komentar F4 di Negeri Dengan Berjuta Keajaiban
Galih Pratidina Maharsiwi

Sebuah hajatan besar baru digelar di Indonesia ; megakonser F4 atau Flower Four, kelompok remaja asal Taiwan yang melejit lewat film Meteor Garden. F4 menciptakan sebuah fenomena baru. Histeria yang mengekorinya, benar-benar membuat F4 tak lagi milik remaja semata, juga milik anak kecil yang baru bisa mengoceh sampai nenek-nenek.

Mulai model pakaian sampai model rambut yang licin berkibar-kibar --model rambut ini terkenal dengan nama FIR; Flat Ion Rebounding-- tiba-tiba jadi mode yang ramai diikuti masyarakat. Mulai dari pelosok kampung, sampai rumah gedongan di kawasan elite. Mulai dari mereka yang bukan siapa-siapa sampai para artis; rame-rame tanpa pandang bulu jadi korban F4.

Tengok saja beberapa nama selebriti seperti Krisdayanti sampai Mira Lesmana, yang rela duduk berjam-jam di salon demi memperoleh gaya rambut yang lurus licin bak selesai disetrika. Ratusan ribu, bahkan mungkin berjuta perak dengan enteng mereka
keluarkan demi penampilan F4.

Para produsen berlomba-lomba membuat merchandise ala F4. Mulai dari harga murah -hampir pasti produk bajakan-- supaya bisa terbeli, atau mungkin tepatnya supaya bisa memukul, orang-orang di sudut gang, sampai souvenir yang hanya mampu dijangkau oleh golongan berpunya.

Tiket masuk konser F4, dari Rp. 200.000,- sampai Rp. 2.000.000,- ludes terjual sejak jauh-jauh hari sebelum konser digelar. Dilihat dari harganya yang cukup mahal, untuk ukuran bangsa yang sedang sekarat, nyatanya tiket tersebut laris manis bak kacang goreng atawa tahu sumedang yang banyak dijajakan di jalan-jalan.

Keluarga Presiden Megawati sampai rela merogoh kocek sekitar Rp. 100 juta, demi memborong 50 tiket VVIP. Stasiun TV pun berlomba-lomba mengadakan kuis, dengan iming-iming hadiah tiket nonton konser F4.

Sungguh luar biasa.

Bagaimana mungkin, hal yang seharusnya dikategorikan ke dalam kebutuhan tersier, merasuk masuk ke dalam kebutuhan primer. Sesuatu yang dengan terpaksa menjadi sebuah keharusan, agar sekedar dianggap tidak ketinggalan jaman.

Mengherankan?

Di Indonesia, ternyata F4 dan ekor-ekornya yang agak berlebihan itu, hanyalah satu fakta diantara sekian ribu contoh kejaiban yang rutin.

Sebuah republik yang dibangun setelah melewati masa-masa perih kolonialisme berdarah selama ratusan tahun memang berhasil merdeka, secara fisik. Namun sejatinya, bangsa Indonesia tidaklah pernah memaknai kemerdekaan itu sendiri. Saking sulitnya memaknai kemerdekaan, sampai-sampai batas antara kemerdekaan dengan keterjajahan merentang tipis.

Penjajahan, di luar batasan penindasan fisik, juga berarti sebagai pengkerdilan terhadap nilai-nilai kemerdekaan yang sesungguhnya. Pembatasan ide, pembredelan media, mahalnya uang sekolah, tarif-tarif yang melesat naik, merupakan wujud-wujud baru penjajahan modern.

Ada pula penjajahan yang dirasakan sebagai sebuah bentuk kemerdekaan. Sekali waktu, pada sebuah pameran mobil built-up mewah, hampir seluruh produk industri mobil multi-nasional yang dipamerkan habis terjual. Belum lagi deretan pembeli bersedia menunggu giliran karena demand yang amat jauh lebih tinggi dari supply-nya. Seolah-olah yang sedang terwujud adalah kemerdekaan untuk memiliki sesuatu tanpa batasan finansial, walau sebenarnya jelas ada gagasan penjajahan yang membayanginya.

Dimana-mana terlihat seliweran manusia menenteng ponsel, walaupun sebenarnya pertanyaan tentang prioritas kebutuhan layak dipertanyakan. Betapa mirisnya melihat seorang anak SD, yang masih lengkap berseragam celana merah dan baju putih, sedang asyik ber-SMS ria melalui ponsel terbaru seharga jutaan rupiah di genggamannya.

Di kawasan perkantoran megah, seorang resepsionis dengan gaji tak sampai sejuta, rela mengeluarkan beratus ribu untuk sebotol parfum Hugo Boss. Mulai dari gaya rambut, pakaian sampai sepatu yang dikenakannya, sama sekali tidak mencerminkan seorang pekerja bergaji minim, yang tinggal di kawasan padat penduduk, yang tiap pagi dan sore harus rela mengejar-ngejar metromini atau bus kota nan penuh sesak, layaknya ikan sardin dalam kaleng.

Semua terperangkap menjadi simbol eksistensi dalam masyarakat. Tak pernah disadari, symbol eksistensi yang material tersebut merupakan salah satu bentuk penjajahan. Orang terjajah, karena tidak mampu lagi menguasai diri sendiri. Orang-orang di Indonesia, mempunyai satu atau bahkan beberapa topeng demi menutupi borok pada mukanya.

Indonesia menutup matanya sendiri, bahwa bangsa Indonesia sedang anfal. Konsumerisme total sedang melanda. Masyarakat merasa lebih malu jika tak bisa
menenteng ponsel jenis terbaru, jika tidak bisa naik Aston Martin, jika tidak menyemprot parfum bermerek -sekalipun dengan kredit konsumtif berbunga tinggi dari lembaga keuangan modern yang kapitalis tulen.

Indonesia seharusnya cukup malu sebagai pasien tetap dari lembaga-lembaga donor dunia. Ironis, mengingat Indonesia adalah negeri dengan sumber daya alam yang beragam dan berlimpah. Jelaslah bahwa bangsa ini telah gagal menjadi bangsa merdeka. Gagal karena keterpukauan akan material, terpukau pada gengsi dan ketamakan.

Rakyat Indonesia mungkin merasa lebih makmur dan lebih maju dari orang-orang miskin dan papah di gang-gang kumuh di kota Bombay, India. Namun, apakah Indonesia memiliki yang mereka miliki ; sebuah identitas, orang-orang besar, dan kemajuan ilmu pengetahuan, dan kesusasteraan yang mendunia.

Hanya kitalah, orang Indonesia, yang bisa menjawabnya.

Soekarno pernah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Bangsa di Indonesia, sebuah negeri dengan berjuta keajaiban, sepertinya tak pernah berniat jadi besar.
***

ceritanet©listonpsiregar2000