edisi 57
jumat, 18 april 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

puisi Anak Perempuanku Belum Pulang
Selma W. Hayati

Anak perempuanku belum pulang
Masih di perbatasan

Menantu tak membawa anak perempuanku pulang:
             Memasak bunga pepaya obat malaria,
             bersembahyang bersama di Motael,
             Mencium pipi dan merengkuhku,
             Menghibur dengan kidung tangis cucuku

Anak perempuanku,
Apakah takut masih mencumbui mesra, laki-lakimu?
Ingatkah rumah batako kita di atas aliran Mantane?
Ingatkah kau akan bau bunga kopi, juga
Lari kuda di tengah ladang jagung di seberang sungai?

Jeruji tembok penjara membangkitkan ketakutan
Ketakutan telah melahap keberanian
Ketakutan menjadi batas
Menggaris nyata antara negeri yang memberinya makan
Dan tanah sang penjajah yang mengajarinya memegang senjata pencabut jiwa

Menantuku, dengarkan keluhku:
Tak akan ada lagi perintah tangkap, tembak, dan bunuh!
Bendera telah berkibar
Kebebasan telah berdentang
Denting lonceng gereja pun tak berlagu kesedihan
Nasi yang seharusnya memberiku badan
Mengering di kerongkongan

Anak perempuan dan menantuku belum pulang:
Masih di batas ketakutan dan keberanian!
[London, 3 April 03, dini hari: buat Mama dan Kak Ivo yang akhirnya kembali ke T. Leste]

 

tulisan edisi 57

komentar Pertanyan tentang Irak
Liston Siregar

erpen Mayat yang Pertama
Ikun Eska

esei Manusia dan Perang Irak
Rezki S. Wibowo

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000

  ABerkatalah Tjoet Nyak Din

Mestilah kita berteriak
Ketika bendera tak lagi berkibar
Layu…tertunduk, ragu

Bulan sabit enggan muncul
Digantikan kilatan desing peluru
Yang angkuh berbicara, menutup lubang jiwa

Kemana langkah hendak dituju?
Ketika hijau daun, birunya laut
Digantikan merah darah,
Kemana harapan hendak ditanam?
Ketika pekik ayam jago
Digantikan oleh pekik kesakitan
Perempuan malang korban perkosaan

Kabut cerobong asap minyak
Menghitamkan bendera dan bulan sabitku
Dimana tawa riang si buyung,
Dimana gelegar semangat perempuanku,
Dimana anak-anak angkatan mudaku,
Dimana keadilan,
Ketika tebasan senjata membabat habis pasukanku?
Dimana keadilan,
Ketika bom tanpa mata menghujam habis rumah papanku?
Dimana? Ke mana mereka semua?

Kapan kutersenyum,
Mendengarkan obrolan kopi pagi hari,
Wajah-wajah damai Acehku…
Lunglai kuberkata:''teruskan langkah, kibarkan bendera sepenuhnya!''

London, 120503
Selma W.Hayati


"Hidup di London ini berat, man. Lu nggak bisa malu-malu, nggak bisa lu ngomongin orang di belakang. Lu harus berani nantang bule, you gotta show you got balls, man. Ini biji peler gue! Kayak gue, nih, lu contoh, lu ambil hikmahnya! Ini ada cerita terakhir gue jitakin botaknya bule. Kemaren dulu gue ke bank, nyetor duit. Manager bank itu nanya kapan bisnis gue mulai naik lagi. Tersinggung gue. Akhirnya gue tunjuk-tunjuk jidatnya. Gue bilang, I don't give a fuck, man! Gue bilang bisnis memang lagi lesu. Gimana lagi? Gue tanya manajer itu, berapa tahun lu jadi manajer? Gue bisnis di Brixton ini sudah sepuluh tahun lebih. Don't take the piss, man! You just do your job and I'll do mine. Akhirnya manajer itu membungkuk-bungkuk hormat. Baru gue bilangin, gue langganan lama di banknya, jangan dia main seenaknya sendiri menghina. Jangan sekali-kali menghina!"

