edisi 57
jumat 18 april 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


esei
Manusia dan Perang Irak
Rezki S. Wibowo

Di depan kampus saya ada semacam plasa tempat para mahasiswa maupun umum biasa duduk-duduk. Sore itu tidak seperti awal musim semi yang biasa mendung dan muram, London amat terang, hangat dan ceria dengan terik sinar matahari. Dan semua bergegas menuju ke taman-taman terdekat untuk berbagai kegiatan. Saya juga ikut menikmati hari dengan membawa buku-buku bacaan kuliah, makan siang, atau hanya sekedar mengobrol dengan teman.

Tidak ada yang spesial di tempat ini, namun hari itu ada sesuatu yang membuat saya terkesiap. Didepan saya seorang tua sedang menebarkan serpihan roti untuk burung merpati yang hidup liar. Biasa saja, tidak ada lagi romantismenya buat saya, tapi yang menarik justru kehadiran burung merpati yang liar itu.

Mendadak saya teringat, bukankah merpati melambangkan perdamaian, dan pertanyaan naïf timbul di benak saya, kenapa burung itu yang dipilih sebagai ikon perdamaian.

Kenapa? Saya berpikir dan tak menemukan jawabannya. Saya pun bertanya pada rekan di sebelah saya. Katanya merpati burung yang kalem, dan kalau terbang dia anggun sekali. Logika yang kurang kena buat saya.

Saya bilang kalau masalah anggun kenapa tidak diganti sama ikan Arwana ; kurang anggun apa., dan dari karakter kalem juga tidak kalah. Tapi, sanggah rekan saya itu lagi, kita kan tidak bakal bisa melihat ikan Arwana di awan. Saya tersenyum mendengar sanggahannya. "Sama saja, kita tidak mungkin melihat merpati di aquarium," supaya tambah kacau argumentasinya.

Rekan saya yang lain mencoba menjawab dengan agumen bahwa merpati dijadikan lambang perdamaian sebab merpati hidupnya bebas, dia bisa terbang kemana saja dia mau. Bua saya kedengarannya masuk akal, namun binatang-binatang yang lain juga hidup bebas merdeka juga. Mereka bisa pergi kemana saja mereka mau -kecuali kalau sudah dikerangkeng oleh manusia-- malah ada binatang yang amat mobile, dengan hidup sekaligus dibeberapa tempat. Ikan Trout, misalnya, hidup di laut tapi berjuang melawan arus deras untuk melahirkan dan mati di hulu sungai. Atau kodok, yang bisa hidup di dua alam. Jawaban rekan yang satu lagi itu tetap belum memuaskan pertanyaan saya.

Akhirnya saya bertanya ke dosen filsafat di kampus saya, yang kebetulan sedang lewat.

Katanya, nun cerita bermula dari jaman Nabi Nuh. Waktu bencana bandang yang melanda dunia sudah diperkirakan hendak usai, beliau berpikir keras untuk bias memastikan bahwa air telah surut, sekaligus mencari tempat yang paling layak untuk menambatkan perahu.

Diantara banyak pasangan hewan dan manusia yang ada di kapal, ternyata Nabi Nuh memiliki banyak penumpang berbagai jenis burung. Nabi Nuh akhirnya berpendapat hewan inilah yang paling mampu untuk menjalankan tugas, karena burung dapat terbang sehingga tidak ada resiko tenggelam.

Maka Nabi Nuh mengutus sepasang burung, namun selang beberapa lama, sepasang burung tadi tidak menampakkan tanda-tanda kembali. Kemudian diutuslah burung jenis kedua, hasilnya tetap sama ; burung-burung tersebut tidak kembali. Dilepas lagi yang lain, juga tidak kembali.
Tibalah akhirnya giliran burung merpati, dan pasangan merpati ini kembali ke perahu Nabi Nuh, bahkan memakai daun palem di kepalanya, seperti laiknya mahkota raja-raja romawi. Khazanah inilah yang menjadikan burung merpati, hingga saat ini, dijadikan lambang perdamaian, begitu kata dosen filsafat yang kebetulah lewat tadi.

