novel
Smaradina
Muda Mangin
Syam
Asinar Radjam
Tiga
...Tiga, dua, satu.
Mangin mulai masuk hitungan mundur menuju kehidupan yang mulai membuat
dia jijik dengan diri sendiri. Biasanya hari-hari dilalui dengan membaca
fenomena pembangunan, menulis report, mendikusikan peminggiran hak
rakyat, paling tidak membuat kertas daur ulang dll. Mangin mulai masuk
jebakan romantisme. Ya serabit!
Sangat tak masuk
akal kalau Dinda mampu membuat Mangin terhenyak sedemikian dibanding
bencana ekologis dan bencana kemanusiaan manapun. "Bunuh diri
saja, Kawan!" Nasehat Sotong suatu ketika. "Daripada kamu
jadi dungu, tongop."
"Kacus!"
"Ha, ha, ha,....."
Ya, setiap orang
apakah memang harus menjadi dungu ketika jatuh cinta? Sementara banyak
yang harus aku kerjakan; aktivitas tambang dan ancaman ekologis sudah
memprihatinkan dibanding patah hati sekalipun. Perizinan tambang sudah
dikeluarkan sampai angka yang sangat tidak rasional. Total luas perizinan
yang diberikan pada akhir tahun 1999 telah hampir mencapai enampuluh
persen dari luas daratan Indonesia. Untuk 668 Perusahaan Kuasa Pertambangan
dengan luas 48.363.263,09 hektar. Ditambah 105 Perusahaan Kontrak
Karya seluas 50.130.440 hektar, 116 Perusahaan PKP2B dengan luas 110.157.748
hektar. Basta!
(Sumber: Buku harian Mangin; Halaman 60)
Aku sering mengingatkan
dia, daripada membuang masa hanya kerena perempuan, kuceritakan beberapa
data statistik yang malah mungkin boleh jadi dia telah lebih dulu
tahu. Sampai tahun 1994 terdapat 2.138 izin pertambangan galian C
yang dikeluarkan oleh daerah dalam bentuk SIPD . Bahkan terlihat adanya
kecenderungan, perusahaan pertambangan mulai melakukan ekspansinya
untuk membuka pertambangannya didaerah kawasan hutan lindung dan konservasi.
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan angka 11,4 juta
ha hutan alam yang akan dikonversi menjadi kawasan pertambangan.
Jika dihitung-hitung,
kontribusi industri pertambangan untuk negara sangat rendah, antara
tahun 1993 - 1995 misalnya hanya berkisar antara 2,54 - 2,92 % dari
pendapatan kotor domestik (PDB). Anehnya, industri keruk yang begitu
destruktif masih menjadi primadona bagi negara. Secara sistematis
pemerintah berupaya mempertahankan eksistensi pertambangan di Indonesia.
Bahkan dengan berani menggadaikan nasib generasi mendatang; kehancuran
lingkungan hidup; penderitaan masyarakat adat; menurunnya kualitas
hidup penduduk lokal; meningkatnya kekerasan terhadap perempuan; dan
kehancuran ekologi pulau-pulau.
Dan Mangin masih
saja terpana oleh betina. Ya, serabit! Sekalipun tidak selalu berarti
romantisme menghambat revolusi. Tetapi sejarah mencatat kejadian buruk
yang banyak atas itu. Saat ini kalau diajak berdiskusi mengenai encaman
ekologi akibat pulping Indonesia, Mangin paling bilang,...
Ya, begitulah kanak-kanak
Membentuk burung-burungan, kapal terbang, kapal laut -teman prajurit
berkaki satu,... dengan selembar kertas.
Dan orang dewasa,... Dalam tertawa melipat dunia, memperkosa hutan,
melipat-lipat sawah, ladang, huma,... sungai dan perahu nelayan, menyumpal
teriakan orang kampung, demi sepotong kertas.
(Sumber; Sajak Sepotong Kertas; AMM)
Mestinya Mangin ingat
lagi, bahwa hingga tahun 2001, Departemen Kehutanan telah mengeluarkan
izin HPH sebanyak 355 meliputi luasan 38.025.091 ha; HTI sebanyak
175 dengan luasan 7.861.251 ha . Sedangkan di tahun 1997, perijinan
yang telah dikeluarkan untuk Perkebunan Kelapa Sawit sebanyak 612
dengan luasan 8.700.000 ha , belum lagi industri pertambakan, perkebunan
karet dan lain sebagainya.
