edisi 55
senin 3 maret 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Rumah sakit dimana Yuri menjadi pasien dan kini dokter, ditempatkan dalam rumah istri Tumenggung Zhabrinskaya. Dia menawarkannya pada Palang Merah pada permulaan perang.

Rumah ini berloteng dua, letaknya di salah satu bagian terbaik dalam kota, di sudut jalan raya dan pelataran yang terkenal dengan nama 'Platz,' dimana dulukala prajurit berlatih dan kini diadakan rapat-rapat.

Berkat letaknya itu ada pemandangan bagus di sekitarnya; kecuali di jalanan dan pelataran, dapat terlihat pula pekarangan rumah di sebelah (dimiliki keluarga provinsial yang miskin dan hidupnya hampir secara kaum tani) serta taman tua Tumenggung itu di sebelah berlakang.

Istri Tumenggung ini mempunyai tanah milik besar di daerah Razdolnoye, maka rumah tadi hanyalah dipakai bila ia sekali tempo ada urusan di kota, sebagai pusat pertemuan bagi tamu-tamu yang datang dari segala jurusan untuk bertemu di Razdolnoye dalam musim panas.

Sekarang rumah ini menjelma jadi rumah sakit, sedangkan pemiliknya ditawan diPetersbrug, tempat ia menghuni.

Dari personil yang besar hanya tinggal dua perempuan; Ustinya, bekas koki kepala dan mademoiselle Fleury, bekas pengasuh putri-putri yang sudah kawin.

Mademoiselle Fleury yang beruban, ceroboh dan berpipi jingga itu mundar-mandir dengan memakai sandal tidur serta hoskot tua yang menggelembur, rupa-rupanya merasa senang di rumah sakit, seperti juga di tengah keluarga Zhabrinsky dulu. Ia menuturkan cerita-cerita panjang dalam bahasa Rusia yang buruk dengan menelan segala akhiran kata, disertai gerak-gerik dengan sikap dramatis, kemudian meledaklah gelak ketawanya yang parau berkesudahan dengan batuk-batuk.

Ia yakin mengenal jururawat Antipova lahir dan batin dan berpendapat bahwa jururawat dan dokter itu saling menaruh hati. Jalinan asmara berapi-api yang begitu digemari bangsa Latin meresap ke hatinya, maka amat sukalah ia bila menemukan mereka bersama-sama, lantas digoyang-goyangkannya jarinya sambil mengedipkan mata dengan nakalnya; ini mengherankan Lara dan mengganggu Yuri, tapi tak ubahnya dengan orang aneh lainnya, mademoiselle inipun berpegang teguh pada khayalnya, tak hendak melepaskannya, apapun yang terjadi.

Ustinya lebih lagi mempunyai tabiat yang ajaib. Sosok tubuhnya berbentuk buah pir yang payah bergerak itu membuatnya nampak seperti ayam yang hendak bertelor. Biasanya ia pertimbangkan tutur katanya, suka bicara singkat dan mengenai soal, tapi khayalnya tak dapat dikekang dalam segala hal mengenai takhyul. Ia lahir di Zabushino dan konon anak tukang sihir di situ, maka diketahuinya mantera-mantera tak berbilang dan iapun tak akan keluar sebelum lebih dulu berguman-gumam di atas tungku dan lobang kunci, agar selama kepergiannya rumah itu terlindung dari kebakaran dan iblis.


tulisan edisi 55

sajak Kesiur Musim Gugur
Sitok Srengenge

sajak Imaji Harapan
Edwin

sajak Sajak Protes
Dewa Gumay Lembak

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


tulisan tamu

Balik ke Laboratorium
Nadine Gordimer

Apa Yang Dilakukan Franco Padaku
Stuart Christie

ceritanet
©listonpsiregar2000
 

Ustinya bisa berdiam diri bertahun-tahun, tapi kalau satu kali saja dipancing, tak ada yang sanggup menahannya. Tiap serangan atas keyakinannya merangsangnya pada pembelaan kebenaran yang berkobar-kobar.

Walaupun Republik Zabushino sudah runtuh, namun dewan revolusi Meluzeyevo takut pada pengaruh anarkis di daerah, lalu memutuskan hendak melawannya dengan kampanye penerangan. Kesempatan baik untuk kegiatan demikian timbul pada sore hari, bila dipelataran diadakan rapat-rapat persahabatan yang spontan; rapat-rapat ini hanya sedikit dihadiri orang-orang kota yang tak ada kerjanya, yang dulu berkumpul untuk bergunjing di luar pos pemadam kebakaran di satu ujung Platz. Dewan memberi anjuran pada mereka dan mengundang pada pembicara setempat dan tamu-tamu untuk memimpin diskusi-diskusi. Tamu-tamu yakin bahwa kabar-kabar tentang si bisu tuli yang dapat bicara itu omong kosong belaka dan juga ingin mengatakan begitu. Tapi kaum utas kecil, istri serdadu dan bekas bujang di Melyuzeyevo tak menganggap kabar-kabar itu omong kosong dan bersedia membelanya.

Antara mereka adalah Ustinya. Mula-mula ia takut-takut, dicegah oleh rasa malu perempuan, tapi lambat laun ia lebih berani dalam pembantahan segala pendirian yang tak disukai Melyuzeyevo, maka sekarang ia sendiri menjadi pembicara umum yang berpengalaman.

Desas-desus suara orang di pelataran terdengar dari jendela-jendela rumah sakit yang terbuka; pada malam-malam sunyi bahkan dapat tertangkap kata demi kata. Kalau Ustinya sedang bicara, mademoislle buru-buru masuk tiap kamar yang ada orangnya, lalu memohon mereka supa mendengarkan, maka dengan tiada sengaja iapun menirunya secara menggelikan dalam bahasa Rusia yang tak karuan; "Rasputi...Raspu...Tsar...Zabushi...bisu tu..kaum pengkhianat."

Diam-diam mademoiselle bangga atas sahabatnya yang bersemangat dan berlidah tajam itu; dua perempuan ini amat gemar menggemari, meskipun mereka tak pernah habis bercakar-cakaran.

***bersambung