novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Hujan mengubah debu hitam jadi lumpur berwarna kopi dan lumpur ini tersebar di jalan-jalan yang kebanyakannya tak berlapis batu.

Kota itu kecil sekali. Diujung hampir tiap jalan masih kelihatan stepa tandus dan langit suram, tamasya luas yang muram akibat revolusi dan perang.

Yuri menulis pada istrinya ; "Sudah kulihat beberapa kesatuan tentara dekat sini. Kekacauan terus bertambah, walaupun ada saja dicoba untuk memperbaiki disiplin dan moral."

" Dengan cara post scriptum (mestinya kusebut lebih dulu) perlu kuceritakan bahwa banyak pekerjaan kulakukan bersama seorang Antipova, jururawat dari Moskow yang lahir di Ural."

"Kau ingat mahasiswa wanita yang menembak jaksa umum di pesta mengerikan itu pada malam meninggalnya ibumu? Kurasa, kemudian ada pengadilan. Kuingat pernah menceritakan padamu bahwa Misha dan aku melihat dia sekali, ketika masih bersekolah di sebuah hotel yang kotor dimana ayah membawa kita, tak kuingat apa sebab kita pergi, hanya kuingat bahwa malam itu sangat dingin. Kukira waktu itulah terjadi pemberontakan di Presnya. Nah gadis itulah Antipova."

"Sudah kucoba berkali-kali untuk pulang, tapi itu tak gampang. Soalnya bukanlah pekerjaan, itu mudah kami selesaikan, yang sulit ialah perjalanan. Tak ada kereta api sama sekali, atau kalau ada, begitu penuh sampai kami tdak ada harapan untuk naik."

"Tapi tentu saja tak bisa terus menerus tak menentu semacam ini; ada diantara kita yang telah berhenti atau tak dibutuhkan lagi, termasuk Antipova dan Galiulllin, sudah berniat bersama aku hendak berangkat pekan depan, apapun yang terjadi. Kami akan berangkat terpisah-pisah, dengan begitu harapan kami lebih baik."

"Jadi tiap hari aku mungkin muncul tiba-tiba, sungguhpun akan kucoba mengirim telegram."

Tapi sebelum berangkat diterimanya jawaban Tonya. Dengan kalimat-kalimat yang patah-patah melulu oleh tangis dan dengan air mata serta bintik-bintik tinta sebagai tanda baca, ia minta padanya agar tak pulang ke Moskow tapi langsung pergi ke Ural bersama jururawat yang hebat itu yang perjalanan hidupnya ditandai berbagai alamat dan peristiwa serba ajaib, hingga dia, si Tonya, dengan hidupnya yang bersahaja tak mampu bersaing dengannya.

"Jangan kuatirkan hari depan Sasha," tulisnya. "Kau tak bakal perlu malu tentang dia. Akan kubesarkan dia dengan prinsip-prinsip yang semasa kecilmu kau saksikan penggunaannya di rumah kita, begitulah janjiku."

Yuri membalas. "Kau agaknya hilang akal, Tonya! Mengapa sampai kau khayalkan hal yang demikian? Tidakkah kau mengerti --atau tak merasa cukup mendalam, bahwa kalau bukan karena kau, kalau bukan karena pikiranku yang teguh lagi setia tentang kau dan rumah kita, aku tak dapat mengatasi dua tahun peperangan yang mengerikan dan merusak ini? Tapi kata-kata tak guna. Kita segera akan bersama-sama, penghidupan kita akan mulai lagi, maka semuanya akan terang."

"Yang menjadi pikiran mengenai suratmu ialah soal lain, Kalau aku benar-benar memberimu alasan untuk menulis secara begitu, kelakuanku dulu tentangnya bercabang dan aku bersalah tak hanya terhadap kau, tapi juga terhadap wanita lain yang telah kusesatkan. Aku akan minta maaf padanya, bila ia kembali. Dia di dusun. Dewan-dewan setempat sedang dibentuk di dusun-dusun (terlepas dari dewan-dewan setingkat propinsui atau kota yang sudah ada sebelumnya) dan dia pergi untuk membantu sahabatnya yang bertindak selaku instruktur, berhubung drengan perubahan-perubahan dalam pemerintahan ini."

"Barangkali perlu kau ketahui bahwa meskipun kami tinggal di satu rumah, namun sampai sekarang aku tak tahu mana kamar Antipova, aku tak pernah berusaha mencarinya."
***bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000