esei City of (no) God
Liston P. Siregar

Salah satu soal dari film tentang kekerasan dan kesengsaraan adalah terperangkap jadi romantisme, lengkap dengan heronya, seperti, misalnya seri The Godfather. Amat menghibur, tapi sedikit mengelabui -para pembunuh yang dikemas jadi tokoh idola yang bijak. Di ujung seberang ada soal lain; nyaris jadi dokumentasi, seperti Rosetta (Jean Pierre Dardenne dan Luc Dardenne). Rosetta, yang amat dasyat, tidak memberi celah-celah penghiburan sedikitpun, karena semata-mata membuat pernyataan --yang memang nyata-- tentang orang yang --terlepas dari apapun yang terjadi-- tidak akan pernah bisa memperbaiki hidupnya. Sekali sampah tetap sampah.

Sulit rasanya untuk mencampur keduanya, tapi bisa. Fernando Meirelles membuktikan lewat City of God.

City of God menceritakan tempat, daerah pemukiman orang-orang miskin Cidade de Deus di Rio de Janeiro yang mulai dibangun tahun 1960-an dan tahun 1980-an menjadi daerah paling berbahaya di Rio de Janeiro --artinya bisa jadi salah satu daerah paling berbahaya di dunia. Ke kompleks Perumnas inilah orang-orang miskin Brasil, yang digusur atau yang kebanjiran, datang dan tinggal di barisan rumah-rumah sempit.

Dan detik pertama, dengan kilatan pisau dan bunyi geritan batu asah yang bergantian hilang muncul, menjadi peringatan awal bagaimana bentuk dan isi dari 129 menit ke depan. Perlahan-lahan musik Samba Brasil mengeras, ayam hidup dicabut dari tali ikatan, dipotong, dikuliti, daging ayam ditusukkan ke besi-besi pemanggangan; sebuah pesta siang hari di sebuah kampung kumuh Brasil.

Tapi ini pesta pengantar perang. Seekor ayam terlepas dan semua orang mengejar sambil menembak ke seluruh penjuru. Di sebuah gang seorang fotografer muda terperangkap di tengah barisan bandit yang mengejar ayam dan polisi. Stop, kata Fernando Meirelles.

Itu hanya ujung cerita, akibat dari sejumlah persoalan pada masa-masa sebelumnya yang jauh lebih penting untuk diketahui, bahwa orang-orang jahat bukan dijatuhkan Tuhan dari langit begitu saja, tapi dibentuk oleh sebuah tempat yang jahat, sebuah tempat yang tidak ada Tuhan tapi diharapkan --oleh pemerintah Brasil-- akan diberkati Tuhan menjadi kota yang adil, makmur, dan sentosa; City of God.

Fernando pun kilas balik ke masa tahun 1960-an di Cidade de Deus, di pinggiran Rio de Janeiro dengan warna coklat tandus kerontang. Anak-anak kecil bermain bola, bermain kekerasan, bermain pistol. Tiga anak tanggung jago jalanan jadi pengantar cerita; merampok truk gas, menyerbu kompleks pelacuran, mengancam penduduk kota, dan sebuah mobil curian menabrak warung tapi hanya satu orang saja di warung yang mau mengaku kepada polisi tahu pengemudinya.

Cerita kemudian melompat ke masa 1970-an lewat Buscape, anak Cidade de Deus, yang mungkin kebetulan punya sedikit akal sehat dan perasaan lebih dibanding rata-rata anak Cidada de Deus lain. Ia melihat seorang fotografer memotret teman abangnya yang mati terkapar ditembak polisi --abangnya sendiri ditembak oleh sesama anak kampung situ juga-- dan bercita-cita jadi fotografer. Dia berada ditengah-tengah, antara mafia pedagang heroin dan ganja dengan cita-cita fotografernya. Sesekali dia beli ganja dari Blacky, pengedar utama, untuk dapat point dari cewek yang dia taksir.

Blacky tinggal di flat yang sejak dulu jadi tempat jual ganja dengan pemilik berganti-ganti dan Fernando berhasil secara efisien menyusun sejarah singkat flat itu dengan cepat tapi lengkap. Dari sebuah rumah tempat seorang perempuan penjual obat bius yang memelihara seorang anak laki-laki untuk hubungan seksnya, kemudian direbut anak laki-laki itu, lantas dikuasai oleh orang lain, Carrot, dan kemudian diserahkan Carrot kepada Blacky.

Ada transisi dari tempat amatiran yang tenang menjadi tempat para penjahat yang keras, jorok, dan jijik. Kejahatan, dan kekerasan, memang bisa berkembang dari yang kecil-kecil.

Suatu saat, ketika Buscape alias Rocket sedang beli ganja di rumah Blacky, jagoan Cidade de Deus lain datang; Dadindo alias Li'l Ze. Suasana tegang, dan dengan sejarah tempat itu yang masih melekat, Fernando tidak menyelesaikannya langsung tapi menahannya.

Cerita ditarik lagi ke belakang dan digulirkan sampai ke adegan yang sama; pintu diketok keras, Blacky menyingkir ke samping dan mengambil pistol, siap menembak tapi rupanya Dadinho yang datang.
''Ah elo kok masuk ke tempat gua pakai bikin takut," kata Blacky.
"Bukan tempatmu lagi," balas Dadinho.

