|
edisi
57 |
ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis |
|
|
sampul |
Patung dan gambar Saddam
Hussein diambrukkan, Tikrit --kota kampung halaman Saddam Hussein jatuh--,
tak ada lagi pernyataan pers ala Harmoko dari Menteri Penerangan Irak,
dua kapal induk Amerika dipanggil pulang, Amerika sudah mengatur pertemuan
pertama mantan kelompok oposisi, dan pertemuan puncak Uni Eropa di Athena
membahas persatuan sikap Eropa untuk Irak paska perang. Perang Amerika-Inggris
(plus 2000 tentara Australia dan 200 tentara Polandia) selesai. Dan munculah
sejumlah pertanyaan. Pertanyaan pertama sebenarnya sudah hampir basi tapi menjadi kembali relevan ; apa tujuan perang itu? Perubahan rejim, perlucutan senjata, atau apa yang disebut 'pembebasan' rakyat Irak, atau untuk menguasai minyak Irak. Jika untuk perubahan rejim, sebutlah setengah tercapai, dengan catatan rejim baru belum terbentuk sementara kelompok utama masyarakat Siah --sekitar 60 % dari total 25 juta penduduk Irak-- menentang pertemuan yang diatur pasukan Amerika. Pemerintahan militer Amerika diperkirakan akan berkuasa selama dua tahun di Irak sebelum terbentuk pemerintahan sementara Irak. Catatannya, dalam masa dua tahun semua kemungkinan bisa terjadi. Dari soal perlucutan senjata, sampai saat ini, perang pimpinan Amerika ke Irak sama sekali tidak beralasan. Sepanjang liputan perang, CNN, BBC, Sky News semangat melaporkan temuan-temuan topeng gas atau petunjuk pencegahan serangan kimia di pos-pos tentara Irak. Di rumah saya --karena bulan lalu disuruh ikut latihan pencegahan perang kimia, biologi dan radiologi-- ada kit lengkap topeng gas, baju plastik anti kimia, sepatu bot, buku manual, termos minum. Saya menduga kira-kira temuannya hampir sama, bedanya yang satu ditemukan di Irak sedang yang satu lagi di sebuah rumah council di London, dan pemilknya bukan keturunan Arab. Memang ada juga laporan tentang temuan kontainer-kontainer kimia di sebuah daerah, tapi tetap saja belum ditemukan senjata pemusnah masal, yang dulu jadi alasan utama perang. Apakah perang Irak menjadi semata-mata kolonialisasi koalisi pimpinan Amerika? Pada masa awal masuknya marinir Amerika ke Umm Qasr, Basra, Baghdad, dan Tikrit, disorotlah warga Irak yang menyambut gembira sambil memekik 'Bush, Bush.' Tak lama kemudian penjarahan meraja-rela, sampai barang-barang rumah sakit disikat habis. Ini jelas bukan 'pembebasan' dalam pengertian tujuan perang. Perang Irak juga bukan untuk minyak, begitulah berulang kali pernyataan Bush, Blair dan aparat negara Amerika maupun Inggris. Bagaimanapun lapangan minyak Kirkuk langsung diamankan oleh 2000 tentara Amerika, dan Departemen Perminyakandi Baghdad sama sekali tak tersentuh penjarah karena dikawal ketat (baca tulisan tamu Dua Departemen Dikawal, Robert Fisk). Di kalangan penasehat Bush, dilaporkan ada usulan agar minyak Irak diswastanisasi --artinya perusahaan minyak Amerika bisa masuk. Itu daftar pertanyaan lama, dan ada daftar baru. Salah satunya adalah berapa korban perang Irak ini? Lantas bagaimana dengan biaya perang? Apakah upaya rekonstruksi akan jatuh ke perusahaan Amerika? Angka resmi korban jiwa dari pihak tentara atau milisi ; 119 Amerika, 31 Inggris, 3650 Irak sedang korban jiwa sipil ; 1 Inggris, 1254 Irak --versi rejim Saddam sampai tanggal 3 April-- dan 18 aneka bangsa --termasuk petugas Palang Merah Kanada