Iwan duduk makin tegap, mengacungkan telunjuknya dan melanjutkan petuahnya.

"Lu-lu, kalian semua orang Melayu yang ada di London ini, udah gue apalin, penakut semua! Dari yang di KBRI sampe yang di jalanan kayak kalian-kalian ini, beraninya cuman sama sesama Melayu. Kalo ama bule, udah deh, mundhuk-mundhuk inggih-inggih kayak orang Jawa. Jawa! Mental budak, tau nggak. Mental loyo, bangsa jajahan. Kagak laku sikap begitu di sini! Kagak kepake! Gue bilang dari dulu dan selalu gue ulang-ulang, di Barat ini kita harus buang sikap Jawa itu. Itu cuman laku di Melayu, di tanah jajahan Suharto tengik! Tapi kalau lu mau jadi internasional, siap bergaul dengan bule, lu-lu dan lu harus siap bermental Sumatra, mental Batak. Lu-lu dan lu harus siap bermental jagoan. Siap makan orang! Gue baek sama kalian karena kalian ini Melayu. Gue pemimpin kalian di sini. Lu semua gue anggep adik. Gue rangkul kalian, gue kasi kesempatan. Nih, bedak, makan! Gue ajarin kalian apa itu cocktail yang macho, gue kenalin kalian apa itu ganja Rastafari, apa itu ecstasy, apa itu kokain, apa itu ketamin, kenapa? Biar tau kalian apa itu sorga dunia. Gue kasih kalian kerjaan di restoran, biar kalian bisa ngumpulin duit, bisa tau apa itu fashion, apa itu trend. Biar kalian bisa maen ke klab, bisa bergaul dengan bule. Kalian gue lindungi, gue ajari, gue bimbing. Tapi kalau sama bule gue nggak mau tau. Gue babat abis!"

Jagger merasakan kokain di dalam tubuhnya mendesak pikirannya untuk bekerja cepat dan riang. Sangat ingin dia bicara, membantah Iwan yang mengecilkan arti orang Indonesia di London. Tidak membantah dengan penolakan melainkan dengan humor. Ingin dia mengucapkan sesuatu yang lucu, yang bisa mementahkan ketegangan yang muncul akibat gugatan dan tudingan Iwan.

Namun melihat semua kawan lain diam saja mendengarkan, pikiran itu tak jadi ucapan. Masa benar semua orang Indonesia di London penakut? Masa benar kami-kami, aku juga penakut? Kenapa Iwan tampak begitu sukses? Apa latar belakang dia?

Seakan mendengar apa yang dipikirkan oleh Jagger, Iwan meneruskan pidatonya.

"Kami-kami ini semua rakyat, tau nggak. Rakyat! Di Indonesia kami nggak ada kesempatan karena nggak punya koneksi. Nah, di negeri ini ada yang namanya opportunity. Orang nggak ngliat siapa lu, yang penting what you have to offer! Maka gue bilang, jangan takut-takut. Jangan suka menggerombol saja sesama Melayu. Ngerti kalian? Gue ini anak rakyat, nenek gue buta huruf, emak gue buta huruf, bapak gue cuman tentara pangkat rendah yang banyak ngobyek keamanan toko Cina. Kalau gue di Melayu mau jadi apa gue? Nggak ada kesempatan. Sekolah sulit, apa lagi berbisnis. Tetapi di sini, lu liat sendiri, gue bisa bangun semua ini dengan modal biji peler saja. Biji peler! Kontol! Yang penting, bukan kontol sembarang kontol. Ha! OK. Jadi ayo kita ke bawah, kita mainkan biji peler kita! Kita deketin cewek-cewek, siapa tau ada yang mau diajak ngentot gratis. Hehehe."
*** bersambung