edisi 55
senin 3 maret 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
link
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Empat
Empat kuntum bunga Bunga merawan digenggaman. Empat hari sudah dia meninggalkan Palembang. Ketika empat kali Mangin membaca ulang terus menerus surat singkat yang diterima entah beberapa bulan lalu. Tak ada yang berubah. Tak istimewa istimewa. Hanya lambang kelelawar yang menjadi tokoh kartun Detroit Comics. Batman.

Kertas bekas, tepatnya kertas kerja ujian Metode Ilmiah Mangin sendiri. Mata Kuliah yang kusuka, dan tak kuperoleh nilai apapun, kecuali kalimat "TIDAK AKTIF" di lembaran DPNA. Masalahnya, jam kuliah itu dihabiskan Mangin untuk berdiskusi dengan Bang Muhai, yang cakap dalam metode ilmiah.

Surat lama yang selalu tersimpan di selipan buku catatan. Di balik tulisan pencemaran 56 orang mabuk gas amoniak PT Pusri tanggal 29 September 2000, kebakaran Sungai Kelekar oleh tumpahan minyak mentah Pertamina OEP Prabumulih, dan perampasan tanah di Rimbo Semangus.

Sial. Bayangannya muncul terus. Ingin kubuat dia berada di balik bayangan Hujan. Berada dalam tirai tetesan membekukan. Lalu dia menjadi cahaya. Dia menjelma bintang. Sekalipun tak kupercaya bintang adalah bintang. Perjalanan sebuah bintang menuju mata manusia di kulit bumi dalam jutaan tahun cahaya. Artinya aku tertipu jika meyakininya, pesan bintang sampai ke mata sementara dia telah jauh berjalan. Dan Dinda, Dia menyendiri di tirai hujan. Tak ada bintang lain. Maafkan, kawan.

Dinda, kan aku sudah kirim kartu post,... selamat tidur, ya. Aku juga mau tidur. Sudah ah, jangan muncul terus. Tak jewer idungmu!
(Sumber; Buku Harian Mangin Halaman 88)
* * *

Bunga Merawan; Da Vinci, Energi
Mangin memutar kuntum-kuntum bunga merawan. Sebenarnya bukan bunga, tetapi buah yang bersayap. Mengangkat tinggi dengan berjinjit. Hanya lima jari kakinya menyentuh lantai ubin. Melepasnya satu-satu. Meluncur pelan, karena dalam kondisi normal hanya dibutuhkan satu centi meter vertikal ke bawah bagi bunga bersayap ini untuk mencapai 1 kilometer horizontal. Tak terbayang betapa mudahnya mencapai Jakarta dari Puncak Gunung Dempo.

Tak mesti menghabiskan begitu banyak bahan bakar fosil yang terbakar menjadi karbon di udara. Tak harus melubangi ozon.

Bunga merawan, mengingatkan pada Profesor Seno dan Da Vinci. Da Vinci pernah membuat rancang bangun helikopter dengan baling-baling yang sangat mirip dengan helai sayap biji merawan. Seno -dengan mahasiswanya- justru terinspirasi oleh sayap biji mahkota bunga merawan untuk terbang jauh. Tapi siapa yang mau mengembangkannya di negara yang dililit utang dan tak mampu lepas dari jeratan intervensi negara dan lembaga pemodal seperti ini.

tulisan edisi 55
sajak Kesiur Musim Gugur
Sitok Srengenge

sajak Imaji Harapan
Edwin

sajak Sajak Protes
Dewa Gumay Lembak

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak


tulisan tamu

Balik ke Laboratorium
Nadine Gordimer

Apa Yang Dilakukan Franco Padaku
Stuart Christie

ceritanet
©listonpsiregar2000
 


Untuk mengatasi krisis energi di Pulau Jawa sendiri --ya Mangin memandang bahwa hanya Jawa karena 76 persen kebutuhan energi Indonesia dihabiskan oleh Pulau Jawa-- harus tunduk pada kebijakan aras global untuk melakukan restrukturisasi energi. Harus mengutang kepada Bank Pembangunan Asiakah?

Kuntum pertama menyentuh ubin di sudut tempat Alfred biasa menaruh bara aromatic insence. Tepat di tengah segi empat ubin. "Sempurna!" teriak Mangin.

Dia menjumputnya lagi, menjinjitkan kaki. "Bawalah jauh mimpiku. Kususul engkau dengan kekuatan yang sedang kukumpulkan saat ini. Karena benar ada krisis energi jika kau tahu, hu!"

