|
edisi
57 |
ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis |
|
|
sampul |
|
|
|
tulisan edisi 57 erpen
Mayat
yang Pertama esei
Manusia
dan Perang Irak draft
novel
Pangeran
Jawa Atawa Jager Melayu novel
Smaradina
Muda Mangin novel
Dokter
Zhivago |
||
|
ceritanet |
||
|
ABerkatalah
Tjoet Nyak Din
Mestilah kita berteriak Bulan sabit enggan muncul Kemana langkah hendak dituju? Kabut cerobong asap minyak Kapan kutersenyum, London, 120503
Iwan duduk makin tegap, mengacungkan telunjuknya dan melanjutkan petuahnya. "Lu-lu, kalian semua orang Melayu yang ada di London ini, udah gue apalin, penakut semua! Dari yang di KBRI sampe yang di jalanan kayak kalian-kalian ini, beraninya cuman sama sesama Melayu. Kalo ama bule, udah deh, mundhuk-mundhuk inggih-inggih kayak orang Jawa. Jawa! Mental budak, tau nggak. Mental loyo, bangsa jajahan. Kagak laku sikap begitu di sini! Kagak kepake! Gue bilang dari dulu dan selalu gue ulang-ulang, di Barat ini kita harus buang sikap Jawa itu. Itu cuman laku di Melayu, di tanah jajahan Suharto tengik! Tapi kalau lu mau jadi internasional, siap bergaul dengan bule, lu-lu dan lu harus siap bermental Sumatra, mental Batak. Lu-lu dan lu harus siap bermental jagoan. Siap makan orang! Gue baek sama kalian karena kalian ini Melayu. Gue pemimpin kalian di sini. Lu semua gue anggep adik. Gue rangkul kalian, gue kasi kesempatan. Nih, bedak, makan! Gue ajarin kalian apa itu cocktail yang macho, gue kenalin kalian apa itu ganja Rastafari, apa itu ecstasy, apa itu kokain, apa itu ketamin, kenapa? Biar tau kalian apa itu sorga dunia. Gue kasih kalian kerjaan di restoran, biar kalian bisa ngumpulin duit, bisa tau apa itu fashion, apa itu trend. Biar kalian bisa maen ke klab, bisa bergaul dengan bule. Kalian gue lindungi, gue ajari, gue bimbing. Tapi kalau sama bule gue nggak mau tau. Gue babat abis!" Jagger merasakan kokain di dalam tubuhnya mendesak pikirannya untuk bekerja cepat dan riang. Sangat ingin dia bicara, membantah Iwan yang mengecilkan arti orang Indonesia di London. Tidak membantah dengan penolakan melainkan dengan humor. Ingin dia mengucapkan sesuatu yang lucu, yang bisa mementahkan ketegangan yang muncul akibat gugatan dan tudingan Iwan. Namun melihat semua kawan lain diam saja mendengarkan, pikiran itu tak jadi ucapan. Masa benar semua orang Indonesia di London penakut? Masa benar kami-kami, aku juga penakut? Kenapa Iwan tampak begitu sukses? Apa latar belakang dia? Seakan mendengar apa yang dipikirkan oleh Jagger, Iwan meneruskan pidatonya. "Kami-kami ini
semua rakyat, tau nggak. Rakyat! Di Indonesia kami nggak ada kesempatan
karena nggak punya koneksi. Nah, di negeri ini ada yang namanya opportunity.
Orang nggak ngliat siapa lu, yang penting what you have to offer! Maka
gue bilang, jangan takut-takut. Jangan suka menggerombol saja sesama Melayu.
Ngerti kalian? Gue ini anak rakyat, nenek gue buta huruf, emak gue buta
huruf, bapak gue cuman tentara pangkat rendah yang banyak ngobyek keamanan
toko Cina. Kalau gue di Melayu mau jadi apa gue? Nggak ada kesempatan.
Sekolah sulit, apa lagi berbisnis. Tetapi di sini, lu liat sendiri, gue
bisa bangun semua ini dengan modal biji peler saja. Biji peler! Kontol!
Yang penting, bukan kontol sembarang kontol. Ha! OK. Jadi ayo kita ke
bawah, kita mainkan biji peler kita! Kita deketin cewek-cewek, siapa tau
ada yang mau diajak ngentot gratis. Hehehe."
|
||