edisi 57
jumat 18 april 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


komentar
Pertanyan tentang Irak
Liston Siregar
Patung Saddam Hussein di Lapangan Baghdad diambrukkan, Tikrit --kota kampung halaman Saddam Hussein jatuh--, tak ada lagi pernyataan pers ala Harmoko dari Menteri Penerangan Irak, dua kapal induk Amerika dipanggil pulang, Amerika sudah mengatur pertemuan pertama mantan kelompok oposisi, dan pertemuan puncak Uni Eropa di Athena membahas persatuan sikap Eropa untuk Irak paska perang. Perang Amerika-Inggris (plus 2000 tentara Australia dan 200 tentara Polandia) selesai. Tapi muncul sejumlah pertanyaan.
selengkapnya

cerpen Mayat yang Pertama
Ikun Eska
Mayat itu ditemukan seorang jurnalis. Ketika perang hari pertama masih berkecamuk. Tanpa uniform. Tanpa secuwil identitas. Kecuali tujuh lubang yang menembus tubuhnya; di jidat, di dua telapak tangan, di kedua belah paha dan di kedua telapak kakinya. Luka itu pun tidak jelas. Mungkin karena peluru. Bisa jadi pecahan mortir. Jurnalis itu menyeretnya sampai ke luar garis pertempuran dan menyerahkannya pada Palang Merah Internasional. Lalu malam tiba. Perang dihentikan. Dan dua jam kemudian konfirmasi diberikan: tak ada serdadu yang tewas. Juga dari pihak yang di seberang.
selengkapnya


tulisan tamu

Dua Departemen Dikawal
Robert Fisk

Balik ke Laboratorium
Nadine Gordimer

esei Manusia dan Perang Irak
Rezki S. Wibowo
Mendadak saya teringat, bukankah merpati melambangkan perdamaian, dan pertanyaan naïf timbul di benak saya, kenapa burung itu yang dipilih sebagai ikon perdamaian. Kenapa? Saya berpikir dan tak menemukan jawabannya. Saya pun bertanya pada rekan di sebelah saya. Katanya merpati burung yang kalem, dan kalau terbang dia anggun sekali. Logika yang kurang kena buat saya. Saya bilang kalau masalah anggun kenapa tidak diganti sama ikan Arwana ; kurang anggun apa, dan dari karakter kalem juga tidak kalah. Tapi, sanggah rekan saya itu lagi, kita kan tidak bakal bisa melihat ikan Arwana di awan. Saya tersenyum mendengar sanggahannya.
selengkapnya

buku
non-fiksi

Journalism: Truth or Dare
Ian Hargraves
(Oxford)

The Sword and the Cross
Fergus Fleming (Granta)

fiksi
Nine Horses
Billy Collins
(Picador)

The Book Against God
James Wood
(Cape)

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo
Satu persatu kawan baru Jagger di ruangan atas Mawar Medan itu menghirup garis-garis bubuk kokain yang disiapkan Mamat di atas selembar kaca yang mengalasi permukaan meja kantor restoran itu. Iwan menghirup garis yang terakhir, meletakkan gulungan uang yang digunakan untuk menyedot dan mengusap-usap cuping hidungnya. Jagger mulai memperhatikan kawan-kawan barunya, tetapi suara lantang tuan rumah, Iwan Medan, membuyarkan perhatiannya.
selengkapnya

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam
Lima
Lima belas ribu perak lagi sisa rekening di ATM. Bagaimana Mangin bisa pulang, pergi dari ibu kota negara yang panas ini. Panas suhu, panas konstelasi politik... Mengutang lagi?
Mangin teringat Kantata Takwa ;.. menghutang lagi-lagi menghutang,... tahu tahu menipu. Walaupun lagu itu tak disindirkan baginya --lebih tepat untuk pengutang luar negeri yang tak tahu urusan. Padahal saat ini, utang luar negeri Indonesia mencapai 150 M yu es dollar. M-nya dibaca milyar. M-I-L-Y-A-R.
selengkapnya

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), terbitan Djambatan, Maret 1960

Rumah sakit dimana Yuri menjadi pasien dan kini dokter, ditempatkan dalam rumah istri Tumenggung Zhabrinskaya. Dia menawarkannya pada Palang Merah pada permulaan perang.

ceritanet
©listonpsiregar2000

Rumah ini berloteng dua, letaknya di salah satu bagian terbaik dalam kota, di sudut jalan raya dan pelataran yang terkenal dengan nama 'Platz,' dimana dulukala prajurit berlatih dan kini diadakan rapat-rapat.
selengkapnya