Kedengaran masuk akal, dan biasanya ikon-ikon atau perlambang memang tidak lepas dari legenda atau cerita-cerita tua.

tulisan edisi 57

komentar Pertanyan tentang Irak
Liston Siregar

erpen Mayat yang Pertama
Ikun Eska

esei Manusia dan Perang Irak
Rezki S. Wibowo

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

tulisan tamu

Dua Departemen Dikawal
Robert Fisk

Balik ke Laboratorium
Nadine Gordimer

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

Saya sendiri kemudian ikut berpikir; merpati memang memiliki anugrah dari Tuhan untuk selalu kembali ke tempat asalnya, kemanapun dia dilepas. Sebagai salah seorang eksponen anak kampung yang dulu belum akrab dengan permainan canggih seperti internet atau video game, saya masih merasakan zaman kegembiraan bermain dengan merpati.

Ekstase kegembiraan itu bahkan meningkat, jika terbukti merpati yang kita pelihara kembali ke rumah, walaupun kita sudah berpeluh-peluh mengengkol sepeda sejauh mungkin untuk melepaskannya. Bahkan, yang paling menyebalkan, sesekali merpati yang kita lepas itu kembali lebih cepat dari manusia.

Merpati adalah salah satu dari binatang yang dijadikan perlambang. Kita kenal Aesop, seorang penulis romawi yang terkenal dengan hikayat-hikayat binatangnya. Sedemikian hidup dan detailnya setiap karakter binatang dalam hikayatnya sampai ada rekan yang bertanya-tanya apakah profesi dia sebenarnya dokter hewan, antropolog, filsuf atau sastrawan. Tanpa membaca kembali hikayat-hikayat Aesop, semua orang tahu bahwa anjing lambang kesetiaan, burung merak lambang kemewahan dan ketinggi hatian. Buaya, contoh lainnya, adalah lambang ketidak jujuran -ingat istilah air mata buaya untuk mencemooh seseorang yang pura-pura sedih. Demikian pula dongeng-dongeng menjelang tidur yang diceritakan nenek saya turut membangun imajinasi dan karakter building bahwa kancil adalah binatang yang bisa mencuri ketimun pak tani dengan cerdik.

Tapi bagaimana dengan manusia? Melambangkan apakah mahluk ini? Dimana posisi manusia di dunia?.

Berita-berita di televisi tentang perang Irak sepertinya cukup mereprensentasi stereotip manusia, sebab bukan sekali ini saja dilakukan manusia. Sejarah manusia selalu diwarnai dengan darah dan air mata lewat kata perang, kolonialisasi, aneksasi, agresi atau kata-kata seram lainnya.

Dalam peradaban purba seperti zaman Fir'aun, telah terjadi pelbagai bentuk pemerkosaan hak asasi manusia. Tapi apakah manusia lambang keangkara murkaan?

Masih banyak manusia di dunia yang hidup dengan jutaan cinta dan kasih sayang. Sejarah mencatat nama-nama indah seperti Florence Nightinghale, Bunda Teresa, atau Mahatma Gandhi. Bila manusia diberikan predikat sebagai keangkara murkaan, rasanya tidaklah terlalu tepat.

Bagaimana kalau manusia dilambangkan sebagai sebagai bentuk ketidak jujuran? Bentham, filsuf dengan paham Utilitarism, menguraikan teorinya bahwa manusia itu adalah mahluk yang didasari oleh keinginan untuk memaksimumkan utility. Jadi, menurut paham ini, bahkan memberi uang pada pengemis sekalipun didorong oleh hasrat untuk memaksimumkan utility ; dengan mengeliminasi rasa tidak enak yang timbul karena kasihan melihat penampilan pengemis. Atau dengan memberikan beberapa receh uang maka pengemis yang menghalangi jalan kendaraan kita berlalu.

Tapi lagi-lagi predikat itu rasanya juga kurang relevan, karena saya masih menemui banyak orang yang jujur -berdasarkan parameter umum. Sopir taksi yang mengembalikan dompet penumpang, mbak-mbak tukang buah yang memberitahu kalau buahnya sudah busuk jadi jangan dipilih, hingga Lech Walesa bekas presiden Polandia yang kembali menjadi buruh setelah usai masa kepresidenan. Tuhan masih mencatat dan memberikan kita manusia-manusia jujur yang bisa memberikan keteduhan.

