|
sajak
Imaji Harapan
Edwin
Dan
apakah luka
Selain kemanjaan dan keterasingan
Dalam samudra harapan
Tapi lihat ujung tombaknya
Menusuk berjuta kepala
Melahirkan tiran dan melestarikan
Penindasan
Dalam mitologi divinitas
Kepasrahan pada mahaluka
Menjerumuskan
Jiwa-jiwa yang basah
Oleh airmata kemayaan
Pada sumur tanpa dasar
Dimana-harapan dikaitkan
Kau Bukan itu
Sungguh aku yakin sekali
Akankah ada yang peduli
Jakarta, 26 Desember 2000
Stasiun
Terakhir
Di sini kita labuhkan luka dan sepi
Lantas kita berkaca
Cawan-cawan anggur yang berdenting
Seperti lonceng kematian
Yang tak lagi menakutkan
Cermin itu ternyata
buram
Mata kita pun terlalu nanar
Untuk membaca kenyataan
Bahkan untuk menjadi nyata
Kini hanya tersisa
Kursi dan meja sunyi
Tanpa jiwa
Kereta terakhir telah lama tiba
Malam sudah semakin larut
Terminus Café CCF Bandung, Oktober 1999
Saat-saat Kuberbaring
di Pahamu
Aku telah preteli segala lencana
Kucuci riasan yang mengerikan itu
Yang dipasang di parasmu
Kunikmati kecantikanmu
Dalam wajah yang ternikmati mata batinku
Kucumbui engkau
Dalam mabukku akan luka
Dalam perih yang meracunikuMungkin mataku terlalu nanar
Untuk menatapmu dengan jelas
Setidaknya aku mampu
Merasai hangatnya rengkuhanmu
Saat tetes darah dari keningku
Jatuh di pahamu
Saat-saat ku berbaring diatasnya
Jl. Kampus II Bandung, Mei 1999
|