novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Belay On!
Aku tahu Mangin akan berangkat malam ini. Dengan Kereta malam, pukul sembilan. Dan biasa, tak ada yang istimewa mengenai sebuah keberangkatan antar kami, tak terbersit niatku mengantarnya. Demikian juga dia. Repot, jika aku harus mengatarnya, yang memang tak pernah menetap untuk tidak pergi kemana-mana.

Baru saja aku hendak pergi makan malam, ketika Monda mengendap masuk kamar Mangin. Serta merta dia sudah menutup hidung, karena kamar yang tidak pernah terawat. Sprai tetap seperti semula, acak-acakan sejak tadi pagi. Tidak terganggu. Aku terpaksa membuka daun jendela, supaya angin menipiskan aroma khas dari ruang semedi Mangin dan sekaligus sanggar seniku.

Angin membawa bau kuntum-kuntum kenanga di dekat pot heliconia. Kalau pagi kolibri terlihat mengecup kuncup-kuncup heliconia yang masih berembun. Tapi malam ini berbau kenanga.

"Agak lumayan," Monda berkomentar.
Tak jelas apakah Monda memuji bau malam atau entah apa.

"Cun, kamu tahu apa yang terjadi dengan teman sekamarmu?"
"Tahu."
"Ceritakan." Lagunya seperti memerintah.
"Dia sedang tersiksa di kamar mandi."
"Oh, ya?"
"He'eh, katanya kopi bikinan kamu bikin mules."
"Huuuu, bukan itu goblok."

Enak sekali Monda berkomentar. Datang datang-datang langsung memberi stigma goblok di jidatku. "Dasar Orde baru!"
"Eiit, apa maksudmu?!"
"Lha, yang biasa nuduh-nuduh itu, kan? Mentang-mentang tidak sepakat dicap goblok, PKI, Anti Pembangunan, Subversiv, GPK," Jawabku. Tanganku langsung menyambar jacket.
"Hei, mau kemana. Kamu nggak tahu kalau kawanmu mulai gila."
"Kamu baru tahu? Dia sudah gila dari dulu. Kamu ini bagaimana?"
"Bukan, uhh! Dia lagi jatuh cinta, tapi sok misterius."

Aduh, mati aku. Obrolan di kamar ini hanya berkisar di issue itu. "Nggak tahu, dan nggak mau tahu."

Monda seperti kecewa. Tangannya memukul-mukulkan gulungan kertas di tangannya.
"Mon, berkas apa itu."
Dia menyodorkannya padaku. "Ini draft novel yang lagi dikerjakan Mangin. Tentang pemanjat tebing."
Aku membaca covernya. Belay, On! "Apa katamu tadi?"
"Aku lagi diminta mengkritisi draft ini oleh Mangin. Katanya ini novel baru dia."

Dasar plagiat. Pembohong. Enak saja dia mengklaim pekerjaan orang lain sebagai miliknya. "Asal kau tahu, saja Monda. Belay, On! Adalah milik aku. Tak ada sejarahnya Mangin menulis novel ini."
Aku pergi berlalu begitu saja. Aku mau tertawa, dan lapar.

"Mangin! Ngaku!"
Aku mendengar teriakan Monda dari teras.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000