Lantas manusia juga bisa sebagai simbol akal, kemajuan dan perbaikan Dengan berbekal akal, manusia bisa melakukan apa saja yang sebelumnya menjadi impian semata. Manusia pergi ke bulan, manusia membuat komputer dan mobil yang membawa kemjauan dan perbaikan terhadap kualitas hidup manusia. Dengan akal pula manusia mampu membuat metode-metode kerja baru atau robotisasi untuk mencapai efisiensi usaha, yang mampu membuat keuntungan perusahaan berlipat ganda dari sebelumnya.

Baru-baru ini saya bertukar e-mail dengan teman yang sedang kuliah di Jepang dan dia bercerita tentang risetnya untuk menghasilkan energi baru berupa gas yang ditengarai berada di laut, namun masih melekat. Riset teman itu itu adalah bagaimana melepaskan substansi gas dari substansi lain yang tidak berguna -- hebat dan mengangumkan.

Tapi, nanti dulu, untuk mengatas-namakan akal ini manusia pernah juga melakukan hal-hal yang justru meragukan ke absahan akal sebagai landasan bertindak. Di jaman pencerahan abad 18, dimana akal dan logika adalah parameter demarkasi yang memisahkan antara apa itu manusia dan "bukan manusia," para pemuka membakar siapa-siapa yang dituduh sebagai dukun atau klenik, untuk membuktikan bahwa ilmu hitam atau ilmu kebal yang kebas terhadap segala siksaan tidak pernah ada. Bagaimana manusia mengedepankan akal jika untuk membuktikannya saja manusia menempuh jalan yang tak berakal.

Pemandangan di pesawat televisi pada tanggal 21 Maret 2003 sekitar 288 tahun sesudah masa berakhirnya kematian Louis XIV --sebagai penanda masa pencerahan atau enlightenment-- adalah serangan pasukan koalisi ke Irak, yang diklaim sebagai membawa sebuah harapan dan kemerdekaan dari sebuah tiran.

Yang dilakukan manusia sekarang dengan abad 18 lampau itu, rasa-rasa saya- secara substansi sama saja dengan perang Irak. Jadi masih validkah preposisi bahwa manusia itu simbol akal, kemajuan, dan perbaikan? Bagaimana manusia bisa mengklaim bahwa akan membawa pencerahan dan perbaikan jika justru ada korban dari objek yang akan diperbaiki.

Sulit nampaknya menjawab pertanyaan ini sesuai dengan volume otak dan pola pikir saya. Tapi saya bisa menjawab pertanyaan dimana posisi manusia dibandingkan dengan binatang-binatang tadi. Bukankah manusia adalah mahluk yang paling tinggi harkatnya ketimbang binatang, sehingga manusia harus bisa menyandang predikat tertentu?

Saya sekaligus merasa sudah menjawabnya, dengan key word ; harkat. Manusia itu tinggi harkatnya. Wah tampaknya Manusia itu simbol dari harkat dan martabat, manusia melambangkan keunggulan budi dan nurani. Tuhan menganugrahkan budi dan nurani selain naluri kepada manusia. It is the most ultimate tool, senjata pamungkas kita buat menghilangkan masalah seperti angkara murka, ketidak jujuran, kebodohan.

Adalah fitrah manusia untuk menggunakan budi dan nuraninya. Nurani itu sesuatu yang murni dari lubuk hati yang paling dalam --masalahnya manusia mau memakainya atau tidak. Kalau predikat ini disadari, melekat erat, dan dipersepsikan sebagai lambang gengsi, sepertinya manusia jadi standar baku berupa manusia yang baik. Ini yang agaknya membuat manusia berbeda dari mahluk Tuhan lain, bahkan dari malaikat yang hanya diciptakan untuk mengabdi.

Paling tidak saya mengingatkan buat saya sendiri, atau yang setidaknya merasa sepaham, untuk menjaga reputasi yang manusia milik. Paling tidak saya tidak terlalu minder dengan anjing atau merpati atau kancil ---masak hanya mereka yang punya predikat yang menyenangkan. Dan dengan latar belakang perang Irak, saya merasa perlu mengingatkan diri saya sendiri maupun kawan-kawan sepaham, dan siapa tahu juga kawan-kawan yang tidak sepaham.
***