Dari
Melyuzeyevo, ada dua jalan raya, satu ke Timur, lainnya ke Barat.
Yang satu becek dan lewat hutan menuju Zabushino, kota kecil yang
berdagang gandum, administratif di bawah Melyuzeyevo, meskipun dalam
banyak hal lebih maju. Lainnya berkerikil, lewat padang-padang, panas
di musim dingin, tapi kering di musim panas, menuju ke Biryuchi, pusat
jalan kereta api yang terdekat.
Dalam
Bulan Juni, Zabushino menjadi Republik merdeka, dibentuk oleh pemilik
kincir Blazheiko dan disokong kaum desertir dari Resimen Barisan ke-212
yang meninggalkan medan perang pada waktu pergolakan dengan terus
membawa senjata, kemudian tiba di Zabushino melalui Biryuchi.
Republik
ini tak mau mengakui Pemerintah Sementara, lalu melepaskan diri dari
Rusia selebihnya. Blazheiko adalah penganut sesuatu sekte yang pernah
surat menyurat dengan Tolstoy. Dewan Setempat disebutnya Sidang Nabi
dan ia proklamasikan kerajaan 'seribu tahun' yang baru, dimana segala
pekerjaan dibagi sama rata dan segala milik dipunyai bersama-sama.
Zabushino
selalu menjadi tempat sasakala dan hal-hal lain yang dilebih-lebihkan.
Ia disebut dalam tambo Zaman Kerusuhan*, letaknya di tengah rimba-rimba
lebat yang sampai waktu belakangan ini penuh dihuni kaum perampok.
Kota ini mashur dimana-mana, berkat kemakmuran para pedagangnya serta
kekayaan buminya yang bukan kepalang dan dari sini pula terbitnya
banyak kepercayaan rakyat, adat serta keanehan bahasa yang mencirikan
seluruh daerah.
Tentang
kaki tangan Blazheiko kini seperti biasanya tersebarlah cerita-cerita
ajaib. Konon ia lahir bisu dan tuli dan hanya mampu bicara atas kemurahan
Tuhan yang khusus dilimpahkan padanya sewaktu-waktu.
Republik
ini hidupnya dua minggu, dirobohkan sebelum akhir Juni oleh kesatua
yang taat pada Pemerintah Sementara. Kaum disertir undur ke Biryuchi.
Di sepanjang rel ada beberapa mil rimba yang pernah dibuka di kanan
kiri pusat jalan kereta api; disitulah di tengah medan tonggak-tonggak
tua yang ditumbuhi pohon anggur liar, di tengah onggokan kayu yang
kusut karena pencurian serta pondok-pondok bobrok dari kaum pekerja
musiman yang menebang pohon-pohon, maka para desertir itu membuat
perkemahan.
***bersambung
ceritanet©listonpsiregar2000