Sebagian yang cukup
besar diperuntukan sebagai suplay kayu terhadap industri pulp dan
kertas di Indonesia. Dan semuanya kental dengan nuansa perampasan.
Mangin tak boleh lupa bahwa sampai saat ini ada 186 kasus sengketa
lahan rakyat yang berhadapan dengan pemodal yang mengelola Hutan Tanaman
Industri, perkebunan skala besar, industri, dan tambang, tak tinggal
pula pemerintah daerah.
Mangin masih saja
terhenyak. Kacau. Mambu. Hanya bimbang yang singgah dera jiwa...
***
Omerta
Matahari menjelang padam.
Daun jendela belum tertutup. Membuka lawang sisa hangat matahari.
Larik cahaya yang masih menerpa kisi jendela, mewarnai ruang tengah,
sebuah bengkel kerja bersama rumah kost.
Mangin fokus di
depan komputer. Menyerahkan sorenya pada sebuah dokumen yang pasat
dia baca dan menyentuh keyboard sewaktu-waktu. Speaker Hagi mengeluarkan
bunyi dari mp3 yang sengaja diaktivkan. The Police.
Selepas magrib.
Tapi kost-an yang selalu ramai dengan diskusi itu sepi saja sore ini.
Tinggal dia dan Minda yang dari tadi mengganggu kerjanya karena cuma
ingin main games. Mangin sedari tadi tak mempedulikan. Perhatiannya
hanya pada monitor komputer, kopi dengan mug yang belepotan ampas,
serta potongan pisang tembatu goreng.
"Kau pasti
sedang jatuh cinta?" todong Monda tiba-tiba. Hampir saja potongan
terakhir pisang tembatu goreng lepas dari jepitan gigi Mangin. Tapi
Mangin pura-pura tak mendengar, The Police berdendang Every Breath
You Take. Suara Sting memenuhi lubang telinga lelaki Mangin. Dan memang
Mangin tak ingin suara Sting terganggu oleh pertanyaan Monda.
"Ayo ngaku?"
Monda menyergapnya lagi. Mangin tetap tak menjawab. Malah berkoor
dengan Sting. ". Ill be watching you
!"
Monda mempermainkan
bandana merah di kepala Mangin. Mengacak-acak kepalanya. Kepalanya
menghalangi tatapan Mangin ke monitor komputernya.
"Ada apa sih,
nggak biasanya reseh begini? Belum sholat?" Mangin mencoba meraih
mug kopinya. Kepalanya mulai dibuat pusing oleh ulah Monda. Dia menjauhkan
diri dari meja kerja. Memaksakan diri menatap Monda yang memang kalau
lewat maghrib sangat sering mengacau pekerjaan siapa saja.
"Mau ngaku,
nggak?!" Tatapan gadis kecil tukang usil di kost-an mereka memainkan
pikiran Mangin.
Mangin merapatkan
giginya. Lalu menjilat bibirnya yang lengket sisa minyak pisang goreng.
"Apa yang
harus akui, Miss Monda?"
"Kau lagi jatuh cinta, Kan?"
"Kau peroleh dimana
pertanyaan yang mambu model begitu?"
"Mambu? Ha ha ha,
Diam nggak menyelesaikan kebimbanganmu,
kan?"
Mangin malah mendekati komputernya lagi. Memilih mendengar Deep Purple,
sometimes I fell like screaming. Monda malah merampas mouse. Memilih
lagu baru, you're the inspiration milik Chicago. Mangin membiarkannya.
Merelakan tiga menit empat puluh satu detiknya diisi lagu pilihan
Monda. Dan bernyanyi keras-keras.
"Tuh, kan?"
"Reseh! Meringam!"
"Ai cacam, Mangin. Aku nggak pernah lihat kau sebimbang ini.
Sebentar-sebentar membuka file komputer. Sepertinya kau mulai sok
puitis, ha ha ha. Lucu, apakah keharusan seorang yang jatuh cinta
cenderung sok menjadi pujangga? Ha ha ha, lucu sekali."
