sangat jelas, dengan logat Petersburg serta intonasi Baltik sedikit.

Ia memakai tunika yang ketat. Agaknya ia malu sebab semuda itu, agar nampak lebih tua, air mukanya dibuatnya sarkartis dan ia pura-pura bungkuk dengan melentikkan pundak yang berepolet kaku itu dan tangannya selalu masuk kantong; hal ini sebenarnya menggubah padanya silhuet bergaya dari seorang penungang kuda, dapat digambar dengan dua garis lurus yang bertemu ke bawah dari sudut pundaknya sampai kaki.

"Ada satu resimen Kosak ditempatkan dekat rel," demikian keterangan walikota kepadanya. "Merah, loyal. Akan diperintahkan keluar; pemberontak-pemberontak akan dikepung dan dihabisi. Komandan pasukan ingin sekali mereka dilucuti tanpa bertangguh."


tulisan edisi 57

komentar Pertanyan tentang Irak
Liston Siregar

erpen Mayat yang Pertama
Ikun Eska

esei Manusia dan Perang Irak
Rezki S. Wibowo

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

tulisan tamu

Dua Departemen Dikawal
Robert Fisk

Balik ke Laboratorium
Nadine Gordimer

ceritanet
©listonpsiregar2000

 

"Kosak! Sama sekali jangan," bentak komisaris. "Ini bukan tahun 1905. Bukan waktunya untuk nengenangkan sejarah. Pendirian kami bertentangan semata-mata dengan itu. Jenderal-jenderal kamu hendak menjadi terlalu pandai."

"Belum terjadi apa-apa. Ini baru rencana, saran."

"Kami sepakat dengan Komando Tertinggi, tak akan campur tangan dalam perintah-perintah operasional. Saya bukannya membatalkan perintah untuk menggerakkan tentara Kosak. Biar mereka datang. Tapi akan kuambil tindakan menurut otak sehat. Saya kira ada bivak mereka di sana?"

"Ya. Sekurang-kurangnya ada perkemahan. Perkemahan bersenjata."

"Bagus. Saya mau ke situ. Tunjukkan pada saya tantangan ini, serang perampok ini. Mereka betul-betul pemberontak, tuan-tuan bahkan desertir, tapi ingatlah mereka rakyat. Dan rakyat seperti kanak-kanak, kita harus kenal mereka, harus tahu jiwa mereka. Agar mereka berbuat sebaik-baiknya, kita harus mendekati dengan cara secepat-cepatnya, kita harus mengharukan, menggerakkan hati mereka. Saya akan pergi dan bicara dari hati ke hati; akan kamu saksikan mereka nanti kembali ke posisi yang mereka tinggalkan dan sama nilainya dengan emas itu. Tak percaya? Mau mempertaruhkan apa?"

"Saya heran. Semoga Tuhan membenarkan kamu."

"Akan saya katakan pada mereka; Ambil misalnya soal saja. Saya anak tunggal, harapan satu-satunya orang tua saya, namun saya pasrahkan diri saya. Semuanya saya lepaskan --nama, keluarga, kedudukan. Saya kerjakan ini untuk memperjuangkan kamu, kemerdekaan yang lebih agung dari yang dicecap oleh bangsa-bangsa lain sedunia. Begitulah saya dan begitu pula banyak pemuda lain seperti saya, belum lagi disebut kalangan tua, perintis-perintis luhur, pembela hak-hak rakyat yang dikirim ke Siberia untuk menbanting tulang atau dipenjarakan dalam Benteng Schuselburg. Apa kami kerjakan ini untuk kami sendiri? Apa kami harus mengerjakan ini? Dan kamu, kamu yang bukan lagi orang perman biasa melainkan prajurit tentara revolusioner pertama di dunia, bagaimana hidupmu untuk panggilan luhur ini? Waktu ini ketikda darah tanah air kita tertumpah dan jerih payahnya luar bisa guna mencampakkan naga musuh yang menjepitnya, kamu mau saja dibohongi segerombolan jiwa kosong, kamu jadi sampah, tak punya kesadaran politik, kekenyangan kemerdekaan, pencoleng, yang tak puas dengan apapun juga. Pepatah mengatakan; berilah satu inci dan mereka ambil satu elo; masukkan babi ke kamar makan dan ia akan panjatkan cakarnya di atas meja. Oh saya akan berterus terang, akan kubuat mereka merasa malu."

"Jangan, itu sangat berbahaya," walikota memberanikan diri menaruh keberatannya, sambil memandang penuh arti kepada pembantunga.

Galulin berusaha sedapat-dapatnya, agar komisari melepaskan maksudnya yang gila itu. Ia kenal orang-orang dari pasukan 212 itu, mereka terlgolong divisinya di medan perang. Tapi komisaris tak mau mendengar.

Yury hendak bangkit dan pergi. Kenaifan komisaris membuatnya malu, namun kepalsuan yang lihai dari walikota serta pembantunya itu --dua penipu cerdik sejahat-jahatnya-- tiada lebih baik. Ketololan dari yang satu diimbangi oleh kemunafikan dari yang lain-lainnya dan Yury muak oleh air bah kata-kata mereka, dungu, tak bermakna, hingga ditolak oleh penghidupan sendri.

Betapa kuatnya kerinduan orang untuk melarikan diri dari kekosongan dan kedunguan ucapan manusia yang bertele-tele, untuk mengungsi ke tengah alam yang nampaknya tak berbahasa itu atau lari pada kerja keras yang tenang lagi lama, pada tidur nyenyak, pada musik murni atau pengertian insaniah yang disampaikan oleh emosi tak bermadah!

Yury ingat bahwa ia perlu menerangkan sesuatu pada jururawat Antipovca nanti. Itu tak akan sedap, namun ia memang diharuskan bertemu dengan dia, sungguhpun berat. Antipova belum mungkin pulang. Tapi ia bangkit selekasnya, lalu keluar tak setahu yang lain-lain.
***