edisi 55
senin 3 maret 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


sajak
Sajak Protes
Dewa Gumay Lembak
Inilah sajakku
Sajak Orang-orang pinggiran
Sajak Orang-orang termarginal
Tapi tak segenit Orang-orang atasan

Aku tulis sajak ini
Karena surat Protes
Membentur jidat si tuan jangan
Yang bersajak tentang kebenaran
Sementara ketidak adilan berdiri di depan-nya

Ooooo … Jangan kau baca sajakku
Sajakku penuh makian
Sajakku penuh hinaan
Karena surat protes tak pernah di dengar

Aku tulis sajak ini.
Karena surat Protes
Membentur jidat si punya Modal
Yang bersajak tentang pembangunan
Sementara kemiskinan menjadi makanan-nya.

Inilah sajakku
Surat protes darurat.
Tak ada arti berkesenian
tanpa peduli jeritan lingkungan.
Tak ada arti berpikir
Tanpa peduli masalah kehidupan
Rumah hijau, 5 Maret 2002
Pukul 11.30 Wib

Sajak Untuk Kawan
Kita adalah Mahasiswa Angkatan genit
Lahir dari Rahim Reformasi
Benih Mani Haram Kapitalis
Kita Kurang diajar dalam melihat kenyataan,
Karena Kenyataan tidak dimiliki sekolahan,
Sekolahan hanya punya teori dan geli.

Kita melihat sarjana-sarjana menganggur,
Karena tidak diajarkan kenyataan,
Kita tidak bisa mencipta
Tetapi ingin memakai

tulisan edisi 55
sajak Kesiur Musim Gugur
Sitok Srengenge

sajak Imaji Harapan
Edwin

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

tulisan tamu
Balik ke Laboratorium
Nadine Gordimer

Apa Yang Dilakukan Franco Padaku
Stuart Christie

ceritanet
©listonpsiregar2000
 

Kita tidak bisa memimpin
Tetapi ingin berkuasa.

Kita diajar untuk patuh, taat
Bukan diskusi dan berdebat

Kita diajar untuk hapal
Bukan untuk paham

Melihat kenyataan
Di petani desa dan buruh kota
Serta perilaku penguasa
Dianggap haram jadah

Disekolah,
Tidak boleh melihat kenyataan
Tidak boleh berdiskusi dan berdebat
Tidak boleh paham

Aku tulis sajak ini,
Karena mata kawanku ditutup diktat-diktat,
Karena pengajar melarangku melihat.
Pulau panggung Enim, 12 Juli 2001