"Belum pernah melihat aku seserius ini?! Kamu kok, malah lucu
sekarang?"
Monda diam. Jemarinya
memainkan pensil. Mengetuk-ngetuk barisan giginya. Terbersit juga
rasa kasihan Mangin atas penasaran Monda.
"Oke, ku kasih
tahu. Tapi,
"
"Tapi apa?" Terlihat sekali perubahan warna muka Monda.
Girang.
"Buatkan aku kopi lagi.
Cepaaat!"
Monda berjingkrak
tertawa menang menuju dapur. Dari balik dapur terdengar dentingan
gelas beradu sendok. Ada suara kucuran air. Lalu sosok Monda dan satu
mug baru berisi teh yang baru di sedu. Aromanya merayap ke setiap
ruang kosong di rumah kost. Menabrak dinding kapur. Mungkin menghinggapi
pula poster seorang yang mengepalkan tangan kiri.
"Kau mau tanya
apa tadi?"
"Kau lagi jatuh cinta, kan?"
"Ha ha ha,
.Pertanyaanmu itu kontra revolusi, Monda. Kenapa
nggak kita diskusikan saja persoalan 186 kasus perampasan lahan di
Sumsel, atau persoalan bus mahasiswa Universitas Sriwijaya yang tak
pernah kelar?"
"Eiit, tadi kan sudah janji. Lagi pula persoalan yang kau sebutkan
tadi adalah wacana yang selalu kita diskusikan selama ini. Dan aku
protes kalau pertanyaan itu dianggap kontrev. Kan, kau dulu yang sendiri
yang pernah bilang kalau revolusi itu sendiri adalah mencintai?"
"Bukan aku sendiri yang berkata demikian. Preire, Che, bahkan
masih banyak yang lain. Camus pun pernah bilang bahwa pemberontakan
adalah kreatifitas. Dan kau pasti mampu menarik relasi antara kreatifitas
dan cinta."
Mangin menarik mug
yang ditaruh Monda di meja kayu dekat tumpukan kertas re-use.
"Ya, okelah!
Tapi pertanyaanku harus kau jawab." Monda setengah memaksa.
"Pertanyaan yang mana lagi?"
"Akui saja kalau kau sedang jatuh cinta!"
"Dengan siapa?"
"Sumber inspirasimu saat ini. Yang kau sering lantunkan..."
'Lebih baik berbuat
dosa, dari pada aku mengakuinya,' dalam hati Mangin berkata. Tapi
dia hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum saja. "Aku hanya
sedang konsentrasi pada sebuah naskah ini saat ini."
Mangin menyodorkan
sebuah print-out dokumen. "Baca dan kritisi. Tak ada urusan dengan
kegelian seperti yang kau sebut tadi. Buat aku tawarkan pada seorang
kawan penerbit, selepas aku dari Bogor."
Monda menerima lembaran
naskah novel yang diakui Mangin belum selesai tersebut. Membuka-buka.
Mangin menjauh naik
ke kamarnya. Monda mengikuti. Mengosongkan black ranselnya. Buku catatan
kuliah, terlempar-lempar ke ujung meja. Baju kaos kumal selanjutnya.
Lalu ke luar sebentar ke teras kamar, menyambar saja beberapa kemeja,
kaos, celana dalam, kain tajung , selembar kain panjang batik milik
emaknya. Semuanya tergulung dan dimasukkan saja ke dalam ransel. Diikuti
beberapa buku bacaan, buku catatan, pensil, sikat gigi, odol.
"Berangkatnya,
kapan?"
Pertanyaan Monda menghentikan sementara kegiatan Mangin.
"Besok malam."
Mulut Monda membentuk hurup O, lama tapi tak bersuara. Melanjutkan
lagi bacaannya. Lembar-perlembar sesekali hanya terbuka sekilas.
"Pesan terakhir?"
"Jangan titip oleh-oleh, dan jagain..."
"Dinda?"
Mangin tak bersuara.
"Sok tahu?!"
"Dasar sok misterius. Omerta! Kamu lagi jatuh cinta, kan?"
***
bersambung
ceritanet©listonpsiregar2000