novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Dari Melyuzeyevo, ada dua jalan raya, satu ke Timur, lainnya ke Barat. Yang satu becek dan lewat hutan menuju Zabushino, kota kecil yang berdagang gandum, administratif di bawah Melyuzeyevo, meskipun dalam banyak hal lebih maju. Lainnya berkerikil, lewat padang-padang, panas di musim dingin, tapi kering di musim panas, menuju ke Biryuchi, pusat jalan kereta api yang terdekat.

Dalam Bulan Juni, Zabushino menjadi Republik merdeka, dibentuk oleh pemilik kincir Blazheiko dan disokong kaum desertir dari Resimen Barisan ke-212 yang meninggalkan medan perang pada waktu pergolakan dengan terus membawa senjata, kemudian tiba di Zabushino melalui Biryuchi.

Republik ini tak mau mengakui Pemerintah Sementara, lalu melepaskan diri dari Rusia selebihnya. Blazheiko adalah penganut sesuatu sekte yang pernah surat menyurat dengan Tolstoy. Dewan Setempat disebutnya Sidang Nabi dan ia proklamasikan kerajaan 'seribu tahun' yang baru, dimana segala pekerjaan dibagi sama rata dan segala milik dipunyai bersama-sama.

Zabushino selalu menjadi tempat sasakala dan hal-hal lain yang dilebih-lebihkan. Ia disebut dalam tambo Zaman Kerusuhan*, letaknya di tengah rimba-rimba lebat yang sampai waktu belakangan ini penuh dihuni kaum perampok. Kota ini mashur dimana-mana, berkat kemakmuran para pedagangnya serta kekayaan buminya yang bukan kepalang dan dari sini pula terbitnya banyak kepercayaan rakyat, adat serta keanehan bahasa yang mencirikan seluruh daerah.

Tentang kaki tangan Blazheiko kini seperti biasanya tersebarlah cerita-cerita ajaib. Konon ia lahir bisu dan tuli dan hanya mampu bicara atas kemurahan Tuhan yang khusus dilimpahkan padanya sewaktu-waktu.

Republik ini hidupnya dua minggu, dirobohkan sebelum akhir Juni oleh kesatua yang taat pada Pemerintah Sementara. Kaum disertir undur ke Biryuchi. Di sepanjang rel ada beberapa mil rimba yang pernah dibuka di kanan kiri pusat jalan kereta api; disitulah di tengah medan tonggak-tonggak tua yang ditumbuhi pohon anggur liar, di tengah onggokan kayu yang kusut karena pencurian serta pondok-pondok bobrok dari kaum pekerja musiman yang menebang pohon-pohon, maka para desertir itu membuat perkemahan.
***bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000