Stop lagi, kata Fernando. Itu sudah pasti, Dadinho akan menembak Blacky dan menguasai perdagangan, tapi di Cidade de Deus tembak menembak itu soal biasa.

Cerita ditarik mundur lagi sebelum kembali digulirkan ke adegan tadi, dan barulah Dadinho dan pasukannya membunuhi pasukan Blacky dan menembak kaki Blacky. Efek penantian ternyata jauh lebih mengerikan dibanding apa yang sebenarnya terjadi, yang sebenarnya sudah diduga. dan tiba-tiba pembunuhan justru melepas kelegaan.

Dendam dibalik dendam
Salah satu sumber untuk terlibat kekerasan adalah menjadi korban kekerasan. Istri Mane Galinha diperkosa Li'l Ze, adiknya ditembak Li'l Ze, dan dia bergabung dengan kelompok seberang, Carrot, untuk membalaskan dendam pada Li'l Ze. Ia memulai dengan peraturan tidak boleh menembak orang biasa, tapi kemudian 'selalu ada pengecualian dalam setiap peraturan' dan lama-lama menjadi 'pengecualian adalah peraturan.'

Pertarungan Carrot dengan Li'l Ze makin meluas dan dengan semangat perluasan pasukan maka setiap anak-anak yang datang bergabung dikasih pistol, dengan alasan masing-masing. Ada yang karena pernah disepak sama anak yang tinggal di daerah kekuasaan Li'l Ze, dan ada yang tidak suka sama anak dari kelompok Carrot, meskipun ada dengan alasan yang amat serius ; untuk 'membunuh pembunuh ayahku.'

Sumber lain dari kekerasan adalah cari selamat. Di City of God, dan juga di banyak tempat lainnya di dunia, ada banyak anak-anak yang baru diakui menjadi dewasa setelah mengganja, menghisap heroin, dan membunuh. Dan sebagai pengesahan kedewasaan, membunuh teman juga bukan soal. Pilihan di tempat-tempat seperti itu memang tidak banyak, tinggal menjadi tai sampah atau menjadi kepala sampah atau mati sebagai sampah.

Hanya Rocket yang berbeda jalan hidupnya, dan pakai faktor kebetulan. Li'l Ze pingin difoto dan di City of God hanya ada satu anak yang tahu caranya memotret. Rocketpun dipanggil dan foto-foto Li'l Ze serta anak buahnya yang berbangga dengan pistol dan senapan mesin terambil oleh wartawan dan dipajang di halaman satu. Surat kabar senang, Li'l Ze senang, walau Rocket sempat ketakutan karena menduga Li'l Ze bakal marah.

Nasib jugalah yang membuat Rocket terperangkap di tengah perang kelompok Li'l Ze --yang tadi berpesta mengejar ayam lepas-- dan kelompok Carrot plus Mane Galinha, yang kemudian mati ditembak oleh seorang anak, yang bapaknya --satpam Bank-- ditembak mati Mane Galinha dalam salah satu aksi perampokan.

Akhirnya Li'l Ze juga mati, Carrot masuk penjara, dan antek-antek mereka juga mati bergelimpangan. Tapi penerus mereka berkeliaran. Layar ditutup dengan anak-anak yang menenteng pistol dan saling adu sesumbar kekerasan.

Di banyak tempat di dunia ini, Tuhan bukan menjatuhkan orang jahat begitu saja dari langit, tapi ada tempat jahat yang bisa mengasahnya dengan baik. Salah satunya di City of God, dan salah satunya lagi mungkin di salah satu rumah disekitar, atau bisa jadi di rumah kita sendiri.

Fernando Meirelles
City of God disusun dari dari novel Paul Lins yang dikembangkan dari sebuah proyek Crime in the Lower Classes di kawasan pemukiman itu dan menjadi salah satu best seller di Brasil. Paul Lins mengaku ingin agar novelnya bisa difilmkan dan Fernando Meirelles yang kemudian tertarik.

Tanpa tehnik akting menjadi prinsip dasar Fernando Meirelles, yang menjadi kekuatan City of God. Sebagian besar pemain adalah anak-anak kampung kumuh yang memang sehari-harinya hidup dalam kenyataan kampung kumuh, lengkap dengan kekerasannya. Untuk makin mendekatkan pada kenyataan, Fernando meminta bantuan Paul Lins dalam mengembangkan karakter-karakter dan memuaskan Paul Lins; "Saya amat gembira dengan castingnya dan bagainana rekonstruksi tiap karakter dengan amat natural. .

Fernando Meirelles, lahir di Sao Paulo tahun 1955, sempat sekolah arsitektur di Universitas Sao Paulo dan terjun ke produksi video eksperimental sebelum masuk ke layar lebar. Namanya tidak banyak keluar dari Brasil walau karyanya pernah juga meraih penghargaan internasional, seperti film Palace II yang mendapat penghargaan dari Festival Film Internasional di Berlin dan Irlandia Utara. Tapi dengan City of God inilah, Fernando menyebarkan namanya, dan juga dunia film Brasil, ke seluruh dunia.

Seorang pengamat film Inggris mengaku menanti-nanti tahun 2003 dengan dua film, Gangs of New York dan City of God. Dia memutuskan City of God lebih dulu. Keputusan yang amat tepat, dan saya menduga setelah menonton City of God mungkin dia kehilangan hasrat menonton Gangs of New York, yang ada Leonardo DiCaprio-nya.
***

ceritanet©listonpsiregar2000