Krisis energi? Demikian terus yang dipertanyakan dalam dialog imaginer yang memenuhi ruang dialektis Mangin. Angin yang menerobos kisi krei jendelanya, matahari yang sempat jatuh di pot heliconia, tetes tumpahan air kotor di gelas yang baru saja dibuangnya melengkukkan sebentar helai pelepah heliconia, menggoyangkan anakan rumput teki di bawahnya. Sampah padat yang masih terlihat nyala bakaran di ujung taman kecil kamar kerjanya.

Semuanya energi. Hanya saja, orang melihat bahwa energi adalah listrik, dengan kacamata komoditisme. Banyak yang tahu bahwa angka subsidi listrik mencapai 4,7 Triliyun Rupiah. Betapa besar pemborosan yang dibiarkan terjadi. Padahal penikmatnya bukanlah masyarakat kelas bawah, yang kesehariannya hanya memanfaatkan listrik untuk keperluan penerangan dan mungkin televisi atau radio.

Boy kecil bermain playstation, menyeduh susu dari dispencer, sejuknya kamar ber air conditioner, lampu kamar terang benderang.

Terang nyantak lampu wadah pelesir. Gelap keleman Talang Air Kunyit, Bocah Dulah, Kanak Binar, Budak Denan dan kawan-kawan bermain petak umpet di tengah sedu sedan obor kurang minyak tanah. Bersama senyum purnama.
(Sumber; Sajak Terang II; AMM)

Mangin menghentikan tingkahnya. Bunga merawan tergeletak di meja komputernya. Sherina bernyanyi di MP3 dalam 5 menit 22 detik,.... terbang dengan balon udaranya. Tangan Mangin menggerakkan mouse.. Start Menu > Program > Office 2000 > Microsoft Word.

Menuliskan sesuatu yang berkecamuk.
Dinda, mengapa sedemikian banyak energi yang harus kukumpulkan untuk mengakui semuanya. Karena ini bukan khayali. Jika kupakai saja energi yang ada bagaimana? Oh apakah aku butuh subsidi energi.

Padahal, subsidi untuk listrik tahukah kau, Dinda? Meningkat sejak 1998 mencapai 2001 menjadi 4,7 Triliyun Rupiah. Dan kuceritakan untuk membangun pembangkit listrik Nang Seno; Ulir Sumbu Tegak hanya paling tinggi 25 juta rupiah. 450 Watt sampai 2500 Watt dibangkitkan. Taruhlah energi ini menuhi kebutuhan 50 Kepala Keluarga di pedusunan. Berapakah pembangkit ini dibangun dengan dana subsidi? Berapa kekuatan energi dibangkitkan? Berapa jumlah desa terterangi? Hanya dengan merangkul kekuatan angin yang selalu dihembuskan alam.

Dinda, untuk membangun pembangkit listrik swasta milik 27 IIPs, berapa banyak energi fosil harus diperkosa. 11 IPPs menggunakan batubara sebagai bahan bakar. 6 menggunakan gas alam dan 9 memakai panas bumi. Ada satu memanfaatkan air , tapi dia harus dibisikkan supaya tak membangun dam yang menenggelamkan rakyat selayaknya Kedung Ombo.

Dinda keduapuluh tujuhnya adalah utang luar negeri.
(Sumber; Buku Harian Mangin Halaman 79)

Ruangan yang panas. Kopi yang tak lagi mengepul, ampas di bibir mug. Entah apakah tulisan ini akan juga diserahkan kepada Dinda untuk dibaca. Tetapi mengenangkan Dinda adalah mengenangkan dunia pendidikan juga. Mengenangkan kampus. Mengingatkan Seno tua, Da Vinci, dan bayangkan jika saja pemborosan dana negara tak terjadi dan mampu membangun pendidikan total, total education pendidikan yang membebaskan menuju keutuhan manusia sebagai umat terhormat di bumi maka Da Vinci tidak akan hanya satu, Seno tak hanya ada di Sambisari.

Dan restrukturisasi adalah juga ancaman dunia pendidikan. Karena implikasinya terhadap nasionalisasi utang luar negeri juga membuat penyunatan bidang-bidang yang menyangkut hajat hidup orang banyak lainnya, pendidikan, kesehatan,.. Waduh, tanpa itu pun telah terjadi semuanya.

Oh, dunia tak semuda bermain ular tangga.
***
bersambung
Rumah Hijau, 10 Oktober 2001; 04.06