maupun wartawan foto kebangsaan Spanyol. Itulah kuantitasnya. Sedang Ali Abbas dan ribuan lainnya tak bisa dikuantitaskan. Ali Abbas kehilangan dua tangannya dan seluruh keluarganya. Ketika perang sedang di puncaknya, seorang pria kehilangan 11 anggota keluarganya dalam satu serangan bom ; mulai dari istri, anaknya, ibunya, sampai saudara laki-lakinya. Ada berapa pula korban-korban lain yang tidak cukup dramatis untuk masuk liputan media, yang tak dikenal, masuk kain kafan dan dikuburkan tanpa hingar bingar (baca cerpen Mayat Pertama, Ikun Eska) Betapa besarnya korban-korban yang tidak akan pernah bisa dikuantitaskan |
|
|
erpen
Mayat
yang Pertama esei
Manusia
dan Perang Irak draft
novel
Pangeran
Jawa Atawa Jager Melayu novel
Smaradina
Muda Mangin novel
Dokter
Zhivago
|
||
|
tulisan tamu Balik
ke Laboratorium
|
||
| ceritanet ©listonpsiregar2000 |
Hingga perang tahap pertama usai --kontak frontal bersenjata antar dua pasukan yang bermusuhan-- pemerintah Amerika mengatakan sudah mengeluarkan biaya 20 milyar dollar Amerika dari anggaran total 80 milyar dollar. Kelompok pegiat Amnesty Internasional menuduh pemerintah Amerika Serikat lebih memprioritaskan pengamanan ladang minyak daripada bantuan kemanusiaan. Dan kemana kelak sisa anggaran sekitar 60 milyar dollar itu akan dialokasikan? Hampir bisa dipastikan prioritas utama adalah memulihkan ladang-ladang minyak Irak. Penasehat keamanan nasional Bush, Condoleezza Rice, sudah menyatakan tidaklah mengejutkan kalau koalisi yang berperan dalam upaya rekonstruksi Irak paska perang. USAid, lembaga pembangunan pemerintah Amerika Serikat dilaporkan sudah mendapatkan 4 kontrak senilai 82 juta dollar, Haliburton --perusahaan jasa perminyakan yang pernah dipimpin Wakil Presiden Dick Cheney-- dianugerahkan kontrak perbaikan sumur minyak Irak senilai 650 juta dollar. Perusahaan Perancis, Jerman, dan Rusia hampir bisa dipastikan akan masuk daftar hitam, sedangkan perusahaan Inggris --sekutu utama Amerika-- paling bergerak pada level subkontrak. Konsekuensi langsungya adalah Amerikanisasi sistem pra-sarana dan sarana di Irak. Selangkah lebih mundur ; ketergantungan pada Amerika. Akhirnya adalah apa yang dibawa dari perang Irak ini? Serangan 11 September sempat membawa kesadaran betapa besarnya korban kemanusiaan dari aksi kekerasan. Itu jelas bukan kekerasan satu-satunya di dunia --karena di Timur Tengah saling bunuh dan saling bom sudah jadi rutinitas sehari-hari-- tapi 11 September jadi semacam terapi kejutan dari aksi kekerasan. Dan serangan koalisi --juga pimpinan Amerika-- ke Afghanistan sepertinya sebagai upaya meredakan aksi kekerasan. Membasmi sumber kekerasan dunia; sekali pukul dan selesai. Ternyata tidak. Bom Bali bukan lagi terapi kejutan tapi bukti tentang kekerasan yang tidak akan pernah berhenti. Dan serangan koalisi ke Irak membawa legitimasi bahwa kekerasan adalah sebuah jalan yang selalu diambil manusia (b aca esei Manusia dan Perang Irak, Rezki S. Wibowo). Ada yang mengatakan perang Irak sederhana saja, yaitu hasil lobby Yahudi --yang melihat Irak sebagai ancaman utama-- di Washington atau upaya Bush mengangkat peluang dalam pemilihan presiden Amerika mendatang. Yang lebih sederhana lagi, Bush ingin membalas dendam ayahnya, karena tahun 1991 dulu intelijen Irak, katanya, ingin membunuh Bush senior. Yang sebenarnya? Ada
manusian suka kekerasan. |
|