Hujan
mengubah debu hitam jadi lumpur berwarna kopi dan lumpur ini tersebar
di jalan-jalan yang kebanyakannya tak berlapis batu.
Kota
itu kecil sekali. Diujung hampir tiap jalan masih kelihatan stepa
tandus dan langit suram, tamasya luas yang muram akibat revolusi dan
perang.
Yuri
menulis pada istrinya ; "Sudah kulihat beberapa kesatuan tentara
dekat sini. Kekacauan terus bertambah, walaupun ada saja dicoba untuk
memperbaiki disiplin dan moral."
"
Dengan cara post scriptum (mestinya kusebut lebih dulu) perlu kuceritakan
bahwa banyak pekerjaan kulakukan bersama seorang Antipova, jururawat
dari Moskow yang lahir di Ural."
"Kau
ingat mahasiswa wanita yang menembak jaksa umum di pesta mengerikan
itu pada malam meninggalnya ibumu? Kurasa, kemudian ada pengadilan.
Kuingat pernah menceritakan padamu bahwa Misha dan aku melihat dia
sekali, ketika masih bersekolah di sebuah hotel yang kotor dimana
ayah membawa kita, tak kuingat apa sebab kita pergi, hanya kuingat
bahwa malam itu sangat dingin. Kukira waktu itulah terjadi pemberontakan
di Presnya. Nah gadis itulah Antipova."
"Sudah
kucoba berkali-kali untuk pulang, tapi itu tak gampang. Soalnya bukanlah
pekerjaan, itu mudah kami selesaikan, yang sulit ialah perjalanan.
Tak ada kereta api sama sekali, atau kalau ada, begitu penuh sampai
kami tdak ada harapan untuk naik."
"Tapi
tentu saja tak bisa terus menerus tak menentu semacam ini; ada diantara
kita yang telah berhenti atau tak dibutuhkan lagi, termasuk Antipova
dan Galiulllin, sudah berniat bersama aku hendak berangkat pekan depan,
apapun yang terjadi. Kami akan berangkat terpisah-pisah, dengan begitu
harapan kami lebih baik."
"Jadi
tiap hari aku mungkin muncul tiba-tiba, sungguhpun akan kucoba mengirim
telegram."
Tapi
sebelum berangkat diterimanya jawaban Tonya. Dengan kalimat-kalimat
yang patah-patah melulu oleh tangis dan dengan air mata serta bintik-bintik
tinta sebagai tanda baca, ia minta padanya agar tak pulang ke Moskow
tapi langsung pergi ke Ural bersama jururawat yang hebat itu yang
perjalanan hidupnya ditandai berbagai alamat dan peristiwa serba ajaib,
hingga dia, si Tonya, dengan hidupnya yang bersahaja tak mampu bersaing
dengannya.
"Jangan
kuatirkan hari depan Sasha," tulisnya. "Kau tak bakal perlu
malu tentang dia. Akan kubesarkan dia dengan prinsip-prinsip yang
semasa kecilmu kau saksikan penggunaannya di rumah kita, begitulah
janjiku."
Yuri
membalas. "Kau agaknya hilang akal, Tonya! Mengapa sampai kau
khayalkan hal yang demikian? Tidakkah kau mengerti --atau tak merasa
cukup mendalam, bahwa kalau bukan karena kau, kalau bukan karena pikiranku
yang teguh lagi setia tentang kau dan rumah kita, aku tak dapat mengatasi
dua tahun peperangan yang mengerikan dan merusak ini? Tapi kata-kata
tak guna. Kita segera akan bersama-sama, penghidupan kita akan mulai
lagi, maka semuanya akan terang."
"Yang
menjadi pikiran mengenai suratmu ialah soal lain, Kalau aku benar-benar
memberimu alasan untuk menulis secara begitu, kelakuanku dulu tentangnya
bercabang dan aku bersalah tak hanya terhadap kau, tapi juga terhadap
wanita lain yang telah kusesatkan. Aku akan minta maaf padanya, bila
ia kembali. Dia di dusun. Dewan-dewan setempat sedang dibentuk di
dusun-dusun (terlepas dari dewan-dewan setingkat propinsui atau kota
yang sudah ada sebelumnya) dan dia pergi untuk membantu sahabatnya
yang bertindak selaku instruktur, berhubung drengan perubahan-perubahan
dalam pemerintahan ini."
"Barangkali
perlu kau ketahui bahwa meskipun kami tinggal di satu rumah, namun
sampai sekarang aku tak tahu mana kamar Antipova, aku tak pernah berusaha
mencarinya."
***bersambung
ceritanet©listonpsiregar2000